Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 17 - Taruhan


__ADS_3

“Aaa...!” teriakan keras tersebar di bagian hutan itu.


Clang clang clang...!


Brick mengayunkan senjatanya secara liar lagi, dan kedua matanya sudah mulai berubah menjadi warna merah sepenuhnya.


Melihat itu, Leinn hanya bisa menunjukkan ekspresi kecewanya.


“Tidak peduli sebesar apapun kekuatan yang kau miliki, jika kau tidak bisa mengendalikannya...”


Leinn melompat mundur, membuat jarak sejauh lima meter diantara mereka berdua.


Brick langsung berlari mengejarnya dengan kapak di tangan kanannya, seperti tidak merasakan berat senjata setinggi 2 meter itu.


Ekspresinya sudah tidak seperti ekspresi manusia lagi, dengan mata merah penuh dan air liur yang keluar dari mulutnya yang meneriakkan suara liar.


Leinn menyarungkan kembali pedangnya, tanpa melepas genggamannya.


“GROAAAR...!”


“...Kau tidak akan lebih dari seekor binatang buas”


Brick menggangkat kapak besarnya setinggi mungkin, bersiap membelah Leinn menjadi dua.


Leinn hanya merespon dengan merendahkan kuda-kudanya, dengan ibu jari kirinya mendorong keluar pedangnya.


“Clear Sky Style”


Gerakan Brick berhenti ditengah ayunannya, dan Leinn sudah menghilang dan muncul dibelakangnya, dengan posisi berdiri yang sama sebelum dia berpindah tempat.


Pedangnya sama sekali tidak bergerak dari sarungnya itu, dan dengan satu dorongan lembut...


[Dawn Chorus]


Tak.


Bersamaan dengan suara pedang yang tersarung itu, kapak besar di tangan Brick terbelah dua dan tubuh besarnya jatuh mencium tanah.


Dia berhenti bergerak sama sekali.


“BOS!” suara teriakan tiba-tiba terdengar.


Tiga orang meloncat turun dari cabang pohon besar di dekat sana, berlari sekuat tenaga ke samping tubuh Brick.


“Cepat juga kalian sadar” ucap Leinn dengan santai sambil berjalan ke salah satu pohon besar lain.


Aura muncul dari balik pohon itu dan mulai berlari mendekati Leinn untuk memeriksa keadaannya, menemukan pemuda itu sama sekali tidak terluka.


Dia bisa melihat dengan jelas pertukaran serangan yang terjadi antara Leinn dan tiga pengikut pria besar itu beberapa saat yang lalu.


“Leinn...” ucap Aura sambil mengingat kejadian setelah dirinya diangkat oleh Leinn ke balik pohon besar itu.


Leinn baru saja mengangkat dan membawanya ke belakang salah satu pohon besar tanpa disadari satupun dari empat lawannya.


Baru ketika dia menurunkannya dari pundaknya itu salah satu dari pengikut Brick berhasil menemukannya.


Sebelum dia bisa berbalik dan mengambil satu langkah kembali ke arah Brick itu tiba-tiba sebuah ujung tombak sudah berhenti beberapa sentimeter dari wajahnya, yang tidak bisa bergerak setelah tertangkap olehnya.


Pemuda bertombak itu tidak bisa menunjukkan rasanya kagetnya cukup lama ketika dia menyadari dirinya telah melayang di udara dan menabrak pemanah di belakangnya, karena Leinn baru saja mengayunkan tangan kanannya yang menggenggam tombaknya itu.


Leinn lalu mengambil satu langkah ke kiri dan menghindari anak panah yang tertuju padanya sambil mengayunkan tangan kirinya, menangkap dua pisau lempar yang melayang ke dadanya.


Dia meloncat dan memberikan tendangan ringan pada pemakai pisau lempar itu, mementalkannya pada dua temannya yang baru bertabrakan itu. Menjadikan mereka bertumpuk tiga.

__ADS_1


Semua itu terjadi kurang dari tiga detik.


“Maaf untuk senjata bos kalian” ucap Leinn sambil menunjuk apa yang tersisa dari kapak besar milik Brick.


Tiga orang itu langsung berbalik menghadap pemuda berambut itu sambil bersiaga penuh.


Mereka tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah mereka bertabrakan karena begitu mereka sadar, mereka sudah berada di atas pohon.


Mereka sekarang lebih merasa bingung daripada takut, tidak mengerti bagaimana pemuda di depan mereka bisa melakukan semua itu dan masih terlihat santai.


Leinn hanya tersenyum setelah melihat reaksi mereka itu.


“Jadi... taruhannya?”


...


“...21...22...23...”


Leinn duduk di bawah pohon sambil memindahkan Beast Core kecil dari satu kantung ke kantung transparan lain.


Aura hanya duduk di dekatnya setelah memeriksa kondisi Brick dan tiga pengikutnya.


Dia juga mendapatkan nama mereka setelah berbicara beberapa saat dengan mereka.


“Hmph!” pengguna pisau lempar mendengus kesal, melihat pemuda berambut hitam itu yang sedang menghitung hadiah kemenangannya satu persatu seperti itu.


Cosby Cassandra, pemuda dengan ekspresi kesal itu memiliki tinggi tidak lebih dari 160 sentimeter dengan mata tajam dan hidung mancungnya yang hampir tertutupi oleh rambut biru tuanya.


