Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 96 – Hasil Akhir


__ADS_3

Abu-abu.


Itulah warna yang sedang dilihat oleh gadis di punggung serigala besarnya.


Aura hanya bisa merasa bingung ketika melihat warna hilang dari pemandangan di sekitarnya tepat setelah suara bisikan terakhir itu terdengar.


Dia mulai melihat sekitarnya dan menemukan orang lain juga menunjukkan reaksi yang sama.


Mereka mencoba membuka mulut mereka untuk bertanya, tetapi tidak ada suara apapun yang bisa terdengar darinya.


Panik, bingung, takut, berbagai perasaan sedang dialami mereka semua, dan hanya beberapa orang diantara mereka yang terlihat sedang memikirkan hal yang berbeda di tengah fenomena ini.


Dan tiba-tiba, setelah sepuluh detik berlalu, sepuluh detik yang terasa begitu lama itu...


Warna kembali ke dunia.


Dan sinar terang muncul dari stadium itu.


Rumble!


Diikuti getaran yang begitu hebat, yang membuat lebih dari separuh orang di akademi itu kehilangan keseimbangan dan jatuh.


Getaran yang bisa dirasakan oleh semua penghuni kota dan orang-orang yang sedang ada di luar dinding kota juga, membuat semua kaca di seluruh kota tiba-tiba retak atau pecah berkeping-keping.


Gelombang angin yang begitu kuat, sampai membuat tanah terangkat dan semua daun lepas dari pepohonan disana. Beberapa orang bahkan ikut berguling terbawa angin kencang itu.


Suara yang seperti berasal dari seribu petir yang menyambar bersamaan, dicampur dengan suara tawa yang menusuk jantung orang-orang yang mendengarnya, bergema di seluruh kota.


Tetapi di tengah guncangan hebat, angin kencang yang mengangkat mereka, dan suara ledakan yang hampir menulikan dan melukai mereka itu, mata mereka terus tertuju pada stadium di depan mereka.


Stadium yang tiba-tiba ditelan oleh bola yang terbentuk dari energi emas dan ungu yang terlihat seperti ingin menelan satu sama lain.


Mereka bisa melihat bola emas-ungu yang perlahan-lahan membesar itu, terlihat seperti hampir meledak....


Dan hilang.


“Huh...?”


Salah satu orang disana tidak bisa menahan suara bingungnya, melihat energi yang begitu ganas itu tiba-tiba lenyap tanpa sisa bersama semua suara dan getaran besar yang mengguncang kota itu.


Di depan mereka sekarang adalah lubang selebar 200 meter, tanpa sedikitpun sisa yang bisa membuktikan bahwa stadium yang berdiri disana di satu menit sebelumnya itu pernah ada.


“”Ayo cepat...!””


Suara teriakan tiba-tiba terdengar dari dua gadis yang mulai mendekati area itu dengan tunggangan mereka, meninggalkan orang-orang yang terpana oleh pemandangan itu.


Mereka bergerak dengan cepat, sampai akhirnya sampai di tepi lubang tu, tetapi gerakan dua Beast itu terhenti tiba-tiba ketika meihat ke dalam sana.


Lubang berbentuk setengah bola dengan permukaan hitam itu terlihat cukup mencekam.


““...!””


Dan disana terlihat dua pemuda saling berhadapan dengan jarak 50 meter di antara mereka.


Mereka hanya berdiri dan tidak bergerak sama sekali, dan tidak ada sedikitpun energi yang terlihat memancar keluar dari tubuh mereka berdua seperti sebelunnya.


Mereka seperti...?


“LEINN!””ROLAND!”

__ADS_1


Empat kaki kuat dan tubuh dua puluh meter bergerak cepat ke dalam lubang itu, langsung membawa dua gadis itu mendekati dua pemuda itu.


Hanya membutuhkan beberapa detik untuk mencapai tujuan mereka.


“L-leinn..?”


Pemuda berambut hitam itu tidak bereaksi, mata hitamnya hanya menatap ke depan tanpa berkedip sedikitpun. Dengan jaket hitam dan bajunya yang sudah terkoyak habis, menunjukkan tubuhya yang penuh luka dan terus mengalirkan darah.


Semua bagian tubuhnya yang terlihat sudah dipenuhi luka bakar.


“Roland...!”


Pemuda berambut pirang itu tidak bereaksi juga, mata birunya terlihat hanya menatap ke depan tanpa fokus. Baju biru gelapnya sudah terkoyak dan menunjukkan tubuhnya yang berlumuran darah, sepertinya luka potong di seluruh tubuhnya mengakibatkan pendarahan yang cukup parah.


Beberapa bagian tubuhnya juga sudah berubah warna.


