Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 150 – Formasi Pemungkas


__ADS_3

Gelombang Mana menyebar dari puncak gunung dan mencapai tempat mereka berdiri, tetapi tiba-tiba menghantam dinding tidak terlihat di sekitar Leinn dan Roland, membuatnya lenyap tanpa bekas.


“Hoh...”


Leinn menoleh dan menemukan Basalt yang sudah dipenuhi oleh darah kering dan terlihat sangat lelah sudah berdiri di depannya. Dia langsung menganggukkan kepalanya dan menunjukkan senyuman hangat padanya.


“Kau berhasil”


“Hoh!”


Aura melihat senyuman Leinn itu dan tiba-tiba merasa bahwa mereka akan baik-baik saja, kemudian juga melihat Roland sedang mengelus kepala raksasa Twig dan membuat petir menjadi meloncat-loncat di permukaan tubuh besarnya.


“Kyuu!”


“Clear...”


Leinn melihat Slime Beast di depannya yang sudah memiliki ukuran hanya separuh dibandingkan terakhir kali dia melihatnya. Dia sebenarnya juga sudah melihat sekitarnya selama beberapa saat untuk mencari sisa tubuhnya tanpa berhasil.


“Sekarang aku memerlukan kalian berdua... untuk mundur”


“Apa maksudmu?”


Aura tanpa sadar langsung menanyakan itu setelah mendengar ucapan Leinn yang datang secara tiba-tiba.


“Apa kau pikir kau bisa...”


Adeline yang mulai marah langsung menjadi terdiam ketika menyadari Roland sedang menatapnya, membuatnya mengerti bahwa Roland memikirkan hal yang sama.


Kesunyian tidak dapat terbentuk karena suara dan guncangan dari gunung api itu, tetapi suasana sedang menjadi tegang secara nyata.


“...kenapa? Bukankah rencanaku sudah bagus-”


“Terlalu berbahaya”


Aura menanyakan itu pada Leinn, seperti berontak terakhirnya. Dia sebenarnya berniat membantu Adeline menggunakan sihir terkuatnya dan mengubah sebagian besar Mana Api di gunung api ini menjadi Mana Es selama beberapa saat. Ini sebenarnya adalah rencana yang baik, jika mereka tidak menghiraukan kerusakan yang akan terjadi pada penyihir elemen api seperti Aura.


Adeline sudah berencana untuk menahan peluncuran sihirnya untuk membiarkan Aura lari, tetapi dia akan tetap dipaksa untuk mengaktifkannya jika situasi menjadi terdesak. Hal ini membuatnya sedikit enggan mengikuti rencana ini.


“Dan kami bertiga bisa melakukannya, dengan lebih aman”


“Tetapi kenapa kami harus lari meninggalkan kalian?!”


Leinn tidak langsung menjawab dan hanya meraih sarung pedang di pinggang kirinya, membuat Aura dan Adeline tersadar dengan ketiadaan pedang disana.


“Senjataku dan senjata Roland sudah tidak ada. Kami tidak akan bisa mengendalikan kekuatan kami dengan sempurna”


Senjata Leinn hancur di pertarungannya dengan Mountain Crawler Hitam siang tadi, sedangkan pedang terakhir Roland telah menjadi serangan pertama yang menghantam wajah Disaster Beast itu sebelumnya.


“Jika serangan kami lepas kendali dan melayang ke kalian? Basalt dan Twig sekalipun akan terluka jika terkena itu dan membuat rencana lari sebelumnya menjadi semakin berbahaya”


Leinn kemudian menunjuk gadis berambut putih di belakangnya yang sedang melakukan gerakan pemanasan.


“Hinata tidak akan dalam masalah walaupun terkena empat atau lima serangan nyasar dari kami”


“...tapi-“

__ADS_1


“Ribbit!”


Boom!


Guncangan kuat memotong perkataan Aura dan menandakan waktu istirahat mereka telah habis.


Basalt langsung meraih dan memikul dua gadis yang masih memberikan sedikit perlawanan sebelum akhirnya menyerah di pundaknya.


“Tenang saja, ini tidak akan lama”


Basalt langsung meloncat ke atas Twig yang sudah membawa Clear dengan Elsa di atas tubuh transparannya. Mereka kemudian langsung bergerak menjauhi gunung api itu secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang.


“Jadi, apa rencananya?”


Hinata menyelesaikan gerakan pemanasannya dan menoleh ke arah Leinn yang ada di sebelah kirinya.


“Formasi V”


Leinn menatap mereka berdua dengan ekspresi penuh percaya diri.


“Eh...”


“Itu membawa sial”


Hinata langsung mengerutkan dahinya dan Roland juga terlihat tidak senang.


