Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 110 – Profesor Otot


__ADS_3

Setelah kesunyian yang terbentuk karena pernyataan itu, dua pemuda itu akhirnya bangun dari tanah.


Roland langsung berjalan dan mulai menggoyang pundak Adeline yang tidak bereaksi dengan guncangan itu, sedangkan Leinn hanya menatap Hinata di depannya sambil menggaruk belakang kepalanya.


“Shishishi”


Tawa yang unik keluar dari mulut gadis itu yang sedang membentuk senyum lebar, terlihat sangat polos.


Tetapi Leinn dan Roland hanya bisa merasakan kepala mereka mulai bertambah sakit setiap kali melihat senyuman itu.


Hinata lalu mulai berjalan melewati Roland yang menunjukkan ekspresi panik setelah tidak mendapatkan reaksi itu dan menyentuh pundak Adeline itu.


“Aku hanya bercanda”


Satu kalimat itu langsung membangunkan Adeline, yang menunjukkan ekspresi bingung, lalu kaget, lalu marah.


Sangat marah.


“K-kau...?!”


Jari kecilnya yang menunjuk wajah gadis di depannya itu terlihat bergetar tanpa kendali dan dia sampai kehilangan kata-katanya. Dan secara mengejutkan, dia mengingat perasaan kesalnya saat ini itu sangat lah tidak asing.


Adeline menepis ingatannya dari turnamen sebelumnya dan menstabilkan telunjuknya.


“Kebohonganmu itu tidak lucu!”


Mendengar pernyataan tegas itu, Hinata hanya menaikkan satu alisnya.


“Bohong? Tetapi aku tidak-hmfh?!”


“Jangan memperpanjang masalah...”


“...yang sudah selesai”


Dua tangan menutup seluruh wajahnya dari dua sisi, dua tangan pemuda yang sedang menunjukkan ekspresi lelah di wajah mereka.


Mereka berdua kemudian berjalan sambil membawa gadis berambut putih itu ke tengah lapangan, bersiap mengikuti kelas itu.


Aura dan Adeline akhirnya ikut berjalan bersama semua Beast di sekitar mereka sambil melihat pemandangan yang tidak asing di depan mereka.


Hanya saja kali ini, gadis itu tidak sedang ditarik di kedua lengannya, tetapi di wajahnya.


“H-hentikan...! A-aku menyerah!”


Leinn dan Roland bertukar tatapan sesaat lalu melepaskan cengkraman mereka, menyadari gadis itu sengaja tidak memberikan perlawanan.


Hinata yang mendapatkan kebebasan wajahnya mulai mengelus wajahnya itu sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Shishishi”


Leinn akhirnya mengalihkan perhatiannya dari gadis itu ke sekitarnya dan menemukan guru sebelumnya sudah tidak terlihat sama sekali.


“Huh”


Dia lalu menoleh ke arah Aura dan Adeline yang baru menyusul mereka.


“Apakah kelas ini batal?”


Aura yang baru sampai langsung mendengar pertanyaan itu dan menunjukkan ekspresi bingungnya, lalu menoleh ke sekitarnya dan tidak bisa menemukan guru sebelumnya juga.


Adeline juga melakukan hal yang sama sambil melipat tangannya dan menunjukkan ekpsresi galak.


“Kyuu?”


Sedangkan Hinata sudah duduk di lantai sambil menusuk-nusuk Clear di depannya dengan jari telunjuknya, terlihat sangat terhibur dengan getaran dan reaksi Slime Beast itu.


“Shishishi”


Jadi mereka semua hanya menunggu di tengah lapangan sambil melihat sekitar mereka, hal yang dilakukan oleh semua murid disana. Mereka juga tersadar tentang ketiadaan guru yang seharusnya sudah datang sejak beberapa menit yang lalu.


Ternyata tidak butuh waktu yang lama untuk jawaban dari pertanyaan mereka itu akhirnya terjawab.


“Ha-ha-ha-ha!”


Karena siluet di depan kabut debu yang terbentuk itu tidak terlihat seperti sedang berlari, melainkan seperti sedang berdiri tegap dengan kedua tangan terletak di pinggangnya.


Dia semakin mendekati lapangan itu dan beberapa murid di jalurnya langsung berlari ke samping untuk membuka jalan.


“...Ha!”


Bham!


