Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 18 – Sihir Besar


__ADS_3

“L-leinn” seseorang memanggil namanya dari belakangnya.


Leinn menoleh dan menemukan Aura menatapnya dengan ekspresi cemas, lalu menoleh ke arah tiga pemuda itu.


Sepertinya Aura mengkhawatirkan keselamatan kelompok itu, mellihat mereka sedang berada dia area yang cukup dalam di hutan itu dan Brick masih belum sadarkan diri.


“Tenang saja, Aura” ucap Leinn sambil tersenyum.


Dia lalu menoleh ke arah salah satu cabang pohon yang ada di 20 meter dari tempatnya berdiri.


“Tolong jaga mereka”


Dengan kalimat perpisahannya itu Leinn membalikkan badannya dan mengangkat Aura dengan kedua tangannya kemudian mulai berlari meninggalkan mereka.


Mereka bertiga hanya berdiri diam melihat punggung yang menjauh itu, kemudian melihat ke arah cabang pohon yang Leinn lihat.


Dan seseorang yang mengenakan pakaian pengawas meloncat turun dari sana.


“Apa kalian baik-baik saja?” ucap pendatang baru itu dengan cepat, gagal menyembunyikan perasaan panik dalam suaranya.


Pengawas itu berjalan ke depan mereka, memasang ekspresi yang serius dengan keringat dingin masih mengalir di wajahnya.


Dia sudah berlari ke tempat itu setelah mendengar ledakan tanpa henti dan menemukan pertarungan yang sudah selesai antara pemuda berambut hitam dan empat orang itu.


Dia hanya berniat menunggu di atas pohon sambil menggunakan sihir yang menghilangkan keberadaannya, tidak disangka olehnya ternyata pemuda itu bisa menemukannya dengan mudah.


“Uh...”


Tiba-tiba sebuah suara lemah terdengar dari Brick yang terbaring tidak jauh dari mereka.


...


Boom boom boom...


Leinn berlari kencang sambil diselubungi pelindung dari Mana yang dibuat oleh Aura yang berada di tangannya.


Dia sedang membawanya dalam posisi yang sama seperti di hari sebelumnya, tetapi Aura terlihat tidak bereaksi berlebihan di posisinya itu.


Kali ini bola pelindung transparan sudah terbentuk di sekitar mereka berdua, menghalau angin dan membuat perjaanan mereka menjadi lebih stabil.


Sihir pelindung itu dihasilkan oleh Aura yang tidak ingin mengulangi perasaan tidak enak dari angin kencang yang menerpa wajahnya.


Dia mengingat kembali pengalaman kesulitan membuka mata dan bernafas selama beberapa saatnya itu.


Leinn juga sedang membawanya dengan jauh lebih stabil dibandingkan sebelumnya, sepertinya sudah terbiasa hanya dengan melakukannya sekali di hari sebelumnya.


Beberapa waktu berlalu setelah mereka mereka mulai berlari, dan mereka memasuki area dimana pohon-pohon di sekitar mereka terlihat menumbuhkan beragam buah dengan ukuran besar.


Beberapa saat setelah memasuki bagian baru dari hutan itu, akhirnya sumber suara ledakan sebelumnya dapat terlihat di depan mereka.


Boom..!


Seekor gorila putih sedang bertarung dengan serigala itu, dan pertarungan itu terlihat sudah hampir berakhir.

__ADS_1


Gorilla Beast itu mengayunkan tinjunya dan berhasil mengenai tubuh sasarannya, membuatnya melayang di udara dengan kecepatan tinggi.


Tubuh serigala itu menembus beberapa pohon sampai akhirnya baru terhenti ketika menabrak satu pohon yang lebih besar.


“Hoh Hoh...!”


Gorila putih itu memukul dadanya dengan keras dan mulai berlari, terlihat seperti ingin memberikan pukulan penghabisan pada serigala yang tidak bergerak itu.


Sampai tiba-tiba, sebuah bayangan kecil muncul di depannya dan mengejutkannya, membuatnya meluncurkan tinjunya itu pada makhluk asing itu.


Pendatang itu juga membalas dengan memutar badannya dan memberikan tendangan menyamping.


Boom!


Gelombang ledakan muncul dari pertemuan tinju besar dan kaki kecil itu, mementalkan keduanya.


Leinn berhasil mempertahankan keseimbangannya, walaupun itu tidak menghentikan kakinya untuk membuat dua garis lurus sepanjang sepuluh meter di depannya dan membuatnya berdiri di dekat tubuh serigala besar itu.


Aura meloncat turun dan mulai memeriksa Wolf Beast didepannya, seluruh tubuhnya terlihat dipenuhi luka dan gemetaran kuat.


Tetapi mata buasnya tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun, hanya niat bertarung yang kuat.


