
Pembicaraan antara murid dapat terdengar di sekitar ruangan besar yang sudah terisi oleh lebih dari seratus orang yang sudah duduk di deretan meja dan kursi yang menghadap ke tiga papan tulis hitam besar.
Mereka terlihat sedang melakukan diskusi tentang apa yang mereka temukan selama tujuh hari terakhir dari berbagai fasilitas akademi yang mereka kunjungi atau misi yang telah mereka selesaikan, sambil menunggu datangnya guru yang memanggil mereka semua kesini.
Ruangan yang seharusnya bisa menampung beberapa ratus murid sekaligus itu juga sedang terasa sedikit sempit saat ini, karena sebagian besar dari seratus lebih murid itu hanya duduk di satu sisi belakang dari semua kursi itu.
“Kapan... mulai...”
Alasannya adalah pemuda yang sedang mengeluarkan suara lemas sambil membaringkan kepalanya di atas meja panjang di depannya itu.
“...berhentilah merengek”
Suara dengan nada datar keluar dari pemuda yang duduk di depan pemuda lemas itu, yang sedang menoleh ke belakangnya.
“Sudah berapa jam....?”
“Ini belum ada sepuluh menit...”
Jawaban dari pertanyaannya itu datang dari gadis yang duduk di sampingnya, yang sedang menunjukkan ekspresi lelah.
“...”
Dan di depannya adalah seorang gadis yang hanya melihat ke depan, terlihat berusaha tidak menoleh ke sampingnya.
Ini adalah empat anggota yang paling terkenal di akademi saat ini, yang terlihat tidak memedulikan semua tempat duduk kosong di sekitar mereka.
“Bangunkan aku sa....at...zzz”
Leinn, pemuda berambut hitam yang sudah memejamkan matanya dan tertidur.
“Ya sudah...”
Aura, gadis berambut merah muda yang sudah berhenti memikirkan hal-hal aneh yang Leinn lakukan dan belajar menerimanya apa adanya.
“Hm...”
Roland, pemuda berambut pirang yang kembali menghadap ke depan sambil menunjukkan senyuman lembut yang tidak hilang sejak beberapa hari yang lalu.
“Ugh...”
Adeline, gadis berambut biru yang tidak sengaja menoleh dan melihat senyuman di wajah Roland itu lalu mulai menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan cepat.
Empat orang dengan pikiran mereka masing-masing kembali menunggu datangnya Profesor Isaac yang memanggil semua murid baru kesini.
Aura yang tidak memiliki apapun untuk dilakukan saat ini mulai mengingat hal-hal yang terjadi selama empat hari terakhir, tepatnya setelah dia dan Rufus berhasil menangkap Leinn.
__ADS_1
“Hah...”
Helaan nafas lelah keluar setelah dia mengingat Leinn yang berhasil melarikan diri di malam itu juga dengan bantuan Clear, lalu menghilang begitu saja ke dalam kegelapan malam kota itu.
...lalu muncul kembali dengan wajah polos di siang hari berikutnya dan berencana membawa mereka untuk berkeliling di kota yang sudah selesai diperbaiki dan sedang mengadakan festival besar.
Menggunakan empat topeng yang dibawa oleh Leinn itu, mereka berempat akhirnya bisa menikmati berbagai jenis kedai baru dalam festival itu tanpa dikenali oleh penduduk kota yang melihat mereka.
Sebenarnya Aura masih sedikit gelisah karena waktunya yang bisa dipakai untuk mencari cara menyembuhkan mereka berdua itu terpakai untuk bersenang-senang seperti itu...
“...hm”
...tetapi dia tidak bisa menyangkal pengalaman mereka berempat selama empat hari itu adalah sesuatu yang akan diingatnya dengan perasaan senang untuk waktu yang sangat lama.
Sekarang Aura hanya duduk sambil menatap papan tulis hitam besar di depannya itu, memikirkan satu hal lain yang masih membebani pikirannya. Ini adalah hal yang sama yang juga sedang dipikirkan oleh Adeline di depannya.
Melihat dua pemuda itu sudah mampu bergerak dengan bebas berhasil mengangkat beban berat di pundak mereka berdua, membuat mereka bisa menyadari satu hal yang sedikit aneh....
“Dimana...”
Gadis berambut putih yang tiba-tiba hilang dari akademi.
Selama tujuh hari itu, Aura dan Adeline sama sekali tidak bertemu dengannya, bahkan tidak mendengar seorangpun membicarakan tentangnya selain tentang pertama kali dia muncul di aula sebelumnya.
Rambut putihnya itu sangat mencolok dan seharusnya adalah satu-satunya yang sedang ada di kota Blazing Sun saat ini, membuatnya menjadi sangat mudah untuk dikenali dan diingat.
Twig, Elsa, dan Clear yang menghabiskan waktu mereka dengan mengelilingi akademi juga tidak bisa menemukannya.
