Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 102 – Perubahan Sifat


__ADS_3

Aura dan Adeline melihat gadis canggung itu dan menjadi semakin kebingungan, mengingat sifat yang sangat berbeda dengan yang ditunjukkannya di Aula utama tujuh hari yang lalu.


Gadis itu sekarang terlihat sangat... pemalu?


“...dan yang terakhir, kalian juga bisa menggunakan Linker yang kalian dapatkan untuk memeriksa jadwal kelas seminggu ke depan. Selamat belajar, murid-muridku!”


Dan dengan penuh gaya, Isaac melayang keluar dari kelas itu.


Sebagian besar murid kelas itu ikut bubar, langsung berjalan keluar dari pintu depan dan belakang ruang kelas itu.


Sekarang yang tersisa disana adalah dua pemuda yang masih memejamkan mata mereka, dua gadis yang duduk di samping mereka...


“...”


...dan seorang gadis yang masih berdiri di depan kelas kosong itu.


Kesunyian yang mencekam itu bertahan cukup lama, membuat Aura menjadi merasa sangat tidak enak. Dia mengira suasana ini tidak akan berakhir, sampai tiba-tiba...


“...Aah...!”


Suara kesal keluar dari mulut pemuda berambut hitam yang meloncat berdiri dari tempat duduknya sambil mengerutkan dahinya.


“...”


Pemuda berambut pirang di depannya juga bangun dari tempat duduknya dan secara bersamaan, mereka berdua meloncati meja mereka dan mulai berjalan ke depan kelas itu.


Ke arah gadis itu.


“Hei”


Leinn langsung mengeluarkan suara kesal begitu sampai di depan gadis yang masih menundukkan kepalanya itu.


“Hei...”


Jawaban lemah kembali dari mulut gads itu.


“Ugh...”


Leinn mulai menggaruk kepalanya dengan kesal lalu menoleh ke arah Roland di sampingnya dan mereka bertukar tatapan.


Aura dan Adeline yang sudah berdiri dari tempat duduk mereka bisa melihat Leinn menghela nafas pendek lalu mengambil satu langkah mendekati gadis itu-


“Huh?!”


Teriakan kaget itu keluar dari Aura yang melihat Leinn tiba-tiba membuka lebar kedua tangannya, lalu memeluk gadis itu.


Itu terjadi selama beberapa saat, sampai ketika Leinn melepaskan pelukannya lalu mengambil satu langkah mundur dan-


“Huh?!”


Teriakan kaget kali ini keluar dari Adeline, yang melihat Roland juga mengambil satu langkah maju, membuka lebar kedua tangannya, lalu memeluk gadis itu juga.


Sebelum mereka berdua bisa mencerna apa yang sedang terjadi di depan kelas itu, Roland sudah melepaskan pelukannya dan mengambil satu langkah mundur juga.


Lalu mereka berdua meraih kedua pergelangan tangan gadis itu lalu menariknya keluar dari ruangan itu, hanya memberikan satu lambaian tangan sebelum menghilang dibalik pintu keluar.


Aura akhirnya yakin gadis itulah yang mereka dua maksud tentang seseorang yang ingin mereka susul, Hinata...


“...Springleaf?”


Setelah akhrinya memiliki pikiran yang cukup jernih untuk kembali berpikir, Aura langsung menyadari satu hal itu.


Dan dia menjadi semakin bingung.


...

__ADS_1


“Apa yang ingin kau lakukan?”


Pertanyaan dengan nada datar itu keluar dari Leinn yang masih berjalan pelan sambil menarik pergelangan gadis berambut putih di belakangnya.


“Beritahu kami”


Ucapan berikutnya datang dari Roland yang menarik pergelangan lain gadis itu dengan wajah datarnya.


“...”


Gadis berambut putih, Hinata tidak menjawab dan hanya berjalan sambil membiarkan dirinya ditarik oleh dua pemuda itu.


Leinn dan Roland bertukar pandangan sesaat, lalu memikirkan beberapa hal. Mereka mengetahui beberapa cara untuk menghibur gadis di belakang mereka itu, yang sebagian besar sedang tidak bisa mereka lakukan dengan keadaan tubuh mereka saat ini.


Jadi akhirnya mereka hanya bisa...


“Hinata”


Leinn menyebut namanya, berhasil mengambil perhatiannya.


“Tapir”


Roland tiba-tiba mengucapkan kata itu, mengejutkannya.


“...”


Leinn dan Roland menghentikan langkah mereka dan hanya menatap gadis itu.


“...Piring Terbang”


Mendengar jawaban itu, mereka langsung melepaskan genggaman mereka dan mulai berjalan lagi.


“Bangka”


“...Karung”


Roland menjawab setelah berpikir sejenak, tidak menghentikan langkahnya.


“Rungu!”


Hinata mulai menyusul dan mulai berjalan diantara dua pemuda itu, terlihat kembali bersemangat.


