
Isaac sudah bangun berdiri dan melihat pemuda berambut hitam yang sedang merembeskan Mana biru muda dari seluruh tubuhnya.
Teriakannya itu sudah bergema di seluruh stadium dan menciptakan banyak percakapan yang memenuhi udara, tetapi tidak memengaruhi dua pemuda yang berdiri di atas arena itu.
“Apa alasanmu menunjukkan ini padaku?”
“Seranganmu tidak buruk, Perasaan yang ada di setiap seranganmu sudah sangat baik. Kau hanya perlu mengendalikannya”
Mendapat jawaban yang tidak ada hubungan sama sekali dengan pertanyaannya membuat Brick menunjukkan ekspresi aneh.
Leinn mulai memejamkan matanya dan dalam sekejap seluruh Mana berhenti merembes dari tubuhnya, lalu membuka matanya lagi dan Mana mulai merembes keluar lagi.
Ini terjadi beberapa kali di depan Brick, menunjukkan kemampuan Leinn untuk mengaktifkan dan mematikan keadaan Overflownya sesuai keinginannya.
Tidak memedulikan keributan yang semakin keras disekitarnya itu, Leinn mulai kembali menjelaskan.
“Pelajarilah cara untuk mengendalikan perasaanmu. Kekuatan yang sebenarnya akan datang ketika kau bisa mengendalikan kekuatanmu, bukan sebaliknya. Dan jika kau sudah berhasil...”
Leinn menoleh ke arah tempat duduk Roland sambil meraih gagang pedang di tangan kirinya.
Roland yang melihat pertukaran mereka di atas arena itu dengan ekspresi datarnya melihat dan langsung mengenali ekspresi di wajah Leinn itu.
Crackle...!
Roland langsung meloncat berdiri dari tempat duduknya dan meraih kedua pedang di punggungnya.
“Clear Sky Style, Finisher”
Mata pedang mulai mengintip keluar dari sarung pedang di tangan kirinya dan semua Mana yang merembes keluar di tubuhnya terserap ke dalam celah itu.
“Storm Sky Style, Finisher”
Dua pedang di tangan Roland mulai mengeluarkan petir kuning terang yang meloncat-loncat di sekitarnya, kilatan petir juga mulai keluar dari seluruh tubuhnya dan menyetrum Twig yang sedang berbaring di dekatnya.
[Heaven Treading Wave]
Leinn menarik keluar pedangnya dan jalur pedang dari Mana biru muda yang membentuk setengah lingkaran muncul di udara, mengeluarkan gelombang pedang setinggi sepuluh meter yang mulai bergerak cepat ke arah Roland.
Penonton yang berada di dalam jalur gelombang itu mulai meloncat dari tempat duduk mereka untuk menyelamatkan diri.
[Mountain Shattering Thunder]
Roland menarik keluar dan mengayukan kedua pedangnya ke depan dan kilatan petir selebar tiga meter meluncur di udara dengan cepat ke arah gelombang pedang itu.
Boom...!
Ledakan besar terbentuk dari benturan dua serangan itu dan menyebarkan gelombang kuat ke sekitarnya, menyebabkan beberapa murid baru yang berada paling dekat dengan benturan itu terangkat dari tempat duduk mereka dan ikut melayang sesaat.
Setelah beberapa saat untuk situasi kembali tenang, semua orang di sana bisa melihat hasil dari benturan dua serangan itu.
Dua serangan itu meninggalkan garis lubang besar dan titik bertemunya mereka menjadi lubang selebar dua puluh meter dengan kedalaman yang hampir mencapai sepuluh meter.
Hampir semua orang selain Adeline yang menggunakan esnya sebagai pelindung itu sudah menempel di dinding batu di belakangnya.
__ADS_1
Twig juga terlihat melilitkan tubuhnya di es milik Adeline itu, menghentikan tubuh empat meternya untuk terpental lebih jauh.
Tanpa memedulikan Roland yang sedang menatapnya sambil mengerutkan dahi, Leinn mengembalikan perhatiannya pada Brick yang berhasil menahan dirinya dari gelombang ledakan itu dengan menancapkan kedua tinjunya di lantai batu.
“Seperti itu”
“Kyuu!”
Brick melihat Leinn menyarungkan kembali pedangnya dan Slime yang meloncat ke arah mereka, lalu menoleh dan menemukan Contracted Beast-nya sudah terpental keluar arena.
“Aku kalah...”
Leinn membalik badannya dan berjalan kembali ke tempat tunggunya, meninggalkan Brick yang masih terduduk dengan lemas.
