Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 60 – Luka Lama dan Jalan Keluar


__ADS_3

Bulan putih berada di puncak langit malam dan dikelilingi bintang-bintang. Sinar yang dihasilkan dari bulan yang hampir penuh itu menerangi lapangan rumput di tengah akademi itu.


Bersandar di salah satu pohon di taman itu adalah seorang pemuda berambut hitam yang terlihat sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri.


Leinn terlihat menikmati kesunyian malam dan angin dingin yang berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di pohon tempatnya beristirahat.


Bola Clear dapat terlihat bersandar di tas besar di sampingnya.


Leinn meletakkan tangan kirinya disana sambil memejamkan matanya.


Waktu berlalu secara perlahan...


“...”


Matanya terbuka kembali dan dia menemukan seorang gadis sedang berdiri di depannya, menatap wajahnya dengan ekspresi gelap.


Beberapa saat berlalu dengan mereka berdua saling bertatapan, lalu Aura mulai berjalan lalu duduk di sisi lain pohon itu, membuat mereka tidak bisa melihat satu sama lain.


Kesunyian terbentuk diantara mereka, antara Aura yang tidak berkata apa-apa dan Leinn yang menyadari itu dan menunggu dengan tenang.


Entah berapa lama waktu berlalu dalam ketenangan itu dan akhirnya...


“...Kakak Pertama ada disini”


Aura akhirnya mulai mengeluarkan alasannya semakin gelisah untuk pertarungannya besok.


Leinn masih tidak berkata apa-apa dan membiarkan Aura melanjutkan.


“Kelompoknya baru selesai menyelesaikan misi khusus mereka dan sudah kembali ke akademi hari ini, Kakak Pertama mungkin akan datang ke stadium besok...”


“...”


“Besok aku akan bertarung melawan jenius-jenius dari keluarga besar lainnya yang sudah menyiapkan diri mereka selama belasan tahun. Dibandingkan dengan diriku dan Rufus... aku tidak yakin kami bisa menang”


Aura berhasil menumpahkan semua ketakutannya, membuat suaranya semakin bergetar setiap kata yang diucapkannya.


“Jika aku kalah... jika aku mengecewakannya juga... seperti yang aku selalu lakukan... a-aku...”


Air mata mulai mengalir dari matanya, membahasahi kedua pipinya.


Aura yang menyadari itu mulai berusaha menghapusnya tanpa berhasil, karena air mata baru terus mengalir menggantikan yang lama.


Ingatan-ingatan masa kecil yang dipendamnya mulai mengalir deras memenuhi kepalanya.


Anggota keluarga yang memandangnya dengan pandangan merendahkan, anak-anak yang meniru orang tua mereka dan mengejeknya, guru-guru yang berusaha mengajarinya sihir api tanpa berhasil.


Satu ingatan diantara semua itu yang teringat paling jelas, seperti baru saja terjadi.


Ingatan dari hari dirinya membangkitkan Gift miliknya, hari dimana Aura akhirnya dianggap tidak memiliki apapun lagi.


“...a-apa... b-bagaimana....”


Kalimat yang keluar dari mulutnya mulai kehilangan artinya, saat ingatan itu mulai berputar kembali di kepalanya.

__ADS_1


Api putih yang muncul di tangannya, yang tidak bisa membakar apapun.


Wajah tetua-tetua disekitarnya, yang melihat dengan tatapan kecewa.


Dan ketua klan, Ayahnya yang berdiri di depannya. Pria dengan rambut merah membara dan janggut di wajahnya, dan ekspresi yang ditunjukkannya.


Bukan ekspresi marah, kecewa, ataupun sedih. Hanya ekspresi datar, tanpa ekspresi apapun.


Kenapa Ayah menatapku seperti itu?


Apakah dia memang tidak memiliki harapan apapun dalam diriku?


Apakah dia sudah mengetahui ini yang akan terjadi?


“...Aa...aa...”


Di saat paling rendahnya itu, Aura kecil menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menoleh ke sampingnya, ke arah Kakak Pertamanya yang memaksa untuk menemaninya dalam hal ini.


Dan dia melihat Kakaknya itu tidak menatapnya balik, karena dia sedang menatap ke depannya tanpa berkata apa-apa, hanya menatap Ayah.


“Aaa....”


Ditengah ingatan itu, wajah ayahnya itu mulai membentuk retakan-retakan besar.


Kepingan demi kepingan jatuh dari wajahnya.


Gambaran ketakutan terbesarnya mulai terbentuk, yaitu wajah Kakak Pertamanya yang mulai muncul dan menggantikan wajah Ayahnya, menatapnya dengan ekspresi yang sama.


