Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 16 - Kebodohan


__ADS_3

Tiga pengikut Brick mulai menyebar mengambil posisi mereka masing-masing.


Satu orang yang memakai tombak berdiri dibelakang Brick, satu yang lain berdiri di sampingnya menggenggam beberapa pisau lempar di kedua tangannya, dan yang satu yang tersisa melompat mundur untuk mengambil jarak dengan busur di tangannya.


“Huh”


Leinn menyadari sebuah kantung di pinggang pengikut yang menggunakan busur itu.


Dari bentuknya dapat terlihat kantung itu telah terisi penuh dengan benda-benda hampir bulat yang berukuran kecil.


“Apa isi kantung itu?” tanya Leinn sambil menunjuk pemakai busur itu.


Melihat pria didepannya tidak menarik keluar senjatanya, Brick mengira Leinn mulai ketakutan melihat senjata mereka. Menoleh melihat kantung di pinggang pengikutnya, dia kembali menghadap Leinn dengan senyuman mengejek.


“Jika kau penasaran, mengapa kau tidak mendekat dan cari tahu sendiri...” ejek Brick.


Mengedipkan matanya sekali, ekspresi Brick berubah menjadi bingung.


Di depannya hanya tersisa Aura yang berdiri sendirian dengan ekspresi terkejut, dengan pandangannya seperti sedang tertuju pada sesuatu yang ada di belakangnya.


Lalu angin kencang menerpa wajahnya dengan cukup kuat, mengejutkannya bukan main.


Brick dan dua pengikutnya langsung membalikkan badan mereka dan menemukan pemakai busur itu sedang menatap mereka bertiga dengan bingung, tidak menyadari suasana yang aneh itu.


“Beast Core... Rank C? Tanpa elemen juga, setidaknya ada 100 disini” suara tiba-tiba muncul dari belakangnya.


Mendengar suara itu, dia langsung berbalik badan sambil menarik anak panah dibusurnya.


Di depannya sekarang berdiri Leinn dengan kantung yang dikenalinya di tangan kanannya.


“Melihat kalian sudah ingin bertarung denganku, bagaimana dengan sebuah taruhan?” ucap Leinn dengan santai.


Leinn tidak terlihat cemas sedikitpun walaupun sebuah anak panah sedang di arahkan ke wajahnya dalam jarak sedekat itu.


Kecepatan luar biasanya membuat Brick menjadi sedikit cemas, tetapi tidak ingin terlihat lemah di depan seorang gadis dan pengikutnya, jadi dia membalas dengan keras.


“Baiklah! Taruhan seperti apa yang kau inginkan?” jawab Brick dengan tegas, menyembunyikan kecemasannya.


Melihat reaksi itu, Leinn tersenyum.


“Jika aku menang, aku menginginkan ini” Leinn mengangkat kantung di tangannya.


Brick sudah menduga dia mengingkan Beast Core mereka, dia sudah merasa sangat beruntung ketika menemukan mayat satu kelompok Giant Tarantula dengan Beast Core masih di dalam tubuh mereka.


Ternyata pemuda di depannya berniat untuk mengambil itu dari dirinya.


Dia telah mengira Leinn sebagai gelandangan yang kebetulan ikut ujian masuk akademi tetapi setelah melihat apa yang baru saja dia lakukan, dia sudah tidak terlalu percaya diri tentang asumsi itu.


Tetapi harga dirinya tidak membiarkan dia untuk mundur ketika sudah sampai di sini.


“Oke! Bagaimana jika kau kalah?”


Leinn melempar kantung ditangannya kembali ke pemanah di depannya, yang terkejut dan melepaskan anak panahnya.


Panah itu menembus kepala Leinn, yang kemudian berubah menjadi bayangan palsu.

__ADS_1


Rasa panik mulai dapat di rasakan oleh mereka berempat.


“Tentu saja Beast Core dengan nilai yang sama akan kau dapatkan” jawab Leinn yang berdiri tepat di belakang Brick.


Mendengar suara muncul secara tiba-tiba itu, Brick langsung mengayunkan kapaknya sekuat tenaga secara horisontal ke belakangnya, angin yang dihasilkan dari ayunannya sampai menggerakan dedaunan pohon di sekitarnya.


Leinn tidak terlihat terkejut sama sekali, ayunan kapak besar ini hanya melewati tubuhnya begitu saja, dia seperti tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


Dia hanya mengambil satu langkah mundur lalu satu langkah maju, kembali ke posisi berdirinya.


“Apa...?!”


Melihat serangannya meleset, Brick melanjutkan dengan mengangkat kapaknya setinggi mungkin dan bersiap untuk memberikan serangan lanjutan.


