Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 13 - Kelalaian


__ADS_3

“L-leinn”


Aura terlihat gelisah berjalan di samping Leinn, karena dia menyadari kalau mereka berdua sedang berjalan ke arah tempat Leinn menolong pengawas Kurt dan dua pemuda itu sebelumnya.


Dia masih belum menerima penjelasan sedikitpun dari pemuda di sampingnya.


“Leinn!” Aura memanggilnya sekali lagi, kali ini dengan lebih jelas.


Leinn terbangun dari lamunannya dan menoleh tanpa menghentikan langkahnya.


“Ada apa?”


“A-apa maksudmu ada apa? Kemanakah tujuan kita berjalan?”


“Oh, aku ada urusan yang belum selesai di tempat tadi, melihat mereka sudah aman aku hanya berjalan kembali untuk menyelesaikannya” ucap Leinn dengan santai.


“E-eh...”


Mereka berdua sudah berjalan selama 10 menit dan setelah melihat Aura yang semakin gelisah, Leinn akhirnya mulai menjelaskan situasi yang terjadi sebelumnya.


Giant Tarantula yang mengepung kubah batu sampai serigala besar yang bertarung dengan Giant Tarantula Broodmother dan anak-anaknya.


Setelah mendengar ceritanya sampai sana, mata Aura terlihat terbuka lebar.


“...serigala besar berbulu putih-kemerahan?”


“Yap, serangannya cukup mematikan” Leinn mengingat cakarannya yang berhasil melukai tubuh Broodmother itu.


“...kenapa Wolf Beast ini menyerang Giant Tarantula Broodmother, apakah karena dia merasa ditantang oleh teriakan itu, atau hal lain? Ini terlalu aneh kalau hanya kebetulan...”


Aura mulai bergumam dan melihat dia sudah tidak gelisah, Leinn hanya tersenyum dan kembali berjalan dengan tenang. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka berdua sampai ke tempat dua Beast itu bertarung.


“Wow...” gumam Aura dengan kagum.


Atau apa yang tersisa darinya.


Aura terpana melihat pemandangan ini, mayat Giant Tarantula berhamburan dimana-mana dan pohon-pohon terlihat tumbang, beberapa bahkan terangkat dari akarnya.


Pandangannya mulai bergerak dan menemukan satu tumpukan yang terbentuk dari bagian-bagian puluhan Giant Tarantula dan pohon-pohon yang tumbang.


Leinn hanya menceritakan garis besar bagaimana dia menyelamatkan tiga orang itu, dan pemandangan itu memenuhi bagian-bagian kosong dari cerita itu.


Pandangan Aura tertuju tungku-tungku pohon yang terlihat sangat halus seperti baru dipoles.


Dia tidak mengetahui keberadaan alat yang bisa memotong pohon dengan serapi ini, apalagi menghasilkan hasil yang identik dengan semua pohon dalam area selebar 50 meter.


“...dendam, cinta... lahirkan sebuah...” pelakunya itu sedang menyanyikan sebuah lagu aneh sambil berjalan mengikuti jejak pertarungan dua Beast itu.


Melihat Leinn tidak berniat menjelaskan itu, Aura hanya berjalan mengikutinya tanpa berkata apa-apa.

__ADS_1


Leinn dapat melihat dari bekas pertarungan yang bergerak menjauh itu, bahwa Giant Tarantula Broodmother itu terlihat berusaha melarikan diri tanpa berhasil dari Wolf Beast yang mengejarnya.


Sepertinya dia mulai kehabisan pasukan untuk dijadikan umpan, melihat mayat Giant Tarantula yang terus berkurang sepanjang perjalanan mereka mengikuti jejak itu.


“...tak ada guna... meratapi...” hanya nyanyian Leinn yang menemani perjalanan mereka itu, lagu-lagunya juga tidak sesuai dengan situasi mereka.


Setelah berjalan beberapa waktu lagi, Leinn akhirnya menghentikan langkahnya.


Di depannya adalah tubuh Giant Tarantula Brood mother, tidak bernyawa.


Seluruh tubuhnya dipenuhi luka, enam dari delapan kakinya sudah hilang, kepalanya juga sudah tidak terlihat, dan tubuhnya dipenuhi luka koyak, hasil dari gigitan lawannya.


“whoa...” suara kagum tiba-tiba terdengar dari samping Leinn.


