
Kota Initia terkenal dengan suasana meriah dan warganya yang selalu tersenyum gembira. Kota ini dikenal sebagai salah satu tempat wisata yang paling terkenal karena kulinernya dan keramahan yang warganya tunjukan pada semua orang yang datang mengunjungi kota mereka.
Makanan yang melimpah ditambah dengan keamanan yang baik membuat tingkat kriminal di tempat ini menjadi sangat rendah.
Tetapi...
Kota Initia menunjukkan suasana yang berbeda dengan biasanya, dengan awan badai yang sudah menutupi langit malam dan petir yang sesekali menerangi kegelapan kota itu.
Tidak ada satupun penerangan yang terlihat menyala, menjadikan kota ini gelap gulita.
Tidak ada satupun gerakan yang bisa terlihat atau terdengar di seluruh kota itu juga, membuat suasana yang sangat mencekam.
Kecuali di satu tempat, sebuah rumah yang tidak terlihat berbeda dengan rumah lain di kota itu.
“A...aa...”
Seorang anak laki-laki yang terlihat tidak lebih dari sepuluh tahun sedang berlutut di dalam sebuah lubang di halaman rumah itu.
“A...a...aaa...!”
Seluruh tubuhnya sudah tertutupi oleh lumpur yang tidak bisa dihapus oleh hujan deras yang menerpanya, tetapi dia tidak peduli dan tetap berkonsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya.
Kedua tangan mungilnya terus menggali tanpa henti, tidak memedulikan kulit jarinya yang sudah terkelupas dan darah yang terus mengucur keluar. Rasa perih dari jari-jarinya yang penuh luka itu tidak memperlambat gerakannya sedikitpun.
Beberapa saat berlalu dan akhirnya anak itu merangkak keluar dari lubang yang dibuatnya.
Kaki kecilnya mulai mengambil langkah demi langkah secara perlahan, dan akhirnya berhenti di depan tubuh seorang gadis kecil, yang terlihat lebih muda dibandingkan dengannya.
“Aaa...!”
Anak itu jatuh berlutut di samping gadis kecil yang terbaring di tanah itu.
Lumpur sudah meresap ke gaunnya dan air hujan sudah membasahi wajahnya, tetapi dia hanya berbaring disana dengan begitu tenang. Jika ada orang lain melihatnya maka mereka akan berpikir gadis ini hanya sedang tertidur lelap.
Tetapi anak itu tahu kenyataannya.
Gadis itu sudah pergi ke tempat yang tidak bisa dia datangi, ke tempat yang sangat jauh.
Anak itu belum mengetahui konsep hidup dan mati secara matang, dia hanya mengetahui dari Ibunya yang menceritakan bahwa mereka mengubur Kakek dan Neneknya agar mereka berdua bisa pergi ke tempat yang dituju semua orang sudah mencapai waktu mereka.
Jadi dia mulai mengangkat tubuh kecil gadis itu dan membawanya ke dalam lubang yang dibuatnya, di samping dua lubang yang lain.
Itulah alasan dia menggali lubang itu, untuk mempertemukan mereka dengan Kakek dan Neneknya disana.
Beberapa saat kemudian, anak itu berlutut di depan tumpukan tanah baru, makam yang baru saja dibuatnya.
Tiga makam...
“A...aa...”
Air hujan terus membasahi rambut hitamnya dan mengalir di wajahnya, menggantikan air mata yang sudah tidak bisa mengalir keluar lagi.
“..a...a...”
Gemuruh petir terus menggetarkan kota kecil itu, menggantikan teriakan yang sudah tidak bisa keluar dari tenggorokannya.
Mengapa waktu mereka sampai begitu cepat?
Mengapa adiknya yang lebih kecil darinya pergi lebih dulu?
Mengapa dirinya harus ditinggal sendirian?
Dia tidak memahami perasaan yang sedang dirasakannya saat ini.
Perasaan sedih yang membuatnya menangis sudah berlalu, digantikan oleh rasa sakit yang asing.
Rasa sakit yang begitu tajam di dalam dadanya, berkali-kali lipat dibandingkan rasa sakit dari kedua tangannya yang berlumuran darah, yang mengalir keluar dari ujung jarinya yang tidak memiliki kuku lagi.
Rasa sakit itu terasa seperti ingin mengoyak dan menyayat tubuhnya dari dalam dan semakin lama semakin terasa sakit, terutama saat anak itu mengingat tiga tubuh dingin yang baru saja diangkatnya itu.
