
Sebagian murid di belakang kelas mulai mengeluarkan berbagai reaksi, mengingat hal itu bukanlah sebuah pengetahuan umum. Sebagian besar orang biasa hanya mengetahui bahwa mereka memerlukan orang dari Hunter Guild untuk mengusir atau memburu Rank C Beast keatas.
Dan sebagian besar anak-anak remaja yang belum menjadi seorang Hunter hanya mengetahui bahwa Rank Beast hanya menunjukkan perbedaan kekuatan saja.
“Itulah dinding yang harus dilewati semua Beast, apapun jenis mereka, untuk bisa mencapai tingkat berikutnya”
Memang informasi ini bisa diakses jika mereka mengunjungi dan mencari buku yang membahas tentang jenis-jenis Beast di perpustakaan, tetapi kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan waktu mereka untuk berlatih dan memperkuat diri.
Inilah kenyataan sebenarnya ketika mereka harus hidup sambil dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan fisik jauh di atas mereka.
“Pembahasan lebih detil akan kita bicarakan di kelas di masa depan, untuk sekarang kalian akan menerima daftar buku-buku Beast yang bisa kalian ambil di Perpustakaan nanti”
Guru itu meraih ke bawah meja dan menarik keluar satu tumpukan kertas yang tebal.
Bham!
“Itu saja pembahasan di Kelas Beast pertama ini, kalian bisa mengambil daftar ini sebanyak yang kalian inginkan dari bawah meja ini nanti jika memerlukan lebih. Sekarang bisakah seseorang membantu-“
Ucapannya itu terpotong oleh pemuda di depannya yang sudah berdiri dan berjalan mendekatinya begitu saja.
Aura dan murid-murid lain bisa melihat Leinn mencapai sisi lain meja itu dan berdiri berhadapan dengan guru yang telah mematung itu.
“A-apa yang....”
Suara guru itu berubah menjadi bisikan lalu menghilang ketika melihat Leinn tidak melihatnya dan hanya menatap tumpukan kertas di depan mereka.
Leinn meraih dan mengambil separuh dari tumpukan kertas itu dengan kedua tangannya, lalu melemparnya begitu saja ke udara.
“...Ah...?”
Suara aneh keluar dari mulut guru itu ketika melihat lebih dari seratus lembar kertas sedang melayang di udara di depannya.
Sebelum Aura yang sudah bangun dari kursinya itu bisa berkata apa-apa, hembusan angin kencang tiba-tiba menerpa wajahnya.
“...?!”
Perasaan kaget luar biasa dapat dirasakan oleh murid-murid di kelas yang sedang melihat pemandangan di depan mereka saat ini.
Ratusan kertas di udara itu mulai bergerak mengikuti hembusan angin yang tiba-tiba muncul itu dan melayang ke belakang kelas, lalu mendarat di meja murid-murid itu.
Sekarang di depan puluhan murid itu adalah tiga lembar kertas dengan daftar buku-buku tentang Beast dari guru mereka.
“Selesai!”
__ADS_1
Leinn menunjukkan senyum lebarnya lalu mengambil empat lembar kertas dari tumpukan yang sama sekali tidak bergerak di tengah semua hembusan angin keras sebelumnya itu.
“...Ah!”
Guru itu baru tersadar ketika melihat punggung Leinn yang sedang berjalan menjauhinya itu, lalu pada murid-murid lain yang sedang menatap pemuda berambut hitam itu dengan berbagai ekspresi berbeda.
“Hoh...”
Tetapi Leinn terlihat tidak peduli dan hanya melihat informasi dari kertas di tangannya itu, sambil menanyakan beberapa hal yang tertulis disana pada Aura yang sedang membaca hal yang sama.
Setelah melihat Leinn dan Aura hanya membahas hal-hal yang berhubungan dengan Beast tanpa masalah, murid-murid lain mulai melakukan diskusi mereka sendiri. Ternyata daftar judul buku itu juga datang dengan ringkasannya, membiarkan murid-murid itu melihat dan memilih apa yang menarik perhatian mereka.
“...”
“...oh dan ini juga menarik, buku berhasil menjelaskan dengan detil bagaimana ciri khas Beast yang hidup di Gurun Kematian, dan hanya ada tujuh kesalahan ketik dalam buku ini...!”
