
Satu, dua, empat, delapan... enam belas tangan raksasa muncul dan mengoyak bola api yang sudah berhenti bergerak itu, karena empat tangan yang sudah menancap di tanah untuk menghentikan gerakannya, dan dua belas yang lain sudah mulai memeluk bola api itu sambil mengeluarkan kabut ungu tebal ke udara.
Khakha...AAAH!
Semua kabut itu berputar semakin cepat mengitari bola api itu, yang kemudian langsung menekannya dari semua arah bersama teriakan terakhir itu.
Boom... boom... boom...!
30 meter... 20 meter... 10 meter... 5 meter... 1 meter...
Ukuran bola yang sudah berubah menjadi ungu karena semua kabut yang menyelimutinya itu terus mengecil setiap kali kabut itu menekannya, sampai akhirnya.
BOOM!
Satu tekanan terakhir dan bola itu hilang tanpa bekas, meninggalkan sekepul kabut ungu yang juga lenyap sekejap berikutnya.
Kodok raksasa itu langsung terpatung dan masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, karena pemandangan yang baru saja terjadi di depannya itu adalah sesuatu yang sangat di luar akal sehatnya.
[4.000 Percent]
Retakan besar langsung menyebar dari tempat Hinata berdiri, dengan semua Mana di udara yang sebelumnya tidak teratur sudah mulai bergerak memutari tubuh gadis berambut putih itu.
Hal ini membuat kodok raksasa itu tersadar dari lamunannya dan langsung mulai mengisap Mana Api di sekitarnya, bersiap melakukan serangan susulan.
“Ribbi-“
[Thunder Incarnated]
Crackle!
Pemandangan sebelumnya juga berhasil membuat Disaster Beast itu tidak menyadari pancaran tenaga besar yang sudah meledak-ledak di belakangnya sampai di saat-saat terakhir. Yang dia lihat di belakangnya adalah pemuda yang memikul cahaya besar di telapak tangannya.
[Thunder Dragon King’s Roar]
Roland mengayunkan tangannya dengan kuat dan bola petir selebar 10 meter dapat terlihat sekilas, sesaat sebelum bola itu membentur kodok raksasa di depannya.
Crackle-Boom!
Bola emas itu langsung meledak di punggung kodok itu sebelum mengalirkan petir ke seluruh tubuh, udara dan tanah yang dipijaknya. Retakan-retakan besar dapat terlihat mulai menyebar di seluruh batu yang melindungi tubuh raksasanya.
Roland sama sekali tidak memberikan ampun dan sudah mengangkat tangan kirinya lagi, mengeluarkan bola-bola petir dari cakar dan sayap emasnya.
__ADS_1
[Twenty Clap]
Crackle-boom!
“Kroak...!
Ledakan-ledakan yang lebih kecil langsung terbentuk dan menghancurkan lebih banyak batu-batu yang menempel di tubuhnya.
“Hm”
Whoosh!
Leinn yang mengepakkan sayap di punggungnya dan menghasilkan gelombang Mana Ungu yang menghantam batu-batu dalam jumlah besar yang sedang berguling ke arahnya dari atas gunung itu, menghancurkannya berkeping-keping.
Roland hanya menoleh sesaat ke arah kaki gunung itu sebelum kembali memerhatikan Disaster Beast di depannya yang sudah kehilangan sebagian dari pelindung punggungnya, memperlihatkan daging berwarna merah dan darahnya yang mulai mengalir keluar dari beberapa lubang besar di punggungnya.
“Kroak...”
Disaster Beast ini tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan manusia-manusia seperti ini di hari yang sama. Pertama dia bertarung dengan manusia yang bisa menahan serangannya dan mengikis pertahanannya dengan mudah, dan sekarang dia bertemu dengan satu manusia yang bisa melenyapkan serangannya tanpa bekas dan satu manusia lain yang bisa menghancurkan pelindung paling kuat di punggungnya.
“Kroaaak...!”
Semua semburan itu membentuk pilar-pilar merah yang mulai bergerak ke semua arah tanpa pola yang jelas.
Crackle
Roland mulai menghindar dengan kecepatan tingginya dan menyelip diantara pilar-pilar merah itu. Dia juga tidak lupa menembakkan beberapa pilar emasnya dari bola-bola petir yang ditinggalkannya di belakangnya. Tetapi gerakannya menjadi semakin cepat untuk menghindari apa yang datang berikutnya.
