
Umpatan keluar dari mulut Roland bersamaan dengan tangannya yang mengayunkan pedangnya dua kali lagi dan berhasil menangkis pisau itu lagi.
Tidak hanya setiap pisau perak ini memiliki Mana yang tidak kecil yang membuat mereka menjadi sangat berbahaya, ternyata ada fungsi untuk mengejar sasarannya juga.
Dua pemuda itu mulai berlari mengitari arena itu, dengan Leinn yang melemparkan pisau-pisaunya dan Roland yang menangkisnya.
Kalau hanya dilihat sekilas, pemuda berambut hitam itu terlihat sedang mendominasi pertarungan saat ini.
Tetapi Leinn dan Roland sendirilah yang mengetahui betapa tidak stabilnya situasi mereka saat ini.
Konsentrasi Roland tidak boleh terpecah sama sekali, karena jika satu pisau saja mengenainya maka dirinya akan terbuka dan semua pisau berikutnya akan menghujam tubuhnya.
Walaupun dia bisa bertahan, itu akan menguras Mananya dan akan meletakkannya di posisi yang tidak menguntungkan.
Konsentrasi Leinn juga tidak kalah kuat, karena dia tahu jika dia membuat satu celah saja diantara penarikan dan lemparan pisaunya, Roland akan meluncurkan serangan balasan.
Dan dia sedang tidak berada di dalam kondisi untuk menahan itu.
Setelah Roland menangkis sebanyak dua puluh kali, dia mulai menyiapkan pedang di tangan kirinya yang sudah terisi penuh.
Kalau perhitungannya benar, seharusnya pisau yang dimiliki Leinn sudah-
“Muka kuda!”
Ini kesekian kalinya dia mengumpat setelah bertahun-tahun menjaga reputasinya sebagai pemuda dingin yang keren. Alasan umpatan ini keluar adalah dia melihat apa yang baru saja dilakukan pemuda berambut hitam itu.
Mereka berdua berlari mengelilingi arena ini, jadi Leinn telah sampai ke tempat Roland berdiri sebelumnya.
Ketika dia masih berlari itu sambil melempar pisau itu, tiba-tiba pisau-pisau yang berserakan di tanah itu melayang dan mulai berputar di sekeliling pemuda itu.
Dia mulai meraih dan melempar pisau baru itu dengan kecepatan yang lebih tinggi.
“Fhafhafha...!”
Tawa aneh keluar dari celah mulut Leinn yang sedang menggigit pedangnya itu. Dia terlihat sangat menikmati reaksi Roland itu.
“...!”
Tawanya itu juga tiba-tiba terhenti ketika dia melihat kilatan cahaya di sekitar pemuda itu yang ternyata semakin bertambah terang.
“Storm Sky Style”
Roland menangkis empat pisau di depannya lalu mengayunkan pedang di tangan kirinya yang diselimuti petir yang sudah menari-nari itu.
[Thousand Birds!]
__ADS_1
Crackle!
Petir keluar dan meloncat-loncat dari pedang di tangan kirinya, mengahasilkan suaranya yang sangat menulikan, yang terdengar seperti kicauan seribu burung.
Roland mengubah arah larinya dan mulai bergerak mendekati lawannya itu sambil mengayunkan pedang petirnya itu.
Sebelum pedang itu bisa membentur pisau-pisau itu, petir di sekitarnya sudah mengoyak simbol sihir di badan pisau perak itu dan melemahkannya secara drastis.
Pisau-pisau itu lalu membentur pedang petir Roland dan jatuh di tanah, kehilangan semua kemampaunnya.
“F-fungghu Holand!”
Leinn mulai terlihat panik, dia tidak menyangka teknik Roland akan meningkat sampai sejauh ini. Thousand Birds yang dia ingat hanya bertahan selama beberapa detik sebelum menghilang, tapi yang di depannya ini terlihat tidak akan menghilang sebelum menghantam tubuhnya.
Tentu saja Roland tidak memedulikan itu dan terus berlari mendekatinya, sedangkan dia hanya memiliki dua pisau terakhir yang sedang melayang di sekitarnya.
“Kau yang memaksaku!”
Leinn melempar pisau terakhirnya lalu berhenti berlari dan dengan pedangnya yang masih tersarung di tangan kirinya itu, dia memejamkan matanya.
