Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 41 – Kesalahan Besar


__ADS_3

Langit malam hari ini sangat mendung, membuat padang rumput dan hutan itu menjadi cukup gelap.


Dari dalam perkemahan yang sudah sangat sepi itu, terlihat sebuah kelompok bergerak secara diam-diam.


Sepuluh orang yang mengenakan jubah yang menutupi wajah dan tubuh mereka terlihat mulai bergerak setelah melihat Leinn berjalan meninggalkan tendanya.


Mereka mulai berjalan perlahan, berusaha tidak terdeteksi saat mendekati tenda di tengah padang rumput itu.


“Ketua... apa kau yakin ini akan berhasil?” bisik salah satu dari mereka pada orang yang berjalan di paling depan kelompok itu.


“Tenang saja! Kita hanya perlu menghabisi Slime kecil itu lalu melarikan diri sebelum dia kembali”


Pria berjubah di posisi paling depan yang terlihat seperti pemimpin kelompok ini menunjuk ke satu arah, tempat Basalt yang sedang duduk di rumput.


“T-tapi bukannya masih ada dua Rank B Beast di sana?”


“Berisik sekali kau! Sudah kubliang tenang saja!”


Mereka sudah semakin dekat dan sepertinya sedang menggunakan sihir untuk menyembunyikan keberadaan mereka karena Basalt masih belum menyadari sepuluh orang yang mendekatinya itu.


Ketua kelompok itu melihat sasaran mereka sekali lagi, Slime di atas kepala Gorilla Beast besar itu.


“Baiklah, apa kalian sudah siap?”


Pengikut di belakangnya menganggukkan kepala mereka. Dengan ayunan tangan kanannya sebagai tanda, mereka mulai bergerak dengan cepat.


Basalt terlihat menyadari adanya gerakan dan menoleh ke arah mereka.


“Hoh?”


“Menyebar!”


Kelompok itu langsung pecah menjadi lima kelompok dua orang dan mulai memencar.


Basalt mulai berdiri dan bersiap melancarkan serangannya.


Kelompok ini terlihat satu langkah lebih cepat dan mereka melempar bola hitam, yang meledak dan berubah menjadi asap tebal, menyelimuti area itu.


“Hoh?!”


Kehilangan penglihatannya, Basalt mulai sedikit panik.


Lima pisau melayang bersamaan dari lima arah berbeda ke wajahnya, dan dia berniat menhindari pisau itu sampai disaat dia teringat bahwa Clear masih ada di atas kepalanya.


“Kyuu!”


“Hoooh!”


Menggunakan kedua telapak tangannya, dia melindungi Clear dari serangan itu.


Darah mulai mengalir dari tangannya dan membahasi wajahnya. Pisau di punggung tangannya juga terlihat mengeluarkan cahaya berwarna merah terang di tengah kabut tebal itu.


Ketua kelompok itu seperti sedang menggunakan sebuah alat yang membiarkannya melihat keadaan di dalam kabut tebal itu dengan jelas dan bisa melihat serangan pertama mereka tidak berhasil menghabisi Slime itu, jadi dia menarik keluar sebuah peluit kecil.


Whistle...!


Ketua kelompok itu meniup peluit itu sekuat tenaga, memerintahkan serangan berikutnya.


Sepuluh orang itu mulai menembakkan berbagai jenis sihir ke arah cahaya merah itu.

__ADS_1


Boom...!


Serangan terus melayang di udara dan mendarat di tubuh Basalt yang hanya memeluk Clear dan menggunakan tubuhnya untuk melindunginya, tidak memberikannya kesempatan untuk membalas serangan kelompok asing itu.


Suara teriakan Aura terselimuti oleh ledakan serangan itu dan Rufus tidak membiarkan Aura mendekati kelompok asing itu, tubuh besarnya melindungi Aura dan tatapan buasnya tertuju ke ketua kelompok itu.


“Sialan!”


Ketua kelompok itu mulai merasa panik melihat Beast yang belum jatuh setelah menerima serangan penuh dari mereka dan serigala raksasa yang bisa menemukannya di dalam kabut tebal itu. Dia menyadari mereka telah gagal menyelasaikan misi mereka dan berniat memberikan perintah untuk mundur...


Boom!


Dua bayangan melayang melewati kedua sisi wajahnya dengan sangat cepat. Menoleh ke belakangnya, dia menemukan dua anak buahnya terbaring disana, tidak bergerak.


Dia secara cepat melihat arah tubuh itu melayang dan juga menyadari kabut asap mereka telah hilang karena gelombang serangan itu.


Di sana berdiri pemuda berambut hitam dengan ekspresi dingin yang sedang menatapnya balik.


‘Bahaya!’


Kelompok itu merasakan hal yang sama, menyadari pemuda di depan mereka bukanlah seseorang yang mereka bisa kalahkan dengan jumlah.