Tepat di saat dia sampai di lapangan latihan terbuka itu, gerakannya langsung berhenti seperti di rem mendadak.


Semua orang disana mulai melihat ke arah kabut debu baru di tengah lapangan latihan itu dengan penuh tanya, sampai ketika kabut debu itu mereda.


Sinar matahari dapat terlihat memantul di kulit coklat dan kepala botaknya, membuat tubuh berototnya yang sangat hebat itu menjadi terlihat luar biasa lagi.


Dia mengenakan celana pendek longgar dan sebuah tali hitam untuk mengikatnya di pinggangnya. Dia ternyata sedang berdiri di atas seekor kura-kura besar dengan tempurung berwarna coklat.


“Salam! Wahai murid-muridku!”


Guru itu mengangkat tangan kanannya untuk menyapa semua orang yang sedang melihatnya itu sambil meloncat turun dari kura-kura itu.


Sekarang mereka bisa melihat dengan jelas tubuh berototnya yang memiliki tinggi sampai hampir mencapai 250 sentimeter. Dua mata lebar berwarna coklatnya dapat terlihat menunjukkan semangatnya yang meledak-ledak, dan senyumannya membuatnya terlihat ramah, walaupun tubuh kekarnya memancarkan suasana yang berbeda.

__ADS_1


“Aku adalah guru yang akan memberikan Kelas Bertarung hari ini, kalian bisa memanggilku Profesor Nobel!”


Boom!


Otot kekarnya meledakkan udara di sekitarnya ketika pria botak itu berpose di depan semua murid itu, menunjukkan kekuatan dibalik tubuh mengkilapnya itu.


Leinn yang sejak tadi mengusap dagunya sambil melihat guru itu tiba-tiba menunjukkan ekspresi tercerahkan.


“Oh iya! Dia ada di Hunter Guild waktu aku mendaftar”


Aura menoleh ke arah Leinn setelah mendengar itu, lalu ke arah guru itu.


Kalimat Leinn itu akhirnya mengingatkannya tentang identitas pria di depannya itu, dia tidak lain adalah Wakil Ketua Hunter Guild kota Blazing Sun, Rank A Hunter Elit ‘Otot Adamantium’ Nobel Armstrong!


“Mari, berkumpul di depanku!”


Murid-murid disekitarnya terlihat terbangun dari keadaan terkejut mereka dan mulai berkumpul di depannya, terlihat bersiap mendengar apa yang akan disampaikannya.


Semua Beast juga berjalan ke area di sekitar mereka, entah berlatih atau hanya melihat kumpulan manusia yang mengelilingi satu manusia itu.


“Bagaimana kau bisa melupakan orang seperti Profesor Nobel itu?”


Adeline menoleh ke arah Leinn dengan ekspresi kesal, sepertinya perasaannya masih tidak bagus.


Leinn menoleh ke arah gadis itu lalu menjadi penasaran juga, jadi dia mencoba mengingat.


Dan dia langsung menemukan alasannya.


“Waktu itu dia... mengenakan baju?”


Adeline membuka mulutnya setelah mendengarkan jawaban seperti itu, lalu menutup mulutnya sekali lagi setelah melihat guru berpose sambil menunggu murid-murid yang berkumpul itu untuk duduk di lantai agar bisa melihatnya dengan lebih jelas.


Profesor Nobel itu sudah tidak mengenakan pakaian sejak pertama kali dia melihatnya di turnamen junior beberapa minggu yang lalu, dan entah kenapa dia kesulitan saat mencoba membayangkan tubuh raksasanya itu ketika mengenakan pakaian normal.


“Dia juga yang mengesahkan surat pendaftaranku setelah resepsionis menunjukkan ekspresi kaget saat melihat Kartu Identitas Hunterku”


Leinn melanjutkan dengan santai sambil mengambil tempat duduk di satu bagian lapangan yang kosong.


Hinata langsung meloncat dan duduk di sisi kanannya, diikuti dengan Roland yang duduk di sisi kirinya.


Adeline mengambil sisi kiri Roland secara alami dengan Aura yang duduk di sampingnya juga.


Semua murid akhirnya membentuk dan duduk dalam beberapa kelompok di hadapan guru mereka itu.


“Baiklah, topik kita hari ini adalah Sihir Penguat Tubuh, ‘Body Enchant’”


 

__ADS_1


 


__ADS_2