Roland tidak menurunkan kewaspadaannya dan meluncurkan tebasan ke arah pundak pemuda di depannya, yang bereaksi dengan mengangkat sarung pedang di tangan kirinya sambil memegang gagang pedangnya di tangan kanannya.
Semua orang di stadium itu mengira pemuda berambut hitam itu sudah kehabisan jalan keluar dan berniat menyerah, tetapi Roland mengetahui itu adalah omong kosong.
Di saat pedang petirnya hampir menyentuh sarung pedang itu, akhirnya dia melihat mata pemuda di depannya terbuka.
[Luna]
Secara tiba-tiba, seluruh penonton di stadium merasakan perasaan aneh secara bersamaan.
Suhu di stadium ini cukup tinggi karena ribuan orang yang berkumpul disana tetapi entah kenapa, mereka bisa merasakan tubuh mereka merinding selama sekejap itu.
Perasaan bingung mereka terpotong pendek ketika mereka melihat pemandangan di atas arena di depan mereka.
“Hah...” uap putih keluar bersamaan helaan nafasnya.
Leinn menarik keluar pedangnya dan berniat menahan pedang yang hampir mencapainya dengan mata pedang yang setengah keluar dari sarungnya itu.
Clang
Suara benturan yang biasa dapat terdengar. Pedang yang terayun itu membentur pedang yang menahan ayunannya, suara besi bertemu besi yang tidak terlalu keras ataupun terlalu kecil.
Yang paling mengejutkan semua orang disana adalah semua petir di pedang pemuda pirang itu menghilang sesaat sebelum dua pedang itu bertemu.
Mana Petir seganas itu seharusnya tidak mungkin hilang tanpa bekas seperti itu.
__ADS_1
Tetapi itulah yang terjadi, kenyataan yang terjadi di depan mereka.
“Hm!”
Roland meloncat mundur dan mulai meneliti situasi yang aneh itu dan mulai menyusun strategi untuk menyerang berikutnya.
Leinn menyarungkan kembali pedangnya dan menurunkan kuda-kudanya sambil menatap pemuda berambut pirang di depannya.
“Ini tidak akan dihitung dua lawan satu, oke?”
Kalimat aneh keluar dari mulut pemuda itu yang membingungkan orang-orang di stadium itu.
Leinn hanya berdiri disana dengan penuh celah, tetapi Roland bisa merasakan tekanan yang dikeluarkan pemuda itu sedang meningkat dengan sangat cepat.
Lalu dia menyadari Mana Ungu yang mulai berputar di sekitar tubuh pemuda berambut hitam itu, yang mulai membentuk sesuatu.
Niat membunuh yang pekat tiba-tiba jatuh dan ikut menekannya juga.
Sebagian besar orang-orang disana hanya bisa melihat sesuatu yang seperti Mana mulai berkumpul di punggung pemuda berambut hitam di atas arena itu.
Tetapi orang-orang dengan kemampuan tinggi dan potensi sihir besar bisa melihat keanehan dari gerakan Mana itu.
“Itu... perempuan?”
Kalimat itu keluar dari mulut gadis berambut biru yang sedang duduk di podium tidak jauh dari arena itu. Dia sedang menyipitkan matanya untuk mencoba melihat jelas siluet yang mulai terbentuk itu.
Tubuh langsing, tangan dan kaki yang kecil dan panjang dan rambut panjang yang berkibar, siluet gadis yang cukup nyata itu terbentuk hanya dari Mana Ungu di udara.
“...”
Gadis berambut merah muda di sampingnya tidak berkomentar dan hanya memerhatikan siluet itu dengan ekspresi serius. Tentu saja dia mengenali siluet itu, dia muncul disaat Leinn hampir mengambil nyawa orang-orang yang mengincar Clear di malam itu.
Dia sudah mencoba memperkirakan identitas makhluk itu, tetapi informasi yang dimilikinya tentang Leinn masih terlalu sedikit
Tetapi ada satu diantara semua orang di stadium yang sedang menunjukkan reaksi yang berbeda.
“Haha...”
Tawa kecil keluar dari bibir yang sudah membentuk senyuman di wajah Roland itu.
Di tengah tekanan dan niat membunuh yang semakin meningkat di sekitarnya, hanya perasaan senang yang bisa dirasakan oleh Roland ketika melihat siluet ungu itu.
“Ternyata benar kau juga berhasil...”
__ADS_1