
Penonton di seluruh stadium itu terlihat diam tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
Bola transparan itu, Contracted Beast dari pemuda berambut hitam itu terbelah begitu saja karena serangan lawannya.
Pandangan buas Brick berkurang drastis bersamaan dengan kembalinya akal sehatnya, dia terlihat tidak menyangka serangannya akan membelah Contracted Beast seseorang menjadi dua.
Roland terlihat membuka matanya cukup lebar, menunjukkan dirinya juga terkejut oleh situasi itu.
Adeline yang memeriksa keadaan Clear sehari sebelumnya juga menutup mulutnya dengan tidak percaya.
Aura bahkan sudah berlari ke arah arena itu dengan seluruh tenaganya, tetapi langkahnya mulai melambat ketika dia melihat Leinn yang hanya berdiri di sana sambil menggaruk kepalanya.
“Um, maaf. Kau tiba-tiba berbicara tadi sedikit mengejutkanku”
Brick mendengar permintaan maaf yang tidak jelas itu dan merasa bingung, sampai ketika dia merasakan gerakan tiba-tiba di dekatnya.
“Apa...”
Matanya terbuka lebar ketika dia menyadari dua bagian bola yang dibelahnya itu telah berubah menjadi genangan air yang mulai bergerak sendiri.
Dua genangan air tersebut mulai mengalir di atas lantai arena ke arah Leinn yang melihatnya dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Selamat pagi, putri tidur”
Kedua genangang air itu bersatu dan mulai bergetar keras lalu berputar meninggi, membentuk kembali menjadi satu gumpalan air transparan hidup.
“Kyuu!”
Leinn berhasil menangkap Clear yang meloncat ke wajahnya itu dengan kedua tangannya. Melihat pelukannya berhasil ditahan, Clear mulai bergetar sedih.
“Kyuu...”
“Hahaha, aku juga merindukanmu”
Pertemuan kembali antara Contractor dengan Contracted Beast-nya, sebuah pemandangan yang menyentuh.
Sebagian penonton terlihat tersenyum melihat Leinn yang sedang memutar Clear yang ada di kedua tangannya itu dan sebagian lain menatap Beast itu dengan ekspresi bingung.
Alasan kebingungan mereka sangat sederhana, Clear terlihat tidak berubah sama sekali. Dia masih memiliki ukuran yang sama dan tidak ada satupun Core bisa terlihat di dalam tubuhnya.
Mereka mengambil kesimpulan bahwa evolusinya telah gagal.
“Baiklah, ayo kita mulai lagi”
Leinn menurunkan Clear ke lantai batu dan mengembalikan perhatianya pada Brick yang masih menunggunya menyelesaikan reuni itu.
“Walaupun Contracted Beast-mu sudah terbangun, aku tidak akan jatuh semudah itu”
Bersamaan dengan perkataannya itu, Brick mulai berlari ke arah Leinn dengan kapak besarnya.
Matanya kembali berubah warna dan Mana mulai merembes keluar dari tubuhnya.
Leinn tidak bergerak dari tempatnya berdiri dan menoleh ke arah Clear yang ada disampingnya, yang menerima informasi darinya dan meloncat ke telapak tangannya.
“Hap!”
“Kyuu!”
Leinn melempar Clear cukup tinggi, melewati kepala Brick yang semakin mendekat itu.
__ADS_1
Merasakan ada yang aneh dengan gerakan itu membuat Brick menoleh ke belakang.
Dia dan penonton di sekitar mereka menjadi sangat terkejut oleh apa yang dilakukan oleh Slime itu.
“Groar!”
“Kyuu~”
Dua tentakel panjang keluar dari tubuh transparan itu dan mengikat di sekitar leher beruang itu lalu sebelum dia bisa bereaksi, Slime itu sudah mendarat di atas kepalanya.
Beruang itu langsung mengayunan cakarnya untuk melepaskan Slime yang menempel kepalanya itu, tetapi Clear berhasil melakukan gerakannya lebih dulu.
Clang
Cakar besarnya membentur tubuh Clear dan tidak bisa memberikan sedikitpun kerusakan, dia terus menyerang Clear yang sudah menutupi kedua matanya itu.
Penonton di stadium itu cukup terkejut ketika Clear berubah menjadi warna hitam metalik, sebagian dari mereka juga mengenali skill Slime itu.
Brick yang melihat Contracted Beast-nya yang terlihat seperti sedang memakai helm besi itu membuka matanya dengan lebar.
“[Harden] dengan tingkat ini... Rank B Metal Slime?!”
Dia mengembalikan perhatiannya pada Leinn yang menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Clear adalah Clear”
Melihat lawannya tidak berniat memberi penjelasan, Brick melanjutkan langkahnya dan langsung mengayunkan kapaknya.
[Berserk Rush!]
Mana merembes semakin deras dari tubuh Brick, terutama dari kedua mata dan lengannya yang terlihat mengeluarkan uap tebal.
Ledakan demi ledakan dapat terdengar setiap kali kapak besar itu menyentuh lantai batu di depannya, tidak berhasil mengenai sasarannya.