Seluruh tubuh mereka berteriak untuk lari, tetapi mereka tidak bisa mengangkat kaki mereka yang seperti melekat di tanah itu.


Mereka bahkan tidak menyadari Aura dan Rufus yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


“Hah...”


Leinn melihat Basalt yang terluka karena melindungi Clear itu, lalu nafas lelah keluar dari mulutnya.


Dia tidak menyangka akan ada orang yang mengincar Clear, dan karena kelalaiannya itu Basalt jadi mendapat luka yang tidak perlu.


Dia mengelus dahinya sambil mulai melihat delapan orang berjubah itu.


Tatapan dinginnya menyapu kedelapan orang yang masih berdiri di sana. Salah satu mereka berhasil mengambil satu langkah mundur karena ketakutan, lalu melayang dan mendarat di atas tubuh dua orang yang ada di belakang ketua mereka, tidak bergerak lagi.


“Huh?”


Leinn sudah berdiri di sana, berpindah sejauh 10 meter tanpa satupun dari mereka menyadari dia bergerak dan menyerang anggota mereka.


Tidak bisa memproses semua itu, ketua kelompok itu mengangkat tangan kanannya.


“Tung-“


Bam Bam


Dua tubuh melayang lagi, lima tubuh menumpuk. Tangan kanan yang terulur itu terlambat melakukan apapun.


Leinn menoleh dan melihat tangan itu.


“Kau pemimpin kelompok ini...?”


“Y-ya!”


Sensasi mencekik memenuhi tubuhnya hanya dari suara kecil pemuda itu, membuatnya menjawab tanpa sadar.


Melihat situasi yang berbahaya ini, empat orang yang tersisa langsung melompat ke depan ketua mereka.


“K-ketua, a-apa yang harus kita lakukan sekarang?”

__ADS_1


“A-apa?”


Tersadar setelah mendengar suara itu, dia melihat bawahannya yang tersisa dan menyadari mereka telah gagal.


Menggigit bibirnya, dia memberikan perintahnya.


“Mundur sekara-!”


[Reap]


Kalimatnya terpotong pendek ketika dia menyadari dirinya sudah berada di udara, menatap tubuh yang tidak asing. Tubuh tanpa kepala...


“Huh?”


Tubuhnya sendiri.


“AAAAAH!” ketua kelompok itu mengeluarkan jeritas terkeras yang pernah dikeluarkan sepanjang hidupnya.


Dan Leinn kembali muncul di pandangannya.


Dia sudah jatuh terduduk di tanah dengan kedua kakinya yang sudah tidak bisa digerakkan, menyadari kepalanya masih menempel di tubuhnya. Dia menyentuh lehernya berulang kali untuk memastikan itu.


‘Ilusi?’


Sensasi kematian yang menyelimutinya itu terlalu nyata, seluruh tubuhnya percaya bahwa dia telah mati. Dia juga menyadari empat bawahannya sudah jatuh di tanah, tidak sadarkan diri dengan buih keluar dari mulut mereka.


Tap tap


Suara langkah kaki yang sangat kecil itu terdengar memenuhi kepalanya, membuatnya menyadari bahwa pemuda itu sedang berjalan ke arahnya. Dia bisa melihat kabut ungu yang keluar dari tubuhnya ikut bergerak mendekatinya, dan sensasi kematian yang dia rasakan sebelumnya mulai memenuhi seluruh tubuhnya kembali.


Tap


Leinn berdiri disana, menatap pria yang duduk didepannya.


“Jadi, kenapa kalian mengincar Clear?”


“...!”


Dia merasakan betapa dekat dirinya dengan kematian, sampai air mata mulai terkumpul di matanya. Dia mulai membuka mulutnya untuk menjawab itu, tetapi suaranya tidak bisa keluar karena rasa takut yang mencekik lehernya.


Leinn melihat pria di depannya tidak memberi jawaban dan mulai memejamkan matanya.


“Baiklah kalau kau tidak ingin berbicara”


Kabut ungu itu di tubuhnya terlihat semakin memekat.


Ketua itu masih berusaha berbicara tanpa berhasil dan dia melihat pria di depannya membuka matanya kembali.


“Tidak ada bedanya”


Mata hitamnya sudah berubah menjadi ungu terang, dan tatapan dari mata itu seperti bisa menusuk jiwa semua orang yang melihatnya secara langsung.


[Luna]


Kabut... Mana ungu itu menjadi semakin pekat dan mulai membentuk siluet manusia, melayang di belakang Leinn. Tangan, kaki, lalu rambut panjang mulai nampak dari siluet itu, dan dia mulai mengulurkan tangan barunya untuk menyentuh pria yang berlutut di depan Leinn.


Sesaat sebelum tangan itu bisa mencapai wajahnya...


“Leinn!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2