
Adeline memejamkan matanya dan mulai merapalkan mantera dengan serius, sepuluh lingkaran sihir di sekitarnya mulai berputar dengan cepat.
Aura menyadari lawannya berniat mengakhiri pertarungan ini dengan serangan berikutnya. Dia melihat Rufus yang berusaha menyerang Adeline tanpa berhasil karena Golem Es yang melindunginya empat sisinya itu.
Taktik demi taktik muncul dan berganti, tetapi naluri Aura mengatakan semua itu tidak akan berhasil.
Bersiap untuk menahan serangan itu? Tidak bisa.
Mencoba menghentikan mantera sihir itu sebelum diluncurkan? Tidak sempat.
Aura mulai melihat seluruh arena itu dan menemukan satu cara. Melalui Contractnya dia memanggil kembali Rufus dan mulai merapalkan sebuah mantera sambil terus berpikir keras.
Berdasaran pengetahuan yang didapatnya dari catatan Hunter ternama, yang berisikan informasi dari kemampuan Dewa Es Abadi, Jumlah Mana di udara, teori di dalam rapalan itu, dan di situasi ini.
Informasi demi informasi mulai diproses dengan cepat di kepalanya dan akhirnya dia sampai pada satu jawaban.
“Ruff”
Aura langsung meloncat ke atas punggung Rufus tanpa menghentikan rapalannya dan lingkaran sihir merah selebar sepuluh sentimeter mulai muncul dan mengikuti di belakangnya.
Rufus mulai berlari di sekitar arena dengan acak, seperti menghindari suatu serangan yang tidak terlihat.
Lima, sepuluh, dua puluh, empat puluh lingkaran akhirnya berputar di belakang Aura dan mulai bersinar.
[Mana Bullet, Chained]
Bham Bham Bham Bham...
Peluru Mana Murni selebar lima sentimeter mulai melayang keluar dari lingkaran itu setiap detiknya ke arah Adeline. Setiap peluru hanya memiliki kekuatan yang kecil tetapi jumlahnya yang mencapai ratusan itu mulai menghujani arena dan mengangkat lapisan debu di sekitar Adeline.
Adeline bisa merasakan getaran dari serangan itu tetapi dia tidak berhenti merapalkan manteranya.
Suhu disekitarnya sudah cukup rendah karena empat patung es di sisinya, tetapi itu tidak menghentikan keringat yang mulai mengalir deras dan membasahi dahinya.
Dia sudah melihat kemampuan Aura dan menyadari dirinya tidak diuntungan dalam pertarungan jangka panjang, jadi dia memilih untuk mengakhiri pertarungan ini dengan sihir terkuatnya saat ini.
Penonton di sekitar mereka bisa merasakan ketegangan yang meningkat di tengah arena yang mulai ditutupi debu tebal itu.
Hampir semua murid baru sudah melarikan diri dari sekitar arena karena takut terkena sihir dari dua gadis di atas arena itu.
Di samping arena itu hanya tersisa dua pemuda dengan Beast mereka, tidak melepaskan pandangan mereka dari pertarungan itu.
“Tubuh membeku, jiwa membeku, dunia membeku...” suara bisikan pelan keluar dari dalam kabut debu tebal itu.
Gelombang kuat menyebar mengikuti setiap kata yang keluar dari mulut gadis berambut biru itu, mulai menurunkan suhu di stadium itu secara drastis. Nafas penonton di seluruh stadium keluar sebagai sebuah uap putih, menandakan perasaan dingin itu benar-benar nyata.
Beberapa penonton bahkan sudah mulai menggigil kedinginan.
“...dan membekulah waktu. Datangkan dunia yang tidak bergerak”
__ADS_1
Ditengah kabut debu itu Adeline membuka matanya dan sinar biru terang memancar dari mata itu, bersamaan dengan tongkat di genggamannya yang mulai ditutupi oleh lapisan es biru tua.
Dengan satu ayunan kuat, ujung tongkat itu membentur lantai arena dan menyebarkan satu gelombang Mana terkuatnya.
[Stagnant World]
Sihir tingkat tinggi-akhir itu menunjukkan kekuatannya.
Semua orang di stadium itu bisa melihat Arena itu mulai berubah menjadi biru tua, dengan Adeline sebagai pusatnya.
Arena Batu itu membeku dalam sekejap mata, diikuti dengan suhu di seluruh stadium yang langsung jatuh ke bawah titik beku.
Sekarang semua penonton di dalam stadium itu mulai menggigil kedinginan, bahkan murid-murid lain di luar stadium bisa merasakan perubahan suhu di akademi itu.
“Hah...hah...”
Setetes keringat mengalir dan jatuh dari wajah Adeline, yang berubah menjadi es sebelum menyentuh lantai es biru tua dibawahnya.
Hampir semua Mana di dalam tubuhnya sudah terkuras untuk menggunakan sihir terkuatnya, yang merupakan sihir pertama yang diturunkan oleh Ayahnya.
“Hah...” Adeline menghela nafas panjang dan melepaskan genggamannya dari tongkatnya yang sudah berdiri membeku bersama arena batu itu.
Stagnant World bukanlah sihir serangan, melainkan sihir untuk merubah area petarungan untuk menguntungkan pemakainya.