Tetapi mereka berdua tetap berdiri di depan lawan mereka, menolak untuk jatuh.


“”Ayolah...!””


Aura merapalkan manteranya dan Adeline menuangkan botol penyembuh dari sakunya.


Sihir api putih dan obat penyembuh kualitas tinggi mulai menyelimuti tubuh dua pemuda itu, tetapi Aura yang sedang kehabisan Mana dan Adeline yang hanya membawa dua botol obat penyembuh padanya saat ini tidak bisa membantu banyak.


Mereka berdua berusaha menggerakan tubuh dua pemuda itu tanpa berhasil, melihat tubuh mereka berdua seperti mematung disana.


Sampai tiba-tiba...


““...ha...ha...””


Suara tawa kecil keluar dari mulut penuh darah dua pemuda itu secara bersamaan, sepertinya obat dan api putih itu ternyata cukup untuk mengembalikan kesadaran mereka berdua.


Lalu mereka memejamkan mata mereka secara bersamaan.


““...!””


Dua gadis itu melihat pemuda di depan mereka jatuh ke tanah begitu saja, kembali tidak sadarkan diri.


Sekarang di dalam lubang ini hanyalah dua gadis itu, dua pemuda tidak sadarkan diri, dan dua Beast besar.


Beberapa benda juga dapat terlihat tersebar di lubang ini, tetapi tidak ada yang memerhatikan itu.


“Tim medis!”


Suara Isaac dapat terdengar datang bersamaan dengan dirinya yang meloncat masuk ke lubang itu, dengan ekspresi khawatir yang dapat terlihat jelas di wajahnya.


Akhirnya belasan murid berseragam sama ikut meloncat dan meluncur ke dalam lubang itu ke arah dua tubuh tidak sadarkan diri disana.


Dengan ini, turnamen junior tahun ini telah berakhir.


...


Di sebuah desa kecil, 200 kilometer dari dinding kota Blazing Sun.


Puluhan orang tidak sadarkan diri sedang terikat dan duduk di pintu masuk desa itu, siap untuk dimasukkan ke kereta besar di dekat mereka.


“Terima kasih banyak, Tuan Muda...!”


Bham...

__ADS_1


Orang tua yang terlihat sudah berumur 70 tahun sedang menundukkan kepalanya, berterima kasih dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnya pada pria di depannya.


Bham...bham...


“Sudahlah, ini hanya pekerjaanku”


Pria berambut hitam yang terlihat seperti berumur 25 tahun itu melihat kakek di depannya itu, lalu tersenyum ramah.


Bham...bham...bham...


Di belakang kakek itu terlihat beberapa keluarga saling berpelukan sambil menangis, terlihat gembira saat bertemu satu sama lain.


Salah satu anak kecil yang tidak lebih dari sepuluh tahun berjalan mendekati pria itu, dengan matanya yang sudah sangat basah.


“Um... terima kasih Kak...!”


Bham bham bham...!


Pandangan anak, kakek, dan pria itu akhirnya bergerak ke arah kereta di pintu masuk desa itu.


Bham... bham...


“Dan... terakhir!”


Bham!


Puluhan orang yang terikat itu sudah berpindah ke dalam kereta dalam berbagai posisi, terlihat seperti tumpukan karung.


“Um... tuan muda...?”


“Tenang saja, dia memang seperti itu”


Pria itu hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum canggung pada kakek yang terlihat sedikit takut itu.


“Aku sudah selesai memasukkan mereka... ada apa?”


Pelaku yang baru melempar puluhan orang ke dalam kereta besar itu mulai berjalan mendekati mereka dengan senyuman lebar di wajahnya.


Gadis yang terlihat tidak lebih dari 17 tahun dengan rambut putih panjang yang mencolok, tersenyum polos seperti tidak baru saja melempar puluhan tubuh orang dewasa tanpa ampun ke dalam kereta besar di belakangnya.


“Aku sudah tidak sabar! Ayo cepat Kak-hm?”


Gadis itu tiba-tiba menoleh ke satu arah dengan ekspresi bingung. Dia terlihat seperti baru saja merasakan sesuatu yang aneh.


Melihat kelakuan aneh itu, kakek itu berniat bertanya pada pria di sampingnya dan menemukan pria itu sedang melihat ke arah yang sama.


“Hoh...”


Senyuman lembut di wajah pria itu berubah menjadi senyuman yang cukup menakutkan, membuat orang yang melihatnya tidak bisa bergerak.


Arah yang mereka lihat adalah tujuan mereka berikutnya dari sini, kota Blazing Sun.


Senyuman lebar juga terlihat di wajah gadis itu, menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Shishishi...”


 


 

__ADS_1


__ADS_2