Dia tidak mengerti.
“...ti...dak...”
Jadi dia hanya bisa menatap langit dan mengeluarkan kalimat berontak terakhirnya, sambil bertekad untuk tidak merasakan perasaan sakit itu lagi.
...
Tahun 266 New Age
Kicauan burung-burung dapat terdengar di atas tembok yang melindungi kota besar di tengah padang rumput yang luas, terdengar seperti sebuah lagu merdu yang menenangkan orang-orang yang mendengarkannya.
Burung-burung itu berkumpul di satu bagian dari tembok kota yang tinggi itu, dimana orang-orang dapat melihat satu jalan tanah lebar yang terbentang sepanjang padang rumput. Jalan yang ada untuk mempermudah perjalanan jarak jauh bagi mereka yang menggunakan kereta.
Salah satu cabang jalan itu memanjang ke arah hutan dengan pohon-pohon tinggi yang sangat luas yang berada tidak terlalu jauh dari kota itu. Hutan yang cukup luas sampai orang-orang yang melihatnya dari atas tembok kota itu tidak akan bisa melihat sisi lain dari hutan ini.
Angin berhembus dan menggoyang dedaunan pohon-pohon besar itu, dengan cahaya matahari yang menembus celah-celah dedaunan dan menerangi permukaan hutan yang ditambahkan dengan suara-suara berbagai penghuni hutan itu, akhirnya menciptakan suasana yang menenangkan.
Tetapi suasana di padang rumput di luar hutan itu sedang sangat berbeda dan terasa cukup mencekam, dikarenakan oleh puluhan orang yang berkumpul disana.
Ekspresi tegang dapat terlihat di wajah mereka semua, yang terlihat sedang menunggu hal yang sama sambil memerhatikan situasi di sekitar mereka.
Mereka terlihat memandang orang-orang di sekitar mereka dengan penuh siaga, tidak ingin melewatkan gerakan-gerakan yang mungkin akan mencelakakan diri mereka.
Tetapi ada seseorang diantara mereka yang terlihat sedang melakukan hal yang berbeda.
“Whoah, tidak kusangka akan seramai ini”
Seorang pemuda terlihat bergumam sendiri sambil melihat ke arah hutan besar itu, seperti sedang melihat sesuatu yang menarik dari pohon-pohon diam itu.
Beberapa orang disekitarnya menoleh setelah mendengar suara bersemangat itu dan menemukan seorang pemuda berambut hitam berdiri disana, yang sedang melihat sekelilingnya dengan ekspresi santai dan tidak terlihat tegang sedikitpun.
“...seperti apa ya rupa penghuni hutan ini...” gumam pemuda itu lagi sambil mengelus dagunya.
Dia terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tiba-tiba...
“Hm?”
Pemuda itu mulai menoleh ke sekitarnya dan menemukan perhatian banyak orang sedang tertuju padanya. Pemuda ini hanya tersenyum ketika menyadari itu dan mengalihkan perhatiannya dari hutan di depannya itu kepada orang-orang disekitarnya.
Mata hitamnya menunjukkan rasa penasarannya yang jelas pada semua orang itu.
“Ada apa ini?”
Dengan tinggi lebih dari 170 sentimeter dengan rambut hitam dan wajah yang ramah, dia berdiri sendirian disana. Tubuhnya terlihat tidak memiliki otot yang jelas, hanya seperti tubuh remaja biasa yang tidak menjalani latihan apapun.
Mata hitamnya masih menyapu ke orang-orang disekitarnya yang sedang mencari tahu identitasnya, membalas semua tatapan mereka.
Dia terlihat membawa tas besar di punggungnya dan dua tas kecil di pinggangnya, sebuah pedang dengan sarung hitam terlihat menggantung di pinggang kirinya. Baju yang dikenakanya juga terlihat kotor dan bernoda di beberapa bagian.
“...hehe...” orang-orang di sekitarnya mulai tertawa setelah melihat pakaiannya itu.
__ADS_1
Pemuda itu mulai dihina dan diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya, tetapi dia sendiri terlihat tidak peduli. Dia kembali mengalihkan perhatiannya ke hutan di depannya setelah tidak menemukan hal yang menarik dari orang-orang itu, sampai ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya.
