
Walaupun kalimat itu keluar dari mulutnya, Leinn tidak bisa menahan senyum ketika menahan serangan demi serangan yang datang ke arahnya.
Pertukaran kali ini menjadi jauh lebih sengit.
Roland tetap memberikan serangan tanpa henti dan setiap dua detik, dia akan hilang dan muncul di sisi lain pemuda berambut hitam itu.
Yang lebih sulit dipercaya adalah Leinn yang masih bisa bertahan, bahkan memberikan beberapa serangan balasan di antara hujan serangan itu.
Seluruh penonton terlihat semakin bersemangat melihat pertukaran antara dua pemuda itu, dan diantara semua orang itu adalah Adeline.
“Keren juga tekniknya ini...”
Aura menoleh dan menunjukkan ekspresi bingung setelah mendengar perkataannya itu.
“Apa maksudmu? Bukankah kau bilang...?”
“Hm...? Oh tidak, aku belum melihat potensi maksimal teknik ini sebelumnya”
Gadis berambut biru itu mengalihkan perhatiannya ke gadis disampingnya.
“Setelah tiga kali Roland berpindah tempat seperti itu, Ayah langsung meledakkan salah satu pedangnya”
“Lalu...?”
Adeline mengembalikan perhatiannya pada pertukaraan dua pemuda di atas arena itu.
“Lalu semuanya meledak”
Aura langsung ikut memerhatikan keadaan di atas arena itu, tepatnya di salah satu pedang yang menancap disana.
Informasi dan teori mulai berputar di pikirannya dan dia menyadari beberapa hal yang tidak berhubungan dengan efeknya yang memungkinkan Roland bergerak seperti berpindah dalam sekejap itu.
Pertama, setiap pedang yang tertancap itu dilindungi lapisan petir yang tidak bisa ditembus serangan biasa. Orang yang mencoba menyentuhnya akan menerima serangan balik yang tidak kecil.
Kedua, jika sebuah serangan berhasil menembus dan mengenai pedang itu maka reaksi berantai akan terjadi. Semua energi yang ada di semua pedang yang terhubung itu dan energi serangan yang mengenainya akan menghasilkan satu ledakan besar.
Ketiga, dan yang paling mengerikan. Bukannya berkurang seiring berjalannya waktu, Mana Petir di setiap pedang itu akan terus meningkat.
Jadi jika orang bisa bertahan dari hujan serangan langsung Roland, mereka akan merasakan ledakan akhir dari semua energi yang terkumpul di semua pedang yang tertancap di tanah itu.
“Ha...!”
Roland melihat pedangnya terpukul mundur ketika membentur sarung pedang Leinn yang diayunkannya sekuat tenaga.
Dia melihat siluet ungu yang hanya melayang tanpa melakukan apa-apa sejak tadi tiba-tiba bergerak dan menyentuh tangan kanan pemuda di depannya.
Merasakan bahaya, Roland langsung meloncat mundur sekuat tenaga walaupun tekanan yang kuat di tubuhnya berusaha menghentikannya gerakannya.
Dua pedangnya bersiap di depannya untuk menahan apapun yang akan Leinn lemparkan padanya.
“Rasakan ini, Roland!”
Mata pedang di tangan kanannya berubah menjadi ungu gelap, mengeluarkan suasana dingin yang pekat ke sekitarnya. Dalam satu gerakan mulus dia mengayunkan pedang itu... ke sampingnya.
__ADS_1
[Reaping Wave!]
Gelombang pedang ungu melayang dengan cepat. Bukan ke arah Roland yang berada dalam posisi bertahan, tetapi ke arah pedang yang menancap di tanah di dekatnya.
“Aaah...!” beberapa jeritan terdengar dari sekitar lingkaran sihir di luar arena itu.
Ketika Adeline menceritakan identitas teknik Roland itu, beberapa orang yang berdiri di dekat mereka bisa mendengar itu dan menjadi panik.
Informasi menyebar dengan cepat dan akhirnya semua orang yang menjaga lingkaran sihir itu meningkatkan kewaspadaan mereka.
Dan mereka berubah menjadi panik lagi ketika melihat Leinn meluncurkan gelombang pedang ke arah salah satu pedang Roland itu. Mereka langsung menyiapkan diri untuk ledakan besar yang akan mengguncang pelindung mereka itu.
“Gila!”
Roland terkejut melihat apa yang dilakukan oleh pemuda di depannya itu.
Dengan jumlah Mana Petir yang sudah terkumpul di pedang-pedangnya, ledakan yang dihasilkan tidak akan maksimal tetapi akan cukup untuk melukai dirinya sendiri.
