Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 108 – Kedatangan dan Bahaya


__ADS_3

Dua gadis itu terlihat sangat terkejut dan langsung menatap Leinn yang sedang tersenyum kecil. Mereka sebenarnya sudah berencana untuk meminta Leinn dan Roland untuk memperkenalkan mereka dengan gadis itu.


Tetapi ini terlalu mendadak.


“...apa maksudmu?”


Leinn langsung mengangkat satu alisnya dan menunjukkan ekspresi bingung setelah mendengar pertanyaan itu, karena itu datang bukan dari dua gadis di depannya tetapi dari pemuda berambut pirang di sampingnya.


“Apa maksudmu ‘apa maksudmu’? Aku sudah memberitahumu lewat pesan semalam!”


Roland menunjukkan ekspresi datarnya selama beberapa saat, lalu meraih ke dalam sakunya dan menarik keluar Linker miliknya.


Dia mulai mengutak-atik benda di tangannya itu selama beberapa saat lalu mengangkat wajahnya kembali.


“Oh, kau benar”


“Hah? Bagaimana kau bisa tidak menyadari pesan yang kukirim?”


Roland menundukkan kepalanya dan menatap Linkernya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Leinn sekali lagi, dengan sangat serius.


“Aku mematikan notifikasi untuk Linkermu”


Leinn terlihat sangat syok setelah mendengar itu, terpukul dan terluka.


“Bagaimana kau... begitu tega?”


“Kau berisik, mengganggu dan menyebalkan”


Jawaban cepat datang begitu saja dari pertanyaan itu, seperti membawa semua perasaan Roland yang menerima pesan tanpa henti dari Leinn selama seminggu terakhir.


Leinn terlihat tidak bisa menerima itu dan memaksa Roland untuk menyalakan kembali notifikasinya.


Dua pemuda itu mulai berdebat dengan sengit, yang sudah sangat melantur dibandingkan topik awalnya.


Aura dan Adeline hanya bisa melihat mereka berdua dengan ekspresi bingung, menyadari mereka telat untuk meminta informasi tentang Hinata ini sebelum bertemu dengannya beberapa saat lagi.


Akhirnya Roland memilih untuk memenuhi permintaan Leinn setelah menyadari kebebasannya dari pesan beruntun itu tidak sebanding dengan menerima keberisikan itu secara langsung dari pemuda di depannya.


“Haha!”


Leinn melihat ikon senyap di samping namanya di Linker Roland itu menghilang dan tertawa senang, tidak menyadari senyuman di wajah Roland di sampingnya.


Dia bisa mengaktifkanya lagi nanti.


“Hm?”


Leinn lalu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah seseorang yang mengenakan seragam guru yang sedang berjalan ke arah lapangan tempat mereka berkumpul.


Guru itu berjalan dengan ekspresi penuh wibawa, sampai...


“...”


Dia membalikkan badannya dan mulai berjalan pergi setelah melihat kelompok empat orang di satu sisi lapangan itu.


Beberapa murid yang menyadari kedatangannya itu menunjukkan ekspresi bingung.

__ADS_1


Leinn yang melihat kedatangan dan kebalikan tubuhnya itu juga bisa melihat guru itu baru saja menarik keluar sebuah Linker dengan warna yang berbeda dengan yang diberikan kepada murid-murid di akademi ini.


Dia terlihat seperti sedang menghubungi seseorang.


“Hm...”


Leinn akhirnya melepaskan perhatiannya dan mulai memeriksa sekitarnya, seperti sedang mencari seseorang.


“Tentu saja dia...” ucap Leinn dengan nada lelah.


Roland terlihat menyadari kelakuannya itu dan mulai memeriksa sekitarnya juga, tanpa berhasil juga.


“...terlambat, lagi” lanjut Roland.


Mereka berdua bertukar pandangan sesaat lalu menghela nafas pendek, seperti sudah menduga hal itu akan terjadi.


Aura dan Adeline yang melihat itu merasa sedikit bingung sampai tiba-tiba menyadari bahwa hanya ada satu orang yang bisa dimaksud oleh mereka berdua.


Sebelum mereka berdua bisa memberikan reaksi, Leinn tiba-tiba membuka matanya dengan lebar seperti menyadari sesuatu.


“Apakah dia tersesat?”


Roland menoleh dan membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali dan menggelengkan kepalanya.


“Sepertinya”


Mereka berdua terlihat mulai merenungkan cara untuk mencarinya, melihat dengan kondisi mereka saat ini akan membutuhkan banyak waktu jika mencarinya dengan berlari biasa.


Sepertinya cara yang paling baik adalah dengan menggunakan ledakan besar-


“Leinn”


Aura mendapat perasaan buruk dan menyadari harus berbuat sesuatu, jadi dia memeriksa semua fitur yang ada di Linker miliknya dan menemukan apa yang dicarinya.


