
Gelombang ledakan besar menyebar ke seluruh lapangan itu dan suaranya sampai dapat terdengar di seluruh akademi, mengejutkan banyak orang.
Kabut debu tebal juga melayang tinggi dan tidak membiarkan orang disana untuk melihat hasil dari benturan keras itu selama beberapa saat.
“Ohok...”
Suara batuk pelan dapat terdengar bersamaan dengan munculnya siluet seseorang dari tengah kabut debu itu.
Dan akhirnya wujud orang itu menjadi terlihat, menunjukkan seorang gadis berambut putih panjang yang mengejutkan semua orang disana.
“Hm? Dimana...?”
Gadis itu, Hinata memeriksa Linker di tangannya yang secara ajaib masih utuh itu dan terlihat bingung, melihat anak panah di depannya sedang menunjuk ke satu arah yang tidak menunjukkan seorangpun disana.
Sampai ketika dia menyadari panah itu sedang menunjuk ke satu Linker lain yang tergeletak di lantai lapangan itu, yang terlihat sedang menunjuk ke arahnya juga.
Hinata mulai berjalan mendekatinya dan mengambilnya jadi lantai, dan sekarang ada dua anak panah yang menunjuk satu sama lain di kedua tangannya.
“Oh... kenapa kau disini sendiri?” ucapnya dengan ekspresi bingung.
“Karena yang lain menghindari benturanmu”
Jawaban dari pertanyaannya itu datang dari belakangnya secara tiba-tiba.
Hinata langsung memutar badannya sambil menunjukkan senyuman lebar dan langsung meloncat ke arah suara itu.
“Leinn! Roland!”
Dua pemuda yang namanya dipanggil itu bisa melihat peluru putih yang sedang melayang ke arah mereka dan langsung mengambil langkah cepat.
Satu langkah menyamping.
Bham!
Hinata meluncur diantara dua pemuda itu dan membentur lantai di belakang mereka.
Leinn dan Roland tidak memedulikan itu dan meneruskan langkah mereka, menyusul dua gadis yang telah berlari ke tengah kabut debu yang mulai mereda itu.
Dan akhirnya kabut debu itu menghilang, menunjukkan pemandangan yang sangat mengejutkan.
“Hoh...”
Basalt dapat terlihat terbaring belasan meter dari titik benturan, dengan Clear yang melebar tanpa tenaga di sampingnya.
Twig terlihat tertancap di tanah di beberapa meter dari mereka di samping dinding es yang terkoyak dari lantai dan terbawa bersamanya saat dia terpental.
__ADS_1
Sepertinya mereka hanya sedikit pusing karena benturan langsung itu dan tidak terluka parah, sedangkan luka-luka kecil di tubuh mereka sudah disembuhkan oleh api putih Aura, tetapi...
“...!”
Ekspresi terkejut ditunjukkan oleh semua orang yang melihat pemandangan di sekitar tiga Beast itu.
Beberapa lubang besar sudah terbentuk disana dengan posisi berjejer rapi, sepertinya terbentuk ketika Hinata mengerem larinya secara mendadak dan membuat tubuhnya terpental beberapa kali sebelum membentur tiga Beast itu.
Mereka juga bisa melihat jalur yang terbentuk dari lantai akademi yang terkoyak, yang memanjang sampai keluar dari jarak pandangan mereka yang diciptaan oleh larian gadis itu.
“Pfft... phwe...”
Hinata bangun dan meludahkan debu yang masuk ke mulutnya saat membentur lantai itu lalu menatap punggung dua pemuda yang sedang berjalan menjauhinya dengan ekspresi kesal.
Dia mulai bangun dan berjalan menyusul mereka.
“Bagaimana kalian begitu tega...”
Langkah kakinya mulai melambat ketika menyadari tiga Beast dan kehancuran yang ditimbulkannya itu. Bersamaan dengan langkahnya yang berhenti, Leinn dan Roland juga tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik menghadapnya.
Hinata menunjukkan senyuman canggung selama beberapa saat sambil memainkan jarinya, lalu menatap dua pemuda di depannya dan memukul pelan kepalanya sendiri.
“Teehee~?”
Jawaban yang didapatnya dari dua pemuda di depannya itu adalah dua tangan kanan yang terangkat, siap memotong kepalanya.
Hinata langsung melindungi dahinya dan menutup kedua matanya, lalu menyadari pukulan itu tidak datang.
