
Kalimat jenuh keluar dari mulut pemuda berambut hitam yang sedang berbaring di kursi panjang sendirian saja, di tengah taman sepi di siang hari yang sedikit terik dengan ekspresi wajahnya yang juga menunjukkan perasaan bosannya dengan sangat jelas.
Sudah lima hari sejak terakhir kalinya hal yang menarik terjadi padanya, dan itu adalah pertarungannya di Kelas Bertarung.
Setelah itu dia mengikuti beberapa kelas lain dan menemukan apa yang dibahas di dalamnya antara tidak menarik atau sesuatu yang sudah bisa dia lakukan, membuat perasaan bosan mulai memenuhi seluruh tubuhnya.
Jadi Leinn sekarang hanya berbaring dengan bosan sambil melihat awan yang lewat, mulai memikirkan apa hal menarik yang bisa dilakukannya saat ini.
Mungkin dia bisa mencari hal menarik di Pusat Misi yang belum dia-
“Ah...!”
Leinn mengalihkan perhatiannya dari langit ke sampingnya, ke arah lapangan latihan yang ada sekitar 100 meter dari tempatnya berbaring.
Di lapangan yang sedang tidak ramai itu dapat terlihat dua pemuda yang tidak asing sedang bertukar tatapan dengan senjata kayu di tangan mereka. Itu tidak terjadi terlalu lama karena mereka berdua langsung masuk ke dalam posisi bertarung, bersiap memulai pertarungan mereka.
Dua pemuda dengan rambut biru dan coklat, yang satu menggenggam pedang panjang dan yang lain menggenggam tombak panjang. Dan tanpa seorangpun yang memberikan aba-aba, dua pemuda itu meloncat maju bersamaan.
Tang!
Kayu membentur kayu, suara yang muncul ketika pemuda berpedang menepis tusukan pemuda bertombak yang mengincar lehernya.
Tang-!
Putaran tombak kayu di tangan pemuda bertombak itu berhasil mengubah alur tebasan pedang yang mengincar wajahnya di detik-detik terakhir. Satu orang berusaha memendekkan jarak sedangkan yang lain berusaha meningkatkan jarak, dua pemuda itu bertukar serangan dan pertahanan dengan sengit.
Itu terus berlangsung cukup lama tanpa satupun dari mereka bisa memasukkan satu serangan telak, menunjukkan kemampuan mereka yang sangat berimbang.
Pemandangan ini adalah satu-satunya hal menarik yang ditunggu oleh Leinn, yang baru ditemukannya tiga hari yang lalu.
Ketika Leinn sudah mulai merasa bosan dan memilih untuk tidak memilih kelas di siang hari lalu berkeliling di sekitar akademi, dia menemukan dua pemuda yang sedang bertarung dengan sengit seperti yang sedang terjadi sekarang.
Lalu ketika besoknya dia sedang berpikir untuk berlatih disana, mereka berdua sudah bertarung dengan sengit sampai tidak menyadari keberadaannya.
Lalu yang terakhir adalah kemarin, dimana dia melihat pertarungan itu di kursi yang sedang menjadi tempat berbaringnya saat ini.
Jadi ini adalah duel keempat yang Leinn lihat antara dua pemuda itu, dan kelihatannya mereka masih belum bisa menemukan pemenang telak.
“Hm...”
Kemampuan mereka berdua memang tidak terlalu hebat jika dibandingkan dengan dirinya, bahkan dia pernah melihat murid lain menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi dari mereka berdua.
Tetapi Leinn tetap melihat semua duel mereka dengan senyuman lebar di wajahnya, karena dia bisa melihat semua Perasaan yang ada di dalam semua serangan mereka.
__ADS_1
Perasaan membentur Perasaan setiap kali serangan dan pertahanan bertemu, sebuah pemandangan yang jarang dia lihat di tempat lain.
Bukannya berkurang setelah membentur satu sama lain secara terus menerus, malah Perasaan di dalam serangan mereka berdua terus bertambah seperti sedang mengasah satu sama lain.
“Haha...”
Leinn bangun ke posisi duduk untuk melihat lebih jelas Perasaan yang sudah berlipat ganda dari yang pertama kali dilihatnya tiga hari yang lalu, seperti dua pusaran yang berusaha menelan satu sama lain.
