Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 14 – Pahlawan?


__ADS_3

Tersentak bangun dari imajinasinya, Aura menatap wajah Leinn dengan bingung, tidak mengerti alasan dia meminta maaf padanya.


Leinn tidak menatap balik gadis di depannya dan hanya menundukkan kepalanya.


“Aku tidak menyadari kondisimu dan memaksamu mengikutiku terus-menerus, padahal kita masih punya banyak waktu tetapi aku malah terburu-buru. Tenang saja, kita bisa selesaikan tes ini dengan lebih santai saja-“


“T-tidak!” sela Aura dengan kuat.


Leinn terkejut melihat Aura melompat berdiri tiba-tiba, lalu mulai berjalan dan berhenti di depan dirinya yang masih duduk bersandar di pohon itu.


“E-eh, tidak... apa?” tanyanya dengan bingung.


“Leinn tidak salah! Kau tidak salah!” jawab Aura, hampir berteriak.


“O-oh” merasakan intensitas itu, Leinn merasa sedikit tertekan.


Aura sudah duduk tepat didepannya dengan ekspresi yang sangat serius.


Dengan mata besar dan bibirnya yang tertutup rapat, ekspresi seriusnya itu seharusnya tidak terlihat menekan sama sekali, tetapi Leinn hanya bisa melihat intensitas baru yang keluar darinya.


“Leinn melakukan itu hanya karena berpikir untuk menyelamatkan orang yang sedang dalam bahaya! Itu bukan hal yang salah! Akhirnya Leinn juga berhasil menyelamatkan mereka, dan kau juga percaya... p-percaya...” Aura berbicara dengan semangat, tetapi kalimatnya mulai terpatah-patah di akhirnya.


Aura akhirnya juga menyadari betapa dekatnya wajah mereka berdua, lalu mulai bergerak mundur secara canggung.


Beberapa gerakan berikutnya dan dia berhenti lima meter di depan Leinn.


“k-kau percaya p-padaku, karena itu k-kau juga menyelamatkanku...”


Suara yang lebih kecil dari suara angin disekitar mereka itu, berhasil mencapai telinga Leinn.


“Pffft... Hahahahaha....!”’


Leinn bereaksi dengan tertawa lepas sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


Melihat Leinn yang tiba-tiba meledak tertawa di depannya, Aura hanya bisa menatap dengan bingung.


Setelah beberapa saat, Leinn akhirnya berhenti tertawa dan mengusap setetes air mata yang keluar dari mata kanannya.


“hahah... itu sangat bagus” ucap Leinn dengan senyuman lebar di wajahnya.


“A-apanya yang bagus?” tanya Aura dengan bingung.

__ADS_1


Nada Aura menjadi sedikit lebih tinggi, karena dia tidak bisa menemukan hal lucu dalam kalimat yang telah diucapkannya.


“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melihat orang lain dengan cara yang berbeda dengan saat kau melihat dirimu sendiri, dan kalimatmu itu menggambarkanku seperti seorang pahlawan” Leinn menggelengkan kepalanya.


“E-eh...” Aura menjadi teringat dengan perkataan negatif di malam sebelumnya...


Termasuk perkataan Leinn di malam itu juga.


Dia hanya menundukkan kepalanya, berharap Leinn tidak bisa melihat ekspresinya.


“T-tapi kau memang benar pergi menolong mereka, dan kau juga membantuku tanpa alasan!”


Aura menyampaikan itu tanpa mengangkat wajahnya. Suaranya masih tegas, walaupun sudah beberapa desibel lebih rendah.


“Aku bukan seorang pahlawan, aku hanya menolong orang yang ingin kutolong saja, dan aku membantumu...” tiba-tiba Leinn terdiam, menyadari dirinya tidak bisa menemukan kata yang tepat.


Leinn mulai mencari kata yang hilang itu dalam pikirannya.


Menyadari pemuda di depannya tiba-tiba berhenti berbicara, Aura mulai mengintip tanpa mengangkat wajahnya, berusaha membaca ekspresi Leinn itu.


Dan setelah beberapa saat lagi, Leinn terlihat berhasil menemukan kata yang dicarinya.


Merasa cukup puas telah berhasil menemukan kata yang dicarinya, Leinn tersenyum lebar.


Aura terdiam cukup lama, dan suara yang hampir tidak terdengar keluar dari mulutnya.


