Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 160 – ??? dan Gerakan Pembuka


__ADS_3

“Benarkah?”


“Ya, dia terlihat sehat-sehat saja setiap kali aku melihatnya di Pusat Misi. Dia banyak membantu kami dua minggu terakhir”


“Baguslah kalau begitu”


Seorang pemuda dan pria paruh baya dapat terlihat sedang berdiri sambil bersandar di pembatas dinding kota, melihat pemandangan malam kota yang sudah sangat sepi.


Mereka berdua adalah Leinn dan Barnum yang secara ajaib bisa berbincang dengan sangat cocok karena mereka sudah memiliki satu topik pembicaraan yang sama.


“Isla sudah jarang mengirim pesan kepada kami yang ada disini, dia juga sudah jarang kembali kesini saat liburan sekalipun. Terkadang aku berpikir dia sudah tidak menyukaiku sebagai ayahnya”


“Apa maksudmu? Dia beberapa kali menyinggung tentangmu saat dia menjelaskan apa yang dilakukannya sebagai resepsionis”


“Haha... begitukah?”


Damian baru saja pergi meninggalkan mereka untuk melihat kondisi orang-orang yang terluka ketika menyadari pembahasan mereka berdua menjadi sangat pribadi.


Akhirnya mereka berdua berada di tempat ini tanpa gangguan, melihat Hunter yang lain merasa tidak perlu berpatroli di bagian dinding itu.


“Ya, aku juga merasa bingung kenapa aku tidak menyadari identitasmu lebih cepat. Kalian berdua benar-benar mirip”


“Oh...! Tentu saja!”


Barnum tertawa lepas setelah mendengar itu, tidak menyangka pemuda di depannya berpendapat seperti itu. Dia sebenarnya sedikit terluka setiap kali seseorang melihat mereka berdua bersebelahan dan mengatakan kalau mereka tidak mirip, melihat Isla mengambil sebagian besar rupanya dari istrinya.


Leinn terlihat tidak menyadari itu dan hanya mengayunkan tangan kirinya.


“Perasaan yang kalian tunjukkan benar-benar identik. Mungkin aku tidak menyadari itu karena sedikit teralihkan oleh-hm?”


“Ada apa...?”


...


Leinn tidak menjawab dan terus menatap ke arah tumpukan Beast di kejauhan dengan ekspresi serius, tepatnya menatap apa yang ada jauh di belakang ribuan Beast itu. Ekspresi di wajahnya berubah menjadi sangat dingin ketika dia menyadari apa yang baru saja dia lihat saat ini, yang terlihat juga menyadari tatapan Leinn itu.


Sebuah siluet berjubah raksasa yang sangat tinggi, yang sampai mampu memenuhi langit malam dengan tubuhnya. Berdiri sambil menunjukkan kedua cakar panjang yang keluar dari balik jubah ungunya, yang sudah memanjang sampai memenuhi garis cakrawala seperti ingin mengoyak padang rumput dan gunung di sekitarnya.


“Leinn...?”


Barnum yang melihat ke arah yang sama terlihat tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seolah-olah makhluk raksasa itu sama sekali tidak terlihat olehnya.


Leinn hanya menoleh sesaat untuk melihat ekspresi Barnum sebelum kembali menatap siluet di kejauhan itu, yang sudah mendapatkan sebuah wajah di balik jubahnya itu.


Wajah yang terbentuk oleh sebuah potongan panjang berbentuk bulan sabit dengan cahaya abu-abu sebagai mulutnya, yang memanjang sampai di samping dua lubang hitam pekat di tempat bola mata seharusnya berada.


Makhluk itu terlihat mulai bergetar seperti sedang tertawa sambil menatap Leinn yang sudah mulai memutar Mana di tubuhnya.


“Hah...”


Leinn menghela nafas lelah sebelum akhirnya memejamkan matanya, sekaligus melemaskan tubuhnya. Setelah beberapa detik berlalu, dia baru membuka matanya dan makhluk itu sudah menghilang tanpa bekas.

__ADS_1


Barnum yang melihat kelakuan itu langsung menyadari ada yang aneh dan mulai menanyakan kondisi pemuda di depannya.


“Tidak apa-apa...”


Leinn akhirnya menggelengkan kepalanya dan meminta Barnum untuk meninggalkannya sendirian, yang akhirnya dikabulkan oleh pria itu setelah dia menyadari ada yang berubah dari suasana pemuda itu.


Malam itu akhirnya berlalu tanpa masalah, setidaknya di mata semua penduduk di kota itu.


...


Dinding kota, keesokan harinya.


“Jadi apa situasinya?”


“Kenapa kau datang begitu cepat!”


Dua pemuda dapat terlihat sedang berdiri berhadapan, dengan salah satu dari mereka terlihat sangat tidak senang.


“Bukankah kau seharusnya datang di detik-detik terakhir dan memberikan serangan pembalik keadaan...”


