
“Jadi...?”
Pria berambut hitam itu bertanya sambil mengangkat tangannya yang sedang menggegam kepala gadis itu, membuat kedua kaki gadis itu sampai berhenti menyentuh tanah.
“Leinn! Roland!”
Dua nama itu keluar dari mulut gadis yang sekarang begitu panik sampai tidak bisa menyusun kalimat yang jelas.
Pria itu mengangkat satu alisnya setelah mendengar dua nama itu lalu melihat dua tubuh yang ada di kedua sisi gadis di genggamannya itu.
Mata hitamnya melihat rambut hitam satu pemuda itu, lalu rambut pirang pemuda yang lain.
“Ha...!”
Tawa kecil keluar dari mulutnya yang sudah berubah menjadi senyuman mengejek, dia lalu menoleh ke arah suster yang berdiri di sampingnya.
“Kirimkan saja barang yang kuminta tadi lewat paket, aku ada urusan baru”
Suster itu membuka-tutup mulutnya pada pria yang mulai berjalan meninggalkannya sambil menggenggam kepala gadis itu tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Sedangkan pria itu akhirnya menurunkan gadis itu dari genggamannya dan membiarkannya mengikutinya ke salah satu ruangan dengan dua kasur putih kosong.
“Letakkan mereka di sana”
Bham!
Tepat setelah kalimat itu keluar, dua tubuh langsung mendarat di atas dua kasur putih itu dengan keras.
Pria itu tidak bereaksi dengan perlakuan kasar gadis itu dan hanya meraih pergelangan tangan dua pemuda di depannya secara bersamaan. Setelah beberapa detik dalam posisi yang sama, dia akhirnya menarik kembali kedua tangannya dan menunjukkan senyuman lebar di wajahnya.
“Sudah beberapa tahun tanpa bertemu ternyata mereka berdua masih dua bocah bodoh yang sama...”
“Apa... mereka baik-baik saja...?”
Gadis itu berdiri di samping pria itu dengan mata berkaca-kaca, terlihat hampir menangis.
“Ini bukan salahmu, mereka saja yang terlalu gegabah”
Pria itu mengalihkan perhatiannya kembali pada gadis berambut putih itu dan mulai mengelus kepalanya.
“Keadaan mereka saat ini adalah perbuatan mereka sendiri, sepertinya mereka berdua terlalu bersemangat saat bertemu kembali”
Dia menarik kembali tangannya lalu mengetuk kepala gadis di depannya itu dengan pelan-
Boom!
“Yauch!”
“Bukan berarti kau bisa mencekik mereka berdua di saat mereka tidak bisa memberikan perlawanan”
__ADS_1
Gadis itu mengelus dahinya yang kesakitan dan mengeluarkan air matanya yang sudah tertahan sejak tadi sambil melihat leher kedua pemuda itu, yang ternyata sudah berubah warna menjadi biru gelap.
“Um...” dia tidak tahu harus melakukan apa setelah menyadari hasil perbuatannya itu.
“Ya sudahlah, mereka akan baik-baik saja dengan istirahat biasa” ucap pria itu sambil mengelus dagunya, “Setidaknya mereka tidak akan bertingkah selama beberapa minggu dalam keadaan seperti ini”
Pria itu mulai berjalan keluar setelah mengatakan itu, meninggalkan dua pemuda tidak sadarkan diri itu.
Gadis itu melihat pria itu berjalan pergi dan menoleh ke arah dua pemuda itu sekali lagi, lalu berlari menyusulnya.
Sekarang yang tersisa di ruangan itu adalah dua pemuda, tanpa...
“Leinn!” “Roland!”
...dengan dua gadis yang baru datang sambil menunggangi serigala besar.
...
Sore hari, beberapa saat setelah semua pengunjung pergi dan membiarkan dua pemuda itu beristirahat.
Dua pemuda yang baru kembali sadarkan diri setelah menerima beberapa sihir penyembuh kekuatan penuh dari Aura dan obat kualitas tinggi dari Adeline.
“Roland...” Leinn menatap langit-langit putih dengan tatapan kosong.
“...apa?” Roland menjawab sambil melakukan hal yang sama.
Dan yang pertama mereka lihat adalah wajah gadis yang sedang menatap mereka dengan sangat khawatir, dan takut. Lalu keributan dapat terdengar dari orang-orang yang berhasil menyusul dan berkumpul di dalam Pusat Kesehatan itu.