“Oke...?”
Leinn bisa melihat cairan yang di tembakkannya ke langit itu mulai jatuh lagi ke arah mereka seperti hujan berwarna merah terang, jadi dia membuka kedua sayapnya selebar mungkin sambil mengangkat tangan kanannya dan menunjuk langit.
[Manifest]
Beberapa bulu ungu langsung lepas dan meledak, membentuk kabut ungu yang mulai melayang di atas dirinya dan Hinata, dengan beberapa bulu yang lain langsung melesat di udara dan berniat menabrak beberapa gumpalan cairan yang terlalu besar.
[Auto-Counter]
Whooong!
Semua tetesan-tetesan yang menyentuh kabut akan menghilang dengan sebagian kecil dari kabut itu juga, sedangkan gumpalan cairan yang disentuh oleh bulu ungu langsung terisap ke dalam tengkorak selebar beberapa sentimeter sebelum akhirnya lenyap tanpa bekas.
__ADS_1
Leinn terus mengangkat tangan kanannya sambil menatap Disaster Beast yang masih terus menyerang Roland sambil menatapnya balik, dengan penuh kewaspadaan. Bulu-bulu ungu baru menggantikan bulu yang terlepas dan juga terus bergerak untuk menghentikan hujan yang semakin deras di atas mereka semua.
“Ribbit!”
Kodok raksasa itu hanya bisa meningkatkan intensitas serangannya dan berhasil menghancurkan semua hal dalam jarak beberapa ratus meter di sekitar Gunung Lucerna, selain bagian kecil tempat Leinn dan Hinata berdiri. Serangan liarnya ini juga berhasil menghentikan Roland untuk mengumpulkan tenaganya untuk memberikan serangan besar apapun.
Di sisi lain adalah serangannya itu juga tidak berhasil memberikan kerusakan yang nyata pada tiga manusia di sekitarnya, melihat pemuda berambut hitam itu terus melindungi gadis berambut putih di belakangnya dan pemuda berambut pirang yang terus terbang di sekitarnya yang bisa menguapkan tetesan-tetesan kecil yang hampir mencapainya dengan petir di sekitarnya.
Serangan liar itu terus berlangsung dan akhirnya, 2 menit telah berlalu sejak pertarungan ini di mulai. Dan perubahan besar langsung terjadi lagi ketika Disaster Beast itu melihat gadis yang sedang melihat ke arahnya dari kaki gunung di depannya.
Semua tekanan yang dihasilkan olehnya sebelumnya telah lenyap tanpa bekas, rambutnya yang sudah berhenti berkibar, tanah tempatnya berdiri yang sudah menjadi tenang, dan Mana di sekitarnya yang juga sudah kembali stabil. Dia terlihat seperti manusia biasa yang sedang berpose saja.
Tetapi Disaster Beast itu bisa merasakan ketakutan primal yang datang dari bagian jiwanya yang terdalam, yang belum pernah terjadi selama sekian lama dia hidup.
[7.000 Percent]
Dia harus lari.
“Ribbit!”
Gelombang Mana berwarna merah langsung meledak dengan kuat dan mendorong Roland yang berada di dekatnya bersamaan dengan pilar merah yang berhenti keluar dari punggungnya. Sesaat itu adalah waktu yang cukup baginya untuk membalikkan badan, dan berniat meloncat ke dalam kawah gunung berapi di belakangnya untuk pergi dari sini-
[Manifest]
Suara seperti bisikan tiba-tiba terdengar dari arah yang baru saja dia punggungi, membuatnya menyemburkan cairan merah panas dari punggungnya ke arah sana.
Bwoosh!
Dan cairan itu mengenai telak makhluk di belakangnya, yang menahan itu semua dengan sayap ungu miliknya.
Leinn langsung membuka dan menepis sisa cairan itu dengan sayapnya yang sudah mulai mengeluarkan kabut ungu tebal yang menghasilkan tekanan sangat kuat pada tubuh kodok raksasa di depannya. Dia juga mulai menarik mundur tangan kanannya yang sudah menjadi lebih membara dari sebelumnya.
[Impediment of Penance]
Khaaah...!
Ratusan kerangka ungu langsung meledak keluar dari sayap dan tangan kanan Leinn yang langsung mengaitkan diri mereka antara satu sama lain, membentuk rantai selebar 2 meter yang memanjang dari tangan kanannya.
__ADS_1