“a-apa maksud-“


“Duduk tanpa melakukan apapun seperti ini sangat membosankan, apa kau ingin mendengarku bercerita?” ucap Leinn secara tiba-tiba.


Terkejut dengan tawaran tiba-tiba itu, Aura mengangkat wajahnya.


Dirinya memang masih memiliki banyak pertanyaan dan dengan mendengar ceritanya itu mungkin dia akan mendapatkan jawaban yang dia cari.


Jadi dia hanya menganggukkan kepalanya.


“Baiklah! Jadi ini terjadi saat aku sedang menjalankan misi pertamaku di Ironforge untuk menemukan kucing yang hilang. Aku berbagi misi bersama satu Hunter lain, karena kami mengambilnya secara bersamaan. Jadi kami mulai dengan...” Leinn mulai bercerita sambil menatap ke langit dengan senyuman di wajahnya.


Aura menyadari cerita ini adalah pengalaman Leinn saat menjadi Hunter di Ironfoge, jadi dia menjadi semakin tertarik.


...

__ADS_1


“... dan BOOM! Werewolf itu menghantam tembok bangunan di belakangku. Kabut debu yang tebal dan bulan yang tertutup awan membuatku sedikit kesulitan menghindari serangannya itu, bajuku saat itu sampai sedikit terkoyak. Disaat dia merangkak keluar dari lubang itu, suara lonceng peringatan berbunyi di menara pengawas. Jack berhasil memperingatkan penjaga kota tentang situasi ini, lalu aku...” Leinn menggambarkan dengan jelas apa yang terjadi dengan gerakan kedua tangannya.


Aura sudah tenggelam dalam cerita itu, dengan tangannya yang sedang menggenggam kantung daging dengan erat dan matanya sudah hampir tidak berkedip.


...


“...dengan panggilan dari pemiliknya, Mii terbangun dan menghentikan cakarnya di depan wajahku, aku juga berhasil mengalihkan tebasanku yang hampir memotongnya. Tawa Warlock itu berhenti ketika dia melihat Mii sudah berlari ke arahnya dengan cakar yang bersiap mengoyak tubuhnya. Setiap bayangan yang muncul untuk mengikat Mii berhasil aku tebas sebelum berhasil mencapainya. Serangan Mii berhasil membelah tubuhnya menjadi beberapa potong dan semua orang disana mengira pertarungan itu sudah selesai setelah melihat itu, ternyata...” ceritanya terlihat sudah hampir mencapai klimaksnya...


Aura sudah lupa menutup mulutnya, matanya yang terbuka penuh sudah seperti memancarkan cahaya.


...


“...ternyata tubuh Mii sudah tidak bisa dikembalikan seperti semula, tetapi Sam hanya tertawa setelah mendengar itu dan menyampaikan betapa senang dirinya berhasil kembali bersama dengan Mii. Dia juga mengatakan dirinya tidak bisa tenang membayar kami dengan hadiah untuk misi mencari kucing hilang, jadi dia membuat sebuah tombak untuk Jack dan sebuah pedang untukku. Dan itulah cerita bagaimana aku mendapatkan pedang Night Moon milikku ini”


Leinn meletakkan tangan kirinya di pedang yang bersandar di sampingnya sambil tersenyum kecil.


“Oooh!”


Aura bertepuk tangan setelah mendengar cerita Leinn, mengagumi kisah itu.


Ini adalah pertama kalinya Aura mendengar kisah petualangan seseorang langsung dari sumbernya, perasaan yang dia dapat sangat berbeda dengan cerita-cerita pahlawan yang dia baca saat dia masih kecil.


Melihat respons itu, Leinn merasa sedikit malu dan menggaruk kepalanya. Dia tidak menyangka ceritanya begitu menarik bagi Aura.


“Kelihatannya aku terlalu bersemangat bercerita, apa kau sudah siap berjalan lagi?”


“Ya!”


Aura terlihat bersemangat dan bersiap melompat berdiri ketika dia menyadari kantung kosong di pangkuannya.


Leinn sudah berdiri dan mulai memikul tas besarnya lalu menggantungkan pedangnya di pinggangnya lagi. Dia terlihat sudah siap berjalan ketika menyadari Aura masih duduk di rumput, tidak bergerak.


“Ada masalah apa?”


Aura tidak langsung menjawab dan menunjukkan kantung transparan kosong di tangannya.


“A-aku menghabiskan semuanya...”


 


 

__ADS_1


__ADS_2