“...kebetulan, aku juga...”
Mereka berdua yang baru bisa mendapat ketenangan setelah Adeline mengusir semua murid lain yang mengerumuni di luar ruangan mereka dengan keras, yang berhasil dengan sangat efektif melihat perasaan gadis itu yang sedang sangat buruk pada saat itu.
Akhirnya mereka benar-benar ditinggal sendirian setelah Aura dan Adeline memaksa mereka untuk tidak bergerak selama beberapa waktu, dan membuat mereka terdampar di ruangan ini hanya bertemankan obat penyembuh kualitas tinggi yang ditinggalkan Adeline.
“...kalau begitu sepertinya...”
“...itu bukan mimpi...”
Dua pemuda itu akhirnya menatap botol penyembuh kosong di tangan mereka, yang tidak memberikan efek apapun pada tubuh mereka saat ini. Mereka sudah mengetahui bahwa keadaan lemah mereka saat ini bukanlah masalah fisik yang bisa disembuhan dengan obat atau sihir Aura, melainkan masalah yang lebih kompleks.
Tetapi itu semua bukanlah masalah yang sedang memenuhi kepala mereka saat ini, melainkan gadis berambut putih yang mereka lihat sebelumnya.
Dan seseorang yang pasti ada di akademi saat ini, yang menemani gadis itu.
““Hah....””
Helaan nafas panjang keluar bersamaan dari mulut kedua pemuda itu.
Mereka benar-benar tidak ingin bertemu dengan orang itu dengan keadaan tubuh seperti ini.
__ADS_1
“Rufus...?”
Leinn memanggil nama Contracted Beast Aura itu dengan pelan, berharap tidak mendapat jawaban...
“Ruff”
Dan harapan itu dipatahkan oleh jawaban yang datang dari luar ruangan itu, dari penjaga yang ditinggalkan Aura untuk menjaga mereka berdua.
Yang sekaligus bertugas untuk menahan Leinn berkeliaran kemana-mana.
“...”
Roland menoleh ke sampingnya dan menemukan ekspresi kecewa di wajah pemuda berambut hitam itu.
Leinn mengepalkan tangannya dan menunjukkan dirinya tidak akan dikalahkan oleh hal itu.
“Hah...”
Tetapi untuk saat ini, mereka beristirahat.
...
Tujuh hari libur akademi itu digunakan semaksimal mungkin oleh murid-murid baru di seluruh akademi itu.
Sebagian dari mereka menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan misi-misi dari Pusat Misi untuk meningkatkan Merit mereka, dengan sebagian lain menggunakan kesempatan ini untuk membangun koneksi atau mencari kelompok yang sudah ada di dalam akademi.
Para Magic User juga mengisi waktu senggang mereka dengan mengunjungi Perpustakaan yang memiliki deretan buku Teori Sihir dengan kualitas tinggi dari seluruh benua.
Dan diantara banyak murid-murid baru itu, ada beberapa yang menjadi cukup terkenal juga sampai dicari-cari oleh murid senior untuk menjadi anggota kelompok mereka.
“M-maaf!” Ucap salah satu pemuda berseragam sambil menundukkan kepalanya pada lima murid senior di depannya.
Rambut biru pendek bergelombangnya terlihat bergoyang bersama dengan gerakan cepatnya itu, mengejutkan murid-murid senior itu. Pemuda berambut biru itu lalu mengangkat wajahnya dan mulai berlari meninggalkan lima murid senior yang masih mematung itu.
Ini adalah undangan kelima yang dia terima dalam tiga hari dia mengunjungi berbagai fasilitas akademi, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam kehidupan normalnya sebelum sampai di akademi ini.
Alasan dia mendapatkan perhatian sebesar itu, dan alasan dia menolak semua itu juga...
“...baiklah!”
Dia menepuk tas pinggang barunya lalu menyentuh gagang pedang yang tergantung di sisi lainnya, menguatkan semangatnya.
Akhirnya dia berhasil mengumpulkan keberaniannya setelah mengulur waktu dengan alasan mengunjungi semua fasilitas akademi selama beberapa hari itu, lalu mulai melangkahkan kakinya ke satu fasilitas yang belum dikunjunginya.
Pusat Kesehatan...
“HAHA!”
Dan tawa keras tidak asing yang tiba-tiba muncul itu melenyapkan semua semangatnya.
__ADS_1