Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 154 – Gunung?


__ADS_3

“Hah...hah...”


Aura melihat gunung api yang terus bertambah jauh dari punggung seekor ular raksasa, terlihat masih berusaha menstabilkan nafasnya yang memburu. Sebagian besar dari dirinya masih enggan untuk melarikan diri seperti ini tetapi dia juga mengetahui betapa tidak bergunanya Magic User Elemen Api sepertinya ketika melawan Disaster Beast dengan elemen api juga.


“Kuh...”


Adeline di sampingnya mengepalkan tinjunya dengan kesal dan tidak memiliki tempat untuk melampiaskan kemarahannya itu. Dia juga sebenarnya sudah tahu betapa tidak menguntungkan bagi Magic User Elemen Es sepertinya untuk bertarung di tempat dengan Mana Api sepekat Gunung Lucerna, tetapi itu tidak mengurangi kemarahan yang sedang dirasakannya saat ini.


Rumble!


Guncangan yang kuat mencapai dua gadis itu dan mereka bisa melihat area di sekitar gunung itu mulai menyala terang dengan api yang berasal dari padang rumput di sekitarnya yang mulai terbakar. Pilar-pilar merah juga keluar dari punggung Disaster Beast di kejauhan itu, yang kemudian jatuh dan membentuk hujan merah terang.


Garis emas dapat terlihat bergerak menghindari semua semburan dan hujan itu sambil terus memberikan serangan-serangan beruntun di setiap kesempatan yang ada. Dan di tengah itu semua, Disaster Beast itu membalikkan tubuhnya dan menghadap kawah gunung api itu, diikuti dengan rantai dalam jumlah besar yang meledak keluar dari tubuh Disaster Beast itu.


Mereka berdua kemudian melihat ke depan lagi dan mulai memulihkan diri dengan lebih cepat, menyadari mereka mungkin masih bisa membantu jika mereka memiliki 100 persen kekuatan mereka lagi.


Twig akhirnya berhasil bergerak cukup jauh dan sampai di sekumpulan orang-orang dengan wajah tidak asing yang sedang berdiri sambil melihat ke arah belakang mereka, melihat pertarungan yang sedang berlangsung di kejauhan itu.


“Nona Aura, Nona Adeline!”


Seseorang dengan pakaian kulit dan luka bakar di pipinya langsung berlari mendekati dua gadis yang baru saja turun bersama gorila putih yang memikul mereka. Dia adalah Kepala salah satu desa di dekat sini yang sekaligus ketua dari Party yang memimpin misi ini sebelum mereka bertiga datang, Licht.


Aura yang sudah mengisi kembali sebagian kecil Mananya sampai dia sudah memiliki tenaga untuk berdiri itu langsung melihat Licht yang sampai di depan mereka sambil mengerutkan dahinya.


“Apa Nona baik-baik saja? Kami melihat kemunculan Beast itu dari sini dan tidak tahu harus melakukan apa-“


“Bawa pergi semua orang yang ada disini ke tempat yang lebih aman. Jika kalian masih bisa melihat gunung itu, berarti kalian belum aman”


Licht menjadi sangat kaget ketika melihat gadis di depannya yang sangat pendiam sejak dia pertama kali bertemu dengannya sehari yang lalu itu memberikan perintah yang tegas dan cepat padanya, membuatnya terlambat menjawab.


“B-baik!”


Aura terlihat tidak menyadari itu karena dia sedang sibuk memikirkan rencana berikutnya, kemudian menyadari pilihannya menjadi jauh lebih banyak ketika dia memasukkan Leinn dan Roland ke dalam perhitungannya. Dia memejamkan kedua matanya dan mulai membuat banyak simulasi dari rencana-rencana itu dan melihat apakah itu bisa dilakukan.

__ADS_1


Adeline menyadari apa yang Aura sedang lakukan dan langsung mencari tempat duduk, mulai berkonsentrasi untuk mengisi ulang Mananya sekaligus beristirahat.


Orang-orang mulai menyebarkan perintah itu dan mereka langsung mengumpulkan barang-barang mereka untuk pergi dari tempat ini, menyadari pertarungan yang ada di kejauhan itu ternyata jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan yang mereka kira. Suara keributan dapat terdengar dengan jelas bersama dengan suara langkah kaki manusia dan Beast yang panik, sampai secara tiba-tiba...


