
Pemilik toko itu hanya tersenyum ramah saat melihat itu dan tidak terlihat tersinggung, melihat dirinya akhirnya berhasil menjual bunga langka tanpa fungsi yang jelas itu dengan mudah, ditambah dirinya berhasil mendapat uang lebih juga.
Leinn sudah tidak menghiraukan orang itu dan berjalan kembali ke sisi gadis itu, yang sedang menatap bunga di tangan kanannya.
“Ayo”
Leinn lalu merubah arah langkahnya, ke arah akademi.
Lilya yang menyadari itu langsung setengah-berlari mengejarnya supaya tidak tertinggal.
“Hoh...?”
“Ugya?!”
Pemilik toko yang sedang melihat punggung pemuda yang menjauh itu sangat dikejutkan oleh suara yang ternyata berasal dari gorila kecil di sampingnya.
Gorila putih kecil itu terlihat sedang kebingungan dan berusaha mencari sesuatu dengan matanya yang sudah tertutupi oleh keringatnya sendiri.
“Hoh...”
...
Sinar matahari sore terakhir akhirnya padam, digantikan oleh deretan demi deretan lampu dari berbagai bangunan di kota ini. Ketenangan malam mulai memenuhi seluruh kota, berhasil menghasilkan suasana yang sangat berbeda dari siang hari sebelumnya.
Di salah satu bagian jalan, tidak jauh dari pintu gerbang Akademi Red Dawn.
“Om nom glup...”
...seorang pemuda baru saja menelan bola-bola ungu sebesar bola ping-pong di dala mulutnya, lalu mulai menjilat bibirnya untuk jus yang tidak sengaja membasahinya.
“...hm! Anggur Raja ya, seharusnya aku membeli lebih banyak”
Leinn baru saja memetik lima bola lagi lalu melemparkannya ke dalam mulutnya dalam satu gerakan mulus.
“Hoh nom...”
Basalt di sampingnya terlihat sedang membawa setandan anggur sambil memetiknya satu persatu dan memakannya perlahan. Dia merasakan ini adalah buah terenak yang pernah dia makan, entah karena rasanya yang memang sangat enak atau karena jusnya berhasil menghilangkan panas yang membakar lidahnya sebelumnya.
“...”
Dan di sisi lain Leinn itu adalah Lilya, gadis berambut hijau yang sedang berjalan sambil menggendong sebuah pot bunga aneh dengan kedua tangannya. Dia baru saja melihat Leinn teringat tentang toko buah di samping toko Tanaman Sihir sebelumnya ketika mereka sudah hampir mencapai Akademi, dan dia tanpa beban langsung berbalik dan berjalan kembali untuk memeriksanya.
Lilya juga melihat langsung pemuda yang tanpa ragu langusng memilih buah termahal dan memberikan kantung terakhirnya untuk membeli empat tandan Anggur Raja yang masing-masih memiki 100 bola ungu yang dipenuhi jus manis dan segar.
“...glup, ah! Enak sekali!”
“Hoh..!”
Yang pertama menghabiskan satu dari empat itu adalah Basalt, yang memakannya dengan kecepatan luar biasa sebelum menikmati anggur itu satu demi satu setelah menghabiskan satu bagiannya.
Leinn sendiri membeli ini untuk oleh-oleh, tetapi rasanya terlalu enak. Jadi setelah menghabiskan satu tandan miliknya...
__ADS_1
“Ah... sayang sekali”
Leinn mengucapkan itu sambil memetik satu lagi dari tangan kirinya dan langsung melemparkannya ke dalam mulutnya.
Tidak ada sedikitpun rasa penyesalan di wajahnya, hanya rasa puas.
“...maaf”
Leinn menoleh ke sampingnya dan melihat gadis yang sama sekali tidak mengeluarkan suara sejak mereka meninggalkan toko bunga itu. Dia juga langsung mengerti apa maksud dari permintaan maaf itu.
“Itu bukan masalah besar, tidak perlu kau pikirkan”
“Tapi...”
“Sudahlah, kau pasti punya alasanmu sendiri”
Leinn sudah mengetahui betapa pemalunya gadis di sampingnya itu, yang sudah sampai di tingkat yang sedikit tidak masuk akal. Lilya adalah seorang gadis yang sangat sulit untuk membuka dirinya pada orang asing, sesuatu yang Leinn ketahui secara langsung.
Leinn baru mengetahui alasan gadis itu memberikan kunci atap asrama adalah agar dirinya tidak perlu mencarinya setiap kali dia ingin bersantai disana. Butuh cukup lama tanpa percakapan untuk Lilya merasa nyaman, dan akhirnya membagikan kontaknya untuk Leinn.