Setelah bertanya pada murid-murid lain dan penduduk kota sekalipun, mereka masih tidak menemukannya. Setidaknya tidak dalam tujuh hari terakhir.
“Ada apa, Aura?”
Aura tersentak kaget setelah mendengar namanya dipanggil dan menemukan pemuda di sampingnya itu sudah merubah posisi tidurnya dan sedang menatapnya.
Sepertinya dia mendengar gumamannya sebelumnya.
“...t-tidak apa-apa!”
Leinn melihat reaksi berlebihan itu lalu mulai mengangkat kepalanya dan mengambil posisi duduk santai, tanpa melepaskan pandangannya dari-
“...?!”
Leher pemuda berambut hitam itu tiba-tiba tersentak ke satu arah, seperti bereaksi pada suara yang tidak bisa di dengar oleh orang lain. Perubahan suasana yang sangat tidak biasa itu mengejutkan beberapa orang lain yang sedang memerhatikan interaksi mereka di barisan depan itu.
Tetapi Aura menyadari bahwa Leinn tidak sedang bercanda, karena dia bisa melihat Roland yang duduk di depannya juga sedang menatap ke arah yang sama dengan wajah yang sudah kehilangan senyumannya.
__ADS_1
Aura dan Adeline yang baru menyadari itu mulai mengikuti arah pandangan mereka dan menemukan pintu masuk di depan kelas itu, yang tiba-tiba terbuka lebar bersama angin yang kuat.
“Halooo~!’
Dan di pintu yang baru terbuka itu terlihat seorang pria yang sangat bergaya mulai berjalan masuk, dengan ekor jubahnya yang berkibar keras. Dia melangkah penuh percaya diri sampai akhirnya berhenti di belakang satu-satunya meja yang tidak menghadap ke papan tulis di belakang pria itu, meja untuk guru pengajar.
Isaac menarik satu nafas panjang secara perlahan, lalu melihat semua murid yang duduk di deretan meja di depannya itu dengan senyuman lebar.
“Selamat... Pagi!”
Angin sejuk menerpa wajah seluruh murid di ruangan itu, berhasil mengambil perhatian mereka semua yang masih belum memberikan perhatian penuh padanya.
“Baiklah, alasan kalian dikumpulkan disini adalah karena ada...”
Isaac yang melihat perhatian semua murid sudah tertuju padanya itu mulai menyampaikan informasi mengenai hal-hal penting seputar kelas-kelas di akademi itu.
Aura mulai mencatat bagian-bagian penting yang sedang dijelaskan oleh pria di di depan kelas itu, sesekali menoleh untuk melihat Leinn yang sudah memejamkan matanya lagi.
Pertama, kelas-kelas akan memiliki tiga waktu utama setiap hari yaitu jam pagi, siang, dan sore. Sepertinya Profesor Isaac juga menggunakan waktu pagi hari ini untuk mengumpulkan mereka saat ini.
Kedua, Isaac memberikan informasi tentang berbagai jenis kelas yang bisa diikuti oleh murid-murid tahun pertama seperti mereka secara singkat, dengan garis besar pembahasan yang akan dipelajari di kelas itu.
Ketiga, penjelasan tentang jumlah Merit minimal yang harus mereka dapatkan tiap bulan selama setahun pertama mereka ada di akademi ini dan beberapa cara mengumpulkannya.
Keempat, seorang murid tahun pertama yang masuk melalui jalur berbeda...
Tangan Aura yang memegang pensilnya berhenti bergerak dan dia mengangkat wajahnya, untuk mendengar kalimat Isaac sekali lagi dengan lebih jelas.
“...kalian sudah bertemu dengannya sesaat tujuh hari yang lalu, jadi tidak perlu basa-basi lagi...”
Aura langsung menoleh ke sampingnya dan menemukan Leinn masih memejamkan matanya, kali ini dengan kerutan yang jelas di dahinya. Dia rupanya tidak melakukan itu untuk tidur, dengan Roland di depannya yang ternyata juga sedang melakukan hal yang sama.
“...Murid baru dari Gelombang Khusus, Hinata Springleaf...!”
Dan dari pintu masuk yang sama, muncul seorang gadis berambut putih yang tidak asing.
Dia berjalan perlahan dengan senyuman kecil dan dapat terlihat menoleh beberapa kali ke arah kelompok empat orang yang duduk di paling depan sambil dikelilingi oleh tempat-tempat duduk kosong itu.
Leinn dan Roland terlihat bereaksi dengan bergetar pelan, padahal kedua mata mereka sedang tertutup rapat.
Dan gadis itu, Hinata terlihat menyadari itu tetapi tidak mengetakan apa-apa. Dia hanya tersenyum canggung sambil menundukkan kepalanya.
“...mungkin beberapa dari kalian menyadari ketiadaan Hinata selama tujuh hari terakhir ini. Itu karena dia sedang menjalankan misi khusus di luar kota”
“Hai...”
__ADS_1