
Beast, murid baru, dan pengawas di dalam hutan itu merasakan penglihatan mereka tiba-tiba bergoyang, kemudian menyadari tanah tempat mereka berdiri sedang bergetar dengan cukup kuat.
Beberapa pengawas di atas tembok kota terkejut bukan main ketika melihat semua burung yang terbang bersamaan dari seluruh hutan itu.
Mereka semua mulai memikirkan satu kemungkinan yang sama, bahwa hutan itu telah mendapatkan Rank A Beast yang baru.
Sedangkan pelaku asli dari keributan itu...
“Hah...” menghela nafas dan menjatuhkan pedang di tangannya.
Leinn juga jatuh terduduk, kehabisan tenaganya. Dia juga bisa merasakan bajunya yang basah dengan darah melekat di tubuhnya.
“T-turunkan aku!”
Aura tersadar dan meminta Wolf Beast itu untuk menurunkannya.
Serigala itu melepaskan gigitannya dan membiarkan Aura berlari menuju tempat Leinn jatuh.
Melihat Aura yang berdiri dengan ekspresi cemas di depannya, Leinn hanya bisa mengeluar tawa kecil.
“Hehe... sepertinya aku menang-AUCH”
Tongkat mendarat di kepalanya, yang diayunkan Aura dengan sekuat tenaganya. Dia bisa melihat Aura mencemaskan dirinya sampai menangis. Dia merasa bersalah.
“Aku minta maaf... tapi bisakah kau menyembuhkan dia...?” ucap Leinn sambil menunjuk ke depannya.
Dia juga menyadari ujung tongkat yang baru saja memukulnya itu sedang diselimuti oleh api putih, dan menemukan luka di kepalanya sudah berhenti mengeluarkan darah segar.
Aura menghapus air mata di wajahnya dan menoleh ke arah yang Leinn tunjuk lalu membuka matanya dengan lebar, sangat terkejut.
Disana terbaring Gorilla Beast itu dengan baju zirah batunya yang sudah runtuh setelah menerima gelombang pedang itu. Kedua tangannya terlihat sangat terluka, tetapi luka paling parahnya adalah garis merah yang memanjang dari pundak kirinya sampai ke pinggang kanannya.
Darah dapat terlihat terus mengalir deras dari lukanya itu.
“E-Eeh?!”
Melihat kondisinya yang kritis itu, Aura langsung memukul tanah dengan buntut tongkatnya sambil merapalkan manteranya.
Leinn bisa melihat garis merah muncul di tanah dari tongkat panjang itu ke tubuh Gorila yang terluka itu, diikuti sebuah lingkaran sihir yang mulai terbentuk di bawah tubuh Gorilla Beast itu.
Lalu empat lingkaran sihir terbentuk di tepi lingkaran sihir pertama itu, terpisah setidaknya lima meter antara satu dan yang lainnya, membentuk sebuah persegi.
Dengan satu rapalan terakhir, Aura mengayunkan tongkatnya.
__ADS_1
[Flame Prison!]
Api putih berbentuk kubik sempurna dengan lebar lima meter terbentuk dan menyelimuti seluruh tubuh Gorilla Beast itu, menela seluruh tubuhnya.
“Hoooh...” Gorila itu mengeluarkan suara lemah dari dalam kubik putih itu.
Baru saja Leinn merasa lega, dia bisa melihat Aura sudah berbalik dan kembali menghadapnya dengan tongkat ditangannya sudah terangkat tinggi.
[Fire Enchant, Threefold]
Bak bak bak...
Dan dia mulai memukul Leinn berkali-kali dengan tongkat yang sudah diselimuti api putih itu.
“Auch auch auch, h-hentikan, aku menyerah!” Leinn bisa merasakan luka di tubuhnya mulai menghilang, tetapi staminanya masih terlalu terkuras untuk memberikan perlawanan.
Bak bak bak...
Dia juga menyadari kecepatan lukanya sembuh tidak sama dengan kecepatan staminanya kembali. Akhirnya dia pasrah dan membiarkan dirinya terjatuh ke tanah, tidak melawan Aura yang menyembuhkannya dengan cara seperti itu. Dia hanya bisa menunggu sampai gadis itu tidak marah lagi.
Bak Bak Bak...
...
