Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 147 – Disaster Beast, Muncul!


__ADS_3

Aura mengedipkan matanya beberapa kali dan menemukan kodok raksasa di kejauhan itu masih disana, menatapnya balik.


“Disaster Beast... Volcanic Toad!“


Kodok dengan kulit berwarna merah menyala yang berubah antara gelap dan terang secara stabil dan bagian bawah tubuh berwarna oranye gelap, dengan banyak tonjolan yang terlihat seperti gunung-gunung api kecil. Dia memiliki dua mata berwarna hitam pekat dan pupil kotak berwarna putih dan merah. Dari ukurannya yang mampu menutupi sebagian puncak gunung api itu, dia setidaknya mencapai tinggi 50 meter.


“Ribbit”


Boom!


Gelombang Mana yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya muncul sekali lagi dan kali ini, merupakan sebuah serangan yang tertuju pada kelompok manusia dan Beast di kaki gunung api itu.


““Ha!””


Dua teriakan pendek keluar dari mulut Aura dan Adeline yang sudah menghentakkan tongkat mereka dan membentuk perisai Mana yang melindungi semua orang dan Beast di belakang mereka-


““Eh?!””


Dan mereka langsung dikejutkan oleh pemandangan Hinata yang ternyata sedang berdiri di luar perisai ciptaan mereka dan hanya menoleh sambil menunjukkan senyuman lebarnya. Sebelum mereka berdua bisa mengatakan apa-apa, gadis itu sudah kembali menghadap ke depan sambil menarik mundur tangan kanannya.


Sesaat sebelum Gelombang Mana besar itu menghantam mereka-


“HYA!”


BOOM!


Sebuah pukulan lurus kanan menghantam Gelombang Mana itu dengan telak dan mengoyaknya dalam sekejap, menghasilkan gelombang angin yang mencapai puncak gunung tempat Disaster Beast itu berdiri.


Aura dan Adeline bersama kelompok di belakang mereka berhasil terlindungi dari angin kencang yang dihasilkan tinju itu berkat perisai Mana di depan mereka, jadi mereka bisa melihat jelas apa yang baru saja terjadi tanpa gangguan apapun.


“Haha! Akhirnya”


Boom!


Hinata memukul telapak tangan kirinya dengan kuat dan mulai mengeluarkan pancaran tenaga yang meledak-ledak. Dia juga sudah mengeluarkan senyuman lebar yang berbeda dengan senyuman biasanya, yang jauh lebih buas dan tajam.


“Kalian...”


Hinata menoleh ke belakang sekali lagi untuk memperingatkan kelompok di belakangnya sebelum menghentikan perkataannya setelah melihat Aura dan Adeline. Dia menyadari bahwa saat ini, dia tidak perlu menghiraukan keselamatan kelompok di belakangnya itu, jadi dia hanya menunjukkan senyuman lebar biasanya.


“Aku pergi dulu!”


Aura dan Adeline langsung menyadari niat Hinata dan berniat menghentikan mereka, tetapi satu ingatan yang sama muncul di pikiran mereka dan membuat mereka terhenti di tempat.

__ADS_1


‘Ya, kalau Hinata ada bersama kalian, asalkan langit tidak runtuh...’


‘...kalian tidak akan ada dalam bahaya’


Ucapan perpisahan dari dua pemuda, sebelum mereka pergi menuju tempat tujuan dari misi yang mereka terima.


Boom!


Ledakan angin menyebar sekali lagi dari hentakan kaki Hinata yang baru saja menendang tanah dan mulai meluncur ke arah puncak gunung api itu, meninggalkan kabut debu tebal di belakangnya.


Adeline yang tersadar pertama langsung memerintahkan kelompok di belakangnya yang sedang terpana untuk mengungsi dan memberitahukan situasi ini pada penduduk di sekitar. Mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi saat dan setelah bertarung dengan Disaster Beast itu.


Aura melihat Hinata yang sudah mencapai puncak gunung itu dan sudah bersiap meluncurkan serangan pertamanya, sambil memikirkan langkah yang mereka bisa ambil berikutnya untuk menyelesaikan masalah ini.


BOOM!


...


“Hah...”


Untuk kesekian kalinya seorang gadis yang sedang berdiri di belakang meja resepsionis Pusat Misi menghelakan nafasnya sepanjang hari ini. Penerangan di luar terlihat mulai meredup dan menandakan hari yang sudah hampir mencapai malam.


