Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 90 – Perwujudan Kekuatan


__ADS_3

Lima petir identik melakukan hal yang sama dan menggetarkan kubah pelindung itu lagi.


Bersamaan dengan cahaya terang yang membutakan itu, Roland bisa merasakan seluruh tubuhnya menjadi lebih ringan. Ternyata tekanan yang dirasakannya sebelumnya tiba-tiba menghilang.


Roland langsung memutar genggaman pedang di tangan kirinya menjadi terbalik, dengan satu pedang menunjuk langit dan yang lainnya menunjuk tanah.


Petir mulai mengalir dari tanah dan bergerak seperti membentuk pusaran diantara kedua pedang itu.


[Thunder Incarnated...]


Dua titik cahaya muncul di depan Roland, yang ternyata adalah dua bola mata ungu yang menatapnya.


[Twillight Ghost Reaping]


[...Twin Dance!]


Dua pedang Roland terayun ke atas dan bawah, meluncurkan dua kilatan yang meloncat-loncat tanpa tempo yang jelas ke arah sasarannya.


Dari debu tebal itu keluar sebuah gelombang pedang ungu horizontal yang bergerak perlahan ke arah dua petir itu.


Tidak ada hal aneh yang dapat terlihat dari gelombang itu dan bentuknya sama seperti teknik yang digunakannya sebelumnya, tetapi...


Hihihi...


Hampir semua penonton di stadium bisa merasakan bulu kuduk mereka berdiri ketika suara tawa anak gadis yang tiba-tiba memenuhi tempat itu.


Yang paling aneh adalah suara tawa ini hanyalah sekeras bisikan kecil.


Bisikan kecil yang terdengar seperti gadis itu tertawa tepat di samping telinga mereka.


Boom-


Suara ledakan terjadi ketika dua serangan itu berbenturan, dan langsung terpotong pendek.


Whooong...


Sebuah telur ungu muncul di sana dan terlihat seperti mengisap dua petir itu kedalamnya.


Telur ini bertahan selama beberapa detik sebelum retakan mulai muncul di permukaannya dan...


Crack!


Siluet ungu keluar dari dalam telur itu dan melayang ke arah pemuda berambut hitam yang mulai berjalan pelan dengan pedang di tangan kanannya.


“Sepertinya kau sedang terdesak...?”


Senyuman kecil muncul di wajah Leinn yang baru menyarungkan kembali pedangnya.


Roland mulai melihat disekitarnya dan menyadari sebagian dari energi di sebelas pedangnya telah lenyap karena telur ungu tadi. Dia mulai memejamkan matanya, berkonsentrasi.


“Baiklah”


Dia membuka matanya kembali dan berdiri dengan posisi santai, dua pedang di kedua sisinya.


Senyuman hilang dari wajah Leinn dan dia langsung menghentikan langkahnya. Dia bisa melihat jelas petir di sekitarnya mulai mengalir ke tubuh pemuda di depannya itu.


[Gear One]


Mengalir dan terus mengalir, Mana petir mulai terkonsentrasi di tubuh pemuda pirang itu.

__ADS_1


Petir pelindung di sebelas pedang yang tertancap di tanah itu bahkan sampai sedikit meredup karena kehilangan sebagian besar Mana Petirnya, terisap ke dalam tubuh Roland.


Seluruh tubuh Roland akhirnya tertutupi oleh Petir Emas, yang terlihat seperti bisa meledak kapanpun juga. Dan semua petir itu mulai bergerak bersamaan menuju kedua tangan dan kakinya, tepatnya ke pelindung tangan dan kakinya.


Mana Petir yang tidak sedikit itu akhirnya menyelimuti pelindung tangan dan kaki itu dan mulai membentuk sesuatu...


Crackle...!


Empat kuku panjang emas terbentuk di setiap tangan dan kakinya, dengan petir meloncat-loncat darinya.


Empat cakar naga berwarna emas.


[Thunder Dragon Possesion]


Stadium bersorak penuh semangat ketika melihat wujud Roland itu.


Petir yang telah membentuk cakar naga melindungi kedua pergelangan tangannya dan kakinya juga. Seluruh tubuhnya juga dikelilingi petir-petir yang dikeluarkan keempat cakar ini, membuatnya menjadi lebih gagah.


Roland mulai mengangkat tangan kanannya untuk melihat pedangnya yang sudah diselimuti petir dan kembali menatap pemuda berambut hitam di depannya.


“Bersiap-“


Crackle...


Dan dia hilang.


‘-lah!”


Leinn langsung menarik keluar dan mengayunkan pedangnya pada sumber suara di belakangnya.


Disana terlihat Roland sedang mengayunkan pedangnya dari atas.


Sesaat sebelum pedang mereka bersentuhan...


Crackle...


Bham!


Leinn terpental dan berguling di tanah sejauh delapan meter dan langsung meloncat berdiri.


Semua penonton di stadium langsung menunjukkan ekspresi terkejut, karena mereka baru saja melihat jelas Roland berpindah tempat tanpa perlu mengumpulkan Mana petir lagi, melihat dia berpindah dua kali secara berturut-turut kurang dari satu detik.