Pengikut bertombak sudah bergerak ke samping Leinn dan pengikut dengan pisau lempar mengambil posisi di sebelah kanan Brick.


Kapak besar itu mulai jatuh dengan angin yang berteriak kencang.


Boom!


Bebatuan melayang tinggi dan debu menutupi pandangan di depan mereka semua.


Aura melihat Leinn hanya berdiri disana tanpa menghindar atau menahan serangan itu.


”Leinn!” teriak Aura dengan panik.


“Ya?”


Mendengar jawaban yang keluar dari tengah kabut debu itu, Aura menjadi lebih tenang mengetahui ternyata Leinn masih baik-baik saja.


Swoosh!


Angin yang ditimbulkan dari ayunannya menghebuskan kabut debu di depannya, menunjukkan wujud pemuda berambut hitam itu.


Leinn hanya berdiri sambil tersenyum dengan pedangnya yang masih tersarung di pinggangnya.


“Kau meremehkanku!” bentak Brick dengan penuh amarah.


Melihat Leinn tidak berniat bertarung dengan serius, harga diri Brick menjadi sangat terluka.


Dia mulai mengayunkan kapaknya secara buas, memotong pohon dan mengoyak tanah sambil berlari mengejar Leinn.


“hue-“


Boom boom boom...!


Brick tidak mendengar suara kecil yang muncul sebelum suara ledakan memenuhi tempat itu.


Tebasan demi tebasan menyerang tanpa sasaran yang jelas melayang berulang kali, seperti ingin menghancurkan apapun yang menghadang jalannya.


Setelah menyerang tanpa henti selama satu menit, Brick akhirnya tersadar dari amukannya itu. Dia juga menyadari dia tidak mendengar suara pengikutnya juga.


Dia menunggu beberapa saat untuk kabut debu yang menghadang penglihatannya mereda, menemukan area lima meter disekitarnya sudah hancur berantakan.


Tetapi dia tidak bisa melihat siapapun disana, termasuk Aura dan para pengikutnya.

__ADS_1


“David? Ethan? Cosby?” rasa panik dapat terdengar dalam suaranya.


Tetapi tetap tidak ada jawaban.


‘a-apakah mereka...’ satu kemungkinan terlintas di kepalanya.


Tangannya yang menggenggam kapaknya mulai bergetar, rasa takut mulai muncul dari dalam hatinya.


“Dimana kalia-!“


“Tenang saja mereka baik-baik saja” suara tenang menyela teriakannya itu.


Leinn tiba-tiba mendarat dari langit, lima meter di depan Brick.


Ekspresinya terlihat dingin.


“Ya temanmu lumayan juga, tombak dan pisau yang tiba-tiba muncul saat aku menghindari seranganmu, dan anak panah yang datang dari sudut butaku. Serangan gabungan mereka itu cukup baik” kalimat memujinya tidak sesuai dengan nada datar di dalam suara yang keluar dari mulutnya.


Perasaan lega nampak di wajah Brick, tetapi sebelum dia bisa bertanya dimana mereka, Leinn melanjutkan perkataannya.


“Hal yang sama tidak bisa kukatakan untukmu... Kehilangan ketenangan karena serangan yang meleset, tidak memikirkan untuk menyimpan energi untuk pertarungan panjang dan serangan tanpa sasaran yang jelasmu itu sangat berantakan” Leinn mengkritik pria besar di depannya tanpa ampun.


Mendengar itu, Brick menyadari nafasnya yang sudah tidak teratur dan keringat yang mengalir deras di dahi dan punggungnya.


Dia ingin memberikan balasan, tetapi tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya.


“Dan kau tahu apa hal yang paling bodoh yang baru saja kau lakukan?”


Mana biru mulai muncul dan berputar di sekitar pemuda berambut hitam itu, menambah suasana misterius yang sedang dipancarkannya.


“Kau hampir saja melukai temanmu sendiri”


Brick akhirnya menyadari kalau dirinya hampir melukai salah satu pengikutnya lagi.


Menggenggam dengan keras kapak ditangannya dia mulai mengayunkan kapaknya sekali lagi.


“Aaa-!”


Swoo-Clang!


Kali ini kapaknya berhasil mengenai sesuatu, dan sesuatu itu berhasil menghentikan ayunan kapaknya itu.


Sebuah pedang berwarna biru tua.


“Bersiaplah”


Leinn berdiri secara biasa dengan pedang di tangan kanannya, menahan ayunan kapak besar tanpa terlihat kesulitan sedikitpun.


 


 


Tatapannya yang dingin tidak lepas dari mata pria besar itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2