Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 80 – Pertarungan yang Menarik


__ADS_3

[Moving Cloud]


Boom!


Serangan besar itu menggetarkan arena di tengah stadium itu, menimbulkan gelombang ledakan yang besar.


Serpihan-serpihan batu mulai berjatuhan bersama kabut debu yang menyebar ke semua arah.


Di tengah itu semua adalah pemuda berambut hitam yang menatap ke arah lawannya yang baru menerima serangan besarnya itu.


Tenma terlihat meletakkan tangan kirinya yang menggenggam pisau yang hanya tersisa gagangnya itu di lantai batu untuk menopang tubuhnya yang penuh luka.


Darah terlihat membasahi seluruh wajahnya dan ekspresinya menunjukkan dengan jelas betapa besar rasa sakit yang sedang ditahannya.


Melihat pemuda berambut hijau yang sudah tidak berdaya itu, untuk pertama kalinya Leinn menunjukkan ekspresi yang berbeda padanya.


“Aku mulai tidak menyukaimu”


Senyuman hilang dari wajah pemuda berambut hitam itu, digantikan dengan tatapan yang sangat dingin.


Dia menyarungkan kembali pedangnya dan mulai merendahkan kuda-kudanya.


“Clear Sky Style, Finisher”


Tangan kanannya menggenggam gagang pedang yang masih tersarung di tangan kirinya, dengan bola Mana dalam jumlah besar mulai berputar di sekitar tubuhnya dengan cepat.


Semua orang di stadium itu menyadari dia akan meluncurkan serangan besar yang tidak mungkin bisa ditahan oleh lawannya yang sedang dalam kondisinya itu.


“A-apakah dia...?” gumam salah satu penonton dengan cemas.


Tenma menyadari dirinya tidak bisa menarik nafas secara tiba-tiba, seperti semua udara di sekitarnya tiba-tiba hilang secara bersamaan.


Perasaan terkejut itu menjadi berlipat ganda ketika dia menyadari gejolak Mana yang dikeluarkan dari pedang di tangan pemuda berambut hitam di depannya itu.


Leinn terlihat tidak peduli.


Mata pedangnya mengintip keluar dan di saat itu juga, semua Mana yang berputar di sekitarnya terisap ke dalam tubuhnya dan mengalir ke pedangnya.


Mata pedang yang terlihat itu bersinar berwarna biru terang dan dalam satu tarikan nafas-


[Separating Heaven and Earth]


Tidak ada suara ledakan atau efek yang meriah, penonton di stadium itu hanya melihat Leinn menyarungkan kembali pedangnya yang baru keluar sebagian itu.


Clack


Suara kecil dari sarung pedang itu dan garis besar sepanjang 50 meter muncul di dinding batu yang berada cukup jauh dari arena tempatnya berdiri.


Tapi hanya sebagian kecil penonton yang menyadari hal itu, karena perhatian mereka sedang tertuju pada hal lain di atas arena.


Perhatian mereka sedang ada di pemuda berambut hijau yang berlutut di tengah arena itu, tepatnya pada kepalanya yang mulai bergerak secara tidak wajar.


“Hiii...!”

__ADS_1


Jeritan muncul secara bersamaan dari seluruh penjuru ketika mereka melihat apa yang terjadi berikutnya. Kepala pemuda itu meluncur dan terlepas dari tubuhnya yang masih berlutut itu, dengan ekspresi terkejut masih terlihat jelas di wajahnya.


Beberapa penonton yang sudah melihat pertarungan Leinn sejak hari pertama menyadari perasaan kaget mereka itu terasa tidak asing, dan tentu saja-


Clang Prang!


Suara kaca pecah menggema disaat kepala itu membentur lantai batu dan berubah menjadi serpihan cahaya, bersamaan dengan suara dari pisau yang membentur pedang di tangan pemuda berambut hitam itu.


Tubuh tanpa kepala itu mulai mengeluarkan pecahan-pecahan kaca juga dan memperlihatkan keadaan tubuh pemuda itu yang sebenarnya.


Darah sama sekali tidak terlihat di kepala Tenma itu, hanya keringat dingin yang mengucur deras., dan kedua pisau di tangannya juga masih utuh tanpa retak sedikitpun.


Itu semua hanyalah ilusi yang diciptakannya saat kabut debu sedang menutupi arena selama beberapa saat sebelumnya.


Tenma juga menggunakan pisau lempar milik Leinn sendiri sebagai senjata rahasianya.


Dia berhasil menghindari serangan itu dengan mengingat dari waktu Leinn menggunakannya untuk menghabisi gelombang Giant Tarantula yang mengejarnya.


“Apa kau masih belum berniat serius?”


Mana mulai berputar di sekitar tubuh Leinn, dan tekanan yang dikeluarkannya juga terus bertambah seiring berjalannya waktu.


“Serangan berikutnya tidak akan meleset”


Hanya menggunakan sebagian kecil kekuatannya dan memberikan serangan kejutan pada lawannya yang lengah, itu adalah cara bertarung yang selama ini digunakan Tenma.