Dia berpindah tempat sekali lagi dan langsung mengayunkan pedang di tangan kirinya ke arah Leinn yang sedang mengayunkan pedangnya ke tempat kosong.


Disaat-saat terakhir, pemuda berambut hitam itu menggunakan sarung pedang di tangan kirinya untuk menahan serangan itu dan akhirnya terpental mundur cukup jauh.


“Sepertinya kau sedang... terdesak?” ucap Roland pelan dengan nada yang sama dengan Leinn sebelumnya.


Salah satu alis mata Leinn mulai bergetar dan dia memaksa keluar senyuman untuk menyembunyikan rasa kesalnya setelah melihat pemuda berambut pirang di depannya menunjukkan senyuman mengejek.


Cakar petir di kedua kakinya memberinya kemampuan untuk melakukan gerakan kilat itu secara beruntun, sedangkan cakar petir di kedua lengannya mengalirkan Mana petir secara terus menerus ke dalam kedua pedang di tangannya, menambahkan kekuatan serangan dalam setiap tebasannya.


“Ayo!”


Sebelum dia bisa mengatur nafasnya, Roland memulai serangannya lagi.


Serangan demi serangan datang dari berbagai arah dan Leinn hanya bisa berkonsentrasi dalam bertahan.


“Inikah... kemampuan mereka”

__ADS_1


Kalimat itu keluar dari mulut Isaac yang sedang tersenyum lebar sambil menggenggam kursinya dengan erat, melihat generasi muda menunjukkan potensi yang luar biasa itu membuatnya merasa sangat bersemangat.


Tidak hanya dirinya yang berpikir seperti itu, sebagian besar penonton juga merasakan hal yang sama.


Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Pangeran Petir bertarung serius.


Walaupun mereka tahu rumor tentang pertarungannya dengan Dewa Es yang tersebar itu adalah benar setelah melihat Adeline yang selalu ada di sampingnya, melihat langsung kekuatannya menimbulkan perasaan yang berbeda.


Tidak hanya Roland saja, Leinn juga membuat sebagian besar orang merasa kagum.


Walaupun terlihat kewalahan, dia masih bisa menahan semua serangan yang datang dari berbagai arah itu dengan sempurna.


Murid-murid baru yang sekarang duduk di kursi penonton dan melihat itu mulai bertanya-tanya, apakah dua pemuda di atas arena itu benar-benar berasal dari generasi yang sama dengan mereka., melihat perbedaan kemampuan mereka itu seperti perbedaan antara langit dan bumi.


Bham!


Suara benturan keras terdengar dari atas arena itu dan penonton bisa melihat Leinn terpental ke udara setelah menangkis serangan dari Roland.


Sarung pedang di tangan kirinya tiba-tiba mengeluarkan lingkaran sihir dan berubah menjadi gelang di pergelangan tangannya. Dia lalu mengulurkan tangan kirinya yang bebas itu ke arah Roland.


“Giliranku”


Siluet ungu yang melayang di dekatnya terlihat bersemangat dan langsung bergerak ke arah tangan yang terulur itu dan masuk ke dalamnya.


Mana ungu mulai merembes keluar, membentuk apa yang terlihat seperti api berwarna ungu.


Tangan yang menyala itu mulai bergerak dan menyembunyikan sebagian wajahnya sendiri.


[First Step]


Dia berhasil mendarat dengan mulus bersamaan dengan api ungu yang mulai menyala semakin membara, menutupi separuh wajahnya.


Itu semua terjadi dalam kurang dari dua detik, lalu akhirnya Leinn menurunkan tangan kirinya dan menunjukkan sesuatu yang mengejutkan penonton dan pemuda di depannya.


Topeng tengkorak muncul di atas mata kirinya, yang terlihat seperti sedang tertawa dengan api ungu yang muncul di lubang kosong tempat matanya seharusnya berada.


[Death Recollector]


Kabut ungu mulai menyebar ke area lima meter di sekitar Leinn, mengeluarkan tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.


Secara luar biasa, orang-orang di luar kubah transparan juga bisa merasakan sebagian kecil dari tekanan itu walaupun terpisah oleh sihir yang seharusnya melindungi mereka dari efek di dalamnya.


Yang saat ini menerima tekanan ini secara penuh adalah Roland yang berdiri sepuluh meter di depan pemuda itu.


Untung saja petir di tubuhnya berhasil menghilangkan sebagian besar tekanan itu, tetapi dia masih bisa merasakan efek lain dari kabut ungu itu.


Mana petir di sebelas pedangnya yang sudah terkumpul lagi itu mulai berkurang dalam kecepatan yang terlihat oleh mata biasa.


Ini tidak bisa dibiarkan berjalan lebih lama lagi.


“Ronde dua?”


Suara yang terdengar sedikit berbeda keluar dari mulut Leinn, bersama dengan kabut ungu tipis baru.


“Ronde dua”


Bersamaan dengan itu, Roland menghilang dan muncul di dalam kabut ungu itu.


Clang!

__ADS_1


 


 


__ADS_2