Leinn dan Roland hanya tersenyum ketika melihat itu dan meneruskan pertukaran mereka sambil berjalan ke arah pintu gerbang akademi itu.


...


Aura berdiri sendirian di bawah salah satu pohon yang tumbuh di depan bangunan tempat tinggal murid tahun pertama, hanya menatap kepingan transparan datar yang sedang menunjukkan jadwal kelas sore hari ini.


Dia sudah melewatkan kelas siang karena melihat kondisi syok yang dialami Adeline sebelumnya membuatnya sangat khawatir, jadi dia hanya menemani gadis itu selama beberapa jam di kamarnya.


Adeline akhirnya memintanya untuk tidak mengkhawatirkannya dan tetap mengikuti kelas sore, meninggalkan dirinya yang tidak berencana bergerak dari kasurnya sampai besok.


Kelas Teori Sihir sudah lewat di siang tadi, menyisakan beberapa kelas-


“Oh hey, Aura!”


Aura mengangkat pandangannya dan menemukan Leinn sedang berjalan mendekatinya dengan senyuman kecil di wajahnya.


“Hi Le-“


Ingatan dari pagi tadi tiba-tiba muncul dan menghentikan suaranya begitu saja, mengejutkan Aura sendiri.


“Ada apa?”


“...tidak apa-apa...”

__ADS_1


Aura menggelengkan kepalanya lalu menunjukkan senyuman kecil pada pemuda di depannya itu.


“...”


Senyuman di wajah Leinn menghilang begitu saja setelah mendengar itu, membuat Aura teringat dengan Gift milik pemuda berambut hitam itu.


“A-ayo pergi ke Bangunan Utama!”


Jadi dia langsung mengambil langkah cepat sambil menunjuk ke satu arah, berusaha membuat jarak dengan Leinn di belakangnya.


Tentu saja perbedaan kekuatan fisik mereka tidak membiarkan itu bertahan lama, melihat Leinn hanya berjalan santai di samping Aura yang sedang melakukan jalan cepat dengan sekuat tenaganya.


Ini berjalan cukup lama sampai bangunan tujuan mereka itu mulai terlihat.


“Jadi, bagaimana dengan Kakakmu?”


Leinn menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aura yang sedang menstabilkan nafasnya. Dia sebenarnya juga mencari pria itu di sekitar akademi di waktu senggangnya, tetapi tidak berhasil menemukannya.


“Hah...hah... Kakak...?”


“Ya, Blaze”


Aura akhirnya selesai mengatur nafasnya dan mengingat Pahlawan Kota Blazing Sun itu, Kakak Pertamanya, Blaze Flameheart. Lalu dia juga mengingat pesan pendek yang diterimanya sehari setelah dirinya diumumkan sebagai juara tiga turnamen junior itu.


‘Selamat’


Satu kata pendek yang diterimanya dari fitur Pesan di dalam Linker barunya, dari nomer yang sudah tersimpan langsung di dalam Linker itu dengan nama ‘Blaze Flameheart’.


“Sepertinya Kakak... melihat pertarunganku?”


Setelah menemukan bahwa nama akun Linker seseorang harus sama dengan kartu identitas mereka, Aura hanya meneteskan air matanya tanpa henti sambil menatap satu kata di plat transparannya itu.


“Dan dia... tidak kecewa!”


Aura menunjukkan senyuman paling lebar yang pernah muncul di wajahnya, memancarkan rasa senang yang sangat murni.


Leinn yang berdiri di depannya terlihat terpana sesaat setelah melihat itu, lalu menunjukkan senyuman di wajahnya juga.


“Selamat”


Satu kata dari Leinn itu membuat Aura tersentak kaget, karena kata yang sama dengan pesan yang diterimanya itu.


Aura lalu menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan ke arah Bangunan Utama yang sudah terlihat jelas itu. Beberapa hal sedang menjadi beban pikirannya, dan dia mendapatkan satu pertanyaan baru dari reaksi Leinn itu.


‘Apa yang dilihatnya?’


Entah sejak kapan, Aura menyadari dirinya menemukan reaksi-reaksi kecil dari Leinn yang hampir tidak terlihat. Dan kali ini Aura bisa melihat pemuda itu seperti terpana oleh sebuah pemandangan yang mengejutkan ketika dirinya menunjukkan perasaan senang setelah mengingat pesan yang diterimanya itu.


Aura mengetahui bahwa Gift milik Leinn itu memungkinkan dirinya untuk melihat Perasaan seseorang atau Beast yang dia lihat, tetapi dia tidak tahu rincian dari kemampuan itu.


Apakah dia melihatnya sebagai warna?


Atau pola?


Atau bahkan sesuatu yang benar-benar tidak ada hubungan dengan semua itu?


Aura terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu sampai akhirnya mereka sampai ke depan pintu masuk Bangunan utama itu.


Dan Leinn berjalan melewati Aura, lalu membalikkan badannya.


“Jadi, sampai di sini ya”


 


 

__ADS_1


__ADS_2