Brick menyadari penglihatan dari Beast-nya sudah tertutupi oleh Slime lawannya itu, membuatnya hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Setiap ledakan itu menerbangkan debu baru tebal ke udara, menghadang penglihatan semua orang di sana. Ini berlangsung selama tiga menit penuh, sampai disaat Brick kehabisan tenaganya.
“Hah...hah...”
Kabut debu itu mulai mereda dan menunjukkan hasil dari serangan beruntun itu.
Di depan Brick yang hampir tidak bisa berdiri lagi itu adalah Leinn yang menggenggam pedangnya di tangan kanannya, tanpa luka sedikitpun.
Semua orang di stadium itu menarik nafas terkejut ketika melihat arena itu, melihat Brick yang berdiri di tengah arena yang sudah terkoyak oleh serangan kekuatan penuhnya sedangkan Leinn yang berdiri tiga meter di depannya itu masih berada di atas lantai batu yang utuh.
Di tengah lima meter are kehancuran itu adalah lingkaran selebar setengah meter yang tidak tersentuh sedikitpun.
Brick melihat itu dan langsung terjatuh terduduk, matanya yang menatap Leinn itu menunjukkan perasaan menyerahnya. Bahkan serangan terkuat di tempat yang menguntungkannya tidak bisa membuat lawannya itu menanggapinya dengan serius.
Dia melihat beruang di belakangnya juga sudah terbaring kelelahan setelah menyerang kepalanya sendiri tanpa berhasil melepaskan Slime itu.
Sesaat sebelum dia mengaku kalah...
“Apa yang kau cari?”
Brick mengangkat wajahnya dan menemukan lawannya sudah berdiri tepat di depannya dan memandangnya dengan ekspresi serius. Ini adalah pertama kalinya dirinya melihat ekspresi serius Leinn dengan pikiran jernih dan dia tidak bisa menemukan kata untuk menjawab pertanyaannya itu.
“Apa yang kau inginkan dengan kekuatan yang kau miliki sekarang”
__ADS_1
“A-apa?”
“Kau tidak lemah. Gift-mu yang bisa memaksamu memasuki keadaan Overflow itu bukanlah sesuatu yang biasa. Jadi aku bertanya sekali lagi, untuk apa?”
Kalimat terakhir itu memaksa Brick ke dalam sebuah renungan.
Untuk apa?
Ingatan masa kecilnya muncul, dimana dia menyadari dirinya tidak sepintar anak-anak lain.
Dia yang mulai membuat kekacauan dengan tubuhnya yang lebih besar dibandingkan anak seumurannya, sifat kasarnya yang semakin parah ketika Gift-nya bangkit.
Anak-anak yang berhenti menyebutnya bodoh setelah menerima pukulannya, remaja yang berhenti tertawa ketika dia membelah meja kayu di depan mereka dengan tangan kosong, dan orang-orang tua yang tidak memedulikannya mulai menatapnya dengan takut setelah dia mengaktifkan [Berserk] untuk pertama kali.
“Aku... untuk diriku sendiri-?”
Lalu pengikut... teman-temannya, yang mengikutinya sejak sebelum dia mulai membuat keributan.
Leinn mulai tersenyum setelah melihat sesuatu dari mata pemuda di depannya.
Bham!
Dan dia memberikan tendangan keras pada Brick yang terduduk itu.
Penonton disekitarnya mulai merasa ada yang aneh dengan kepala pemuda berambut hitam itu, melihat kelakuannya sangat sulit ditebak.
Brick meluncur sejauh lima meter dan terbaring menatap langit di atas lantai batu itu.
Setelah kesunyian beberapa saat, dia terbangun dan mengelus dadanya dengan ekspresi bingung.
Pertama dia bingung dengan alasan lawannya itu tiba-tiba meluncurkan serangan padanya, lalu dia menjadi lebih bingung ketika menyadari tidak ada sedikitpun rasa sakit di dadanya itu.
Brick mengangkat wajahnya dan melihat Leinn sedang melangkah mendekatinya dengan senyuman di wajahnya.
Dia mulai mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan menyadari kapaknya ada di tempatnya terduduk sebelumnya.
“Untukmu, sedikit bantuan”
Guru-guru dan murid senior di stadium itu melihat nafas Brick yang sudah teratur itu, menyadari Leinn telah mengalirkan Mana ke dalam tubuhnya untuk mengisi ulang persediaan lawannya.
Brick juga menyadari ini dan bertambah bingung.
“...apa maksudmu?”
Leinn menjawab dengan meletakkan telapak tangan kanannya di gagang pedangnya dan memejamkan matanya.
“Hm, sedikit sulit disini...”
Dia terlihat bergumam pelan dan setelah sepuluh detik dalam posisi itu, dia kembali membuka matanya.
“Hah...” Leinn menghela nafas panjang dan kembali berdiri santai, mengeluarkan uap berwarna biru muda dari mulutnya.
Mana biru mulai merembes keluar dari tubuhnya, mengejutkan seluruh penonton di stadium itu secara bersamaan.
Isaac bahkan menunjukkan ekspresi tidak percaya dan berteriak dari tempat duduknya.
“Overflow Mana Murni di tengah lautan Mana Tanah?!”
__ADS_1