Kalau bukan karena rasa takut yang menyebabkan ini, berarti...


‘Racun?’


Di sisi lain, Leinn sudah mulai berjalan dan menghadap Beast besar yang sedang menatap tinjunya dengan bingung.


Leinn akhirnya berhenti berjalan dan berdiri sepuluh meter dari gorila itu, mulai meneliti tubuh Beast di depannya.


Tubuh dengan tinggi empat meter dan bulu putih menutupi seluruh tubuhnya, tetapi bulu tebalnya itu tidak bisa menyembunyikan otot besar yang membentuk tubuhnya itu.


Kedua lengannya itu sudah lebih lebar dari tubuh Leinn, terlihat sangat mencekam.


Beberapa bagian tubuhnya juga sedang mengalirkan darah dari luka cakaran serigala besar itu.


“Bertahanlah!” teriak Aura dengan kuat.


Aura berdiri di depan serigala yang terluka itu dengan tongkat di tangan kanannya, mulai merapalkan sihir.


Serigala besar itu ingin mengayunkan cakarnya pada manusia di depannya tetapi entah karena racun di tubuhnya, atau mata anak perempuan yang terlihat sudah dibasahi air mata itu, dia jadi tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


“Hoh..?!” gorila itu menoleh ke belakang Leinn.


Gorilla Beast itu menyadari Mana di udara yang mulai berputar dan membentuk lingkaran sihir di sekitar Aura, dia tidak senang seseorang ingin mengganggu pertarungannya dengan Wolf Beast itu.


Setelah memukul dadanya beberapa kali, dia mulai berlari untuk menghentikan sihir Aura.


Leinn langsung melompat maju juga untuk menghadangnya.


“Hoh...!”


Dia mengepalkan kedua tangannya menjadi satu dan mengayunkannya turun sekuat tenaga.

__ADS_1


Leinn membalas dengan tendangan berputarnya.


Dua tinju dan satu kaki bertemu.


Boom!


Gelombang benturan keras menyebar dan menggoyang pepohonan, membuat Gorilla Beast itu terdorong mundur lima langkah. Ekspresi luar biasa bingung muncul lagi saat dia menatap kedua telapak tangan di depannya.


Makhluk kecil ini cukup kuat untuk menghentikannya lagi?


“Aw aw aw... sakit sekali” suara Leinn tiba-tiba terdengar dari tempat benturan serangan mereka itu.


Kabut debu mulai mereda dan Leinn terlihat merangkak keluar dari lubang selebar lima meter di tanah.


Sepertinya arah pertemuan serangan sebelumnya sangat tidak menguntungkannya, melihat dia baru saja menghantam tanah di bawahnya dengan keras.


Sebelum mereka berdua bisa melakukan gerakan berikutnya, Aura sudah selesai merapalkan sihirnya.


Sepuluh lingkaran sihir sudah melayang di belakang gadis itu, yang mulai bergerak ke atas tubuh serigala besar yang tidak bisa bergerak itu. Semua lingkaran sihir itu akhirnya bersejajar menjadi sebuah deretan lingkaran sihir panjang di langit.


“Hoh...”


“Wow...”


Leinn dan Gorila itu hanya berdiri dan melihat dari kejauhan, mereka melihat sebuah pedang api raksasa mulai muncul dari lingkaran sihir itu.


Leinn mengenali bentuk pedang ini, hanya saja ukurannya kali ini jauh berbeda dibanding sebelumnya.


Pedang baru itu terlihat lebih mendekati sebuah menara di bandingkan sebuah pedang.


Gorilla di belakangnya hanya mengagumi sihir itu dengan mulut terbuka.


Dia sama sekali tidak merasakan bahaya ketika melihat pedang api putih raksasa di depannya, walaupun dia bisa merasakan Mana dalam jumlah masif yang telah membentuk sihir itu.


Sedangkan serigala itu hanya bisa menatap gadis di depannya setelah melihat pedang raksasa di atasnya.


“Kaing...” kali ini rasa takut dapat terdengar dalam suaranya.


Dia sama sekali tidak menyangka manusia kecil di depannya itu akan memberikan serangan penghabisan pada dirinya yang sekarat.


Luka dan racun yang menumpuk di tubuhnya akhirnya membuat kepalanya terjatuh ke tanah.


Lingkaran sihir di langit itu akhirnya menghilang dan meninggalkan pedang api putih raksasa setinggi 40 meter, melebihi tinggi pepohonan di sekitarnya. Pedang api raksasa itu mulai melayang semakin tinggi dan berhenti sepuluh meter dari tanah.


[Blaze Blade, Over]


Boom...!


Pedang itu jatuh dan berubah menjadi gelombang api putih yang menyebar ke semua arah dalam sekejap.


 


 

__ADS_1


__ADS_2