“Hentikan omong kosongmu. Situasi, sekarang”


Mereka berdua tidak lain adalah Leinn yang terlihat masih tidak senang, dan Roland yang baru sampai bersama matahari terbit. Mereka berdua berhasil menjadi perhatian semua orang yang ada di kota itu, mengingat mereka berdua sudah memiliki reputasi yang tidak kecil.


“Hah... jadi begini...”


Leinn mulai menjelaskan apa yang dia lakukan sehari sebelumnya pada Roland yang mendengarkannya dengan serius. Dia juga menjelaskan tentang rencana brilian miliknya-


“Tidak bisa”


“Apa maksudmu ‘tidak bisa’! Memangnya kau terluka?”


“Tidak, tetapi aku mengalami sedikit gangguan kemarin...”


Kali ini Roland yang menceritakan apa yang terjadi sehari sebelumnya.


Mereka berdua adalah dua orang terakhir dari Party mereka yang memang mendapatkan dua kota terjauh sebagai bagian mereka, tetapi ternyata situasi darurat telah terjadi di kota pertama mereka.


Frog Beast dan Fish Beast dalam jumlah besar yang tidak termasuk di gelombang kedua tiba-tiba keluar dari danau besar di dekat kota itu dan sudah sedang menyerang dinding kota, membuat Roland yang memiliki elemen petir menjadi lebih cocok untuk mengatasinya.


Setelah Leinn berpisah dengannya, Roland langsung meluncur dan memberikan satu serangan besar ke tengah kelompok Frog Beast itu, membakar ratusan dari mereka sekaligus. Dengan beberapa serangan susulan dan bantuan dari Hunter di atas tembok, serangan Frog Beast itu berhasil di halau.


Sebelum mereka bisa merayakan itu, gelombang kedua langsung dapat terlihat di kejauhan dan Roland langsung terbang kesana tanpa basa-basi. Dia mengumpulkan tenaga dan meluncurkan serangan besarnya sekali lagi ke Beast terdepan di kelompok itu.


Inilah kesalahan yang dilakukan oleh Roland.


“Hm...”


Walaupun Roland berhasil menghabisi 500 sampai 600 Beast sekaligus, itu menyebabkan Beast yang lain langsung melarikan diri ke semua arah selain kota itu. Beberapa dari arah itu adalah desa-desa yang seharusnya aman karena gelombang kedua itu hanya memusatkan perhatian mereka pada 8 kota saja.


Jadi dia menghabiskan lebih banyak tenaga lagi untuk mengejar dan membersihkan semua Beast itu sampai mereka mencapai ukuran yang tidak berbahaya.

__ADS_1


“Jadi sekarang, aku sedang kehabisan tenaga”


“Yang benar saja...”


Leinn menggaruk kepalanya selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas lelah, kemudian melihat ke arah kumpulan Beast di kejauhan. Dia bisa melihat gerakan mereka yang sudah menjadi jauh lebih bertenaga dibandingkan malam sebelumnya.


“Berarti kita hanya bisa bertahan saja untuk saat ini”


“Ya”


“Leinn, Tuan Muda Azure”


Barnum tiba-tiba muncul di dekat mereka setelah menaiki anak tangga bersama dengan beberapa orang lain yang mengenakan seragam yang sama, yang terlihat sedang memeluk beberapa benda berbeda.


Mereka kemudian meletakkan semua barang yang mereka bawa itu di depan Leinn dan Roland, yang mulai memeriksa kondisinya.


“Ini semuanya?”


“Ya, ini semua yang anda minta dari kota ini. Beberapa darinya adalah dari Hunter yang masih tidak bisa ikut bertarung...” Salah satu orang berseragam itu menganggukkan kepalanya dan memberikan jawaban jelas.


Leinn mengangkat pandangannya dari barang-barang itu dan melihat wajah orang di depannya.


“Mereka tahu senjata mereka mungkin tidak akan kembali?”


“Ya”


Leinn melihat pria berseragam itu menganggukkan kepalanya lagi dan tersenyum kecil, kemudian menoleh ke arah Roland yang juga menganggukkan kepalanya.


“Ini cukup”


Roland meraih senjata di sampingnya dan melihat apa yang sedang Leinn lihat saat ini.


Pemandangan itu tidak lain adalah beberapa Beast dengan ukuran paling besar yang mulai bangun dan sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan yang sangat buas.


“Welp”


Leinn juga meraih senjata yang ada di sampingnya, kemudian mulai menghitung jarak antara mereka dan Beast paling depan dengan Roland disampingnya yang sudah mulai mengeluarkan percikan petir.


Whoong...


Dua pemuda itu mulai mengeluarkan suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya, memaksa semua orang yang ada di sekitar mereka untuk menelan ludah dan menahan nafas.


Dua senjata di tangan mereka memantulkan sinar matahari pagi, kemudian mulai diselimuti dengan lapisan Mana tipis...


“Waktunya kita...”


“...sedikit serius”


Mana ungu yang melapisi busur besar dan Mana emas yang melapisi tombak panjang.


Keduanya terlihat sangat mencekam.

__ADS_1


 


 


__ADS_2