
Siang hari, tepat setelah kelas pagi berakhir.
“...jadi aku mulai menggali lubang yang cukup dalam, kemudian aku menggunakan ranting-ranting yang terdekat...”
“Kyuu...?”
Seorang pemuda sedang berjalan di salah satu jalan batu di taman di dalam akademi, terlihat tenggelam dalam ceritanya sendiri. Dia menggerakkan tangannya untuk memperjelas ceritanya, yang sangat dinikmati oleh gumpalan transparan di kepalanya.
Beberapa orang terlihat sedikit terkejut ketika mendengar seseorang berjalan dan berbicara sendiri, lalu semakin terkejut ketika menyadari bahwa pemuda itu adalah Leinn Springleaf.
Reaksi mereka sekarang sudah tidak terlalu berlebihan seperti beberapa hari pertama, itu dikarenakan mereka sudah melihat kelakuannya selama beberapa minggu terakhir. Rasa takut pada seseorang akhirnya pasti akan menghilang jika orang itu selalu tersenyum ramah ketika bertemu denganmu.
Jadi sekarang mereka tidak berlari menjauh, hanya menoleh untuk melihat wajahnya.
“...setelah aku menunggu cukup lama, akhirnya dia muncul! Tetapi-hm?”
“Kyuu...? Kyuu!?”
Clear mulai bergetar kuat ketika Leinn tiba-tiba menghentikan ceritanya, lalu mulai melihat ke arah yang pemuda itu lihat.
“Kyuu!”
Dan dia menemukan seorang gadis berambut merah muda yang sedang membaca buku tebal sendirian di meja taman.
Gadis itu terlihat tenggelam dalam buku di depannya, sampai tidak menyadari pemuda yang sudah berdiri di sisi lain mejanya.
“...m...hm....”
Leinn kemudian bergerak dan duduk di sampingnya, mengintip deretan tulisan yang sedang dibaca Aura sambil bergumam itu.
Clear meloncat dan mendarat di atas meja, lalu bergerak mendekati buku itu juga. Membaca deretan huruf yang tidak dia mengerti.
“Kyuu...?”
“..m...hm...Hm?”
Menyadari gumpalan transparan di tepi pandangannya, Aura menoleh ke samping.
“...”
“Yo”
Aura melihat wajah pemuda yang tersenyum lebar di sampingnya itu, lalu kembali menghadap ke depan.
Satu tarikan nafas panjang.
“Hai”
Aura menelan kembali teriakan yang hampir keluar dari mulutnya, sambil menenangkan perasaan kagetnya. Dia sudah tidak melihat pemuda itu selama beberapa hari dan tanpa aba-aba, dia muncul di sampingnya saat dia sedang membaca buku sendirian.
“Jadi, kenapa kau membaca buku disini?”
__ADS_1
Leinn bertanya sambil melihat sekitarnya, tidak menemukan orang lain yang juga sedang membaca buku. Dia cukup yakin Aura biasanya membaca buku kalau tidak di Perpustakaan Akademi, pasti di kamarnya sendiri.
Apa yang berubah hari ini?
Aura yang sudah menstabilkan emosinya kembali menatap wajah Leinn.
“Aku menemukan suasana yang berbeda bisa membantu membuka pikiranku, mempermudah tugas yang kuterima”
Aura kemudian menutup buku tebal di depannya, menunjukkan judul ‘Teori Sihir untuk Pemula’.
Leinn menoleh sekilas judul buku itu sebelum kembali menatap wajah Aura, lalu kembali menatap sampul buku itu. Ini pertama kalinya setelah sekian lama, Leinn mempertanyakan penglihatannya sendiri.
Aura terlihat menyadari tatapan bingung itu, lalu mulai menjelaskan.
“Oh! Tugas yang aku dan Adeline terima berhubungan tentang merevisi salah satu sihir menengah-awal. Adeline sudah selesai sejak pagi tadi dan sebenarnya aku juga sudah...”
Tangannya mulai mengelus sampul buku di depannya itu.
“...tetapi aku merasa masih bisa membuatnya menjadi lebih bagus, jadi sekarang aku mencoba membaca buku ini untuk menemukan inspirasi”
“Hoh...”
Leinn mendengar itu dengan ekspresi tertarik, dia tidak menyangka ada hal yang semenarik itu di dalam kelas. Walaupun dia sama sekali tidak mengerti bagaimana cara melakukan itu.