Aura terlihat memerhatikan secara detil keadaan mayat Giant Tarantula Broodmother didepannya, menelitinya


Leinn baru menyadari kalau ternyata Aura sama sekali tidak takut melihat mayat Beast laba-laba ini, dia juga tidak takut melihat tumpukan mayat Giant Tarantula sebelumnya.


Sepertinya daya tahan Aura lebih hebat dari yang dia duga.


Leinn mulai melangkah mendekati mayat besar itu dan meletakkan telapak tangannya di badan mayat itu.


Mana mulai mengalir ke dalam tubuh tidak bernyawa itu.


Aura bisa melihat Leinn sedang melakukan sesuatu, tetapi dia tidak mengenali Mana yang mengalir keluar dari tangannya itu.


‘Ungu?’


Leinn menyarungkan kembali pedangnya dan memasukkan tangan kanannya ke luka potong itu.


Aura menjadi terkejut melihat itu.


“L-leinn?”


Setelah memasukkan tangannya sampai seluruh lengannya tidak terlihat, Leinn berhasil menarik keluar batu kristal yang hampir bulat berdiameter 6 sentimeter. Samar-samar dapat terlihat kabut cokelat bergerak didalamnya.


“I-itu Rank B Beast Core elemen tanah!” Aura membuka matanya dengan lebar melihat batu transparan di tangan pemuda itu.


Leinn sudah selesai membilas tangannya dan batu itu dengan air yang dikeluarkan dari botol di tangannya, yang terlihat mengeluarkan air melebihi kapasitas botol itu. Leinn lalu menutup botol air itu dan menyimpannya di dalam tas besarnya.


Dia melihat Beast Core di tangannya dengan detil, lalu melemparkannya ke gadis di depannya.


Aura mengangkat tangan kanannya tanpa sadar dan berhasil menangkapnya.


“Eh?” Aura menyadari apa yang baru saja dia lakukan.


“Tolong jaga itu sementara ya” ucap Leinn sambil menunjuk batu itu.


Aura menatap Beast Core di tangannya, lalu kembali ke wajah Leinn.

__ADS_1


“Eh?” suara bingung yang sama keluar lagi dari mulutnya.


“Ayo pergi” dia tidak menunggu lama dan mulai berjalan lagi.


Tidak mendapatkan penjelasan yang dia harapkan, Aura hanya bisa menaruh Beast Core ini di kantung pakaiannya dan kembali berjalan bersama pemuda berambut hitam itu.


“Hm...”


Leinn menyadari jejak yang ditinggalkan Wolf Beast itu memiliki tetesan-tetesan darah, sepertinya dia terluka cukup berat setelah bertarung dengan seluruh sisa Giant Tarantula dan Giant Tarantula Broodmother itu.


“Sepetinya dia sudah tidak jauh lagi-“


Gruuu~


Suara kecil terdengar tiba-tiba dari belakangnya, memotong kalimatnya.


Leinn berhenti berjalan dan membalikkan badannya, lalu menemukan Aura yang berdiri diam dengan kedua tangannya memeluk perutnya.


Wajahnya sudah menjadi sangat merah, menyadari Leinn telah mendengar suara perutnya.


“M-maaf” ucap Aura dengan cepat.


Leinn hanya menatap Aura tanpa berkata apa-apa, lalu tersadar bahwa mereka belum beristirahat sejak mulai berjalan dari pagi hari tadi.


Selain tidak menyadari Aura yang merasa lapar, dia juga tidak menyadari keringat yang membasahi wajah Aura.


THUD


Leinn melepas tas besarnya dan membiarkan tas itu mendarat dengan keras di tanah, lalu dia mulai meraih dan mengeluarkan tas daging kering dari dalam tas besar itu.


Dengan satu gerakan dia melemparkan tas daging itu pada Aura, yang menangkapnya dengan kedua tangannya.


“Kita akan beristirahat disini” ucapnya sambil duduk di bawah pohon di dekatnya.


Melihat Leinn yang sudah duduk itu, Aura juga duduk di atas rumput tidak jauh di depan Leinn.


Dia menyadari ada yang aneh dari ekspresi Leinn, yang terlihat sedang merenungkan sesuatu.


‘Apakah dia marah padaku?’


Aura mulai berpikir kalau Leinn tidak senang karena dipaksa beristirahat untuknya, memperlambat perjalanan ini.


Apakah dia akan menjadi beban seperti yang dia duga sebelumnya? Apakah dia akan benar-benar ditinggal sendirian? Pikiran negatif mulai berspiral di luar kendalinya.


“Maaf” ucap Leinn secara tiba-tiba.


“...eh?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2