Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 121 – Latihan Keras dari Leinn


__ADS_3

Mendengar jawaban yang tegas dari dua pemuda di depannya membuatnya ingin mengetesnya, jadi dia berencana mengulang gerakannya dan melihat apakah mereka berdua bisa menahannya.


Tetapi menyadari senjatanya yang baru saja dia berikan, dia berpikir untuk mengambil sebuah tombak dan menemukan rak senjata itu tidak dekat dengannya.


Diikuti dengan penyadaran bahwa dia tidak perlu melakukan semua itu dan akhirnya memilih untuk menggunakan tangan kosong.


“Ya, itu Leinn”


Roland yang mendengar deduksi itu, hanya menganggukkan kepalanya. Itu adalah hal pertama yang muncul di kepalanya ketika mendengar pertanyaan Aura sebelumnya.


Adeline yang duduk di samping Aura hanya menunjukkan ekspresi tidak percaya, dia tidak menyangka manusia itu masih bisa berkelakuan lebih aneh lagi.


Sedangkan Aura hanya menganggukkan kepalanya sekali sebelum kembali memperhatikan pertukaran tiga pemuda itu, yang terlihat semakin cepat.


“Hm? Kenapa Leinn mengulang gerakannya?”


Hinata yang baru kembali setelah puas memutar-mutar tombak kayunya itu mengucapkan itu dengan santai setelah melihat pertukaran tiga pemuda itu dalam kurang dari dua detik.


Aura langsung menoleh ke samping dengan wajah terkejut, tidak menyangka Hinata bisa menyadari apa yang perlu dia proses selama beberapa saat.


“Satu langkah ke kiri, lalu tangan kiri naik, dan tusukan tangan kanan...”


Hinata menyebut gerakan-gerakan Leinn, sesaat sebelum gerakan itu terjadi. Ini membuktikan bahwa dia memang mengingat pertukaran sebelumnya dengan sangat detil.


“...disini Roland menghindar, tetapi kelihatannya pemakai tombak itu tidak bisa menaha-oh! Pemakai pedang itu melindunginya! Ini sangat menarik!”


Hinata meletakkan tombak kayunya di lantai lalu duduk di samping Adeline tanpa melepaskan pandangannya dari pertukaran yang semakin cepat itu. Sepertinya dia melihat perbedaan reaksi dari gerakan yang sama itu sebagai hal yang menarik


Adeline hanya menoleh sesaat padanya, lalu kembali melihat pertukaran yang sudah hampir mencapai klimaksnya itu.


“...baiklah!”


Bam!


Satu ayunan kuat dari tangan kanan Leinn membentur dua senjata kayu di tangan dua pemuda di depannya, membuat mereka mengambil lima langkah mundur untuk mengembalikan keseimbangan mereka.


“Setidaknya kalian berdua mengingat seperempat dari yang kutunjukkan tadi, lumayan untuk seorang pemula”


Leinn tersenyum sambil membersihkan tangannya yang sudah berdebu sambil menatap dua pemuda yang sedang kehabisan nafas di depannya.

__ADS_1


Uther dan Setanta langsung menunjukkan senyuman terpaksa saat melihat pemuda di depan mereka masih berdiri dengan ekspresi santai, sama sekali tidak terlihat lelah.


“Sekali lagi dan kali ini, bertukar senjata”


Dua pemuda yang baru sedikit berhasil menstabilkan nafas mereka itu langsung menunjukkan ekspresi aneh, seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.


“”Eh...?””


...


Pertukaran kedua dan seterusnya berakhir jauh lebih cepat dibandingkan yang pertama, dan alasan utamanya adalah dua pemuda itu harus menggunakan senjata yang tidak biasa mereka gunakan.


Leinn bahkan sudah bergerak kurang dari separuh kecepatan pertamanya, tetapi gerakan canggung mereka menghentikan mereka untuk memberikan perlawanan.


Akhirnya pemandangan yang sama dengan hari sebelumnya tercipta sekali lagi, kali ini dilihat oleh lebih banyak orang.


“Leinn... apa kau yakin?”


Aura berdiri di samping Leinn yang sedang melihat dua pemuda yang terbaring tidak bergerak itu.