Jadi melihat Lilya mempertahankan posisinya di depan orang asing yang menunjukkan perasan tidak senang padanya, adalah sebuah pemandangan yang tidak biasa bagi Leinn.
“...anak ini... perlu bantuan...”
Lilya tidak meneruskan penjelasannya dan hanya berjalan, sambil sesekali menoleh untuk melihat reaksi Leinn.
“Om nom nom...”
...yang ternyata sedang sibuk memakan buah di tangannya satu per satu, dengan senyuman di wajahnya.
“Kenapa tidak bilang dari tadi...”
Leinn mengulurkan anggur di tangan kirinya, mengira gadis di sampingnya itu ingin mencoba anggur miliknya.
Lilya membuka matanya sangat lebar lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“A-aku... t-tidak...”
“Ah”
Leinn langsung menurunkan tangan kirinya, lalu memetik satu buah.
“...bisa-Ahm!?”
Dan memasukkannya langsung ke mulut gadis itu, yang langsung mematung dengan ekspresi syok.
Leinn sekali lagi salah mengira maksud dari perkataan Lilya itu, yang seperti berkata dirinya sedang tidak bisa mengambil sendiri buah anggur itu. Jadi solusinya sangat mudah, dia hanya perlu mengambilkan itu untuknya.
“Enak?”
“...nom”
__ADS_1
Lilya mulai mengambil beberapa kunyahan pelan tanpa bisa memproses apa yang baru saja terjadi selama beberapa saat, lalu akhirnya tersadar saat menelan jus di dalam mulutnya.
“glup... ya”
Leinn langsung menunjukkan senyuman lebar setelah mendengarkan itu lalu mulai berjalan lagi, menyusul Basalt yang tidak menyadari mereka bedua berhenti berjalan.
Lilya juga masih belum tersadar penuh dan mulai berjalan menyusul mereka lagi, tidak menyadari bunga di tangannya mulai menunjukkan sinar yang berbeda.
...
Kegelapan malam akhirnya menyelimuti seluruh akademi, yang menjadi sangat terasa melihat bulan berbentuk sabit yang hampir tidak memberikan penerangan alami di langit malam.
Ditambah lagi sebagian lampu di akademi sudah meredup, melihat ini adalah waktu dimana semua orang telah tertidur...
“Hum~”
Hampir semua orang.
Seorang pemuda berambut hitam terlihat sedang duduk di satu kursi panjang yang berada di tepi taman itu, membiarkannya melihat sebagian akademi dengan mudah dari ketinggian itu.
Senyuman di wajahnya menunjukkan keramahan yang jelas, sangat berbeda dengan suasana yang sedang terbentuk di seluruh taman sepi itu.
Whooong...
Kabut ungu sudah memenuhi seluruh sisi taman dan terlihat bergerak sesuai ritme sebuah detak jantung, dan secara hebat menghindari semua tanaman disana.
Dingin, tajam, dan berbahaya.
Yang lebih hebat lagi adalah pemuda yang mengeluarkan semua itu hanya sedang mengingat apa yang terjadi padanya di hari ini, tentang hal-hal yang menarik baginya dan sama sekali bukan sesuatu yang seharusnya menimbulkan suasana dingin seperti saat ini.
“Haha...”
Penjelajahannya mengelilingi sebagian dari bagian warung makan berdiri, yang menghasilkan beberapa makanan yang cukup dia sukai.
Pertemuannya dengan kelompok Brick lagi, yang sepertinya sudah sangat berbeda dengan satu bulan yang lalu.
Dan pertemuannya dengan Lilya, lalu yang terjadi berikutnya.
“Ha...”
Leinn mengingat usahanya untuk menyuapkan anggur setelah itu tanpa berhasil, melihat gadis itu menutup rapat mulutnya sepanjang perjalanan ke akademi. Akhirnya Leinn memberikan anggur yang masih tersisa 20 buah padanya ketika tidak berhasil memasukkan satupun lagi ke dalam mulut Lilya itu.
Lilya akhirnya menyadari dirinya tidak bisa menolak dan menerima itu dengan sedikit berat hati, lalu berpisah dengan Leinn di pintu masuk asrama.
Gadis itu telah menjelaskan bahwa bunga di tangannya tidak akan bisa tumbuh di taman terbuka seperti di atap asrama, jadi dia akan merawatnya di ruangannya secara langsung.
Setelah mencuri perhatian beberapa murid yang melihat usaha Leinn dari gerbang akademi itu, akhirnya mereka berpisah dan Leinn langsung menuju atap asrama tanpa menemui orang lain.
“Hum~”
“Leinn...?”
__ADS_1