Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 151 – Penyerang, Roland


__ADS_3

Boom!


Udara mulai terkoyak di sekitar itu bersama rambut panjangnya yang sudah mulai berkibar seperti sedang tertiup oleh angin kencang secara terus menerus. Sinar putih dapat terlihat memancar keluar dari kedua matanya dan terus bertambah terang seiring berjalannya waktu.


Disaster Beast tidak tinggal diam dan langsung mengangkat wajahnya setinggi mungkin sambil mengisap Mana Api di sekitarnya dengan kecepatan tinggi, yang kemudian mulai terkumpul di dalam mulutnya yang mulai bersinar merah pekat.


[Thunder Incarnated]


Crackle!


Roland yang masih ada di belakang kodok raksasa itu langsung menarik mundur tinjunya, dengan beberapa kali lipat jumlah bola petir yang mengelilinginya sebelumnya. Bola-bola emas itu menerangi langit malam di sekitarnya seperti bintang-bintang yang sangat dekat.


[Hundred Clap]


Crackle-Boom...!


Dan langsung meluncur bersama dengan tinju kanannya, menjadi seratus pilar yang menghantam punggung kodok itu dengan telak. Beberapa gunung kecil di punggungnya sampai hancur dan lepas, jatuh berserakan di sekitarnya.


“Rib...”


Tetapi dia terlihat tidak peduli dan terus menghadap ke arah sasarannya, kemudian membuka mulutnya dengan sangat lebar, dan memuntahkan-


“-Bit!”


Bola api dengan ukuran dua kali lipat dari sebelumnya keluar dari mulutnya dan meluncur ke arah Hinata, dan Leinn yang berada diantara mereka berdua. Lahar yang dimuntahkan oleh Disaster Beast itu sebelumnya juga sudah tinggal beberapa puluh meter dari pemuda berambut hitam itu.


“Huh”


Leinn yang sedang berdiri tegap dengan kedua sayapnya yang menutupi bagian tubuh atasnya dan menyembunyikan kedua tangannya hanya melihat bola merah yang sedang melayang ke arahnya itu dengan ekspresi tertarik.


“Luna, sedikit bantuan?”


Tidak ada satupun jawaban muncul dari mana pun, tetapi siluet dua tangan ungu tiba-tiba muncul di belakang Leinn yang perlahan lahan menunjukkan seluruh tubuh dan kepala, kemudian rambut panjangnya.


Siluet ungu itu muncul secara sempurna dan langsung melihat ke serangan yang ada di depannya.


“Itu serahkan padaku, tolong urus lahar di depan”

__ADS_1


Bwoosh!


Leinn langsung membuka sayapnya dengan kuat dan menerbangkan banyak sekali bulu ungu ke udara, sekaligus menunjukkan apa yang sedang dia lakukan dari tadi. Bola ungu selebar sepuluh sentimeter dapat terlihat melayang dengan lembut, dengan tangan kiri di bawah dan tangan kanan di atas, seperti sedang menggendongnya.


[...]


Siluet ungu di belakangnya hanya mengangkat tangan kanannya ke langit dan secara tiba-tiba, bulu-bulu ungu yang sedang melayang di sekitar mereka langsung berhenti di udara.


Whooong!


Gelombang Mana Ungu menyebar dari siluet telapak tangan yang sedang menghadap langit itu dan langsung mengisap puluhan bulu itu secara bersamaan. Bulu-bulu itu langsung berputar dengan sangat cepat dan secara tiba-tiba,


Boom!


Semua itu meledak dan berubah menjadi kabut ungu yang sangat tebal yang mulai membentuk tengkorak, kerangkanya dan akhirnya membentuk puluhan manusia-manusia kerangka yang melayang di udara.


[Manifest]


Menggunakan suara feminin itu sebagai pemicu, puluhan manusia kerangka itu langsung bergerak dan saling memakan satu sama lain di atas siluet ungu itu dan perlahan-lahan mulai membentuk sebuah benda yang tidak asing.


