Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 77 – Pemuda Berambut Pirang dan Petir Emas


__ADS_3

Suara guntur yang tidak kalah keras dari sebelumnya mengguncang stadium itu sekali lagi, tetapi kali ini guntur itu hanya terdengar sekali saja sebelum hilang tanpa sisa.


Satu sambaran petir, berasal dari pemuda berambut pirang dengan pedang di dadanya.


“Ini sangat mengejutkan”


Roland berbicara dengan perlahan seperti biasa, tetapi nada senang dapat terdengar jelas di dalam kalimatnya.


“Aku benar-benar tidak menyangka kau akan menggunakan pedangnya dan menyerangku langsung”


Roland menurunkan tangan kirinya yang menggenggam pedangnya dan menatap gadis kecil di depannya itu dengan senyuman di wajahnya.


Aura menatap balik tatapan pemuda pirang itu dengan ekspresi tidak percaya.


Tebasan ini adalah serangan yang ditambahkan dengan Body Enchant sampai melebihi batas tubuhnya, menyebabkan kedua lengannya menjadi dipenuhi luka-luka dan ditutupi warna merah dari darahnya sendiri.


Rencananya itu sudah sempurna sampai disaat terakhir, dan lawannya yang sudah tidak mungkin bisa menghindarinya.


“Aku tidak menyangka akan menggunakan ini sebelum melawannya”


Aura berusaha menarik kembali pedang itu tanpa berhasil, bahkan tidak bergeming sedikitpun.


Alasan dari fenomena itu adalah cakar yang sedang menjepit mata pedang itu beberapa sentimeter sebelum mencapai dada pemuda pirang itu.


[Thunder Dragon Claw]


Empat kuku emas muncul dari tangan kanannya yang diselimuti oleh petir itu.


Mata pedang itu tidak bisa menyentuh telapak tangan pemuda itu dan terjepit di antara kuku petir itu, terhenti di tempat.


Aura menahan rasa nyeri di telapak tangannya dari listrik yang terus mengalir ke gagang pedangnya itu, tidak melepaskan pandangannya dari pemuda di depannya.


“Hm...”


Senyuman muncul di wajah Roland sekali lagi, senyuman yang berbeda.


Aura mengenali senyuman di wajah lawannya, itu adalah senyumannya di saat dia bertarung dengan Leinn di hari sebelumnya.


“Baiklah”


Aura tiba-tiba bisa menarik kembali pedang itu lalu mengambil beberapa langkah mundur, berusaha tidak terjatuh.


Sebelum dia bisa mengembalikan keseimbangnya itu...


Crackle...!


Suara petir dapat terdengar di depannya, dan dia hanya bisa melihat cahaya terang menutupi seluruh penglihatannya.


Roland mengetahui lawannya tidak akan menyerah, jadi dia hanya bisa memberikan serangan penghabisan.


Sebuah bola petir emas mulai muncul di antara empat kuku emas di tangan kanannya itu, sampai mencapai lebar 20 sentimeter dalam sekejap.


Roland menghela nafas pendek, lalu menatap mata lawannya sekali lagi.


[Thunder Dragon Breath]


Crackle- Boom!

__ADS_1


Ledakan petir besar menyebar dari bola petir yang meledak itu, mewarnai dunia menjadi putih selama beberapa detik bagi semua orang di stadium itu.


Mereka juga bisa merasakan angin tajam menerpa wajah mereka dengan kuat di tengah cahaya itu.


Cahaya itu baru mulai mereda setelah beberapa detik yang teras sangat panjang itu telah berlalu, mengembalikan penglihatan penonton disana.


Pemandangan yang mereka lihat pertama kali adalah arena hancur yang tidak terlihat berbeda dari sebelumnya, selain lubang besar yang terlihat jauh lebih bersih dari sebelumnya.


Di atas arena itu hanya terlihat Roland berdiri seorang diri dengan kedua pedangnya sudah tersarungkan.


Petir juga sudah hilang dari tubuhnya dan dia terlihat seperti pemuda tampan biasa, dengan pandangannya yang hanya tertuju ke satu arah.


Di sisi lain di luar arena itu dan di arah yang sedang Roland lihat itu berdiri seorang pemuda berambut hitam, yang hanya tersenyum sambil melihat gadis setengah sadar yang sedang ada di tangannya.


“U-uh...?”


“Yo”


Aura mulai mendapatkan kembali kesadarannya dan yang pertama dilihatnya adalah Leinn yang mengenakan... kaca mata hitam?


“Uuu-Hue?!”


Dia menyadari dirinya berada di posisi yang tidak asing itu dan berusaha bergerak., lalu menyadari seluruh tubuhnya sedang kesemutan dan tidak bisa digerakkan. Jadi dia hanya bisa diam saja dan membiarkan Leinn mengangkatnya dalam posisi itu.


Leinn lalu mengalihkan perhatiannya dan menatap balik pemuda berambut pirang berdiri di atas arena itu.