Sesaat sebelum kepingan besar terakhir bisa lepas dari separuh wajahnya itu, sebuah suara berhasil terdengar menembus ke dalam pikirannya.


“Kenapa kau tidak menyerah saja?”


Pernyataan itu menghentikan semua ingatan-ingatan dan pikiran negatif yang mengalir deras di kepalanya, bahkan juga menghentikan pikiran biasanya.


Leinn terlihat tidak memedulikan kondisi itu.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya, menyerah saja. Kau masih bisa mencapai tempat tinggi dengan Rufus nanti. Kenapa kau harus buru-buru?”


“A...aa...apa?”


Aura dapat melihat di ujung pandangannya, Leinn yang sedang melambaikan tangan kanannya.


“Kenapa memaksakan dirimu melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan? Mengapa menjadi sesuatu yang bukan dirimu sendiri?”


Itu merupakan hal yang masuk akal.


Bagaimana jika anggota klannya memang benar, lalu kenapa? Dia bisa hidup sesuai dengan yang mereka pikirkan.


Saran itu mulai terdengar sangat menarik bagi Aura yang sudah hampir hancur itu, dan rasa sedihnya mulai berubah menjadi rasa menerima.


Lega dari perasaan yang selalu memenuhinya selama bertahun-tahun, lega setelah dia menyera-


“...ah”

__ADS_1


Sampai sebuah ingatan muncul secara tiba-tiba.


Ingatannya yang paling penting.


Saat itu dirinya baru mencapai umur 13 tahun, dan dia sudah menghabiskan sebagian besar waktunya tenggelam dalam dunia cerita di dalam buku-buku yang dibacanya. Aura menemukan cerita-cerita dengan akhir bahagia itu dapat membuatnya lupa dengan semua hal lain yang tidak ingin dia pikirkan.


Sampai tiba-tiba pintu kamarnya yang hampir selalu tertutup itu terbuka lebar, menunjukkan sosok pemuda berambut merah membara dengan luka di seluruh tubuhnya.


Itu adalah hari dimana Kakak Blaze bertarung melawan Ketua Klan, pertarungan untuk menggantikan posisinya. Pertarungan yang diterima oleh Ayah ketika Kakak Pertama mengancam keluar dari klan jika dia menolak.


Pertarungan yang dimenangkannya, dan yang pertama dilakukannya adalah berjalan meninggalkan arena pertarungan dan mengunjunginya, menolak semua orang yang berusaha menghentikannya untuk mengobati lukanya.


“Aku...”


Dia bisa mengingat dirinya membuang buku yang sedang dibacanya setelah melihat kondisinya itu, dan hanya berlari ke arahnya.


Dia juga mengingat Kakaknya itu hanya meletakkan tangannya di atas kepala kecilnya, berusaha menenangkan dirinya yang menangis untuk pertama kalinya sejak malam lima tahun sebelumnya itu.


Kakak Blaze hanya berdiri disana dengan sabar, dan hanya mengatakan satu kalimat saja.


‘Aku disini’


“Aku... tidak bisa... melakukan itu”


Disaat tidak ada yang berharap apapun pada dirinya, ternyata kakaknya tidak pernah meninggalkannya.


Otak kecilnya bisa menyadari hal itu.


“Aku tidak bisa menyerah...”


Setelah itu hidupnya mulai bergerak ke arah yang berbeda.


Orang-orang disekitarnya terlihat berusaha menghindarinya saat dia berjalan di luar kamarnya.


Makanan yang diterimanya juga berubah, dari roti kering dan air putih menjadi makanan yang sama dengan apa yang dimakan keluarganya.


Tetapi hal yang paling berubah adalah dirinya sendiri.


Aura masih belum terbiasa berbicara dengan orang lain dan menolak guru-guru sihir baru yang datang ke ruangannya, tapi itu bukan berarti dia tetap sama.


Buku-buku cerita dongeng berubah menjadi Buku Teori Sihir dan berbagai Buku Jenis-jenis Beast.


Dia juga mulai sering datang ke ruangan latihan utama dengan tongkat kecilnya, di saat tidak ada yang menggunakannya.


Dan motivasi terbesarnya adalah kakaknya yang melihatnya dengan ekspresi datar saat dirinya menunjukkan sihir-sihir yang baru dikuasainya.


Aura yakin dirinya telah melihat kakaknya tersenyum saat itu...


“Kak Blaze percaya padaku, aku tidak bisa-“


“Berarti dia salah”


Leinn memotong kalimat Aura itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2