“Bocah desa dari mana ini, kau pikir kau pantas berada disini?” Suara dengan nada angkuh tiba-tiba terdengar.
Mendengar suara dari belakangnya, pemuda itu berbalik dan menemukan seorang pria bertubuh besar berdiri dengan senyum mengejek di depannya.
Pemuda itu menatap pendatang baru itu dengan ekspresi bingung.
“Aku tidak tahu dari mana kau mencuri uang untuk membayar biaya tes ini, tapi lebih baik kau pulang saja sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri”
Terkejut karena seseorang yang tidak dia kenal mulai berbicara dengannya, dia menatap wajah pria di depannya selama beberapa saat.
“Apa kau tuli? Aku bilang-“
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tetapi lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum mencoba membantu orang lain” sela pemuda berambut hitam itu, setelah salah menyimpulkan tujuan dari perkataan pria besar itu.
Dia menunjukkan senyumnya, lalu membalikkan badan dan berhenti memedulikan pria besar itu.
“Kau..! Beraninya kau! Apa kau tidak tahu siapa aku-!” Pria besar itu terlihat sangat tersinggung dan mulai berjalan mendekati pemuda di depannya, sampai langkahnya terhenti oleh suara merdu yang tiba-tiba terdengar.
Ding!
Suara lonceng yang luar biar keras mengejutkan semua orang disana, mengambil perhatian mereka semua.
“Kelihatannya sudah ada yang tidak sabar untuk memulai tes ini ya?”
Suara kecil muncul secara tiba-tiba dan dapat terdengar jelas oleh semua orang yang berdiri disana. Beberapa orang mulai mencari sumber suara itu di sekitar padang rumput itu tanpa berhasil menemukannya.
“I-itu!” teriak salah satu orang disana, menunjuk langit.
Mereka semua langsung menoleh ke langit dan hanya berhasil melihat bayangan kecil selama sesaat, sebelum angin kencang memaksa mereka untuk menutup kedua mata mereka.
“Hahahahaha!” Tawa keras dapat terdengar datang bersama hembusan angin itu.
Beberapa saat setelah angin itu berlalu, bayangan besar terlihat melewati tempat orang-orang itu berdiri. Tanpa ada aba-aba apapun, bayangan seseorang mulai jatuh bebas dari langit yang sedang dipenuhi hembusan angin kencang itu.
“Dan aku... Hadir!”
Boom!
Debu tebal menutupi tempat mendarat orang itu, menyembunyikan wujudnya. Sebelum kelompok itu bisa mulai memproses apa yang sedang mereka lihat, sebuah hembusan angin kencang muncul dan menyapu pergi debu tebal itu, menunjukkan seorang pria.
“HA! Wahai calon-calon muridku, salam kenal! Aku adalah guru yang akan mengawasi tes pertama kalian!” pria itu tersenyum sambil mengayunkan kedua tangannya ke segala arah.
Sekarang mereka bisa melihat jelas wujud manusia di depan mereka. Pria dengan tinggi sekitar 190 sentimeter, dengan wajah yang terlihat tidak lebih dari 30 tahun, rambut hijau bergaya spiral, dan pakaian hijau-putih yang terlihat luar biasa bergaya.
Angin disekitarnya juga terus menghebuskan rambut dan pakaiannya, membuatnya terlihat sangat indah.
“Seperti yang sudah kalian dengar sebelum kalian dibawa kesini, tes pertama yang perlu kalian lalui itu sangat sederhana! Kalian hanya perlu membuat Contract dengan Beast yang bisa kalian temukan di dalam Hutan itu!” serpihan bercahaya lepas dari lengannya yang menunjuk hutan di depannya.
Perhatian pria besar dan sebagian besar orang disana menjadi tertuju ke pria stylish yang muncul tiba-tiba itu, sedangkan perhatian pemuda berambut hitam masih tertuju ke langit.
“Waktu yang kalian miliki untuk menyelesaikan tes ini adalah 72 jam. Jika tidak berhasil mendapatkan Contracted Beast sebelum waktu tersebut, GAGAL! Jika berhasil menbuat Contract tetapi tidak berhasil kembali kesini dalam waktu yang ditentukan, juga GAGAL!”
Hembusan angin kencang muncul kembali dan kali ini tidak hanya sekali, diikuti dengan sebuah bayangan besar yang muncul dan mendarat keras di depan mereka.