Efek utamanya adalah mengubah paksa Mana di area menjadi Mana Elemen Es, membekukan semua yang menyentuh es di permukaan tanah itu adalah efek tambahan.
Adeline mulai menghela nafas lega lagi, mengingat sihir ini hanya dapat ditahan oleh Magic User es murni atau setidaknya Makhluk Elemen Es tingkat tiga.
Dia sudah memperkirakan dengan kekuatannya saat ini, sihir ini bisa menghentikan Rank A Beast selama beberapa menit.
Tentu saja dia merasa sudah mendapatkan kemenangan, sampai ketika sebuah angin yang berhembus pelan menyentuh wajahnya, mengejutkannya bukan main.
‘Hangat?!’
Satu-satunya hal yang seharusnya tidak ada di dunia beku itu bisa dirasakan olehnya, memaksanya untuk mengangkat wajahnya dan melihat kondisi lawannya.
Yang ditemukannya setelah kabut debu beku disekitarnya itu mereda adalah Golem Esnya yang berlutut di tengah arena dikelilingi oleh tujuh bola api putih, dengan sebuah pusaran api putih menutupi seluruh kepalanya.
Penonton di stadium itu juga terkejut oleh pemandangan itu, hanya sebuah pusaran api putih di tengah dunia es biru tua.
Di luar arena beku itu terlihat Roland yang mengeluarkan kilatan petir dari seluruh tubuhnya dan Leinn terlihat hanya duduk sambil tersenyum lebar dikelilingi oleh dinding angin hijau.
“Hah!”
Dengan suara feminim yang tiba-tiba terdengar itu, pusaran api itu mulai melebar dan menunjukkan gadis berambut merah muda di dalamnya, yang berdiri di atas es yang sudah meleleh sebagian dengan serigala kecil di sampingnya.
Ini adalah kesalahpahaman sebagian besar orang yang mengetahui keanehan api Aura, mereka tidak menyadari bahwa api putih itu masih sebuah api.
Di tengah dunia beku itu, api putih Aura masih mempertahankan kehangatannya dan tidak membiarkan kedinginan yang menusuk tulang itu mencapai dirinya atau Rufus.
__ADS_1
Menggunakan hujanan serangan kecil untuk menutupi pandangan lawannya, berhasil menebak sihir yang akan digunakan lawannya, berdiri di atas Golem Es yang tidak bisa bergerak untuk menghindari efek langsung sihir itu, lalu menggunakan sebagian bola api putih itu untuk merapalkan sihir tingkat tinggi dalam waktu singkat untuk menahan efek yang tersisa dari serangan besar itu.
Adeline melihat Aura yang masih berdiri dengan cukup sehat di sana setelah berhasil menghindari serangannya dengan sempurna dan tidak bisa menahan senyuman kecil yang muncul di wajahnya, melihat ini pertama kalinya dia bertemu Magic User dengan kemampuan setingkatnya di generasi yang sama.
“Hahaha...”
Dia melihat empat golem es di sisinya yang sudah berhenti bergerak setelah kehabisan Mana, lalu pada lawannya yang sedang datang ke arahnya dengan Beast tunggangannya.
Aura tidak berencana membiarkan lawannya memulihkan tenaga dan langsung bersiap untuk memberikan serangan penghabisan.
Dia meloncat ke atas punggung Rufus yang sudah kembali membesar itu.
“Grrr...”
Rufus mulai berlari sambil menundukkan kepalanya, berniat menabrak gadis berambut biru itu dengan seluruh berat tubuhnya.
Adeline melihat serigala besar itu sekali lagi, tetapi kali ini dia tidak bergerak karena sudah kehabisan tenaga.
Dan di detik-detik terakhir itu...
Crash!
Suara benturan keras dapat terdengar jelas, tetapi bukan dari kepala Rufus yang mengenai Adeline.
Serigala besar itu menggunakan seluruh otot tubuhnya untuk mengubah arah larinya dan berhasil menghindari bongkahan es yang tiba-tiba jatuh dari langit.
Aura yang tidak melepaskan pandangannya dari lawannya itu menyadari bahwa Adeline belum berhasil memulihkan Mana-nya dan tidak akan bisa memunculkan bongkahan es ini tanpa lingkaran sihir apapun.
Whoong
Aura yang sudah menyebarkan konsentrasinya berhasil merasakan gerakan Mana di udara dan berhasil menemukan pelaku dari serangan itu.
Rufus meloncat dan berhasil menghindari bongkahan es yang jatuh ke arahnya lagi dan mereka berhasil menemukannya, bola cahaya biru di tengah arena.
“Huh...?”
Bola cahaya itu mulai bergerak dengan cepat dan berhenti diantara mereka berdua dan Adeline, terlihat melindunginya.
Aura mulai berkonsentrasi dan menemukan itu bukanlah bola cahaya biasa, melainkan sesuatu dengan bentuk manusia kecil yang bersayap.
Dengan tinggi tidak lebih dari 20 sentimeter, rambut panjang dengan warna yang sama dengan gaun biru sederhananya, dan sepasang sayap di punggungnya yang terlihat bercahaya saat dia melayang di udara.
Aura tersadar dan menunjukkan ekspresi terkejut, dia mengenali makhluk di depannya itu.
“Ice Spirt Beast yang sudah mendekati manusia?!”
__ADS_1