“Hm?”


Aura membuka matanya dan menyadari semua orang dan Beast di depannya sudah berhenti bergerak dan memasang ekspresi kebingungan. Dia juga bisa melihat beberapa orang menunjuk ke arah belakangnya sambil mengatakan sesuatu.


Jadi Aura membalikkan membalikkan badannya untuk melihat apa yang sedang mereka bicarakan, melihat ke arah gunung api tempat pertarungan-


“Huh...?”


Aura melihat menjadi terdiam sesaat sebelum mulai mengusap matanya beberapa kali dan melihat lagi, lalu menoleh ke samping dan menemukan Adeline juga sedang mengusap matanya sambil melihat ke arah sana.


Mereka berdua kemudian bertukar tatapan tidak percaya dan menyadari bukan hanya mereka sendiri yang salah melihat atau salah mengingat.


“Kemana...”


Tempat yang seharusnya bersinar terang karena pertarungan itu sekarang sudah hampir gelap gulita, walaupun penerangan bulan seharusnya masih cukup untuk menunjukkan siluet sebuah gunung raksasa.


Tetapi siluet itu sama sekali tidak terlihat, seperti gunung yang seharusnya ada di sana, tidak pernah ada di sana.


...rumble


Pikiran Aura, Adeline, dan semua orang disana terpotong pendek ketika mereka merasakan tanah tempat mereka berdiri mulai bergetar, yang langsung berubah dari getaran kecil menjadi guncangan besar dalam kurang dari 2 detik.


Rumble...!


Aura yang langsung masih bisa menjaga pikiran jernihnya menyadari sebuah dinding hampir tidak terlihat yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Aura menghubungkan semua informasi yang sedang terjadi saat ini, mencapai satu kesimpulan. Dia membalikkan badannya dan setelah satu tarikan nafas dalam,


“Gelombang ledakan! Berpegangan pada sesuatu!”


Basalt langsung bergerak dan berdiri di depan Aura dan Adeline, menghantamkan tinjunya pada tanah berkali-kali dan berhasil memanggil dinding batu hitam yang melindungi dua gadis itu.

__ADS_1


Twig yang melihat Aura dan Adeline yang sudah aman langsung menggerakkan tubuhnya dan melindungi semua orang yang mulai menjatuhkan diri mereka ke tanah dan menggenggam apa yang ada di depan mereka.


Elsa dan Clear sudah bergerak dan menempel di belakang Twig yang mulai bergoyang dan memendamkan sebagian tubuhnya ke dalam tanah.


Dan ketika guncangan itu mencapai puncaknya, dinding tidak terlihat itu akhirnya mencapai mereka-


BWOOONG!


Suara angin yang tidak masuk akal kerasnya dapat terdengar dan menggetarkan gendang telinga semua makhluk hidup disana, bersama hembusan angin yang seperti ingin menerbangkan mereka semua ke udara.


Jeritan keras dapat terdengar dari beberapa orang yang menerima hembusan angin kencang itu, bahkan setelah sebagian besarnya sudah ditahan oleh Twig.


Whooong...


Angin itu akhirnya mereda dengan sangat cepat dan membiarkan semua kelompok orang itu kembali berdiri, kemudian mulai mengelus dada mereka yang sedang naik turun karena rasa kaget mereka yang teramat sangat.


“Basalt!”


Aura juga langsung memeriksa kondisi Beast di depannya dan menyadari dia sama sekali tidak terluka, kemudian langsung menunjuk ke arah gelombang angin itu berasal sambil menatap gorila putih itu.


Basalt yang langsung mengerti apa yang Aura maksud itu mengulurkan kedua tangannya, lalu membiarkan dua gadis itu duduk pundaknya. Dia langsung bergerak dan meloncat ke atas ular raksasa yang baru mengangkat tubuhnya dari tanah itu.


Twig juga tidak pakai basa-basi lagi dan langsung bergerak kembali ke arah mereka berlari sebelumnya, ke tempat gunung itu pernah ada.


“Kyuu!”


Tentakel transparan mengikat kaki Basalt dan membiarkan Clear menarik dirinya kembali ke atas kepala ular raksasa itu.


Akhirnya kelompok Aura langsung pergi meninggalkan kelompok yang masih tidak mengerti tentang apa yang baru saja terjadi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2