
Perasaan senang muncul dan menyebar ke seluruh tubuh Aura, membuatnya mulai meloncat-loncat sambil mengangkat kedua tangannya dan bersorak gembira.
“Yay!”
Satu gadis kecil yang meloncat-loncat di atas arena, di tengah stadium yang sunyi senyap.
Perasaan gembira itu hanya bertahan selama beberapa saat sampai ketika dia menyadari penonton di sekitarnya hanya memandangnya tanpa mengeluarkan suara, membuatnya menjadi sedikit malu karena terlalu bersemangat.
Rasa malu itu semakin bertambah ketika dia menyadari alasan sebenarnya dari kesunyian itu.
“...urk...”
Bartolomeo yang sudah tidak sadarkan diri itu mengeluarkan suara kesakitan, karena tubuhnya masih tertimpa tekanan besar.
“H-huh?!”
Aura lalu melihat 30 bola api yang masih di udara itu dan mulai mengayunkan tongkatnya dan merapalkan sesuatu dengan cepat.
Dzing...
Lingkaran sihir besar muncul di depan Aura dan mulai berputar kencang, menarik 30 bola api di udara itu kedalamnya. Disaat bola api terakhir masuk kedalamnya, lingkaran itu mulai berputar lebih cepat selama beberapa saat... lalu menghilang.
“Fiuh...”
Aura menghela nafas dan melepaskan ketegangannya.
Melihat pertarungan itu benar-benar selesai, seluruh penonton di sana bersorak secara bersamaan, sangat mengejutkan Aura.
“...ehehe...”
Yang mengeluarkan suara aneh dari mulutnya sambil berjalan kembali ke tempat tunggunya bersama Rufus.
Diantara orang yang bersorak keras itu adalah beberapa orang yang menunjukkan wajah serius sambil melihat gadis kecil yang berjalan sambil tersipu malu itu.
Mereka menyadari identitas lingkaran sihir terakhir yang digunakan oleh Aura untuk menghilangkan bola-bola api itu.
“Sihir Berlapis Tiga...”
Satu perempuan yang ditutupi oleh jubah hitam itu melihat Aura sambil mengeluarkan tawa aneh. Disekelilingnya adalah guru-guru yang bergerak menjauhinya setelah mendengar suara tawa itu.
“...”
Isaac yang duduk di sampingnya hanya menoleh sesaat tanpa berkata apa-apa, tetapi ekspresinya menunjukkan dirinya sangat terganggu oleh suara tawa wanita itu.
...
Suasana di kursi tunggu di sekeliling arena itu berada dalam keadaan sangat tegang sejak dimulainya turnamen hari itu. Sebagian dari petarung disana merasakan hal itu dengan sangat jelas karena satu hal yang menjadi masalah utama mereka.
Jika mereka kalah, nilai mereka sebagai murid baru akan jatuh.
__ADS_1
Tetapi jika mereka menang, yang menunggu mereka sebagai lawan berikutnya membuat mereka putus asa.
“Hoam...”
“Leinn?”
Dari kelompok pertama adalah pemuda berambut hitam yang sedang mengusap matanya yang basah setelah menguap beberapa kali berturut-turut. Dia adalah Monster dengan asal-usul tidak jelas yang telah mengalahkan semua lawannya tanpa menunjukkan seluruh kemampuannya.
Gadis berambut merah muda di sampingnya juga menjadi bahan pikiran baru dari orang-orang yang mengira diri mereka jenius karena memiliki Rank B Contracted Beast, membuat masalah mereka semakin memusingkan.
Jika kelompok pertama memiliki Leinn sebagai masalah mereka, kelompok kedua memiliki tiga orang sebagai masalah mereka.
“Kau terlihat sangat mengantuk, apa kau baik-baik saja?”
Aura yang menunjukkan kemampuan luar biasa di pertarungan pertamanya, mengalahkan lawannya tanpa membiarkannya melakukan apa-apa.
Dirinya yang menyelesaikan persiapannya sihir dalam sekejap mata, kemampuan merapalkan sihir tingkat menengah dan tinggi dalam waktu singkat, dan seorang pengguna Sihir Berlapis di umur yang sangat mudanya itu.
Aura seharusnya telah menjadi Magic User paling berbakat diantara murid-murid baru itu, jika bukan karena satu orang lain.
“Roland, apakah kau ingin sebagian?”
Gadis berambut biru dengan gaya ekor kembar itu terlihat sedang mememegang dua biskuit cokelat ditangannya, terlihat sangat lugu.
