
Banyak orang yang sedang memerhatikan gadis berambut putih itu menjadi sangat terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba menghilang dari posisi berdiri biasanya, hanya meninggalkan retakan besar di lantai batu yang ditinggalkannya.
Yang berikutnya terjadi adalah dia muncul di depan dua pemuda yang sudah bergerak satu saat sebelum dia menghilang, memungkinkan pemuda berambut hitam itu memberikan satu tebasan ke arah tinju yang sudah mendekati mereka itu.
Bham!
Pedang kayu itu membentur pergelangan tangan Hinata, tetapi hanya berhasil menghentikan tinjunya yang masih mendekat itu sekejap saja.
Tetapi sekejap itu adalah watu yang cukup untuk sebuah ujung pedang panjang yang melesat di antara ketiak Leinn untuk mencapai gadis di depan mereka.
“Hah!”
Bham!
Tusukan pedang dengan seluruh kekuatan tubuh Roland itu berhasil mengenai tepat di perut gadis itu, mementalkan tubuhnya ke udara.
Hinata yang baru melayang sejauh 2 meter itu langsung berhenti di tempat ketika kedua kakinya kembali menyentuh tanah, seolah-olah semua dorongan itu menghilang begitu saja.
“Haha!”
Dia lalu menendang lantai dengan kaki kanannya sambil meluncurkan pukulan kiri lurus dengan seluruh tubuhnya.
Leinn sudah menarik mundur pedangnya saat serangan Roland berhasil mendarat, dan sekarang dia sedang memberikan satu tusukan pedang dengan sekuat tenaganya ke tinju yang mendekati mereka itu, bersamaan dengan Roland yang sedang menarik kembali pedangnya.
Bham!
Leinn meloncat mundur bersamaan dengan benturan pedangnya, berhasil menggunakan tenaga tinju itu untuk membuat jarak di antara mereka sambil mengulurkan tangan kirinya yang langsung di tangkap oleh Roland.
Mereka berdua mendarat setelah melayang sejauh lima meter dan langsung mengambil posisi bertarung, dan kali ini mereka berdiri seperti cerminan satu sama lain.
“”Ayo!””
Leinn memberikan pukulan keras ke arah Roland, yang melakukan hal yang sama ke arahnya.
Bham- Boom!
Dua tinju itu membentur satu sama lain, membuat mereka berdua langsung terpisah sejauh tiga meter dan di tempat mereka sebelumnya itu muncul Hinata yang sedang memberikan pukulan lurus kuat yang meledakkan udara.
Mereka berdua langsung menendang lantai dengan keras sambil mengayunkan pedang mereka ke arah gadis diantara mereka berdua itu.
Tebasan menyamping milik Leinn dan tebasan memotong dari atas milik Roland meluncur cepat ke arah Hinata yang belum selesai memperbaiki posisinya setelah serangannya yang meleset itu.
Bang!
Dua suara benturan terdengar bersamaan menjadi satu suara yang keras, tidak sesuai dengan pemandangan yang menghasilkannya.
Dua pedang mendarat di pinggang dan kepala gadis berambut putih itu, yang masih berada di dalam posisi canggung dengan tinjunya yang terulur penuh dan terlihat tidak bereaksi sama sekali setelah menerima dua serangan sekuat tenaga dari dua pemuda itu.
“...hahaha!” hanya suara tawa yang keluar dari mulut gadis berambut putih itu.
Leinn dan Roland tidak menunggu sama sekali dan mulai meloncat mundur bersamaan lalu langsung berniat memulai kembali serangan beruntun mereka.
Hinata juga terlihat berhenti memberikan serangan sembarangan dan mulai mengambil kuda-kuda bertarung dengan dua tinjunya di depan sambil melompat-lompat kecil di tempat.
“Welp...”
__ADS_1
“...rencana berikutnya”
Leinn yang melihat itu langsung melempar pedangnya ke samping dan berlari maju sambil mengulurkan telapak tangan kirinya dan menarik mundur tinju kanannya.
Roland lalu meloncat ke belakang pemuda yang sedang berlari itu, menyembunyikan dirinya dari garis pandang Hinata dengan tubuh Leinn di depannya.
“Ayo, Hinata!”
“Ayo!”
Jawaban penuh semangat datang bersama pukulan kirinya yang walaupun tidak memiliki kekuatan seperti sebelumnya, memiliki kecepatan yang beberapa kali lipat lebih cepat.
Kondisi tubuh Leinn seharusnya tidak memungkinkan dirinya menghindari pukulan dengan kecepatan seperti itu, asumsi yang benar jika dia bereaksi setelah serangan itu meluncur ke arahnya.
Swoosh...!
“Wuoh...!”
Jadi dia berhasil menghindar dengan cara mulai bergerak sebelum gadis itu meluncurkan serangannya, yang masih beberapa kali hampir gagal karena kecepatan serangannya yang sangat tinggi itu.
Rencana Leinn untuk memberikan serangan balasan setelah menghindar juga jadi terganggu dan dirinya hanya bisa menghindari hujanan serangan yang sama yang datang tanpa henti, yang terarah ke kepalanya secara terus menerus.