Sepertinya jika dibiarkan, kali ini...
Crack!
...akan sedikit berbahaya.
Dua senjata di tangan dua pemuda itu tiba-tiba patah secara bersamaan dan tanpa pikir panjang, mereka berdua melepaskannya begitu saja.
Bham!
Dua tinju bertemu dengan dua wajah secara bersamaan, diikuti dengan tinju-tinju lain yang saling menghantam tubuh mereka berdua.
Bham!
Tinju pemuda berpedang mendarat di wajah lawannya bersamaan dengan tinju pemuda bertombak yang mendarat di perut lawannya, membuat mereka berdua mengambil tiga langkah mundur.
“Aaaah-!”
“Haaaa-!”
“Berhenti”
Tinju yang sudah melesat maju itu tiba-tiba mendarat dengan lembut di paha mereka sendiri dan kehilangan seluruh kekuatannya, diikuti dengan realisasi tentang hilangnya lawan mereka dan merendahnya pandangan mereka.
Lalu mereka berdua menyadari bahwa mereka sedang duduk santai di lantai batu, memunggungi satu sama lain.
“Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu pertarungan adil antara dua pria...”
Suara diantara mereka berdua langsung mengejutkan mereka, karena itu suara seseorang yang mereka kenal.
Terlalu kenal.
“...tetapi sepertinya aku bukan tidak ada hubungan dengan ini-”
“”Guru!””
__ADS_1
Dua suara bersemangat keluar dari dua pemuda yang langsung memutar posisi duduk mereka dan langsung berlutut ke arah pemuda berambut hitam yang baru saja menghentikan pertarungan mereka.
Dan pemuda itu, Leinn hanya melihat dua punggung kepala dari dua pemuda di depannya.
“...aku tidak ingat mengangkat murid, apalagi dua murid?”
Inilah alasan lain Leinn memperhatikan dua pemuda itu.
Di dekat akhir pertarungan mereka di hari kedua sebelumnya mereka berdua mulai melontarkan perasaan mereka pada satu sama lain dan diantara semua itu, namanya tiba-tiba muncul.
“Namaku adalah Uther Drake! Pertarunganku dengan Guru telah membuka kedua mataku, membuatku menyadari betapa jauh jarak yang mampu kucapai jika mengikuti Guru!”
Pemuda berpedang, Uther Drake mengangkat wajahnya dan rambut biru lurusnya meloncat mengikuti ayunan kepalanya.
“Aku Setanta Madra! Kemampuan yang Guru tunjukkan menunjukkan hasil dari kerja keras, menyadarkanku pada jalan bertambah kuat yang tidak kusadari selalu ada di depanku sebelumnya!”
Pemuda bertombak, Setanta Madra mengangkat wajahnya lalu langsung menundukkannya sekali lagi dan menunjukkan rambut coklatnya yang seperti menempel di posisi yang seperti sedang tertiup oleh angin kencang.
Mereka berdua lalu diam di posisi itu, seperti menunggu jawaban dari Leinn.
“Baiklah”
Mereka berdua sadar betapa tidak masuk akalnya permintaan mereka itu, jadi mereka sudah siap melakukan ini berulang-
“”...apa?””
“Ya, ayo”
Leinn berbalik dan berjalan meninggalkan dua pemuda yang masih terbengong di tempat itu ke arah rak senjata kayu di satu sisi lapangan itu.
““Ah!””
Yang lalu diikuti oleh dua pemuda yang akhirnya tersadar lalu bangun menyusulnya.
Leinn hanya tersenyum kecil dan terlihat puas tanpa menoleh ke belakang, karena akhirnya dia terlepas dari perasaan bosannya setelah menemukan sesuatu yang menarik lagi.
Satu hal yang tidak dia sadari adalah pertarungan dua pemuda itu sangat identik dengan pertarungannya dengan Roland bertahun-tahun yang lalu, di masa dimana pertarungan mereka masih belum berakhir dengan perubahan pemandangan di sekitar tempat pertarungan mereka.
Itulah alasan yang tidak dia sadari, kenapa dirinya merasa sangat tertarik.
__ADS_1