
Mana yang sudah terkumpul di tubuh dua pemuda itu terlihat sudah mencapai batasnya dan akhirnya meledak, menghasilkan pilar emas dan ungu yang menabrak langit-langit pelindung itu.
Retakan mulai muncul dan menyebar perlahan-lahan.
“...dan ini terlihat jauh lebih besar dibandingkan waktu itu...”
Adeline melihat dan menyadari energi yang dipancarkan dari tubuh Roland itu masih terus meningkat.
Aura mulai melihat ke arah pemuda berambut hitam di atas arena itu, rasa cemasnya semakin bertambah kuat.
Dia menyadari energi yang sedang dikumpulkan oleh Leinn itu tidak kalah besar dibandingkan milik Roland.
Jika dua serangan sebesar itu berbenturan, stadium ini tidak akan bertahan walaupun dilindungi sihir pelindung raksasa itu.
...dan sepertinya hampir semua orang di sana juga menyadari hal itu.
“Buka jalan!”
Belasan pengawal mulai membuka jalan untuk orang penting dari salah satu Guild Perdagangan besar bergerak untuk membawanya keluar dari stadium.
Hal ini memicu orang-orang lain untuk mulai berlari menyelamatkan diri dari sana, disulitkan oleh getaran yang mulai meretakkan dinding dan tiang batu disekitar mereka.
“Aah... bagaimana ini?”
Pria berambut hijau melihat orang-orang yang panik itu sambil menggaruk kepalanya, bertanya pada pria disampingnya.
Teknik yang digunakannya hanya menyembunyikan keberadaan mereka di tengah kelompok orang, tentu saja ini tidak akan berfungsi dengan benar jika hanya mereka berdua yang tersisa di sana.
“...”
Pria berambut merah membara itu tidak menjawab pertanyaannya, hanya melipat tangannya dan melihat dua pemuda di atas arena itu. Dia hanya melihat dengan ekspresi datar, lalu menoleh ke samping arena.
Ke arah gadis berambut merah muda yang sedang berusaha berdiri dengan stabil.
“Ayo”
Dan mereka berdua menghilang dari tempat duduk itu.
...
Satu menit berlalu sejak orang pertama yang lari, dan sekarang sudah tidak ada penonton sama sekali di sekitar stadium itu.
Sebagian besar murid dan guru yang bertugas untuk mengisi Mana ke lingkaran sihir raksasa sudah lari setelah menguras sebagian besar Mana mereka. Gerakan cepat karena perintah cepat dari Isaac, membuat sihir pelindung itu sampai mencapai kekuatan maksimalnya.
Sihir pelindung itu sudah bisa menghentikan dua pilar energi yang menabraknya secara terus-menerus tanpa menimbulkan retakan. Terlihat jauh lebih kuat, tetapi yang sekarang masih ada untuk menambahkan Mana mereka hanya lima orang saja. Tiga guru dan dua murid.
Untung saja sebelum terjadi masalah dengan pelindung itu, perubahan terjadi di dalam sana.
Pilar itu mulai menyempit dan akhirnya hilang, menyisakan dua pemuda yang berdiri dikelilingi lapisan tipis berwarna emas dan ungu.
“Hah...”
Crackle
Gelombang petir keluar bersama helaan nafas kecil dari mulut pemuda berambut pirang itu.
__ADS_1
Petir juga meloncat keluar dari matanya yang baru terbuka dan tekanan besar mulai menghantam wilayah disekitarnya.
“Sepertinya... kau memiliki kemampuan yang mengerikan”
Crackle...!
Gelombang petir besar meledak bersama setiap kata yang keluar dari mulut Roland, yang bergerak cepat ke arah pemuda berambut hitam di depannya.
“Haha...”
Tawa pendek terdengar dan gelombang petir yang hampir mengenainya langsung lenyap sebelum menyentuhnya.
Rambut hitam panjangnya berkibar bersama kabut ungu yang melayang di sekitarnya, dengan suhu di sekitarnya yang juga mulai menurun dengan kecepatan tinggi.
“Kau sendiri tidak buruk...”
[Hihihi...]
Dua pemuda itu berdiri disana, terlihat berbeda dengan keadaannya sebelumnya.
Roland sudah tidak memiliki cakar, ekor dan sayapnya lagi.
Selain petir yang meloncat-loncat di sekitar tubuhnya, guntur yang terdengar setiap kali dia menghembuskan nafas, dan lapisan Mana emas tipis di seluruh tubuhnya, dia cukup biasa.