Dia tidak akan keluar dengan luka ringan dalam kondisinya saat ini, cahaya petir mulai menyelimuti seluruh tubuhnya bersiap untuk melakukan gerakan kilatnya untuk bergerak keluar... lalu berhenti.
“...”
Kali ini Leinn yang menunjukkan ekspresi terkejut, tubuhnya yang baru selesai mengeluarkan serangannya itu langsung berputar dan sarung pedangnya bergerak untuk melindungi pinggang kirinya.
Roland menghilang dan muncul di sisi kiri Leinn dan melihat sarung pedang di depannya itu, lalu memilih untuk tetap mengayunkan kedua pedangnya sekuat tenaga ke sana.
“Hah!”
Bham!
Mana dalam jumlah bersar juga mengalir ke lingkaran sihir raksasa dan kubah pelindung itu mulai menebal dengan cepat, lalu-
“Huh...?”
Tidak terjadi apa-apa...
...selain Leinn yang terpental lima meter dengan rasa nyeri di pergelangan tangan kirinya.
“Haha! Apa kau belajar melihat masa depan juga?”
Pedang di tangan kanannya kembali tersarung dan Leinn mulai menggosok pergelangan tangannya yang nyeri itu.
“Tidak. Aku hanya tidak percaya kau akan melakukan hal sebodoh itu”
Roland menoleh ke arah pedangnya yang baru saja menerima gelombang pedang ungu itu, dengan senyuman kecil di wajahnya.
Senyuman itu dia pakai untuk menyembunyikan kewaspadaannya yang sudah meningkat tinggi. Dia melihat jelas semua Mana Petir di pedang itu hilang dalam sekejap ketika menerima serangan itu, lalu terisi ulang dalam sekejap berikutnya dari sepuluh pedang lainnya.
“Aku percaya padamu”
Kalimat itu keluar dari mulut Roland yang menatap pemuda berambut hitam di depannya sambil tersenyum kecil, sambil mengumpulkan Mana Petir untuk serangan berikutnya.
“Oh. Terima kasih, Tuan Muda”
__ADS_1
Senyuman yang sama muncul di wajah Leinn disaat dia menggaruk belakang kepalanya. Dia mulai menarik keluar pedangnya sambil memejamkan kedua matanya.
Crackle...
Clang!
Pedang bertemu dengan pedang, pemandangan yang sama.
Tetapi kali ini penonton menunjukkan rasa terkejut yang luar biasa. Karena mereka bisa melihat jelas kali ini Roland lah yang menahan serangan dari Leinn.
Mereka melihat Leinn membuka matanya dan langsung mengayunkan pedangnya ke depannya, dan di sana juga muncul Roland yang menunjukkan ekspresi terkejut.
“Haah...!”
Roland mulai melanjutkan dengan serangan-serangan berikutnya tetapi sudah jelas posisi mereka sudah berubah.
Leinn bisa menemukan tempat muncul lawannya dan memberikan serangan terlebih dulu.
Di tengah serangannya pada Roland itu, dia masih bisa beberapa kali melepaskan gelombang pedang ungu ke arah pedang-pedang di sekitarnya.
“Ha! Ayolah, Roland!”
Tatapan mata biru pemuda pirang itu bertemu dengan tatapan mata... ungu pemuda di depannya.
Dia mengayunkan pedang di tangan kirinya dan menebas keatas, yang dihindari lawannya dengan satu langkah mundur.
Senyuman kecil muncul di wajahnya.
Pedang di tangan kanannya mulai mengambil jalur yang sama dengan tebasan sebelumnya, hanya saja pedang ini menyentuh tanah di bawahnya dan menyeret aliran petir itu.
[Thunder Incarnated, One Clap]
Ayunan pedang di tangan kanannya itu mengikuti pedang tangan kirinya dan menebas udara kosong, tanpa mengeluarkan gelombang sereangan apapun.
Tetapi tidak sedetikpun Leinn mengira pemuda pirang di depannya bisa melakukan kesalahan sejelas itu dan dia langsung berusaha menyiapkan diri untuk apapun yang akan datang.
“Aha...!”
Dan tentu saja, sebuah lingkaran kuning selebar 50 sentimeter muncul di bawah kakinya.
Crackle...Boom!
Leinn langsung menghindar dengan menggunakan sarung pedangnya sebagai tumpu loncat, memaksa tubuhnya bergerak ke belakang.
Petir menyambar dari tanah dan meluncur ke langit, membentur kubah pelindung di atasnya.
Tetapi dia tidak bisa mengambil nafas disaat tiba-tiba, lima lingkaran kuning muncul di sekitar tempatnya berdiri.
Roland baru selesai berputar dan menyeret dua pedang di tangannya di lantai batu itu sebanyak lima kali berturut-turut.
[Five Clap]
Crackle...Boom!
__ADS_1