Dia mengenakan pakaian hijau lengan panjang dan celana pendek dengan pisau lemparnya berjejer rapi di ikat pinggangnya.


“Kita sudah kalah telak, jangan berperilaku seperti itu” ucap pemanah di sebelahnya dengan tenang.


Ethan Emanuel, pemuda dengan tinggi lebih dari 180 sentimeter, tertinggi kedua setelah Brick dalam kelompok mereka.


Rambut yang berwarna hijau yang memanjang sampai menyentuh pinggang belakangnya itu terlihat sangat menonjol.


Dia mengenakan jubah yang menutupi tubuh atasnya dan dari yang bisa terlihat, dia mengenakan celana panjang cokelat.


“...31...32...”


“...” pemakai tombak hanya duduk tidak jauh dari Leinn, menatapnya tanpa berkata apa-apa.


Dia adalah David Desmond, dengan matanya yang kokoh dan alis yang selalu mengerut di wajahnya membuatnya terlihat sangat tegas.


Rambut merah pendeknya juga menambah perasaan disiplin yang dipancarkan dirinya.


Dia mengenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang berwarna coklat yang sudah dia rapikan setelah pertarungan mereka.


Mereka bertiga tidak mengerti apa alasan Leinn menghitung Beast Core itu di depan mereka, melihat dia sudah memenangkannya dari mereka dengan adil.


“...39...40! Selesai sudah” ucap Leinn tiba-tiba sambil mengikat kantung transparannya.


“Hah?” Cosby yang pertama bereaksi dengan kasar padanya.


Sebelum dia bisa bertanya apa maksudnya, dia bergerak secara naluri dan menangkap sebuah kantung yang melayang ke perutnya secara tiba-tiba.


Dia langsung menyadari itu adalah kantung milik mereka, yang sekarang masih berisi sedikit lebih dari separuh jumlah sebelumnya.


“K-kau!” ucapnya dengan bingung.


Sebelum dia bisa berkata apa-apa, Ethan di sampingnya sudah meraih dan mengambil kantung itu dari tangan Cosby.


Dia mulai memeriksa dan menyadari kantung itu masih berisi lebih dari 60 Beast Core.

__ADS_1


“...apa maksudmu dengan ini?” tanya Ethan sambil mengangkat kantung itu.


“Apanya apa maksudku? Aku hanya mengambil hasil taruhanku”


Leinn memasukkan kantung transparan di tangannya ke dalam tas besar disampingnya.


Melihat ini Ethan menggenggam keras kantung ditangannya.


“Karena itulah aku bertanya kenapa kau mengembalikan ini kepada kami? Apa ini, belas kasihan?” Nada bicaranya berubah menjadi lebih bermusuhan.


Mereka menyadari mereka tidak bisa mengalahkannya walaupun menyerang bersama dan hanya bisa menelan rasa kesal itu.


Tetapi dia tidak menyangka akan dipermalukan seperti itu.


Leinn mengangkat wajahnya dan menatap pemuda yang berdiri di depannya itu.


“Huh?” dia menunjukkan ekspresi bingung yang jelas.


Dan Ethan bisa melihat ekspresi itu dan menyadari itu tidak sedang dibuat-buat olehnya.


“Huh?” dia juga menunjukkan ekspresi bingung yang sama.


Mereka berdua saling bertatapan dengan ekspresi yang sama, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh lawan bicara mereka itu.


“Aku sudah mengambil apa yang kuinginkan, apa maksudmu belas kasihan?”


Perasaan negatif mereka hilang setelah melihat ekspresi bingung yang jelas di wajah Leinn, menyadari sama sekali tidak ada ekspresi mengejek disana.


Cosby pun hanya bisa melihat pertukaran itu dengan perasaan bingung.


“K-kalau begitu kenapa kau mengembalikan lebih dari separuh apa yang kami pertaruhkan?”


Ekspresi bingung Leinn akhirnya berubah setelah dia menyadari apa yang Ethan maksud itu.


“Oooh, itu salahku. Yang kuinginkan hanyalah 40 ini saja” ucap Leinn sambil menepuk tas besarnya.


“A-apa-“


“Apa maksudmu?” David menyela Ethan dengan pertanyaannya sendiri


Dia sudah berdiri di depan Leinn dan menatapnya dengan serius.


“Ya... rasanya aneh aku melepaskan hasil buruanku tanpa alasan apapun pada orang-orang yang tidak kukenal” jawab Leinn dengan santai.


“...!”


Jawaban itu sangat mengejutkan mereka bertiga dan potongan-potongan ceritanya akhirnya tersusun sempurna.


Mereka sudah merasa ada yang aneh ketika sedang mengeluarkan Beast Core dari mayat-mayat Giant Tarantula itu, melihat ada satu bagian hutan yang terpotong sangat rapi dengan tumpukan mayat yang terlihat seperti terbunuh dalam satu serangan memotong yang besar.


“Jadi kau...”


BOOM!


Sebelum David bisa melanjutkan pertanyaannya, ledakan keras tiba-tiba terdengar dari arah yang sama dengan jejak serigala besar itu.


Suara itu terdengar sangat jelas walaupun jarak yang begitu jauh, pasti dihasilkan dari serangan yang tidak lemah.


 


 


Leinn melompat berdiri sambil memikul tas besarnya dalam satu gerakan mulus, dengan pandangannya sudah tertuju pada arah ledakan itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2