Leinn juga kehilangan sayap ungu dan api yang menyala di tangan kirinya.
Jika tidak menghiraukan rambut panjangnya, mata dan pupilnya yang berwarna hitam dan ungu, dan kabut ungu yang mulai membentuk sesuatu di depannya, dia sama seperti sebelumnya.
“Petirmu terlihat tidak stabil, apa teknikmu itu belum sempurna?”
Ucapan mereka berdua sangat tepat sasaran.
Keadaan mereka saat ini adalah tingkat berikutnya dalam perubahan mereka, dan masih sangat tidak stabil.
Mereka bahkan tidak bisa bergerak bebas dengan energi yang sangat sulit dikontrol dalam tubuh mereka.
Dalam keadaan ini, mereka hanya bisa melakukan satu hal....
“Kalau begitu...”
“...bersiaplah”
Meluncurkan satu serangan.
Satu serangan terbesar.
“Aaa...!”
Teriakan keras Roland terlihat seperti pemicu dan seluruh Mana Petir yang terkonsentrasi meledak keluar.
“Hah...!”
Bersamaan dengan helaan nafas kuat Leinn, kabut ungu di depannya bergerak semakin cepat dan membentuk bola ungu selebar satu meter.
Petir dan guntur mengguncang stadium, niat membunuh dan hawa dingin menyebar cepat.
__ADS_1
Orang yang tersisa di stadium itu menyadari apa yang akan terjadi berikutnya dan mulai menuangkan semua Mana yang mereka bisa berikan.
“Ayo... Aura...”
Adeline mengucapkan itu sambil berbaring di atas tubuh ular sepanjang 20 meter, sudah tidak bisa bergerak sama sekali karena kehabisan Mana.
“Ya...”
Jawaban lemah itu datang dari gadis yang berbaring di punggung serigala besar, sudah tidak bisa bergerak karena alasan yang sama juga.
Mereka hanya menyisakan sedikit Mana yang hanya cukup untuk membiarkan mereka tetap sadarkan diri.
Aura melihat Twig yang mulai bergerak untuk keluar dari stadium, diikuti oleh Elsa yang melayang di sampingnya.
Rufus juga mulai berlari mengikuti ular itu bersama dengan Clear yang hinggap di pundak Basalt yang berlari sambil membawa tas besar di tangan kanannya.
Disaat dia berbaring lemas di punggung Rufus itu, Aura bisa melihat sesuatu.
Pria berkulit coklat berotot yang tidak mengenakan baju sedang memikul seorang perempuan yang mengenakan jubah yang menutupi sebagian besar tubuhnya dan Isaac di kedua pundaknya.
Dia berlari ke arah pintu di sisi lain stadium dengan sangat cepat.
“Leinn...”
Pemandangan terakhir yang dilihat oleh Aura adalah siluet ungu yang mulai terbentuk di depan Leinn, yang mulai berubah menjadi sesuatu yang aneh. Lalu mereka masuk ke dalam lorong gelap itu dan arena itu semakin kecil dan tidak terlihat.
Sekarang stadium ini sudah seperti hanya milik dua pemuda di atas arena itu.
Ledakan emas dan ungu disana akhirnya berhenti, meninggalkan kesunyian.
“Sepertinya...memang... belum...”
Petir berhenti menyambar dan suara guntur tidak dapat terdengar lagi, seperti terperangkap di dalam tubuh Roland itu.
Samar-samar dapat terlihat baju zirah dari petir emas sedang berkedap-kedip antara nyata dan tidak nyata di tubuhnya itu, dengan setiap kedipannya akan membuat getaran kuat seperti suara guntur di tubuh orang yang berani melihatnya.
“Ha...ha... sama... juga...”
Niat membunuh yang pekat keluar dan menyebar tanpa henti, menimbulkan ilusi kematian bagi siapapun yang menatap Leinn saat ini.
Jubah ungu panjang yang terbentuk dari api ungu di pundaknya memanjang sampai menyentuh tanah dibawahnya terlihat sangat redup, seperti api lilin yang hampir padam. Tetapi energi yang berada di dalamnya masih bisa mengeluarkan suasana yang sangat mencekam.
[Apa kalian baik-baik saja?]
Rambut hitam panjang, kulit seputih mutiara, tubuh setinggi 160 sentimeter ditutupi oleh pakaian berwarna hitam dan ungu, sama seperti warna rambut dan matanya. Dengan senyuman yang bisa ditemukan di wajah gadis seumurannya, dia berdiri di samping pemuda berambut hitam itu.
“...”
“...”
[...]
__ADS_1