Api di tongkatnya sudah padam selama beberapa saat dan akhirnya Aura menghentikan serangannya, kehabisan nafas.
“Aku minta maaf, aku akan lebih berhati-hati lain kali” Leinn bangun dari posisi berbaringnya setelah menyadari pukulan di tubuhnya sudah berhenti.
Sebenarnya dia sudah mendapatkan tenaga yang cukup untuk kembali bergerak beberapa saat yang lalu, tetapi melihat mata Aura yang berair itu akhirnya Leinn memilih untuk tidak bergerak.
Pukulan tongkat Aura juga tidak bisa memberikan rasa sakit sedikitpun di tubuhnya yang sudah sehat itu.
Aura juga sudah menyadari pemuda di depannya sudah sembuh total dan menerima serangan lemahnya tanpa bereaksi apapun, membuatnya menyadari perbuatan sia-sianya dan akhirnya menghentikan serangannya.
“Hmph!” dengus Aura sambil membalikkan badannya.
Dia berjalan dan duduk di bawah pohon sepuluh meter dari Leinn, terlihat masih kesal.
“Hoh...”
Leinn mengelus kepalanya dan melihat Gorilla Beast berada lima meter darinya, yang hanya duduk dan menatapnya.
Sihir api Aura itu sudah padam setelah menyala selama tiga menit, lalu menunjukkan Gorilla Beast sudah sembuh total itu. Hanya sebuah garis tipis di dadanya yang bisa terlihat, yang sudah tertutupi bulu putihnya yang tumbuh kembali..
__ADS_1
Disaat dia membuka matanya, dia menemukan manusia yang mengalahkannya telah dihajar oleh manusia yang lebih kecil itu tanpa memberikan perlawanan.
“Hah...” Aura menghela nafas panjang.
Aura tidak hanya karena kehabisan tenaga setelah mengayunkan tongkatnya berulang kali, tetapi saat ini adalah pertama kalinya dia menggunakan sihir besar berkali-kali dalam sehari. Pemakaian Mana dalam jumlah besar dan stamina yang terkuras dalam waktu singkat membuat tubuhnya terasa lemas.
Melihat Aura sudah berusaha sampai selelah itu untuk menyembuhkan orang dan Beast yang terluka, Leinn bangun dan berjalan ke tempatnya duduk.
“Hue!” jerit Aura, terkejut.
Dia baru saja merasakan kepalanya disentuh secara tiba-tiba dan langsung mengangkat wajahnya, menemukan Leinn yang sudah berjalan pergi.
Leinn berniat mengelus kepala Aura, tetapi tiba-tiba teringat dengan reaksi sebelumnya. Jadi dia hanya menepuk kepalanya sekali dan meneruskan langkahnya ke tempat Gorilla Beast itu duduk.
“Hoh” Gorilla Beast itu melihat manusia berambut hitam itu berjalan mendekatinya dan mulai berusaha berdiri.
Leinn berhenti berjalan di depan Gorila besar yang menggunakan kedua lengannya untuk menopang tubuhnya yang kelelahan itu. Senyuman muncul di wajahnya yang tertutupi darah kering itu.
“Sesuai taruhan kita, kau akan menjadi Contracted Beast-ku!”
“Hoh...” Gorila itu menganggukkan kepalanya sekali.
Dia mulai menundukkan kepalanya, mengakui Leinn.
Melihat itu, Leinn mengulurkan tangan kanannya.
“...” kesunyian terbentuk diantara mereka berdua.
Sepuluh detik berlalu dan mereka berdua tidak bergerak dari posisi mereka, kemudian Leinn menurunkan tangan kanannya.
“Leinn?” ucap Aura dengan bingung
Aura sudah memerhatikan pertukaran mereka itu dan menunggu Leinn membuat Contractnya, ternyata itu berakhir tanpa apapun terjadi.
Leinn mendengar panggilan itu dan membalikkan badannya. Dia menatap Aura yang duduk di bawah pohon itu dengan senyuman kecil.
“Bagaimana cara... membuat Contract?”
Aura mendengar itu, lalu melihat senyuman kecil itu, lalu mulai mengulang kalimat itu di kepalanya. Setelah beberapa detik memproses pertanyaan itu, sebuah jawaban pendek keluar dari mulut kecilnya.
“Hah?”
__ADS_1