Pemuda berambut hitam itu menunjukkan ekspresi tertarik saat melihat wujud makhluk yang muncul dari langit itu.
“Tes akan dimulai dalam 1 jam lagi! Kusarankan kalian menyiapkan diri sebaik mungkin!”
Wujud makhluk besar ini menjadi jelas, tidak lain dari seekor burung hantu raksasa. Dengan bulu berwarna hijau muda, setidaknya memiliki tinggi badan yang melebihi tiga meter. Lebar kedua sayapnya dengan mudah melebihi enam meter dan terlihat sangat mencekam.
“Tidak ada larangan tentang pertarungan antar calon murid, tetapi kalian tentu tahu konsekuensi jika kalian memcelakai satu sama lain secara sengaja, ya?” nada bersamangatnya hilang dan menjadi datar, tanpa emosi yang jelas.
Sebagian besar orang sana menjadi tidak bisa bernafas secara mendadak, seperti udara di sekitar mereka tiba-tiba menghilang. Sensasi itu hanya bertahan sesaat sebelum suasana mencekam itu menghilang bersamaan dengan senyuman yang muncul di wajah guru pengawas itu.
“Beberapa pengawas lain akan berjaga di dalam hutan ini, tetapi keselamatan kalian tetap tidak akan terjamin. Jika kalian ingin menyerah atau dalam bahaya, cukup gunakan benda yang kalian terima dari pengawas ya!” Dia melompat ke atas burung hantu raksasa itu, masih berdiri tegap dan senyum lebar di wajahnya tidak hilang.
Matanya menyapu semua remaja di sekelilingnya.
“Itu saja dariku, kalian akan tahu saat tes dimulai ketika kalian mendengar suara lonceng dariku! Dan dengan itu, sampai jumpa lagi!” dia melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Dengan satu sentakan sayap yang keras, burung hantu itu mengangkat tubuhnya dan terbang keluar dari penglihatan kelompok ini dalam sekejap, menjadi bayangan yang hilang dibalik dinding kota besar di kejauhan.
Hanya kabut debu yang ditinggalkannya yang tersisa sebagai bukti keberadaannya disana.
“A-apa...?” ucap beberapa orang dari kelompok itu dengan ekspresi bingung di wajah mereka.
Sebagian besar dari mereka masih belum selesai mencerna semua informasi itu, tetapi tetap memilih untuk melakukan apa yang disarankan pada mereka.
Kelompok mulai terbentuk dan beberapa dari mereka terlihat sedang memeriksa kepingan batu yang dimaksud guru pengawas itu, sebuah batu kuning berbentuk lingkaran.
“Huh...?”
Pemuda berambut hitam itu hanya menatap dinding tinggi tempat tujuan guru pengawas dan burung hantu raksasa itu. Dia kemudian menoleh ke pria besar didepannya, suasana tegang sebelumnya sudah hilang tidak bersisa karena kedatangan guru pengawas itu.
“Jadi, apa yang kau lakukan disini? Teman-temanmu terlihat menunggumu disana” dia menunjuk ke satu kelompok yang sedang berdiri tidak jauh di belakang pria besar itu.
Pria besar tersentak kaget dan kembali menatap tajam pemuda di depannya, lalu menoleh ke kelompok tiga orang tidak jauh dari sana yang memang sedang menunggunya. Dia lalu melihat wajah pemuda di depannya sekali lagi sebelum berjalan ke arah kelompoknya.
“Lebih baik kau berhati-hati agar tidak menghadapi masalah diluar kemampuanmu...”
“Kau juga! Semoga beruntung” pemuda berambut hitam itu tersenyum dan melambaikan tangannya.
”Hmph!” dia berdengus kesal sambil melangkah pergi.
Sekarang pemuda itu kembali berdiri sendirian.
Dia memerhatikan area disekitarnya dan setelah menemukan orang-orang itu mulai membuat kelompok-kelompok, pemuda itu mulai berpikir sejenak.
”Oke.. waktunya mencari seorang partner” dia memukul telapak tangannya setelah mencapai keputusan itu.
Dia mulai memeriksa orang-orang disekitarnya dan... tidak ada.
Hampir semua orang di sekitarnya sudah membentuk kelompok mereka sendiri, bersiap-siap memasuki untuk memasuki hutan secepat mungkin. Beberapa orang yang berdiri sendiri disana terlihat menghindari tatapannya, menunjukkan ketidaksukaan mereka padanya.