Leinn mulai mengambil beberapa langkah mundur, terlihat kewalahan untuk bertahan dari serangan yang terus bertambah cepat seiring waktu berjalan itu.
Hinata terus meluncurkan serangannya sambil menunjukkan senyuman lebar, sampai tiba-tiba...
“Storm Sky Style”
Crackle...
Petir terang tiba-tiba bersinar dari punggung Leinn, menyilaukan pandangan Hinata sesaat.
[Evening Thunder]
Leinn langsung bersalto tinggi ke belakang, menunjukkan wujud Roland dengan pedang kayu yang ujungnya sudah diselimuti petir emas terang, pedang yang sedang meluncur ke arah wajah Hinata, memaksanya untuk menutup kedua matanya.
Crackle-Boom!
Ledakan keras muncul dari petir yang membentur wajah gadis itu dengan telak, menyebarkan kilatan ke semua arah dengan cepat.
Beberapa orang bisa melihat dengan jelas bola petir di ujung pedang kayu yang hanya terpisah beberapa sentimeter dari dahi gadis itu, lalu cahaya terang membutakan mereka. Mereka tidak menyangka Pangeran Petir Roland akan menunjukkan serangan tanpa ampun seperti itu di dalam kelas biasa seperti ini.
Beberapa detik berlalu sampai akhirnya mereka bisa mendapatkan kembali penglihatan mereka, dan pemandangan yang mereka lihat pertama kali setelah membuka mata membuat mereka mempertanyakan penglihatan mereka lagi.
Roland terlihat sudah menarik kembali pedangnya dan ekspresinya masih terlihat sangat serius, menatap gadis di depannya.
Hinata hanya menerima tatapan itu, dengan senyuman lebar.
“Aduduh... itu sakit”
Tangan kanannya mengelus dahinya yang terlihat sedikit gosong dan masih mengeluarkan asap dari serangan yang mendarat telak disana.
“Kau benar-benar tidak mengalah ya...?”
“Sama sekali tidak terlintas, pikiran untuk mengalah saat melawanmu”
__ADS_1
Roland mengucapkan itu dengan senyuman di wajahnya, seperti menunjukkan betapa anehnya pertanyaan Hinata itu.
Hinata juga berhenti mengelus dahinya dan kembali mengambil posisi bertarung, sedangkan Roland di depannya hanya berdiri santai dengan pedangnya di tangan kanannya.
“Apa yang kau tunggu? Ayo, lagi!”
“Aku... menunggu... sebentar...”
Hinata mengangkat satu alisnya ketika mendengar Roland yang tiba-tiba berbicara dengan pelan itu.
Roland terus melakukan itu selama beberapa detik lagi, sampai...
“...akhirnya”
“Apa maksud-“
Hinata membuka-tutup mulutnya tanpa bisa mengeluarkan suara, bersamaan dengan hilangnya semua suara dari sekitarnya. Dia langsung menyadari apa yang sedang terjadi, ketika sebuah bisikan muncul di dunia senyap itu.
[Clear Sky Style, Finisher]
Roland langsung meloncat tinggi ke belakang seperti sebelumnya dan tentu saja, Leinn sudah berada dalam posisi sangat rendah dengan pedang kayu di tangan kanannya seperti tersarung di genggaman kirinya.
Hinata yang melihat itu langsung menggunakan kedua lengannya sebagai pelindung kepalanya.
Leinn yang melihat itu tidak terpengaruh dan langsung meloncat kuat, dengan satu sasaran yang jelas.
[Separating Heaven and Earth]
Tepat di jarak dua meter yang hanya sedikit di luar jangkauan pedang kayunya, Leinn mengayunkan pedangnya.
Dan tentu saja, Mana setipis benang dapat terlihat membentuk mata pedang berwarna biru tua sepanjang 30 sentimeter di ujung pedang kayu itu, membuat serangan yang mencapai sasarannya,
Leher gadis itu.
Slash
Bersamaan dengan itu, suara kembali ke sekitar mereka, dengan pemandangan tubuh Hinata yang jatuh ke tanah.
Dan suara terkejut dapat terdengar dari seluruh lapangan, dari orang-orang yang melihat pemuda itu menebas leher lawannya tanpa ampun.
Sebuah pemandangan yang tidak asing, hanya saja kali ini mereka bisa melihat kalau serangan itu benar-benar mengenai leher lawannya.
“Ah!”
Suara kaget keluar dari mulut Aura yang melihat darah merah keluar dari dua lengan Hinata yang menahan sebagian besar tebasan itu, dan lehernya yang terlihat sedikit terpotong juga.
“Hah...”
Uap putih keluar dari mulut dan telapak tangan kiri Leinn, yang terlihat sudah berlumuran darah juga. Dia lalu menoleh ke belakangnya, ke arah Roland yang sedang memeriksa pedang kayunya yang terlihat sudah retak.
Roland mengangkat wajahnya dan menatap balik Leinn di depannya, sepertinya sedang memikirkan hal yang sama.
“Sepertinya kita...”
“...menang”
__ADS_1