
Penonton di sekitar mereka berdua itu akhirnya menyadari arti angka di wajah pemuda berambut hijau itu.
Seratus orang terkuat dari kelompok ini memiliki tato yang menandakan posisi mereka di dalam kelompok itu, yang hanya bisa diubah oleh ketua kelompok saat itu.
Dengan umur yang masih muda itu dia berhasil mencapai peringkat setinggi itu dari ratusan anggota elit lainnya, menunjukkan kemampuannya yang pasti tidaklah kecil.
Pemuda berambut hijau, Tenma menatap punggung lawannya itu dengan ekspresi dingin.
“Hum~”
Leinn sudah menurunkan tas besarnya dan sedang meraih kedalamnya sambil memunggungi lawannya.
“...”
Tindakan yang sangat gegabah dari Leinn, tetapi Tenma tidak berani melakukan gerakan apa-apa dan hanya mengulurkan tangan kanannya.
“Cepat berikan penawar racun itu sekarang, jangan memaksaku-“
“Tidak ada penawar racun”
Kesunyian memenuhi stadium itu, semua orang disana tidak bisa mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.
Leinn terlihat tidak memedulikan itu dan tersenyum setelah berhasil menemukan apa yang dia cari.
Ekspresi Tenma menjadi semakin dingin setelah mendengar itu. Tangannya yang terulur sudah perlahan-lahan menurun dan meraih gagang pisau di pinggangnya.
Sesaat sebelum dia bisa bergerak, lawannya itu menarik keluar tangannya dari tasnya dan melemparkan sesuatu dalam satu gerakan.
Anehnya benda itu melayang ke samping kanan Tenma, ke sebuah tempat kosong.
Clang!
Penonton menjadi terkejut dari suara benturan besi yang terdengar dari tempat kosong itu, diikuti oleh tubuh Tenma yang berubah menjadi serpihan cahaya.
Ternyata yang baru saja dilempar oleh Leinn itu adalah sebuah pisau lempar pendek, yang jatuh dan menancap di lantai batu setelah membentur sesuatu.
Di dekat pisau itu terjatuh, serpihan cahaya mulai muncul juga dan wujud seseorang mulai terbentuk.
Akhirnya Tenma muncul dengan dua pisau di tangannya, yang baru saja menangkis pisau lempar itu.
Ternyata Tenma yang berdiri di atas arena itu sejak awal bukanlah tubuh aslinya, melainkan sebuah ilusi.
Tetapi semua penonton di sana bisa mendengar dengan jelas suara benturan di saat senjatanya menyentuh tentakel transparan Slime itu sebelumnya.
Bagaimana bisa ilusi menyentuh benda asli seperti itu?
“Kau memiliki kemampuan yang menarik” ucap Leinn yang mulai bangun kembali sambil memikul tas besarnya.
Tenma menunjukkan ekspresi terkejut disaat dia melihat senyuman di wajah lawannya itu, ini pertama kalinya dia bertemu lawan yang bisa memecahkan rahasianya secepat itu.
Roland yang ada di atas podium itu juga terlihat sedikit terkejut melihat kemunculan Tenma dari tempat kosong itu, lalu dia terlihat seperti mengingat sesuatu dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Adeline yang duduk di samping Aura yang masih terbengong itu terlihat ingin meneriakkan sesuatu pada pemuda berambut hitam itu, sebelum kalimat berikutnya menghentikannya.
“Oh, racunnya juga tidak ada”
“Huh?”
Suara bingung dapat terdengar dari seluruh stadium itu.
“Aku berbohong”
__ADS_1
Suara hilang dari dalam stadium itu, lalu digantikan dengan penonton yang mulai membuat keributan. Mereka tidak percaya dengan pemuda berambut hitam itu yang mengatakan hal seperti itu tanpa pikir panjang.
Keributan yang paling besar berasal dari gadis berambut biru yang baru terbangun dari keterkejutannya dan terlihat ingin menghajar pemuda itu dengan tongkat di tangannya.
Untung saja Aura berhasil sadar tepat waktu dan menahan gadis itu dengan tubuhnya.
“Aku tidak percaya dia melakukan itu! Dia pikir dia bisa melakukan semua hal sesuka hatinya?!”
Aura menepuk pundak gadis di sampingnya itu untuk berusaha menenangkannya, lalu mengalihkan perhatiannya ke pemuda berambut hijau itu.
“Tenma Makage...”
Adeline yang sudah berhenti mengamuk itu melihat tatapan gadis itu dan menyadari sesuatu.
“Kau mengenali pemuda itu?”
“Bisa dibilang begitu...”
Aura terlihat tidak berniat menjelaskan lebih lanjut dan hanya menatap dengan diam.
Roland terlihat menoleh ke arah kedua gadis itu setelah mendengar pertukaran mereka.
“Teknik yang ditunjukkan pemuda itu cukup hebat. Aku sendiri tidak menyadari tubuh palsu itu...”
“Jadi Leinn akan kalah?!”
Suara bersemangat keluar dari mulut Adeline di belakangnya. Dia terlihat senang setelah mendengar itu, tetapi kembali mengerutkan dahinya setelah mendengar kelanjutannya.
“Sayangnya dia bertemu dengan Leinn sebagai lawannya kali ini”
Roland menunjukkan senyuman kecil sebelum mengembalikan perhatiannya ke atas arena itu, ke dua pemuda yang sedang saling bertatapan tanpa mengatakan apa-apa.
Adeline menyadari dia tidak akan mendapatkan jawaban dari dua orang di depannya itu dan kembali memerhatikan petarungan itu juga.
