Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 11 – Api Putih


__ADS_3

Leinn memeriksa sekitarnya dan menemukan beberapa Giant Tarantula yang sedang bergerak mendekatinya dari berbagai arah. Dia juga melihat rupa pengawas yang telah mempertaruhkan nyawanya melindungi dua calon murid itu.


Mata yang tajam dan rambut duri besar berwarna coklat terang, ekspresi yang tegas dapat terlihat di wajahnya. Seluruh tubuhnya juga dipenuhi dengan luka dan wajahnya sudah dibasahi oleh darahnya sendiri.


Di depannya terbaring apa yang terlihat seperti boneka tanah liat setinggi 30 cm dengan kain hijau sebagai pakaiannya.


Di belakang pengawas ini terbaring dua pemuda tidak sadarkan diri dan melihat ekspresi kesakitan di wajah mereka, setidaknya mereka masih hidup.


“Aku belum menyelamatkan kalian, kita masih harus lari dari sini” ucapnya dengan nada biasa.


Leinn menoleh ke arah Giant Wolf yang menyerang Broodmother berulang kali, sedangkan laba-laba raksasa itu mulai melarikan diri dengan mengorbankan anak-anaknya.


Lalu dia kembali menatap wajah pengawas di depannya.


“Apa kau bisa berlari?”


“M-maaf...” pengawas itu menyadari kedua kakinya sudah tidak memiliki tenaga untuk berdiri.


Melihat pengawas ini menggelengkan kepalanya, Leinn berpikir sejenak.


“Bawalah mereka berdua, aku bisa bertahan disini sendiri sampai bantuan datang” ucap pengawas itu sambil tersenyum lemah.


Leinn tidak memberikan respon, hanya melepas tas besarnya dan menarik keluar 2 tali panjang dari dalamnya lalu memikulnya kembali.


”A-apa yang sedang kau lakukan?”


Leinn tanpa menjawab mulai mengikat dua pemuda itu menjadi satu, memunggungi satu sama lain. Lalu dia meraih boneka tanah liat disana dan mengikat tubuhnya, menjadikannya seperti kalung.


“H-hei!” dia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan pemuda di depannya, tetapi tidak memiliki tenaga untuk menghentikannya.


Sebelum pengawas ini bisa berkata apa-apa lagi, Leinn sudah mengenakan boneka tanah liat ini di lehernya, memikul dua pemuda yang terikat bersamaan di pundak kanannya lalu mengangkat pengawas itu dan meletakkannya di pundak kirinya.


“Jangan sampai lidahmu tergigit” ucap Leinn singkat.


“A-Apa maksudmuaAAAA-“ jerit pengawas itu ketika melihat pemandangan di sekitarnya mulai bergerak sangat cepat.


Leinn mulai berlari sambil membawa tiga manusia itu di pundaknya ke arah datangnya sebelumnya.


Kecepatan larinya hampir tidak berbeda dengan ketika dia berlari sendirian sebelumnya.


Beberapa Giant Tarantula baru dari sekitar hutan mencoba menghadang jalannya, tetapi dia bisa meninggalkan mereka dalam sekejap dengan kecepatan larinya itu.


Mereka hanya bisa berlari mengejar pemuda itu beberapa saat sebelum dia meninggalkan mereka dengan debu yang diciptakan lariannya.


Dalam beberapa menit saja, mereka sudah meninggalkan wilayah Giant Tarantula dan berhenti bertemu dengan Spider Beast di jalurnya.


Pengawas di pundaknya juga sudah berhenti menjerit sejak beberapa saat yang lalu.


“Huh...?”


Tiba-tiba Leinn menoleh ke satu arah dan menemukan seseorang yang tidak asing sedang berlari ke arahnya, membuatnya mengubah arah larinya kesana.


Tidak lama waktu yang dibutuhkannya untuk sampai di depan orang itu.


“Aura” ucap Leinn singkat.


Mendengar namanya disebut, gadis itu berhenti berlari dan mulai menstabilkan nafasnya yang tidak teratur.

__ADS_1


Ya, orang itu adalah Aura. Dia terlihat masih belum selesai mengatur nafasnya setelah berlari sekuat tenaga menyusul dirinya itu.


Sepertinya gadis itu berhasil menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat sebelumnya.


“L-leinn..” ucap Aura dengan nada gembira.


Leinn langsung tersadar setelah melihat senyuman di wajah Aura itu, menyadari gadis di depannya sangat mengkhawatirkan dirinya.


Dia menyadari kesalahannya telah meninggalkan Aura tanpa menjelaskan apapun padanya.


Aura yang telah menjadi tenang setelah melihat Leinn baik-baik saja, menyadari tiga tubuh yang sedang dipikulnya.


“L-leinn, apakah mereka-AUCH!” ucapan cemas Aura terpotong oleh jentikan jari ke dahinya.


Leinn berhasil melakuan itu dengan satu gerakan yang cepat dan mulus, tidak memberikan kesempatan pada Aura untuk menghindarinya.


“Sudah kubilang berlindung saja, kenapa kau membahayakan keselamatanmu sendiri?” ucap Leinn sambil menggelengkan kepalanya.


Walaupun mengerti alasannya, ini tidak merubah kenyataan bahwa tindakan Aura sangat gegabah.


Jika Aura diserang oleh Beast dalam kondisi kelelahan seperti itu, sangat besar kemungkinan dia tidak akan keluar dalam keadaan baik-baik saja.


“Aw...” Aura sudah berlutut sambil memegang dahinya yang kesakitan.