“Kenapa kau masih seperti ini, Isla?”


Isla seperti baru tersedar dengan keberadaan gadis yang sedang berdiri di sampingnya dan sedang menatapnya dengan ekspresi khawatir.


“Ada apa?”


“Apanya yang ‘ada apa’? Kau sudah menghela nafas sebanyak 45 kali sejak pagi tadi!”


“...apakah kau kurang kerjaan?”


Isla menunjukkan ekspresi aneh ketika menyadari apa yang temannya lakukan seharian sebelum memeriksa Linker Biru di balik mejanya.


“Hah...”


“Itu 46!”


Sudah lewat 24 jam sejak Party LAHAR berangkat menyelesaikan dua misi mereka dan masih belum ada kabar apapun. Sebenarnya ini bukanlah hal yang aneh mengingat Party normal biasanya memakan waktu beberapa hari untuk berangkat kesana dan kembali saja, belum lagi menyelesaikan misi dengan tingkat kesulitan setinggi itu.


Tetapi yang dilakukan Party ini sebulan terakhir telah memengaruhi apa yang dianggap oleh Isla sebagai hal normal.


Party yang memiliki kemampuan ini biasanya sudah mencapai Rank A dan tidak akan mendatangi papan misi di Pusat Misi atau Hunter Guild, melainkan langsung menerimanya dari Kepala Cabang Hunter Guild atau Guru Tinggi Akademi.

__ADS_1


“Hah...”


Jadi mengingat itu semua, kenapa dirinya masih merasa sangat khawatir? Isla sebenarnya sudah memiliki jawaban dari pertanyaan itu di belakang kepalanya, tetapi berusaha tidak menghiraukannya. Satu hal yang pasti di dunia yang dipenuhi oleh Beast ini.


Tidak Ada yang Pasti.


Rank A Hunter yang terbunuh karena lalai saat memburu Rank B Beast?


Misi Rank C yang ternyata membawa Party yang mengambilnya ke dalam Rank B Beast Nest?


Atau Disaster Beast yang tiba-tiba muncul di hutan yang berisikan Rank D Party yang sedang mencari Bahan Berharga?


Semua itu pernah terjadi, dan Hunter Guild terus meningkatkan kewaspadaan mereka bersamaan dengan usuaha untuk meningkatkan kewaspadaan orang biasa juga, untuk tidak salah memberikan informasi yang akan mempengaruhi tingkat kesulitan misi. Hampir semua Hunter juga sudah memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi walaupun sedang melakukan misi yang jauh di bawah kualifikasi mereka.


“Hah...”


Dan kali ini mereka sedang menjalankan misi- dua misi dengan tingkat bahaya yang sangat tinggi. Tentu saja Isla yang ada campur tangan dalam keadaan ini merasa sangat khawatir, karena dia tidak bisa membayangkan perasaan yang akan dirasakannya ketika Party yang menjalankan misi karena sarannya berakhir dengan tidak kembali dengan utuh.


Semua perasaan yang campur aduk ini memenuhi kepala Isla, sampai dia sudah tidak bisa mendengar ucapan gadis di sebelahnya.


“Ha-“


Beep!


Tangan Isla langsung melesat dan mengambil Linker Biru yang baru saja menerima sebuah pesan, dengan tangannya mulai menekan Linker itu dengan sangat cepat. Ekspresi gembira di wajahnya langsung berubah menjadi kecewa ketika menyadari itu bukan dari Leinn, atau Partynya.


“...eh?”


Tetapi ekspresi kecewa itu berubah menjadi bingung setelah dia mulai membaca isi pesan itu, dan berubah menjadi semakin pucat ketika Isla berhasil mencerna informasi yang ada di dalam pesan itu.


Isla membaca pesan itu beberapa kali lagi dan berhasil memastikan bahwa dia tidak salah membaca sama sekali.


“Isla...?”


Sophie di sampingnya sudah menyadari ekspresi teman di depannya yang sangat tidak biasa itu dan mulai mendapatkan perasaan buruk.


Isla hanya menoleh secara perlahan dengan ekspresi penuh rasa takut.


“...gawat”


 


 

__ADS_1


__ADS_2