Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 52 – Turnamen Junior, Dimulai!


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat.


Semua murid dengan Rank C Beast mulai menyiapkan diri mereka sedangkan murid dengan Rank B Beast sudah pergi meninggalkan stadium itu, melihat mereka tidak akan bertarung hari ini.


Penonton yang masih menunggu dimulainya turnamen di depan mereka itu mulai saling berbicara satu sama lain dengan topik utama mereka tidak lain dari kelompok empat orang di samping arena itu.


“...dan karena itu aku selalu membawa makanan cadangan kemanapun”


Empat orang, duduk berseberangan di meja putih panjang, dengan pemuda berambut hitam yang baru menyelesaikan ceritanya.


Leinn mengembalikan kotak kaca berisi pil makanannya ke saku bajunya, membuat Aura di sampingnya mengelus kantung pakaiannya dengan kotak kaca yang diterimanya sebelumnya.


Roland yang duduk di seberangnya terlihat menganggukkan kepalanya setelah mendengar itu sambil melihat kotak kaca di tangannya, yang identik dengan yang baru Leinn masukkan ke sakunya.


“...”


Adeline yang duduk disamping Roland terlihat berusaha tidak memedulikan Leinn yang bercerita dan berkonsentrasi pada bola kristal di depannya, tetapi dapat terlihat bereaksi di beberapa saat yang menarik dalam ceritanya.


“Jadi, apa kau sudah puas melihat Clear?”


Leinn tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada gadis berambut biru itu.


Adeline bereaksi sedikit ketika mendengar itu, tetapi tidak menjawabnya.


Aura dan Roland hanya menatap mereka berdua, melihat Leinn gagal memulai percakapan dengan Adeline untuk kesekian kalinya.


“Halooo?”


Empat orang yang duduk santai dengan makanan di depan mereka, serigala kecil yang berbaring tidur, ular yang sedang menggoyangan tubuhnya seperti menari, dan gorila yang sedang melakukan push-up, sebuah pemandangan yang tidak biasa.


“Nona Adeline~?”


“L-leinn...”


Aura memotong usaha Leinn itu dengan mengarahan perhatiannya pada layar kaca besar di atas arena di dekat mereka. Leinn menoleh dan melihat hitung mundur yang sudah kurang dari 3 menit itu.


“Welp, sepertinya aku tidak berhasil kali ini”


Leinn meloncat berdiri sambil memutar kursi yang didudukinya. Sinar Rune mulai muncul dan kursi itu berubah menjadi kotak kecil di telapak tangannya. Dia mengoper kotak kecil itu pada pemuda di depannya yang sedang melakukan hal yang sama.


Adeline dan Aura berdiri dengan normal dan melakukan hal yang sama dan mengembalikan dua kotak itu pada Roland.


“Haha, seleramu masih belum berubah” ucap Leinn santai.

__ADS_1


Leinn mulai memakan roti terakhir yang diambilnya dari meja di depannya dan meja itu berubah menjadi kotak kecil yang sama.


Roland memasukkan semua benda di tangannya ke dalam cincin di telunjuk kanannya, menyisakan kotak kaca berisi pil makanan di tangannya. Dia menoleh ke pemuda berambut hitam di depannya yang sedang menelan potongan roti terakhir miliknya.


“Kebiasaanmu juga tidak berubah” balas Roland.


Dia memasukkan kotak kaca itu di dalam saku bajunya dan menatap pria di depannya itu.


Sepertinya pertarungan sebelumnya belum memuaskan niat bertarung mereka, mengingat itu berakhir dengan mengecewakan.


Adeline yang ada di sampingnya menghentikan itu dengan melempar Clear kepada Leinn.


Pembicaraan mereka berdua setelah tidak bertemu selama tiga tahun berakhir disana, tepatnya Leinn yang bercerita dan Roland yang hanya duduk dan mendengarkannya, dengan Aura yang tenggelam dalam ceritanya dan Adeline yang terlihat menyadari sesuatu di tengah salah satu ceritanya itu.


“Hahaha, sampai bertemu lagi Nona Aimer”


“Hmph!”


Adeline berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka dan berhenti beberapa saat ketika menyadari Roland masih berdiri disana.


Senyuman kecil dapat terlihat di wajahnya.


“Aku akan menunggumu di akhir”


Aura melihat dua pemuda itu membenturkan tinju mereka, lalu Roland yang berbalik dan melangkah pergi mengikuti Adeline.


Leinn melihat punggung Roland itu dengan senyuman lebar di wajahnya, terlihat bersemangat. Dia tiba-tiba menemukan gadis di samping Roland itu sudah berbalik dan menatapnya dengan ekspresi marah.


“Aku tidak akan kalah denganmu!”


“Huh?”


Adeline berbalik lagi dan melangkah keras setelah mengatakan itu, sangat membingungkan Leinn.


Ular didekatnya itu tiba-tiba berhenti menari dan melihat tubuh Roland yang semakin menjauh itu.


“Psssht!”


Twig langsung meluncur ke samping Roland, lalu berbalik dan melambaikan ekornya pada Leinn.


Tubuh empat meternya melompat ke atas Roland yang menangkapnya dan terus berjalan tanpa terganggu.


“Haha, dia terlihat senang”

__ADS_1


“Leinn...”


Leinn menoleh dan melihat Aura yang berdiri di depannya dan terlihat sangat gugup.


“A-apa kau akan b-baik saja?”


“Tenanglah”


Leinn memanggil Basalt yang baru selesai melakukan latihannya, lalu menyentuh pundak gadis gugup di depannya itu.


“Tidak apa-apa” ucapnya sekali lagi dengan nada serius.


Aura hanya mengangguk dan mulai berbalik dan berjalan pergi bersama Rufus, dengan Basalt yang juga berlari mengikuti mereka berdua.


“...”


Leinn sekarang hanya berdiri disana dengan Clear di tangannya, tanpa ekspresi apapun di wajahnya


Ketenangannya itu sangat berbeda dengan perasaan orang-orang disekitarnya.


Tepatnya 100 orang lebih yang akan bertarung di hari itu juga.


“Baiklah...”


Perasaan gugup, bahkan takut sudah merayap di tubuh mereka selama satu jam itu. Tanpa mereka sadari mereka telah berkumpul di sisi lain arena tempat Leinn berdiri, berusaha berada sejauh mungkin darinya.


Mereka melihat pemuda yang berdiri sendirian disana, seseorang yang baru saja bertarung seimbang dengan jenius yang dipercaya akan menjadi nomor satu di angkatan mereka tahun ini.


“Sekarang...”


Monster yang berada dalam kelompok yang sama, yang akan bertarung melawan mereka.


Tentu saja ketakutan mereka itu tidak merubah hitungan mundur di layar cahaya di depan mereka yang sudah kurang dari lima detik itu.


Penonton yang bersemangat melihat hampir dimulainya turnamen itu, guru-guru yang mulai membicarakan pemuda yang memiliki kemampuan terlalu tinggi itu.


Dan Leinn, yang sedang berdiri dengan senyuman lebar di wajahnya.


“Ayo kita mulai.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2