Akhirnya, sebuah salib ungu setinggi sepuluh meter dengan tubuh yang terbentuk murni dari kerangka saja melayang sambil memancarkan niat membunuh dan tekanan yang sangat tinggi, seperti ingin menelan semua makhluk hidup yang melihatnya. Satu tengkorak besar dapat terlihat sedang memeluk tubuh salib itu dan terus mengeluarkan tawa yang menusuk jiwa.


[Invalidation Zone]


Siluet ungu itu mengayunkan tangannya dan membuat salib itu melayang di udara dengan sangat cepat, menuju ke tengah lautan lahar yang menyala terang dan memancarkan panas yang sangat tinggi itu.


Whoong...!


Dan dalam sekejap setelah salib itu menancap tanpa mengeluarkan suara, kabut ungu langsung meledak keluar dari seluruh tubuhnya, terutama dari mulut kerangka raksasa yang memeluknya.


Lahar yang masih mengalir itu langsung melambat sampai akhirnya berhenti di tempat dalam kurang dari 2 detik, kemudian mulai berubah warna menjadi hitam dari tempat yang disentuh secara langsung oleh salib ungu di tengahnya.


[Manifest]


Bola ungu di tangan Leinn akhirnya mencapai lebar 20 sentimeter dan memperlihatkan secara jelas beberapa wajah yang terlihat seperti sedang berteriak penuh derita tanpa bisa mengeluarkan suara apapun.


[Poor Eater’s Agony]

__ADS_1


Leinn mengulurkan kedua tangannya dan melepaskan bola ungu itu, yang bergerak dengan tidak terlalu cepat, sampai ketika dia melewati lahar yang sudah menjadi hitam pucat. Disana, perubahan yang nyata tiba-tiba terjadi.


Aaaah...!


Bola kecil itu langsung mengeluarkan teriakan yang sangat menyedihkan dan meledakkan keluar dua tangan dengan tujuh jari yang memiliki kuku-kuku dengan panjang yang tidak sama. Dua tangan itu langsung mengoyak-ngoyak tanah yang mereka lewati tanpa memperlambat kecepatan mereka, malahan semakin meningkat setiap kali tangan itu menarik keluar kabut ungu dari tanah yang mereka koyak.


Bola api merah itu akhirnya hampir mencapai salib ungu yang masih memuntahkan kabut ungu tebal, tetapi masih tidak secepat bola ungu yang sudah meletakkan cakarnya pada salib itu. Cakarnya langsung mengoyak salib itu menjadi potongan-potongan kecil yang langsung ditelannya dengan cepat.


Aaahk...khakhakha...!


Teriakan penuh derita mereka itu langsung berubah menjadi tawa yang penuh dengan kegilaan dalam sekejap mata, bersamaan dengan munculnya enam cakar lain dari bola yang akhirnya berubah menjadi kepala manusia tanpa kulit yang sedang tertawa.


Mulutnya langsung terbuka lebar sampai mengoyak sebagian besar daging pipinya, seperti ingin menelan bola raksasa yang sudah hampir menghantamnya.


Whooong...!


Bola api merah yang melayang perlahan tanpa memedulikan monster ungu yang berusaha menelannya di depannya.


Khakhakha...!


Empat tangan ungu panjangnya menahan gerakan bola merah itu dan sisanya terus mencakar permukaan bola merah itu dan meninggalkan tujuh garis ungu panjang di setiap serangannya.


Pertukaran itu terjadi selama kurang dari lima detik dan akhirnya, makhluk ungu itu tertelan seluruhnya oleh bola api merah yang mulai bergerak ke arah Leinn lagi. Ukuran dan energi bola itu terlihat masih lebih dari 70 persen kekuatan awalnya, yang cukup untuk melukai Leinn dan Hinata yang tidak bisa bergerak.


“Haha”


Pemandangan yang diharapkan oleh Disaster Beast itu, dimana manusia yang memancarkan kekuatan yang sangat besar itu tertelan oleh serangannya, akhirnya hampir terwujud-


Kha...!


“Ribbit?!”


Sampai ketika sebuah tangan raksasa sepanjang 30 meter meledak keluar dari dalam bola api merahnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2