Leinn masih tersenyum ketika dia melihat Aura menjelaskan tiga judul buku pertama dari daftar itu, karena dirinya mengetahui gadis di depannya itu sudah membaca banyak buku.
Senyuman itu mulai berkurang ketika dia tidak berhenti dan penjelasannya akhirnya mencapai separuh judul buku yang ada di kertas itu.
Sampai akhirnya Aura mulai menyebutkan jumlah kesalahan cetak di beberapa buku itu, diikuti dengan teorinya sendiri yang bahkan terdengar lebih masuk akal di telinga pemula seperti Leinn.
“...dan-Oh! Aku belum pernah membaca yang ini!”
Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Aura, yang sedang menunjuk judul buku kelima dari akhir di daftar yang berisikan lebih dari 20 judul buku itu.
Leinn hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat belasan judul lain di atas judul itu, sambil menyeka kepalanya yang sudah dibasahi oleh keringat.
“Um...”
Guru itu sudah menyadari pengetahuan luas dari Aura sebelum kelas ini dimulai dan mengagumi teori sihir yang ditunjukkannya di turnamen sebelumnya, lalu mendengar dia menjelaskan dengan singkat isi dari buku-buku itu membuatnya ingin berdiskusi dengannya.
Tetapi sampai akhir dia hanya duduk di kursi guru di depan kelas itu sambil membaca buku yang dibawanya, karena kecanggungannya tidak membiarkannya memulai pembicaran dengan murid yang jauh lebih muda darinya itu, dan akhirnya kelas berakhir begitu saja.
“Kyuu...”
...
Lampu-lampu tinggi sudah mulai menyala dan menggantikan penerangan dari matahari sore yang sudah hilang di balik dinding kota itu, berhasil menerangi seluruh akademi.
Beberapa murid dapat terlihat sedang berjalan di sekitar taman utama akademi itu, yang sekarang sudah menghasilkan suasana yang berbeda dengan di siang hari yang ramai sebelumnya.
“Om nom nom...”
__ADS_1
Duduk di salah satu kursi panjang taman itu adalah pemuda berambut hitam yang sedang mengunyah jagung bakar besar di tangannya.
“...”
Gadis berambut merah muda terlihat sedang duduk di sisi lain kursi itu dan hanya menatap pemuda yang sedang memakan jagungnya sampai tidak ada sisa sedikitpun itu dengan perasan campur aduk.
Mereka baru saja meninggalkan kafeteria yang dipenuhi oleh murid-murid yang menatap mereka dengan berbagai jenis pandangan yang membuat mereka sulit makan.
“Om nom nom...”
...yang membuat Aura sulit makan, sedangkan Leinn terlihat tidak peduli sama sekali.
Selama perjalanan mereka dari kafeteria itu, Leinn terlalu sibuk makan dan membiarkan Aura mulai memikirkan berbagai macam hal yang masih membuatnya penasaran. Satu yang paling besar adalah apa yang Leinn lakukan bersama Roland dan gadis berambut putih setelah meninggalkan dirinya dan Adeline.
Tetapi ada perasaan aneh yang menghentikan Aura untuk menanyakan hal itu secara langsung, sampai akhirnya mereka berdua sampai di kursi panjang taman itu.
“Kyuu?”
Clear terlihat berbaring di antara mereka berdua sambil mencerna jagung besar yang sama seperti yang ditelan oleh Leinn saat ini di dalam tubuh transparannnya.
Aura melihat gumpalan air transparan itu selama beberapa saat, lalu menatap Leinn dengan serius.
“Jadi... dimana Roland...?”
Dan dia kehilangan keberanian di saat-saat terakhir dan menanyakan hal kedua yang membuatnya penasaran.
Leinn menoleh dan menatap Aura sambil mengangkat satu alisnya.
“Om nom nom nom...”
Dia mulai mempercepat kunyahan dan langsung menelan makanannya itu.
“Dia... berjalan melewatimu siang tadi?”
“...huh?”
Leinn menepuk kedua tangannya lalu menunjukkan ekspresi bingung pada gadis di sampingnya itu.
“Sebelum aku memanggilmu tadi siang, dia berjalan melewatimu dan masuk ke asrama murid baru. Sepertinya dia berencana untuk bertemu dengan Adeline”
Aura mengangkat kedua alisnya, terlihat terkejut. Diikuti dengan matanya yang mulai menyipit, seperti mencoba mengingat sesuatu.
“Huh...”
__ADS_1