“Ingatlah alasanmu bertarung”
Dengan kalimat terakhir itu, Leinn meloncat turun dari sana.
Brick jatuh terbaring di atas lantai batu itu, dengan beruangnya yang mulai merangkak ke sampingnya lalu melihatnya dengan khawatir.
Dia melihat Contracted Beast-nya dan mengingat kata-kata yang diucapkan Leinn padanya, dan sebuah senyuman kesal muncul di wajahnya.
Dia tidak bisa menghentikan perasaan yang selama ini tidak ingin dihadapinya.
“Hahaha...”
Tawa kecil itu keluar dari mulutnya bersamaan dengan tim medis dan tiga temannya yang berlari ke arahnya.
...
“Kyuu!”
Aura terlihat memeluk Clear dengan erat sambil tersenyum lebar, dia merasa sangat lega melihat Clear sudah kembali seperti semula.
Rufus hanya berbaring di samping mereka dan menoleh ke arah Clear yang sedang bergetar itu.
Leinn duduk di samping mereka berdua sambil melihat tim perbaikan yang sedang bekerja keras.
Jumlah mereka terlihat hampir dua kali lipat dibandingkan sebelumnya, tetapi waktu yang dibutuhkan sudah jauh lebih lama dibandingkan sebelumnya juga.
“Aku merasa ini adalah salahku?”
Beberapa guru dan penonton yang bisa menggunakan sihir elemen tanah bahkan ikut membantu, tetapi ini masih membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk hampir memperbaiki semuanya seperti semula.
Tentu saja yang paling memakan waktu adalah menutup lubang besar di luar arena yang disebabkan olehnya.
“Kau baru menyadarinya...?”
“Kyuu”
Aura menggelengkan kepalanya setelah melihat pemuda disampingnya baru menyadari perbuatannya itu, dengan Clear di pelukannya juga terlihat menggelengkan tubuhnya.
Leinn hanya melihat lubang yang sudah 90 persen tertutup itu dan terlihat melamun.
__ADS_1
“Huh”
Bersamaan dengan pencerahannya itu, sebuah batu besar menutupi lubang yang tersisa disana.
Tim perbaikan lalu meulai membuat lingkaran sihir besar untuk membuat lantai baru itu sama seperti sisa stadium di sekitarnya.
Sekarang stadium itu kembali seperti sebelumnya, hanya dengan perbedaan warna lantai baru di beberapa tempat.
Tim perbaikan dan beberapa sukarelawan mulai bubar dari sana, beberapa diantara mereka terlihat menoleh ke arah Leinn sesaat.
“Hm?”
Tentu saja mereka tidak berani melakukan itu terlalu lama, beberapa dari orang-orang itu bahkan langsung melarikan diri setelah tatapan mereka bertemu.
Akhirnya stadium kembali siap untuk melihat pertarungan berikutnya, dengan tiga lingkaran yang sudah muncul lagi di empat layar cahaya di atas arena itu.
Tiga anak panah itu berhenti bersamaan dan menunjuk pada Angin, Bebas, dan...
Whosh...
Bham!
Dua petarung mendarat di atas arena bersamaan.
Satu datang bersama angin dingin dan potongan es tipis yang membawanya, yang lain turun dari tunggangan besarnya.
Mereka berdua mulai mengayunkan tongkat di tangan mereka sambil menatap satu sama lain.
“Aku tidak akan mengalah”
“A-aku juga t-tidak akan m-mengalah”
Adeline menatap lawannya yang sedang menunjukkan ekspresi gugup itu dengan bingung, melihat Aura yang berbeda dengan pertarungan sebelumnya.
Aura mulai menggenggam tongkatnya dengan keras karena rasa gugupnya, melihat lawannya kali ini adalah putri dari Dewa Es yang sangat terkenal sebagai pengguna es terbaik di generasi mereka.
Tetapi secara aneh, kalimat-kalimat yang tidak asing mulai muncul di dalam kepalanya.
Setiap kalimat yang teringat, perasaannya menjadi semakin tenang.
Gadis itu ahirnya berhenti bergetar.
“Bersiap...”
Orang yang pertama menyadari itu tidak lain dari lawannya, Adeline.
Melihat ekspresi Aura yang berubah menjadi serius itu, dia menyadari pertarungan ini akan menjadi sangat menarik. Senyuman kecil muncul di wajahnya dan dia mulai menggenggam tongkatnya dengan lebih erat.
Aura memejamkan matanya dan malam sebelumnya mulai teringat jelas olehnya, sampai akhirnya dia kembali membuka matanya dan sebuah senyuman juga muncul di wajahnya.
‘Percaya’
“Mulai!”
__ADS_1