Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 93 – Keputusan Bersama


__ADS_3

Seluruh kubah transparan itu dipenuhi ledakan petir dan kabut ungu yang menyebar ke semua arah.


Tidak ada sedikitpun bagian di dalam kubah itu yang tidak sedang diisi oleh petir dan kabut ungu yang meledak-ledak itu.


“““Hiii...!”””


Teriakan dapat terdengar di berbagai bagian stadium secara bersamaan, dari penonton yang meloncat berdiri dari kursi mereka dengan wajah pucat.


Alasan mereka melakukan itu adalah pemandangan yang sedang dilihat semakin banyak penonton di sana.


Sedikit tetapi jelas, dapat terlihat petir kecil dan sedikit kabut ungu yang mengalir keluar dari kubah transparan itu. Ledakan kali ini berhasil melebihi kemampuan pemulihan kubah pelindung itu, dan itu menyebabkan beberapa celah kecil menjadi terbuka sesaat sebelum tertutup kembali.


Beberapa orang dari tempat duduk penonton bahkan melompat turun ke stadium dan mulai memasukkan Mana mereka ke dalam lingkaran sihir itu.


Seharusnya ini dilarang tetapi melihat situasi darurat ini, murid pengawas hanya menunjukkan rasa terima kasih mereka.


Ledakan ini tidak terlihat akan berhenti dan terus mengeluarkan keganasan yang sama.


Orang-orang terus berjatuhan, bahkan beberapa guru juga ikut pingsan dan dibawa pergi untuk digantikan orang lain.


Rufus menunjukkan ekspresi serius sambil berdiri di samping Aura yang wajahnya sudah dibasahi keringat.


Adeline juga berada di dalam keadaan yang sama bersama Elsa yang mengulurkan kedua tangan kecilnya di pundaknya, ikut membantu mereka.


Clear hinggap di atas kepala Basalt yang berdiri di belakang mereka berdua dengan ekspresi kosong sambil melihat ledakan yang sedang terjadi di atas arena itu, dengan Twig yang berbaring di sampingnya.


Setelah 20 detik yang terasa seperti selamanya itu, akhirnya ledakan itu mulai mereda dan kondisi mereka berdua bisa terlihat.


Yang pertama bereaksi adalah Aura dan Adeline.


“Leinn!””Roland!”


Yang semua orang lihat pertama kali adalah bola ungu dan emas yang berada di atas pasir putih.


Ternyata kubah pelindung itu sebenarnya berbentuk bola penuh yang sampai masuk ke dalam tanah juga, dan semua orang disana bisa melihat bola transparan itu sekarang hanya terisi sepertiganya oleh pasir putih.


Ledakan itu telah melenyapkan arena itu dan area disekitarnya, mengubahnya menjadi tumpukan pasir.


Beberapa lubang kecil di sekitar kubah transparan itu mulai tertutup dengan cepat dan tiba-tiba, dua bola dari sayap di dalam bola pelindung itu terlihat terbuka secara bersamaan.


Whoosh!


Angin kencang dari pembukaan sayap itu menerbangkan pasir di sekitar mereka ke udara dan membuat pemandangan yang menakjubkan.


Clang!


Melayang maju dengan hentakan sayap mereka, dua senjata mereka berbenturan, mengangkat pasir di sekitar mereka sekali lagi.


Petir meloncat keluar dari sayap emas Roland dan bulu-bulu ungu berterbangan dari sayap Leinn.


““Hahaha...!””


Darah di wajah mereka berdua sudah tidak terlihat, tetapi kondisi luka mereka sama sekali tidak berubah.

__ADS_1


Luka potong, luka bakar, dan bebagai kerusakan di tubuh mereka masih ada, tetapi mereka tidak peduli.


Boom boom boom...!


Benturan demi benturan mengangkat pasir di bawah mereka ke udara dan menggetarkan stadium itu secara terus menerus.


Yang pertama menunjukkan ketidakmampuan mereka bukanlah pemuda yang sedang bertukar serangan di atas tumpukan pasir itu, tetapi penonton di sekitar mereka.


Tidak diketahui apakah karena getaran yang tidak berhenti, tekanan yang membuat mereka sulit bernafas, luka bakar yang tiba-tiba muncul, atau itu semua digabungkan... tetapi satu persatu orang mulai berjatuhan atau memillih untuk melarikan diri dari stadium itu.


Akhirnya kurang dari lima menit, separuh stadium sudah berlari keluar dan hanya menyisakan orang-orang yang mampu bertahan dari semua itu.


Orang diluar stadium melihat orang yang keluar itu sebagai kesempatan mereka untuk masuk ke stadium, lalu sepuluh orang menjadi seratus... dan terus bertambah. Melihat separuh stadium berlari keluar dan beberapa orang yang digendong karena kehilangan kesadaran itu menghilangkan keberanian mereka.


Hanya beberapa orang yang sangat penasaran yang berani berjalan masuk ke dalam stadium itu untuk memeriksa keadaannya.


