Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 118 - Senandung


__ADS_3

Helaan nafas panjang keluar dari Leinn yang berbaring di kursi panjang itu dan dia memejamkan matanya secara perlahan lalu berhenti bergerak sama sekali, membiarkan waktu berlalu di sekitarnya.


Ingatan-ingatannya selama satu bulan terakhir mulai memenuhi kepalanya dan ketika dia membuka matanya kembali, bulan sudah mencapai titik yang cukup tinggi di langit malam.


Leinn menoleh ke samping dan bisa melihat menara jam tinggi di tengah akademi sudah menunjukkan waktu sekitar jam 9 malam, sedikit mengejutkannya.


“...huh”


Sepertinya dia jatuh tertidur.


Leinn lalu berhenti memikirkan itu dan kembali melihat langit malam, yang sudah dipenuhi bintang-bintang dengan jumlah yang luar biasa banyak. Dia memeriksa sekitarnya juga yang sama sekali ada makhluk hidup lain.


Sebenarnya empat hari yang lalu Leinn tidak sengaja mencapai atap ini ketika sedang berjalan-jalan di sore hari dan bertemu dengan murid yang sedang merapikan tanaman, diikuti dengan ekspresi terkejut dan larian yang cukup menarik.


Menemukan tempat itu cukup nyaman, Leinn datang lagi keesokan harinya dan menemukan murid yang sama sedang merapikan tanaman lagi, tetapi kali ini dia tidak langsung lari.


Jadi mereka berdua hanya berada disana seperti saling menemani satu sama lain, dengan satu pemuda yang berbaring menerima cahaya matahari sore dan murid... gadis yang mengurus tanaman di taman itu.


Dan keesokan harinya, di sore hari setelah semua tanaman selesai terurus dan sebelum dia kembali ke bawah, gadis itu memberikan kunci duplikat untuk pintu ke atap itu pada Leinn dan langsung berlari meninggalkannya.


Jadi sekarang Leinn bisa menikmati langit malam tanpa perlu terganggu oleh orang-orang yang berjalan melewati taman di depan asrama itu.


Tetapi sepertinya hari ini dia datang terlalu sore, melihat pintu itu sudah terkunci saat dia datang beberapa jam yang lalu dan gadis itu sama sekali tidak terlihat dimanapun.


“Hah...”


Uap putih terbentuk dari helaan nafasnya, menandakan suhu yang sudah menurun drastis dibandingkan sore tadi.


Tetapi Leinn tidak terlihat terganggu, dan hanya menatap langit berbintang sambil ditemani pikirannya.


Ini pertama kalinya dia bisa menatap langit malam sendirian setelah sekian lama, menyebabkan beberapa perasaan lama mulai bermunculan dan memenuhi dadanya.


Ada perasaan girang, menanti hal baru di esok hari.


Ada perasaan ragu, mempertanyakan kebenaran jalan ini.


Ada perasaan kesepian-


“Hm...?”


Yang langsung hilang begitu saja, digantikan oleh perasaan lain.


Perasaan yang mendorongnya untuk...


“Hum~”


...bersenandung.


Suara senandung yang dimulai dengan hanya sekeras bisikan perlahan-lahan menjadi semakin keras dan memenuhi atap kosong itu, lalu mulai menyebar ke seluruh bangunan asrama yang sudah dipenuhi murid-murid tahun pertama itu.

__ADS_1


“Besok aku akan-hm?”


“Ada apa-?”


Percakapan belasan murid di ruang makan asrama itu langsung berhenti bersamaan, dikarenakan suara senandung yang tiba-tiba memenuhi sekitar mereka.


Lalu akhirnya semua murid di berbagai lantai bangunan itu langsung menoleh ke sekitar mereka dan menemukan suara itu seperti bergema dari seluruh arah di sekitar mereka, tanpa satu arah sumber yang jelas.


Yang paling aneh adalah suara senandung itu... tidak benar-benar jelas apakah dari seorang laki-laki atau dari perempuan, dan itu membuat hampir semua murid di bangunan itu menjadi ketakutan.


Mengira bahwa itu adalah suara makhluk gaib.


“...”


Di salah satu ruangan murid, Roland membuka matanya setelah terbangun dari meditasinya karena suara itu. Mata birunya mulai menoleh ke arah langit-langit sesaat, diikuti dengan sebuah senyuman kecil.


Di ruangan lain adalah dua orang gadis yang sedang berbincang tentang kelas di awal hari itu, lalu membahas beberapa teori sihir yang bisa mereka buat dengan pandangan baru dari beberapa guru pengajar yang mereka temui selama beberapa hari terakhir.


Yang terpotong secara tiba-tiba setelah suara asing yang memenuhi ruangan tempat mereka berada itu.


“A-apa...?”


“Suara apa ini...”