“Hm...” pemuda itu mulai mengelus dagunya sambil mengangkat satu alisnya.
Dia mencoba mencari lebih serius, dengan hasil yang sama. Dia tertawa kecil dan mulai berjalan di sekitar area, meneruskan pencariannya. Setelah beberapa menit melakukan hal yang sama, dia mulai menyadari betapa sulitnya hal ini.
“Apakah aku harus menjalankannya sendiri lagi, ini akan jadi sangat membosankan... hm?” matanya sedikit terbuka lebar ketika melihat ke satu arah.
Pemuda berambut hitam itu menemukan seseorang yang masih sendirian.
Dia hanya berdiri di belakang satu batu besar sambil melihat rumput di kakinya, tidak bergerak sama sekali. Orang itu terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa menyadari tes yang akan dimulai dalam satu jam itu.
Pemuda itu juga merasakan perasaan baik muncul dari tubuhnya saat melihat orang itu, instingnya memberitahukan bahwa dia berhasil menemukan yang orang dia cari.
“Ooh! Ketemu!” nada senang keluar dari mulutnya.
Dia mulai berjalan mendekatinya dan berhenti di depan... gadis itu.
__ADS_1
“uuu...” suara lemah yang terdengar seperti tangisan binatang kecil keluar dari mulut gadis ini, yang tidak menyadari seseorang sudah berdiri di depannya.
“Hm?”
Gadis itu tetap berdiri sambil menunduk ke tanah sambil mengeluarkan suara aneh di depannya dan tidak menghiraukannya, membuatnya terdiam untuk berpikir sejenak. Pemuda itu melihat situasi ini selama beberapa saat sebelum mendekatkan wajahnya, dan dengan satu tarikan nafas...
“HALO!”
“KYAAA!”
Gadis kecil itu meloncat kaget, terkejut oleh suara keras yang muncul mendadak itu.
Dia lalu menyadari pemuda asing sedang berdiri di depannya, menatap wajahnya. Perasaan kaget dan bingung memenuhi kepalanya sampai tiba-tiba pemuda itu mulai berbicara.
“Hai, kau terlihat sendirian, maukah kau menjadi partnerku untuk tes ini?” pemuda itu melanjutkan seperti biasa.
“h-huh, a-apa...?” suara kecil dan bingung keluar dari mulut gadis itu.
Gadis itu menoleh kiri dan kanan, mencari orang lain yang mungkin menjadi sasaran ajakan pemuda di depannya ini.
Tidak menemukan orang lain di sekitarnya, dia kembali menatap wajah pemuda itu.
“A-aku? A-apakah k-kau tidak mengenalku...? A-aku Aura Flameheart...” gadis yang sangat gugup itu terlihat memaksakan dirinya untuk berbicara dan suaranya sampai hampir tidak terdengar di akhir kalimatnya.
“Hm...?” dia tidak menduga gadis itu akan membelasnya dengan pertanyaan dan pengenalan diri seperti itu.
Pemuda itu mulai memperhatikan gadis di depannya dengan lebih detil. Rambut merah muda dengan tinggi hampir mencapai 160 cm dan mata bewarna merah, seperti warna rambutnya yang sampai menyentuh pundaknya. Gaun panjang dengan pola pink-putih, tongkat di punggungnya yang lebih tinggi dibandingkan tubuh kecilnya dengan Core elemen api terlihat terpasang di ujung tongkat itu.
“Hm...?”
Sepertinya perempuan di depannya tidak memicu ingatan apapun darinya, jadi dia mencoba melihat dengan lebih serius, kemudian dia menyadari sepatu boots perempuan ini... kelihatan seperti...
“H-Hey!” gadis itu menyadari pemuda di depannya sedang meneliti sepatu yang dipakainya, dan menjadi sedikit panik.
“Hm... hah? Oh ya, iya. Aku tidak mengenalimu” tersadar dari konsentrasinya, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
“Huh...”
Perempuan didepannya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan kembali tidak menghiraukannya, jadi dia memperhatikan situasi disekitarnya untuk menghabiskan waktu.
Beberapa kelompok terlihat mulai berbisik sambil melihat ke arah mereka berdua.
“Oke...?” dia bisa merasakan ada yang berbeda dari ekspresi mereka itu, ekspresi meremehkan mereka sudah tidak terlihat dan telah digantikan oleh ekspresi lain.