‘Tenma...’
Kembali di atas arena itu, tidak ada gerakan selain ketika Leinn melipat tangannya dan tersenyum pada Tenma. Dia sudah mempertahankan posisi ini selama satu menit penuh.
Tenma tentu saja sangat terkejut setelah mendengar perkataan lawannya itu tetapi tidak berani menurunkan kesiagaannya. Kedua tangannya sudah menggenggam senjatanya dan dia mulai merendahkan kuda-kudanya.
Tap- Clang!
Pisau itu terhenti sebelum menyentuh leher Leinn, membentur mata pedang yang mengintip keluar dari sarungnya di tangan pemuda berambut hitam itu.
Clear yang ada di atas kepala Leinn bergetar terkejut ketika melihat tentakelnya yang menggeliat di lantai di belakang pemuda berambut hijau itu.
Semua orang di stadium bisa melihat dengan jelas perbedaan kekuatan yang ditunjukkan oleh Tenma dibandingkan sebelumnya itu.
Tubuh aslinya ternyata mampu menunjukkan kekuatan beberapa kali lipat dari tubuh ilusi sebelumnya.
Tenma menendang ringan lantai batu di bawahnya dan berhasil memotong tentakel yang menghadangnya, diikuti ayunan pisaunya ke arah leher lawannya sekali lagi-
Bham
Tendangan keras menghentikan serangannya dan mementalkannya mundur sejauh sepuluh meter.
“Hm...”
Leinn melihat tendangannya yang membentur pisau Tenma dan gagal mengenai tubuhnya itu dengan ekspresi tertarik. Dia merasa cukup kagum dengan kecepatan reaksi pemuda itu yang bisa merubah serangannya menjadi pertahanan dalam sekejap.
“Baiklah”
__ADS_1
Leinn akhirnya menarik keluar pedangnya dan mulai berlari ke arah Tenma dan mulai memberikan serangan balasan.
Clang clang clang...
Suara benturan besi terdengar berulang kali di dalam stadium itu, berubah menjadi melodi yang menghiasi pemandangan hebat itu.
Leinn terus berlari sambil meluncurkan tebasan demi tebasan ke arah lawannya itu dan yang secara mengejutkan, bisa bertahan menerima semua itu.
“Hah...!”
Tenma terlihat mampu menghindari sebagian besar serangan itu dan hanya menangkis yang tidak bisa dia hindari, tetapi suara benturan itu masih terjadi beberapa kali dalam satu detik.
Dia juga terus memberikan serangan balasan di setiap celah kecil yang ditunjukkan lawannya tanpa berhasil.
Sebagian besar penonton hanya bisa melihat tangan pemuda berambut hitam itu berubah menjadi buram dan seluruh tubuh pemuda berambut hijau itu yang berpindah-pindah tempat dengan cepat untuk menghindari serangan itu.
Ini adalah pertarungan antara dua orang tipe kecepatan dengan tingkat cukup tinggi.
Clang Clang Clang...
“Murid-murid baru tahun ini sangat meyakinkan, sepertinya kita akan bisa mengambil kembali posisi nomer satu milik kita”
“Tidak disangka selain dua jenius yang akan masuk tahun ini, kita mendapatkan dua Magic User jenius dan dua pemuda yang memiliki kemampuan setinggi itu... Hahaha!”
Pria berkulit coklat yang tidak mengenakan baju tertawa lepas setelah mendengar perkataan Isaac, menggetarkan otot tubuhnya yang terlihat jelas.
Guru-guru lain terlihat menunjukkan ekspresi yang beragam.
Sebagian menunjukkan pendapat yang sama dengan dua guru di depan mereka itu, sedangkan yang lain menunjukkan ekspresi muram setelah menyadari kemampuan generasi baru itu.
Mereka tidak terlalu percaya diri untuk mengajari apapun pada mereka.
“Jadi...”
Pria berotot itu akhirnya berhenti tertawa dan langsung menunjukkan ekspresi serius sambil melihat ke atas arena itu.
“Ya...”
Isaac juga menunjukkan ekspresi yang sama tanpa memperlihatkan sedikitpun perasaan santai yang ditunjukkannya sebelumnya.
Tatapan mereka tidak sedang tertuju pada pertukaran antara dua pemuda itu, melainkan gumpalan transparan yang sedang merangkak keluar dari arena.
Hanya beberapa orang yang menyadari gumpalan transparan kecil yang hampir tidak terlihat itu, yang identik dengan gumpalan transparan yang berada di atas kepala pemuda berambut hitam itu saat ini.
“Kyuu...”
Aura dan Adeline juga menyadari pendatang baru yang sedang merangkak ke arah mereka itu, mereka berdua menoleh ke arah Leinn dan menemukan Clear masih ada di atas kepalanya.
Setelah beberapa saat, Slime itu berhasil menaiki podium dan sampai di depan tempat duduk mereka. Ukurannya hanya sepersepuluh dari Clear yang menunggangi kepala Twig sebelumnya.
“Clear...?”
“Kyuu!”
Clear-kecil meloncat-loncat dan akhirnya mendarat di pangkuan Aura dan bergetar kecil, terlihat gembira.
Adeline dan Roland hanya menatap makhluk itu dengan bingung, mengagumi kemampuan unik barunya itu.
Di kursi paling depan di area guru itu, Isaac melihat ke arah podium itu dengan ekspresi serius. Di kepalanya berputar ingatan lama dari masa mudanya, ingatan yang tidak bisa dilupakan oleh orang-orang dari generasinya.
“Calamity Slime...”
__ADS_1