“Bagaimana denganmu...? Aku tidak melihatmu melatih Uther dan Setanta sejak seminggu terakhir”
Leinn yang baru saja menarik buku tebal itu ke depannya menoleh ke arah Aura setelah mendengar itu.
Leinn mulai membuka dan melihat halaman-halaman buku tebal di tangannya secara acak.
“Jadi aku menghabiskan waktuku dengan berlatih bersamanya, dan baru hari ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan”
Aura menunjukkan wajah khawatir saat mendengar bagian ‘tidak memiliki uang’ itu, lalu mulai merasa ada yang aneh. Selama seminggu sebelumnya, Aura hanya menemukan Leinn di Lapangan Latihan Terbuka atau di atap Asrama di malam hari. Leinn juga sudah tidak pernah mengikuti kelas yang sama dengan dirinya lagi sejak dua minggu yang lalu.
Apakah dia...?
“Leinn-“
“Oh iya, Aura! Linkerku menjadi sedikit aneh sejak pagi tadi, bisakah kau memeriksanya sebentar?”
Leinn menarik keluar Linkernya dari dalam sakunya, yang menunjukkan segitiga dengan tanda seru di latar belakangnya. Dia kemudian meletakkannya di depan Aura.
“Untung saja aku bisa mematikan suara berisiknya dengan beberapa kali percobaan, itu sangat mengganggu”
Aura tidak melepaskan pandangannya dari Linker itu selama beberapa saat, lalu ahirnya mengulurkan tangannya dan mulai mengutak-atik alat itu.
...beep beep beep!
Setelah beberapa detik kesunyian itu, Linker di tangan Aura itu tiba-tiba mulai berkedip-kedip dengan warna merah terang.
“Ya, seperti itu! Tadi pagi dia juga melakukan itu dengan suara yang lebih keras”
__ADS_1
Aura tidak langsung menjawab, membuat Leinn merasa semakin bingung.
“Aura...?”
“Leinn... kapan terakhir kali kau masuk kelas...?”
Mendapat pertanyaan yang entah dari mana itu, Leinn mulai mencoba mengingat sesaat.
“Seharusnya... tiga hari sebelum aku melatih Uther dan Setanta”
Leinn menganggukkan kepalanya, puas karena berhasil mendapatkan jawabannya.
Aura akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Leinn dengan ekspresi tidak percaya.
“Kau memiliki... nol Merit”
“Oh”
Jawaban pendek menjawab pernyataan Aura, yang keluar dari pemuda yang sedang menunjukkan ekspresi kosong. Yang jelas sekali tidak mengerti apa dimaksud dari ucapan gadis di depannya itu.
Aura bisa merasakan rasa sakit yang muncul secara perlahan di kepalanya karena pemuda di depannya itu.
“Kau tidak ikut kelas sama sekali dan hasilnya, kau tidak mendapatkan tugas dari guru yang berfungsi untuk menambah Meritmu”
“Hm”
Leinn mengerti apa yang Aura maksud, sebagian.
“Merit yang kau perlukan untuk membayar kebutuhanmu di dalam Akademi, yang masih disediakan sampai seminggu lagi... Merit yang saat itu juga akan berfungsi sebagai mata uang sekaligus nilaimu di dalam akademi...!”
Aura tanpa sadar mulai menaikkan nada bicaranya, dan terlihat sedikit menyala.
“...Merit yang menghentikanmu dikeluarkan dari Akademi!”
Mendengar itu membuat sesuatu klik di kepala Leinn. Itu menjelaskan alarm di Linkernya, yang memberitahukan masalah itu, yang juga menjelaskan alasan ekspresi gadis di depannya saat ini.
Leinn lalu melihat Linkernya yang masih berkedip-kedip di atas meja itu lalu dengan ekspresi datar...
“Jadi, jika aku tidak bisa mendapatkan Merit sama sekali dalam satu minggu...”
Aura melihat Linker itu sekali lagi sebelum kembali menatap Leinn dengan serius.
“Kau... akan dikeluarkan dari akademi?”
“Hm”
Leinn lalu menoleh ke sampingnya, menatap Aura dengan senyuman canggung di wajahnya.
“Jadi... Bagaimana cara untuk mendapatkan Merit?”
__ADS_1