Tentu saja itu tidak merubah pemandangan yang orang-orang lihat beberapa waktu yang lalu, ketika dia menari di atas arena dengan tongkatnya dan mengeluarkan belasan sihir es berbeda secara beruntun.
Adeline mengeluarkan belasan sihir dalam pertarungannya sebelumnya, dan itu terjadi bukan karena lawannya memiliki kemampuan yang tinggi tetapi karena Adeline tidak memberikan serangan penghabisan sampai di saat terakhir.
Hampir separuh dari belasan sihir tingkat menengah itu adalah sihir revisi atau ciptaannya sendiri, diakhiri dengan sihir gabungan dari lima sihir menengah-akhir yang menghasilkan sihir es tingkat tinggi-awal, sebuah bongkahan gunung es.
“Ya sudah, lebih banyak untukku”
Gadis itu mulai memakan dua biskuit di tangannya, tidak menghiraukan pemuda pirang di sampingnya lagi.
Pemuda itu tidak lain adalah orang terakhir itu, yang terfavorit dari semua orang di sana untuk menjadi pemenang akhir. Salah satu Rank A Hunter termuda yang dimiliki kota Blazing Sun, calon penerus utama dari Klan Azure, keluarga militer terkuat yang dimiliki kota ini dan tunangan dari putri satu-satunya dari Dewa Es yang terkenal.
“Dan... Selesai!”
Tentu saja dilema itu sudah lama hilang, melihat mereka sudah kalah di pertarungan gelombang pertama itu, menyisakan empat pasang pertarung saja di arena.
Penonton di stadium itu melihat delapan nama yang sudah menggelep di layar cahaya di atas arena itu mulai hilang satu persatu dan menyisakan empat pasang nama yang bersinar terang.
“Untuk pertarungan gelombang kedua, akan mulai menjadi lebih spesial!”
Empat pasang nama itu masuk ke dalam sebuah lingkaran yang terbagi empat, masing-masing terisi oleh dua nama petarung.
“Urutan pertarungan mereka akan diacak dan ditentukan oleh anak panah ini, dan sebagai tambahan...”
Anak panah di tengah lingkaran itu mulai berputar dan dua lingkaran identik muncul di sebelah lingkaran itu.
__ADS_1
Lingkaran pertama membagi api, air, tanah, dan angin.
Lingkaran kedua membagi Manusia, Beast, Manusia-Beast, Bebas.
Tiga anak panah berputar cukup kencang sampai ketika Isaac mengayunkan tangannya.
“Stop!”
Tiga anak panah itu mulai melambat perlahan-lahan sampai akhirnya berhenti di tempat, menunjukkan hasil mereka.
Penonton di sana melihat pertunjukan Isaac itu sambil menggelengkan kepala, mereka sudah terbiasa melihat kelakukan guru mereka itu yang menambahkan peraturan yang berbeda setiap tahun.
Lingkaran pertama berhenti pada tulisan ‘Api’.
Lingkaran kedua berhenti pada tulisan ‘Beast’.
Dan lingkaran terakhir menunjukkan pasangan yang akan bertarung.
“Hm”
Roland langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah arena diikuti oleh satu orang pemuda lain.
“T-tuan muda Roland, mohon bimbingannya dalam p-petarungan ini. T-tolong b-beri s-saya a-ampun”
Pria itu semakin gugup ketika melihat pemuda pirang di depannya itu hanya terus berjalan tanpa memedulikannya. Dia adalah salah satu orang tertua yang masuk di tahun ini melihat umurnya sudah lebih dari 20 tahun.
Dia juga sudah melihat kemampuan yang dimiliki oleh Snake Beast raksasanya itu, kecepatan yang tidak masuk akal ditambah tubuh besarnya yang melilit lawannya dalam sekejap.
Roland bahkan tidak bergerak dari tempat berdirinya dalam pertarungan pertamanya, dan pertarungan itu hanya berlangsung kurang dari sepuluh detik.
Tap-Crackle!
Roland langsung menendang lantai stadium itu dan melompat tinggi, sangat tinggi.
“Hi...!”
Dia mendarat di sisi lain arena itu, mengejutkan penonton di stadium itu.
Dirinya terlihat tidak peduli dan hanya berdiri disana dengan ekspresi datar, melihat lawannya yang baru naik ke atas arena juga.
Pria itu terlihat berusaha menunjukkan senyuman di wajahnya, yang tidak membantu menyembunyikan perasaan ketakutannya
__ADS_1