Dia mengembalikan perhatiannya ke perempuan di depannya yang masih tidak memberikan respon padanya.
“Jadi? Apakah kau ingin berpartner denganku?”
“AH! Uh... a-aku...” tersadar dari lamunannya, gadis itu kembali terlihat gugup lagi.
“Hei aku tidak tahu siapa kau dan aku tidak peduli, aku hanya ingin menyelesaikan tes ini, dan melakukannya sendiri akan sangat membosankan” pemuda itu mengatakan semua itu sambil menatap hutan di kejauhan.
“Me-membosankan...?”
Gadis itu mulai terlihat gelisah, menundukkan wajahnya dan mulai berpikir keras dan berbicara dengan dirinya sendiri. Sebuah pemandangan yang menarik untuk pemuda berambut hitam itu.
“O-oke! Aku a-akan ikut denganmu!” gadis itu masih terlihat gugup, tetapi suaranya mengandung semangat yang hampir tidak terdeteksi.
Jawaban itu membangunkan pria itu dari lamunannya
“Bagus! Kau cukup ikut dibelakangku ketika di dalam hutan itu” pemuda itu menepuk pundak gadis itu dan mulai berjalan mendekati hutan itu.
“H-hue!” Perempuan itu sangat kaget karena sentuhan itu dan meloncat mundur.
Lalu dia melihat punggung pemuda itu sudah mulai menjauh, menjadi tersadar dan mulai menyusulnya.
“H-hey! Aku belum mendapatkan n-namamu!”
Tanpa menghentikan langkahnya pemuda itu menoleh kebelakangnya.
“Leinn Springleaf”
Aura terhenti terkejut saat mendengar itu dan mulai menunjukkan ekspresi bingung. Tetapi menyadari pemuda di depannya tidak memperlambat langkahnya, dia mulai berlari ke sampingnya.
Pemuda itu melihat perempuan yang terlihat sangat gugup di sampingnya dan tersenyum lagi.
“Salam kenal, Aura”
Mendengar ini, Aura ikut tersenyum dan ikut berjalan disampingnya. Mereka berdua semakin mendekati hutan besar itu.
Beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari mereka tidak sengaja mendengar percakapan antara Leinn dan Aura itu, memiliki ekspresi kaget di wajah mereka sekarang.
“Springleaf? Kenapa pemuda itu...?” tanya salah satu orang itu.
“Kenapa dia memiliki nama belakang ‘Pahlawan Rambut Hitam’...?” satu orang berkata sambil melihat punggung Leinn yang semakin jauh itu.
“Bukankah ‘Pahlawan Rambut Hitam’ hanya memiliki satu cucu? Dia juga-” kalimat orang ini terhenti mendadak karena dia menyadari pemuda yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba menoleh ke arah mereka.
Mereka sedang berdiri sejauh 30 meter dari pemuda itu tetapi mereka bisa melihat jelas senyuman kecil yang ada di wajahnya, yang membuat perasaan mereka menjadi tidak enak.
Entah bagaimana caranya, mereka yakin pemuda itu bisa mendengar percakapan mereka yang hanya sekeras bisikan dari jarak sejauh itu.
Setelah melihat wajah orang-orang itu memucat, Leinn hanya kembali melihat ke depan dan meneruskan langkah kakinya.
Dia terlihat senang.
...
Whoosh
Suara angin kencang dapat terdengar dari kepakan sayap burung hantu raksasa yang baru saja terbang melewati sebuah lapangan terbuka.
Lapangan yang dipenuhi oleh boneka-boneka kayu yang bisa dipakai untuk berlatih...
Crackle...
Yang sebagian besar sudah hancur dan terlihat gosong, dengan listrik terlihat mengalir di permukaannya. Sebagian lantai batu itu juga terlihat seperti baru tersambar oleh petir beberapa kali.
Dan satu-satunya yang ada di lapangan latihan itu saat ini adalah seorang pemuda berambut pirang dengan ekspresi dingin.
“...”
Dia melihat burung hantu raksasa yang baru lewat di atasnya lalu menyadari bahwa tes di luar kota itu akan segera dimulai. Kelompok murid baru akademi ini yang berbeda dengannya, yang sudah memiliki Contracted Beast.
Crackle!
Petir meloncat keluar dari tubuh pemuda itu bersama dengan senyuman kecil yang muncul di wajahnya.
Dia terlihat senang.
__ADS_1