Dan orang-orang itu tidak bisa mempercayai apa yang sedang mereka lihat.


““HA!””


Boom!


Benturan sayap ungu dan emas itu memisahkan kedua pemuda itu sampai mereka hampir menyentuh pelindung transparan di dua sisi yang berbeda.


“Fiuh...”


“Hah...”


Mereka menstabilkan nafas dan mulai melihat area di sekitar mereka.


“Hm?”


Ekspresi terkejut muncul di wajah mereka ketika melihat pasir di sekitar mereka, ini pertama kalinya mereka melihat pasir dalam jumlah sebanyak ini di satu tempat.


Mereka mengangkat pandangan mereka dan menemukan stadium yang hanya tinggal terisi kurang dari seperlima itu dan ekspresi pucat dari penonton di sekitar mereka.


Leinn dan Roland menjadi terdiam sesaat, sebelum kembali menatap satu sama lain.


“Apa kau... memikirkan apa yang sedang kupikirkan?


“Sepertinya... begitu”


Hanya beberapa diantara semua orang di stadium itu yang bisa melihatnya, tetapi kekuatan yang dipancarkan dua pemuda itu sudah berkurang cukup banyak dibandingkan disaat mereka baru masuk dalam bentuk itu.


Sepertinya mereka bisa berada di dalam keadaan ini dalam waktu yang terbatas. Dan serangan besar mereka ditambah pertahanan dari ledakan besar itu sebelumnya menggunakan tenaga yang tidak kecil, berakhir dengan waktu mereka yang semakin memendek.


Waktu terbatas dan keadaan penonton di sekitar mereka, dua alasan ini membuat mereka mengambil keputusan yang sama.


Bertarung dalam keadaan ini sedikit lebih lama dan kehabisan tenaga, menghasilkan pertarungan yang tidak menarik dan penonton yang semakin terluka,


Atau...


““...!””

__ADS_1


Clear yang sudah bersantai di atas kepala Basalt terlihat bereaksi bersamaan dengan Twig yang berbaring di samping Adeline yang meloncat bangun juga.


“KYUU!”


Clear langsung meloncat ke depan Aura dan mengeluarkan suara yang sangat keras, bersama dengan tubuhnya yang bergetar sangat kuat.


“Psssht...!”


Tubuh Twig langsung membesar kembali ke ukuran dua puluh meternya dan dia menurunkan kepalanya ke depan Adeline yang menunjukkan ekspresi bingung juga.


Leinn dan Roland yang tiba-tiba berdiri diam dan kelakuan aneh dari dua Contracted Beast mereka.


Apa yang ingin disampaikan oleh mereka berdua?


““Ah””


Dua gadis itu langsung mendapatkan jawaban mereka.


Mereka berdua langsung melihat area sekitar mereka, lalu dengan sekuat tenaga-


““Lari!””


Di stadium yang sedang menunggu gerakan berikutnya dari dua pemuda itu, suara teriakan dari dua gadis itu berhasil terdengar oleh mereka semua.


Sebagian dari mereka merasa terganggu oleh dengan teriakan tiba-tiba itu dan sebagian lain mempertanyakan alasan teriakan itu, tetapi mereka semua mendapatkan jawaban yang sama.


Tanpa mereka sadari, dua pemuda itu sudah berada di tengah bola transparan itu dengan jarak 20 meter diantara mereka.


““...aaaaAA!””


Suara keluar dari kedua pemuda itu, yang berubah menjadi teriakan dalam sekejap.


Semua penonton disana dikejutan oleh getaran telapak kaki dan tempat duduk mereka, yang perlahan-lahan bertambah kuat.


Dari getaran kecil sampai seluruh pemandangan yang mereka lihat ikut bergetar, sampai membuat mereka kehilangan keseimbangan.


Dan getaran itu masih terus bertambah kuat.


“Kita harus pergi dari sini...”


Suara kecil itu keluar dari mulut Adeline yang bersandar di kepala Twig untuk menjaga keseimbangannya, dan pandangannya tidak lepas dari Roland yang sudah diselimuti oleh cahaya emas yang membuat bentuk tubuhnya hampir tidak terlihat.


“K-kau mengetahui apa yang sedang... mereka lakukan?”


Aura mengatakan itu sambil bersandar di tentakel yang keluar dari tubuh Clear, dia menyadari ekspresi gadis di depannya yang terlihat sedikit aneh itu.


Adeline seperti tersadar dari lamunannya dan mengalihkan perhatiannya ke Aura.


“Ya, aku tahu apa itu... aku pernah melihatnya hanya sekali”


Ekspresi cemas dapat terlihat jelas di wajahnya. Dia kembali melihat ke atas arena, ke arah pemuda berambut pirang itu.


“Itu adalah teknik yang berhasil melukai Ayahku. Serangan yang berhasil melukai Rank S Hunter, Dewa Es Abadi!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2