Senyuman tidak sabar muncul di wajah kedua pemuda itu.


“U-um... Leinn?”


Wajah Aura terlihat semakin memerah di saat dia menyadari penonton di stadium itu sudah mendapatkan kembali penglihatan mereka dan mulai bereaksi dengan posisinya itu. Sebagian orang mulai berbisik sambil menatap dan menunjuk mereka berdua. Dia menyadari rumor baru akan mulai tersebar tanpa bisa dia hentikan.


“Huh?”


Leinn mengembalikan perhatiannya padanya dan mulai berjalan ke podium, tetapi Aura menyadari sesuatu dari sekejap itu.


Sekilas Aura bisa melihat warna mata Leinn di balik kacamata hitamnya dan itu terlihat... berbeda?


“Ada apa?”


Leinn tersenyum kecil setelah melihat Aura menatapnya dengan ekspresi bingung.


Kali ini Aura bisa melihat dengan jelas dua bola mata hitam yang menatapnya itu, lalu menggelengkan kepalanya dan berpikir dirinya salah melihat.


“Tidak ada apa-apa”


...


Kerusakan di arena kali ini jauh lebih besar dibandingkan hari sebelumnya, tetapi tim perbaikan juga sudah lebih siap. Dengan jumlah tiga kali lipat dari sebelumnya, mereka hanya akan memerlukan waktu 30 menit untuk meratakan kembali arena itu.


“Ya, dia baik-baik saja”


Leinn yang bersandar di kursinya itu menyarungkan kembali pedangnya dan merubahnya kembali menjadi gelang.


Aura yang duduk di sampingnya juga menghela nafas lega setelah mendengar itu.


“Syukurlah...”

__ADS_1


Leinn baru selesai memeriksa kondisi pedangnya itu, yang baru diingatnya ketika Roland mengembalikan tongkat sihir milik Aura di podium itu juga.


Dia langsung berlari dan menemukan sarung pedangnya dan pedangnya berada di dua sisi berbeda di luar arena.


“Apa kau yakin kondisimu sudah baikan? Aku masih punya beberapa botol untukmu” ucap Adeline dengan cemas.


Leinn sudah membawa Aura ke atas podium dan meletakkannya di kursinya, sampai tiba-tiba Adeline mencurahkan obat penyembuh kualitas tinggi di kedua lengan Aura.


Dia terlihat sangat khawatir dengan kondisi temannya itu.


Aura yang sudah basah kuyup dengan obat penyembuh itu akhirnya selesai meminum botol ketiganya, wajahnya terlihat lebih pucat dibanding sebelumnya karena kekenyangan air penyembuh itu.


Meminum obat penyembuh dengan kualitas tinggi sebanyak itu memang tidak memiliki efek samping, tetapi tetap sangat mengenyangkan.


Dia hanya bisa memaksa dirinya untuk meminum itu setelah melihat ekspresi khawatir di wajah Adeline.


“A-aku sudah b-baikan...”


Leinn akhirnya turun tangan setelah melihat Adeline menarik keluar botol berikutnya dari kantungnya setelah melihat wajah pucat Aura itu.


“Orang di pintu kematian pun akan kembali hidup setelah menerima obat penyembuh sebanyak itu, hentikanlah”


Adeline terlihat tersadar setelah mendengar itu dan melihat senyum terpaksa di wajah Aura.


Dia jatuh terduduk di kursinya dan menunjukkan ekspresi murung.


Melihat wajah Adeline itu, Aura mulai mengulurkan tangannya.


“A-aku masih bisa-Hue!”


“Kau juga berhenti”


Telapak tangan mendarat di dahi Aura yang terlihat berniat untuk memaksa minum obat itu untuk mengurangi rasa khawatir Adeline.


Akhirnya Aura hanya bisa duduk kembali sambil mengelus luka barunya itu.


Roland melihat pertukaran itu dengan tatapan dingin.


“Urusi dirimu sendiri, berikutnya gili-“


“Pffft-Hahaha...!”


Kalimat Roland itu terpotong oleh suara tawa lepas Leinn.


Itu adalah reaksi yang sama setelah melihat lingkaran merah di pipi pemuda berambut pirang itu sebelumnya.


Lingkaran merah itu adalah luka yang didapatnya dari tinju kecil Adeline, yang terlambat menutup matanya dan berguling-guling kesakitan di podium itu selama beberapa saat sambil memegang kedua matanya setelah melihat langsung teknik Roland itu.


Tentu saja Roland mengetahui alasan sebenarnya dia menerima pukulan itu, tidak lain adalah luka di kedua lengan Aura.


“Apa kau belum puas tertawa...?”


“Belum! Buahahaha...!”


Roland mulai meraih pedang di punggungnya tanpa merubah ekspresi datarnya, tetapi gerakannya itu dihentikan oleh suara yang bergema di stadium itu.


“Dengan ini, turnamen akan dilanjutkan!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2