Belum ada sasarannya yang berhasil menyadari itu sebelum pisaunya mencabut nyawa mereka.


Tenma menyadari pemuda berambut hitam di depannya itu tidak menggertak, melihat Leinn tetap meluncurkan serangan sebelumnya walaupun mengetahui itu akan meleset.


Senyuman kembali muncul di wajah Leinn ketika dia merasakan suasana yang berbeda dari lawan di depannya itu.


Mana biru mulai merembes keluar dari tubuhnya dan meningkatkan tekanan yang dikeluarkannya, menjadikan senyumannya terlihat berbeda.


“Akhirnya”


Clang!


Ayunan pedang Leinn membentur dan memaksa Tenma yang muncul secara tiba-tiba di depannya meloncat mundur, dan disaat pedang itu masih di tengah ayunannya, tangan kirinya tiba-tiba melesat mundur.


Prang!


Leinn mengayunkan sarung pedang di tangan kirinya kebelakang tanpa menoleh sedikitpun, berhasil mengenai Tenma yang hampir berhasil menusuk punggungnya.


Pemuda berambut hijau itu menunjukkan retakan besar di perutnya, tetapi masih berdiri.


Clang Clang


Dua Tenma lain datang menyerangnya dari dua sisi berbeda, dihadang oleh satu ayunan pedang lebar dari Leinn.


Mereka berdua meloncat mundur dan digantikan oleh dua Tenma yang lain.


Clang!

__ADS_1


Pertarungan di atas arena itu menjadi semakin sengit dan cepat, membuat penonton di sekitar mereka semakin bersemangat.


Tidak hanya gerakan Tenma menjadi semakin cepat, ternyata ilusinya bisa menunjukkan kekuatan yang hampir sama dengan wujud aslinya.


Tubuh ilusinya kali ini sangat berbeda dengan ilusi sebelumnya yang jauh lebih lambat dan lemah, sekarang mereka perlu menerima serangan fatal sebelum menghilang dan juga mampu bergerak dengan luar biasa gesit. Serangan mereka juga datang dari berbagai arah, mengincar titik buta dan area vital lawannya.


Sebagian besar penonton sudah tidak mengetahui siapa diantara lima Tenma itu adalah tubuh aslinya, melihat pertukaran serangan mereka berdua itu sudah terlalu cepat dan membingungkan.


Dan di tengah hujan serangan tanpa henti itu adalah Leinn, yang menghindar dan menangkis dengan efisien.


Langkah kakinya yang berubah-ubah ditambah dengan ayunan pedang dan sarung pedang di kedua tangannya membuatnya terlihat seperti sedang menari.


“Hahaha...!”


Tawanya yang menggema ke semua arah terlihat memengaruhi penonton disana dan membuat mereka semakin bersemangat. Dan tidak hanya mereka...


Clang!


“Phew! Itu cukup menakutkan”


Leinn menghela nafas pendek setelah mementalkan mundur Tenma terakhir yang menyerangnya, dia melihat empat tubuh mulai menghilang dan menyisakan tubuh aslinya.


Tenma terakhir itu juga terlihat berusaha menstabilkan nafasnya tanpa melepaskan kesiagaannya. Sepertinya staminanya terkuras cepat disaat dia menggunakan teknik itu dalam waktu lama.


“Bagaimana? Ini lebih menarik bukan!”


Leinn tersenyum lebar sambil menyeka keringat yang mengalir di dahinya, terlihat sangat menikmati pertarungan mereka itu.


Tenma menatapnya dengan bingung selama beberapa saat sebelum menjadi sangat terkejut. Dia meraih wajahnya dengan tangan kanannya secara buru-buru.


“...?!”


Dia menemukan senyuman yang sudah muncul di wajahnya, sebuah senyuman lebar.


Ini adalah pertarungan sengit pertamanya, bukan misi melawan mereka yang lebih lemah darinya, dan juga bukan latihan melawan senior yang jauh lebih kuat darinya.


Senyuman itu bertahan beberapa saat walau Tenma mencoba menghilangkannya, dan setelah semua usahanya akhirnya senyuman itu hilang dari wajahnya dan hanya menyisakan ekspresi bingung.


“Apa alasanmu melakukan semua ini...?”


Leinn mengangat satu alisnya setelah mendengar itu dan mulai berpikir selama beberapa saat.


Dia menyadari maksud sebenarnya dari pertanyaan itu dan mulai mencari jawabannya.


Tenma melihat pemuda berambut hitam di depannya berdiri sambil mengusap dagunya, terlihat berpikir dengan keras. Dan tiba-tiba, ekspresinya menunjukkan dia berhasil menemukan jawaban dari pertanyaannya.


Snap


Dengan senyuman lebar, Leinn menjetikkan jarinya.


“Karena itu menarik”


 

__ADS_1


 


__ADS_2