Leinn langsung mengayunkan tangannya yang masih tertutupi api ungu dengan cepat sambil menunjukkan senyuman canggungnya.


“T-tenang saja! Kita sudah menjadi lebih kuat dan lawan kita bukan Tua Bangka itu!”


Leinn langsung berpikir sesaat dan menoleh ke arah puncak gunung di depannya setelah mendengar itu, lalu kembali menatap Roland yang menanyakan itu.


“Kalau pertahanan tubuhnya saja... sekitar 40 persen dibandingkan Burung Sialan?”


“Oh...! Kalau begitu gampang saja!”


Boom!


Gelombang kuat langsung menyebar dari benturan tinju kanan dan telapak kiri Hinata. Senyuman lebar juga dapat terlihat di wajahnya.


“Jadi berapa lama yang kau butuhkan?”


“Tiga menit!”


“...baiklah”


Leinn menganggukkan kepalanya setelah mendengar itu dan Roland langsung melebarkan sayap naga emasnya.


“Ribbit!”


Rumble...!


Guncangan kuat menyebar sekali lagi dan kali ini, datang bersama dengan kemunculan Kodok Raksasa dari dalam kawah gunung api itu.


Semua kabut ungu sebelumnya telah lenyap dan tubuh raksasanya telah dilapisi oleh bebatuan merah terang yang memancarkan panas yang tidak biasa. Mata hitamnya juga sudah berubah menjadi oranye terang dan memancarkan kemarahan yang sangat jelas. Tanduk merah baru dengan ujung berwarna hitam pekat dapat terlihat di kepalanya.

__ADS_1


Leinn, Roland, dan Hinata langsung bertukar tatapan sesaat dengan senyuman buas yang muncul di wajah mereka. Mereka tidak menyangka pertarungan serius bersama pertama setelah sekian lama mereka akan datang secara tiba-tiba seperti ini.


“Formasi V!”


Leinn meneriakkan itu sambil mengambil satu loncatan ringan dan mendarat 10 meter di depan Hinata.


Roland langsung mengepakkan sayapnya dengan kuat dan meluncur ke arah kodok raksasa yang sedang mengangkat wajahnya ke langit.


Hinata menarik mundur tangan kanannya dan berdiri menyamping, seperti ingin meluncurkan pukulan kanan yang kuat.


“Broark...!”


“Ew!”


Leinn yang ada di bawah gunung dapat melihat jelas serangan yang diluncurkan oleh kodok raksasa itu, yang membentuk muntahan skala besar.


Lahar berwarna merah terang mengalir dengan cepat dan membakar habis apa yang masih tersisa dari hutan di gunung itu yang menghadang jalan mereka.


“Hey”


Crackle-Boom!


Roland yang baru sampai di depan Disaster Beast itu langsung mengayunkan cakar kanannya dan sebuah pilar petir emas langsung keluar dan menyambar wajah kodok itu. Dia juga langsung memutar tubuhnya sambil menyapu sekitarnya dengan cakar kirinya.


[Thunder Incarnated]


Crackle


Garis petir emas yang terbentuk di belakangnya mulai membelah diri dan berubah menjadi 20 bola emas yang melayang sambil mengeluarkan suara yang sangat tajam., yang langsung menyala terang ketika Roland mengayunkan tangan kanannya ke depan.


[Twenty Clap]


Crackle-boom!


Dua puluh pilar emas muncul dan menghantam tubuh raksasa di depannya secara bersamaan dan mengikis sebagian batu pelindung baru kodok itu, membuatnya menjadi sangat waspada.


Kodok itu langsung merendahkan tubuhnya serendah mungkin dan membiarkan gunung-gunung kecil di punggungnya yang mulai bersinar terang mengarah ke arah Roland yang sedang melayang di atasnya.


“Ribbi-bit!”


Bwoong!


Lima pilar merah raksasa yang terbentuk dari Mana Api murni melesat ke arah Roland dengan kecepatan tinggi, yang menghindarinya dengan berpindah tempat dalam sekejap ke sisi lain gunung itu.


[Thirty Clap]


Crackle-boom!


Ledakan yang lebih besar menghantam bagian belakang kodok itu dan membuatnya semakin marah tetapi sebelum di bisa meluncurkan serangan berikutnya, sebuah pancaran tenaga yang sangat kuat tiba-tiba terasa dari depannya.


Kodok itu langsung menoleh ke arah sumber itu dan menemukan seorang gadis yang sedang melihat ke arahnya dengan Mana di sekitarnya yang sedang bergerak dengan sangat kacau, seperti terpengaruhi oleh gadis itu.


[1.000 Percent]


 

__ADS_1


 


__ADS_2