Aura menoleh ke sekitarnya bersama Adeline yang juga mengerutkan dahinya dengan bingung.


“Oooh... sudah lama aku tidak mendengar senandungan Leinn!”


“Tapi siapa yang sedang bersenandung dengannya...?”


Dan gadis itu, Hinata menoleh keluar jendela sambil menunjukkan ekspresi bingung.


Beberapa ingatan muncul di kepala Aura seperti menjawab pertanyaan Hinata itu, bersamaan dengan hilangnya suara senandung itu.


“...”


Leinn masih tidak bergerak dari posisi berbaringnya di atas kursi panjang di atap asrama itu tetapi kali ini, ekspresi terkejut dapat terlihat di wajahnya.


Dia menatap telapak tangan kanannya selama beberapa saat, diikuti dengan sebuah senyuman lebar yang mulai muncul di wajahnya.


“Haha...”


Tawa kecil keluar dari mulutnya.


“Hum~”


Diikuti dengan sebuah senandung lagi tetapi kali ini, hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya di atap kosong itu.


...

__ADS_1


Bham


“...hm”


Suara kecil keluar dari mulut gadis berambut merah muda yang baru saja menutup buku tebal di depannya, lalu menggesernya ke tepi mejanya.


“Sudah selesai...?”


Pertanyaan tiba-tiba terdengar dari sampingnya, tepatnya dari gadis berambut biru yang sedang berbaring di kasurnya.


Aura menoleh ke arah Adeline yang sedang menggunakan Linker miliknya dengan ekspresi serius.


“Ya... sepertinya disini juga tidak ada”


Adeline melepaskan pandangannya dari Linker di tangannya dan menatap balik Aura dengan ekspresi murung.


“Sepertinya keaadaan tubuh mereka... memang hanya bisa menunggu waktu?”


“Ya...”


Aura menoleh lagi ke buku di tepi mejanya itu, yang bertuliskan ‘Sejarah Penyakit dan Kondisi Aneh Gaiafell Vol. 3’.


Dia lalu bersandar di kursi duduknya sambil memijat kedua matanya, menyadari pencarian mereka itu hanya memastikan bahwa tidak ada yang mereka bisa lakukan selain berharap yang terbaik untuk Leinn dan Roland.


Setidaknya setelah membaca puluhan buku dari perpustakaan, bahkan buku-buku yang hanya sedikit berhubungan itu, Aura bisa membuat beberapa teori tentang apa yang mungkin terjadi dengan dua pemuda itu.


Antara satu, tubuh mereka menjadi rusak permanen setelah mengeluarkan dan menerima serangan di pertarungan mereka berdua sebelumnya, jadi harus menerima bantuan dari luar untuk bisa kembali ke kondisi semula.


Untung saja ini terbukti salah ketika Leinn dan Roland dapat terlihat perlahan-lahan mendapatkan kembali kekuatan dan kemampuan mengendalikan Mana mereka saat Aura dan Adeline sedang mencari informasi untuk menyembuhkan mereka.


Jadi kemungkinan kedua, mereka memang terluka sangat parah tetapi masih dalam jangkauan yang bisa disembuhkan tubuh mereka sendiri, dan masih membutuhkan bantuan dari luar untuk pulih sepenuhnya.


Atau ketiga, mereka akan sembuh sendiri seiring waktu berjalan.


Karena nyawa mereka ternyata sudah tidak dalam bahaya, Aura dan Adeline menjadi lebih tenang dan teliti saat mencari informasi penyembuhan itu. Mereka juga memperhatikan keadaan dua pemuda itu dan selama masa itu mereka menemukan bahwa kondisi Leinn dan Roland ternyata sama sekali tidak sama.


Kondisi di tubuh Leinn adalah semua Mana yang masuk ke dalam sirkulasi tubuhnya akan langsung hilang seperti terisap oleh sesuatu dalam beberapa detik saja, tidak membiarkannya mengumpulkan Mana untuk melakukan sihir tingkat paling rendah sekalipun dengan mudah.


Sedangkan kondisi Roland adalah Mana Petir dalam tubuhnya ternyata menjadi sangat tenang, begitu tenang sampai ke titik dimana dia sendiri kesulitan untuk menggunakannya untuk menggunakan sihir penguat tubuh sekalipun.


Jika tubuh Leinn saat itu seperti sebuah lubang hitam yang mengisap semua yang memasukinya, maka tubuh Roland adalah seperti binatang buas yang sudah puas mengamuk lalu jatuh tertidur.


Walaupun keadaan mereka saat ini sudah tidak sama dengan hari pertama mereka kembali sadarkan diri.


Adeline menyimpan Linker miliknya dan menoleh ke arah Aura lagi.


“Jadi... apakah kita akan kesana sekarang?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2