“Ya, membiasakan diri dengan keadaan kelelahan juga sebuah latihan. Itu juga alasan kami berdua bisa bergerak tanpa tidur selama beberapa hari”


Roland menganggukkan kepalanya pada penjelasan Leinn itu, sambil mengingat hari-hari latihan keras yang mereka lalui dulu.


Adeline di sampingnya hanya memperhatikan dua pemuda yang terbaring dengan mata dan mulut terbuka lebar di lantai itu, merasa cukup kagum dengan tekad mereka. Tetapi dia juga bisa melihat mereka sama sekali tidak bergerak dalam posisi ganjil itu.


“Mereka... masih sadar?”


Tidak aneh pertanyaan seperti itu ditanyakan oleh Adeline, melihat dua pemuda itu tidak bereaksi sama sekali dengan apapun. Kedua mata mereka yang terbuka itu bahkan sudah berhenti berkedip.


“Ya, mereka hanya tidak bisa bergerak saja...” Leinn mengembalikan perhatiannya ke depan dan mengambil satu langkah mendekati mereka, “Tubuh kalian memang tidak akan bisa digerakkan beberapa saat ini, tetapi rasa sakit yang sebenarnya akan datang besok. Jadi persiapkan diri kalian”


“Oh! Bola mata mereka bergerak!”


Hinata menunjuk wajah dua pemuda itu sambil tersenyum lebar, setelah melihat dua pemuda itu menggunakan sisa kekuatan mereka untuk menatap Leinn.


“Kalian akan punya waktu untuk bergerak bebas selama beberapa jam sebelum rasa sakit itu datang, jadi cari air dingin atau jika bisa air es dan langsung berendam di dalamnya. Jangan lupa memanggil seseorang untuk menjaga kalian agar kalian tidak tenggelam saat sedang melakukan itu”


Leinn menjelaskan itu sambil menatap langit sore, seperti sedang mengenang pengalaman lama.

__ADS_1


“Oh! Setelah tiga atau empat jam maka rasa sakitnya akan berkurang dan kalian akan bisa menggunakan Mana untuk meningkatkan kecepatan penyembuhan otot kalian, dan setelah itu hanyalah 24 jam rasa nyeri”


Leinn membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan.


“Kalian bisa beristirahat sampai kalian merasa mampu melanjutkan latihan lagi, jadi carilah aku di atap asrama di saat itu”


Aura mulai berjalan di samping pemuda itu dan menyadari matahari sudah cukup rendah. Dia lalu menarik keluar Linkernya dan menemukan bahwa kelas sore sudah hampir selesai.


Roland yang melihat gerakan itu juga akhirnya menyadari itu, kemudian juga menyadari tempat tujuan langkah kaki pemuda berambut hitam itu.


“Mereka masak apa ya hari ini...”


Leinn sebenarnya sudah tidak terlalu sering mengunjungi Kafeteria Akademi selama beberapa hari terakhir, tetapi bergerak seharian membuatnya cukup lapar.


Dan rasa laparnya itu mengingatkannya pada sesuatu, jadi dia menarik keluar kotak transparan kecil dari kantung celananya dan mengeluarkan dua butir pil putih isinya.


“Hup”


Dan dengan satu ayunan kebelakang, dua pil itu melayang di udara.


Aura, Adeline dan Hinata langsung mengikuti dua pil itu dan melihatnya berakhir di dalam mulut terbuka dua pemuda di lantai itu.


“Hampir lupa”


Leinn memasukkan kembali kotak itu ke dalam sakunya dan mulai mempercepat langkahnya, terlihat tidak sabar.


Hinata hanya tersenyum setelah melihat itu dan berjalan ke samping Leinn, sedangkan Aura dan Adeline sama sekali tidak merasakan pergerakkan Mana di udara, menandakan lemparan itu adalah murni kemampuannya sendiri.


...


Leinn melihat Linkernya yang mengeluarkan sinar merah secara berulang kali sambil menatap gadis berambut merah muda yang duduk di sampingnya.


Aura melihat Linker itu, kemudian melihat Leinn, lalu membuka mulutnya.


“Kau... akan dikeluarkan dari Akademi?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2