Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 91 – Kekuatan Penuh


__ADS_3

Pertukaran serangan mereka mulai terjadi lagi dan kali ini, Leinn juga bisa memberikan serangan balasan diantara serangan-serangan yang diterimanya.


Tebasan Roland terlihat cukup melambat di tengah kabut ungu ini dan gerakan kilatnya juga menjadi sedikit lebih tumpul.


Dia juga bisa merasakan Mana Petirnya berkurang sedikit demi sedikit seiring waktu yang berlalu selama dirinya menyentuh kabut ungu itu.


“Hah...!”


Petir mulai meloncat keluar dari empat cakarnya dan menutupi seluruh tubuhnya, mendorong mundur kabut ungu itu dan membuat tubuhnya menjadi lebih ringan diikuti dengan serangannya yang bertambah cepat juga.


Pertarungan mereka itu menjadi semakin sengit seiring waktu berlalu, dan mereka berdua terlihat sangat menikmati pertukaran itu.


Gelombang pedang ungu dan petir besar muncul dan terbang ke segala arah ketika Leinn atau Roland menghindari atau menangkis serangan besar lawannya.


Yang tidak sedang menikmati pertarungan mereka berdua ada di tempat lain...


“Cepatlah!”


Suara dari luar arena mengambil perhatian sebagian penonton, dan membuat mereka semakin terkejut.


Orang-orang mulai berjatuhan di sekitar lingkaran sihir raksasa itu hanya dalam hitungan detik.


Tim penyembuh sibuk membawa tubuh-tubuh tidak sadarkan diri itu ke dekat dinding untuk dirawat dan digantikan oleh tim cadangan.


“”Hahaha...!””


Dua suara tawa bergema sekali lagi dari atas arena dan jumlah serangan yang melayang dan membentur dinding pelindung semakin bertambah banyak.


“Sepertinya kita salah mengira kemampuan dua pemuda itu”


Isaac masih duduk dengan senyuman di wajahnya, walaupun keringat di dahinya menunjukkan dirinya juga sedang sedikit kesulitan mempertahankan sihir pelindung itu.


Perempuan bergaun hitam dan pria botak berotot di sampingnya terlihat menunjukkan ekspresi yang sama.


Jika mereka menambah jumlah Mana yang dialirkan ke dalam lingkaran sihir itu, mereka akan menggunakan Mana lebih dari regenasi mereka dan tidak akan bertahan lama.


Melihat tidak ada pilihan lain, tiga guru itu mulai bersiap meningkatkan jumlah yang mereka alirkan sampai tiba-tiba...


Whoong

__ADS_1


Lingkaran sihir raksasa itu bersinar semakin terang dan kubah pelindung itu menjadi lebih tebal dan stabil.


Orang-orang juga berhenti berjatuhan secara tiba-tiba.


“S-seperti ini?”


Suara gugup terdengar dari satu sisi arena dan disana terlihat dua gadis kecil yang sedang mengulurkan tangan mereka ke arah lingkaran sihir raksasa itu, mengalirkan Mana milik mereka ke dalamnya.


“Hmph! Begini saja perlu aku untuk turun tangan!”


“M-maaf Tuan Putri Aimer, t-terima kasih atas bantuannya”


Seorang murid senior berpakaian seperti pengawas menundukkan kepalanya dan mulai berjalan mundur menjauhi dua gadis itu.


“Hmph!”


Adeline kembali menatap lingkaran sihir raksasa di depannya sambil mengerutkan dahinya, terlihat tidak senang.


“Um...”


Aura terlihat menunjukkan ekspresi gelisah setelah melihat ekspresi gadis di sampingnya, tetapi dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Jadi dia kembali berkonsentrasi menyalurkan Mana ke dalam lingkaran sihir di depannya.


Boom!


Stadium tiba-tiba bergetar kuat sesaat karena ledakan besar di atas arena, yang memisahkan dua pemuda itu.


Di satu sisi adalah Leinn yang sebagian besar wajahnya sudah dibasahi oleh darah. Tubuhnya juga sudah mendapat beberapa luka bakar yang cukup parah, dengan darah segar juga mengalir keluar dari mulutnya yang sedang tersenyum.


Di sisi lain adalah Roland yang terlihat cukup pucat dengan beberapa luka potong kecil di wajahnya yang terus mengeluarkan darah. Beberapa bagian tubuhnya sudah mati rasa dan luka potong dapat terlihat di seluruh tubuhnya juga, membasahi pakaiannya.


“Hah...hah... dasar makhluk aneh... bagaimana kau bisa berpindah tempat terus menerus seperti itu...”


Leinn menyarungkan pedangnya dan mengusap darah yang mengalir ke mata kanannya. Topeng tengkorak yang sediit retak di dahi kirinya sudah terus menerus mengelurakan kabut ungu pekat.


“Hah... kau jangan berbicara tentang orang lain... kau sendiri bisa mengikuti gerakanku dengan mudah...”


Roland mulai menyentuh beberapa bagian tubuhnya dan menemukan aliran Mana di tubuhnya menjadi sedikit kacau karena serangan yang diterimanya. Pelindung tangan dan kaki di balik lapisan cakar petirnya terlihat mulai berubah.


“...lumayan juga kau... bisa menghadapi 20 persen kemampuan penuhku...”

__ADS_1


Kalimat itu keluar dari mulut pemuda berambut hitam itu mengejutkan seluruh orang di stadium, terutama orang-orang yang ada di dekat lingkaran sihir raksasa itu.


Keringat dingin mulai berkucuran membasahi punggung mereka.


“Hah...ahaha... kau juga bisa... seimbang melawanku yang menggunakan 19 persen kemampuanku...”


Kali ini Roland yang mengejutkan orang-orang itu dengan pernyataannya.


Beberapa orang sudah mulai panik dan berdiri untuk berjalan meninggalkan stadium, melihat sihir pelindung itu sudah kewalahan menahan pertarungan mereka sebelumnya.


“Hah... apa aku bilang 20 persen? Maksudku adalah... 18 persen!”


“Oh aku lupa... bukan 19 persen, tapi 17 persen...!”


“...16 persen...!”


“...15 persen...!”


Pertukaran itu terus berlanjut dan nada suara dua pemuda itu semakin tinggi.


Orang-orang yang panik sebelumnya menunjukkan ekspresi kebingungan melihat kelakuan mereka, lalu menyadari sepertinya mereka berdua hanya menggertak saja.


Beberapa orang itu kembali duduk di kursi mereka dan orang-orang yang bertugas memasukkan Mana ke sihir raksasa itu mulai menghela nafas lega, sampai tiba-tiba...


“”Lima persen...!””


Dua pemuda itu berteriak sekuat tenaga secara bersamaan dan menatap satu sama lain dengan senyuman kesal di wajah mereka,


“”Jangan meniruku...!””


Gelombang Mana di sekitar mereka yang sudah menipis setelah pertukaran sebelumnya tiba-tiba meningkat dalam sekejap. Tubuh mereka mengeluarkan gelombang ungu dan emas yang meledak-ledak, mengejutan penonton di stadium itu. Leinn dan Roland yang terpisah sejauh 20 meter itu bersiap melakukan sesuatu...


[Second...] [Gear...]


Dua gelombang berwarna ungu dan emas itu berbenturan dan saling mendorong, meretakkan tanah di bawahnya dan melepaskan gelombang ledakan ke semua arah.


Kedua mata Leinn dan Roland memancarkan cahaya yang jelas, berwarna ungu dan emas.


[Step!] [Two!]

__ADS_1


 


 


__ADS_2