Ternyata jentikan jari kecil Leinn itu cukup menyakitkan untuknya.


Dengan rasa sakit itu, Aura juga tersadar dengan kemungkinan yang bisa terjadi seandainya Leinn tidak menemukannya dan dirinya masuk ke dalam wilayah Giant Tarantula dalam keadaan seperti itu.


Jadi dia tidak bisa memberikan balasan apa-apa pada jentikan jari yang diterimanya.


Pengawas di pundaknya itu baru tersadar setelah Leinn berhenti berlari, dan pemandangan yang pertama dia lihat adalah Putri Klan Flameheart yang sedang berlutut kesakitan.


Suara itu mengingatkan Leinn pada tiga manusia di pundaknya. Dia mulai menurunkan mereka secara perlahan, lalu memberikan boneka tanah di lehernya pada pengawas itu.


“Jadi Aura, mau sampai kapan kau duduk disitu” ucap Leinn sambil mengulurkan tangan kanannya.


Tidak menyangka jentikan jarinya memberikan kerusakan sebesar itu, Leinn merasa sedikit bersalah dan mulai mengelus kepala Aura.


“Hua!” jerit Aura.


...yang bereaksi dengan melompat mundur setelah menyadari tangan Leinn menyentuhnya.


“...” tangan Leinn tidak bergerak dari sana, mengelus udara.


Melihat reaksi Aura, Leinn hanya terdiam sambil menatap telapak tangannya.


Sepertinya reaksi itu adalah kerusakan terbesar yang diterimanya hari ini.


Aura menyadari apa yang telah dilakukannya, tetapi tidak memiliki penjelasan apapun. Jadi dia mulai berlari ke samping dua pemuda yang terikat bersama di atas tanah itu.


Dia meraih tongkat di punggungnya dan mulai merapalkan sihirnya.


[Fireball]


Bola api putih besar mulai melayang di ujung tongkat itu dan mengeluarkan hawa yang hangat, kemudian mulai bergerak ke tubuh dua pemuda di depannya.


Tidak menyangka gadis di depannya akan meluncurkan serangan pada dua tubuh tidak sadarkan diri, pengawas berusaha merangkak untuk menghentikannya tanpa berhasil.

__ADS_1


“A-apa yang kau...” ucapnya tidak percaya ketika melihat bola api itu membentur dan mulai membakar dua pemuda itu.


Dia berniat meminta tolong pada pemuda di sampingnya, tetapi melihat pemandangan yang tidak masuk akal sedang terjadi di depannya.


“Huh?” suara aneh keluar dari mulutnya.


Dua pemuda yang terikat itu terlihat tidak bereaksi sedikitpun walaupun tubuh mereka sedang ditelan oleh api putih besar itu.


Bahkan pakaian dan tali yang mengikat mereka sama sekali tidak mengalami kerusakan.


Perubahan yang terjadi adalah beberapa luka besar di tubuh mereka mulai tertutup secara perlahan-lahan.


“Wow...” Leinn mengeluarkan suara kagum di samping api putih itu.


Pandangannya tidak lepas dari itu dan setelah sepuluh detik, api putih itu mulai meredup.


Luka-luka kecil di wajah mereka sudah hilang secara keseluruhan, tetapi luka-luka yang lebih besar terlihat hanya sedikit mengecil.


“Hehe...” tawa aneh keluar dari mulut Aura.


Aura terlihat sangat senang setelah melihat sihirnya berhasil menyembuhkan sebagian luka dua pemuda itu, dia terlihat menoleh ke arah Leinn yang masih memperhatikan sisa-sisa api putihnya.


Dia lalu menoleh ke pengawas yang berbaring di tanah tidak jauh darinya dengan senyuman lebar.


“Sepertinya aku memerlukan kekuatan yang lebih besar, melihat lukamu jauh lebih parah dibandingkan mereka berdua” Core di ujung tongkatnya mulai memancarkan cahaya merah yang terang.


Ini adalah pertama kalinya Aura menyembuhkan seseorang dengan luka separah mereka bertiga, dan dia mulai membuat perhitungan di kepalanya tentang sihir yang dibutuhkan untuk menyembuhkan mereka secara penuh.


“Aku perlu sedikit serius” ucap Aura sambil memejamkan matanya.


Pengawas itu menunjukkan ekspresi khawatir setelah melihat senyuman aneh di wajah Aura dan mendengar kata ‘serius’.


Leinn juga bisa melihat senyuman aneh itu dan mengambil satu langkah mundur.


“A-apa maksudmu...?” ucap pengawas itu sekuat tenaga, menyadari dirinya tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Aura tidak memberikan jawaban dan tetap berkonsentrasi penuh.


Tongkat tingginya sudah tergenggam dengan kedua tangannya yang terulur penuh dan Mana mulai berkumpul di udara, diikuti dengan lingkaran sihir merah yang mulai muncul di belakang tubuh kecilnya.,


Lima lingkaran sihir merah selebar 60 sentimeter.


Leinn sudah mengambil tiga langkah mundur lagi setelah melihat itu.


“Um...”


Pengawas itu sudah melihat api putih Aura yang tidak melukai dua pemuda sebelumnya, tetapi dia bisa merasakan keringat dingin mulai keluar ketika melihat lima lingkaran sihir itu.


Skala sihir kali ini sangat berbeda dengan bola api sebelumnya.


[Blaze Blade]


Lima pedang raksasa yang terbentuk dari api putih muncul dan menerangi hutan itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2