“Pinjamkan Linker milikmu padaku”


Leinn langsung menarik keluar Linkernya dari sakunya dan mengoper ke Aura tanpa bertanya apa-apa, menyadari gadis di depannya itu sudah menemukan solusi dari masalah mereka itu.


Roland juga hanya berdiri sambil melipat tangannya di depan Aura yang mulai menekan Linker milik Leinn itu beberapa kali.


“Dan... selesai!”


Ngiiing...!


Adeline yang ada di sampingnya sedikit terkejut ketika melihat sebuah anak panah merah tiba-tiba muncul di atas layar transparan itu, terlihat sedang bergetar kecil.


“Oooh...”


Suara kagum keluar dari mulut Leinn yang menerima kembali Linkernya sambil melihat anak panah yang terlihat sedang menunjuk ke satu arah.


“Jadi, kita hanya perlu mengikuti anak panah ini?”


Leinn langsung membalikkan badannya untuk menghadap ke arah yang ditunjuk panah itu dan berniat berjalan kesana, lalu menghentikan langkahnya ketika dirinya tidak menerima jawaban.


“Aura?”

__ADS_1


“Um...aplikasi ini bekerja... dua arah?”


Leinn menatap Aura, lalu pada alat di tangannya, lalu pada Aura lagi.


“Oh"


Akhirnya Leinn memilih untuk menunggu disini saja.


“Melihat jaraknya, dia akan sampai dalam... beberapa... menit?”


Aura melihat angka di bawah anak panah itu dengan ekspresi bingung, melihat kecepatan berkurangnya sampai membuat angka itu tidak bisa terbaca. Angka yang seharusnya menunjukkan jarak antara dua Linker itu sekarang hanya memperlihatkan deretan buram.


...boom...boom...


Leinn dan Roland yang menyadari arti angka itu hanya memejamkan mata mereka sesaat, lalu menoleh ke arah anak panah itu yang sekarang sedang menunjuk ke arah sebuah kabut debu yang terlihat semakin membesar...


Atau mendekat.


Boomboomboomboom...!


Dan tentu saja, siluet seseorang dapat terlihat semakin jelas dengan cepat.


“Clear, Basalt! Hentikan dia!”


Menyadari keseriusan dalam suara Leinn, Basalt langsung kembali ke ukuran aslinya dan bergerak ke depan sambil memegang Clear, yang sudah menerima instruksi melalui Contract mereka.


“Twig”


Ular besar itu langsung terbangun dari lamunannya dan melakukan instruksi dari Roland juga, membuat tubuhnya membesar dan memanjang kembali ke ukuran 20 meternya.


Clear mulai menyebar dan menutupi seluruh tubuh Basalt, bersamaan dengan Basalt yang menanamkan kedua kakinya ke dalam tanah dan membentuk dinding batu besar beberapa meter dibelakangnya.


Twig juga membuat tubuhnya menjadi spiral panjang dan terlihat bersiap menangkap tubuh Gorila di depannya itu.


Menyadari ada yang aneh, Adeline langsung merapalkan sihir sambil menyentuh langsung dinding batu baru itu, membuatnya terselimuti dengan es yang terlihat sangat kokoh.


Aura juga langsung merapalkan sihirnya sambil mengulurkan kedua tangannya, membuat tubuh tiga Beast itu menjadi terselimuti api putih.


Sesaat setelah itu selesai, Leinn dan Roland langsung mengangkat kedua gadis itu dan membawa mereka pergi meninggalan tempat itu.


Leinn juga langsung melempar Linker miliknya ke sisi lain dari dinding itu, lalu berlari tanpa menoleh ke belakang lagi.


“Leinn?!” ucap Aura dari pundak Leinn.


Clear yang sudah menyelimuti tubuh Basalt tiba-tiba menembakkan belasan tentakel transparan ke depannya dan membentuk sebuah jaring yang sangat tebal dan belasan lainnya yang sudah menancap ke tanah di sekitarnya..


Basalt juga menyilangan kedua tangannya ke depan, bersiap untuk benturan dengan ekor Twig yang sudah menyentuh punggungnya, bersiap menangkapnya.


Dan pemandangan terakhir yang Aura dan Adeline bisa lihat adalah seorang gadis dengan rambut putihnya yang berkibar ke belakang karena kecepatan larinya yang sedang menundukkan kepalanya, melihat Linker di tangannya dan tidak memperhatikan ke depannya.


Hanya di satu detik sebelum benturan baru dia mengangkat kepalanya, dan senyuman lebarnya berubah menjadi ekspresi bingung ketika melihat jaring transparan di depannya.


“Huh?”


BOOM...!

__ADS_1


 


 


__ADS_2