Yang dilihatnya setelah dia membuka matanya kembali adalah Leinn dan Roland yang terlihat sedang menghela nafas lelah. Mereka berdua menyadari dengan kondisi tubuh mereka saat ini, pukulan yang akan mereka berikan itu hanya akan menyakiti diri mereka sendiri.
Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama mendekati Aura dan Adeline yang baru selesai memeriksa keadaan tiga Beast itu.
Leinn yang melihat mereka berlima itu tiba-tiba berjalan ke kanan, memisahan diri dari dua orang di sampingnya.
Roland yang melihat itu lalu menoleh ke depannya, lalu berjalan ke kiri.
Hinata hanya menunjukkan ekspresi bingung ketika menyadari dirinya tiba-tiba berjalan sendirian, lalu bertambah bingung ketika di sekitarnya menjadi semakin gelap.
“Psssht...!”
Pemandangan ular sepanjang 20 meter yang meloncat ke udara itu sangat mempesona, lalu mengejutkan ketika semua orang disana melihat ular itu mendarat di atas gadis berambut putih itu.
Bha-!
Suara benturan yang muncul terdengar sedikit ganjil, dan pemandangan baru berhasil membuat semua orang yang terkejut sebelumnya menjadi kehilangan kata-kata.
__ADS_1
“Hahaha...! Ternyata memang benar kau Twig!”
“Psssht...!”
Pertama, ternyata gadis itu tidak tertimpa dan masih berdiri sambil memeluk ular raksasa itu.
Kedua, dia sekarang mulai memutar-mutar ular di pelukannya, membuat tubuh ular 20 meter itu terangkat dan terbentang penuh di udara.
Leinn dan Roland yang berada tepat di luar area bahaya itu hanya tersenyum kecil saat melihat pemandangan aneh itu.
Aura dan Adeline menatap gadis yang sedang berputar-putar di tengah pusaran ular itu dengan ekspresi terkejut. Mereka berdua bisa melihat tidak adanya Mana yang merembes dari tubuh Hinata itu atau pergerakan Mana di udara, ini berarti dia berhasil mengangkat tubuh raksasa Twig hanya menggunakan kekuatan fisik murninya saja.
“Hahaha!”
Akhirnya Hinata melepaskan Twig yang sudah terlihat sangat pusing kembali ke tanah dan mulai berjalan lagi bersama Leinn dan Roland ke depan dua gadis yang sudah berhasil menenangkan diri mereka.
Sebelum Aura dan Adeline bisa mengatakan apapun, Hinata sudah mengambil beberapa langkah cepat dan berhenti di depan mereka, lalu meraih tangan kanan dan kiri mereka dan memberikan dua salaman secara bersamaan.
“Hai, aku Hinata! Kalian berdua pasti Aura dan Adeline bukan? Aku sudah mendengar tentang kalian kemarin! Salam kenal!”
Melihat gadis yang jauh lebih dari tinggi mereka itu menggoyang tangan mereka dengan cepat memasukkan mereka ke dalam keadaan syok lagi.
Salaman itu terjadi selama beberapa saat sampai akhirnya Hinata melepaskan tangan mereka dan menunjukkan senyuman yang sangat lebar dan cerah.
Adeline adalah yang pertama tersadar dan langsung meletakkan tangan kirinya di pinggangnya sambil menunjuk Hinata di depannya.
“Benar! Aku adalah Adeline Aimer, Tunangan dari Roland Azure! Salam kenal!”
Suara tegas dari Adeline itu juga membangunkan Aura, yang langsung menegapkan tubuhnya.
“A-aku adalah Aura Flameheart, Adik dari Blaze Flameheart! S-salam kenal!”
Aura menyadari isi perkenalan dirinya itu sedikit aneh setelah mengucapkan apa yang muncul di kepalanya begitu saja, tetapi akhirnya hanya menunjukkan ekspresi tegas juga.
Hinata menerima dua pengenalan diri itu dengan senyuman lebar yang menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Kalau begitu sekali lagi! Aku Hinata Springleaf, tunangan Leinn Springleaf dan Roland Azure!”
Leinn dan Roland yang hanya melihat dari samping sejak tadi langsung jatuh ke tanah setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Hinata, sama sekali tidak melihat itu datang.
Aura dan Adeline tidak menunjukkan reaksi apapun, karena mereka tidak bisa memproses apa yang baru saja mereka dengar itu.
“Salam kenal!”
__ADS_1