
Semua penonton di stadium itu merasakan gelombang kuat mulai menerpa seluruh tubuh mereka, dihasilkan oleh gelombang energi dari dua pemuda di atas arena itu. Mereka juga merasakan getaran dari tempat duduk mereka, yang terus bertambah keras dengan cepat.
Tetapi mereka tidak peduli, perhatian mereka sudah terpaku pada setiap gerakan dua pemuda itu.
Dua pemuda yang mulai bergerak perlahan di tengah gelombang yang mereka berdua hasilkan.
“Haaa....”
Leinn mengangkat tangan kanannya dan meraih topeng tengkorak di kepalanya, yang sudah menyala dengan api ungu. Dia melepaskannya lalu memegang topeng itu di telapak tangannya, menatapnya dengan tenang.
“Hmph!”
Roland memutar dan menusukkan kedua pedangnya ke tanah dan petir di tubuhnya mulai bergerak semakin cepat. Petir yang mengalir di tanah mulai bergerak seperti terisap olehnya, mengoyak tanah di bawah kakinya.
[Second...] [Gear...]
Crack!
Satu genggaman kuat dan topeng tengkorak itu hancur berkeping-keping, menyisakan api ungu yang mulai menyala di tinjunya. Api itu perlahan-lahan semakin besar dan akhirnya menyala di seluruh lengan kanannya.
Crackle!
Retakan mulai menyebar di permukaan pelindung tangan dan kakinya, lalu meledak dengan keras menjadi energi petir murni. Petir yang meloncat-loncat itu mulai terpusat di tengah dadanya dan mulai menyebar kembali ke seluruh tubuhnya.
[Step!] [Two!]
Suara tiba-tiba hilang selama sesaat di seluruh stadium, diikuti dengan sebuah ledakan besar yang mengguncang seluruh akademi.
Semua penonton tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi karena cahaya yang terang dan tekanan yang luar biasa tiba-tiba muncul dari atas arena itu, mereka hanya bisa merasakan tubuh mereka memberat dan percikan-percikan kecil membuat rambut tubuh mereka berdiri.
Sebagian orang yang bisa bertahan dari gelombang itu memaksakan diri untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan dua pemuda itu.
Crackle!
Mereka menemukan... sebuah bola petir besar dan... telur ungu setinggi tiga meter, sedang melayang di atas arena itu.
Mereka yang bisa melihat ke atas arena itu entah kenapa tidak bisa mempertahankan pandangan mereka cukup lama pada dua benda itu sebelum kehilangan tenaga dari tubuh mereka, memaksa mereka untuk memalingkan wajah atau menutup mata mereka.
Bola petir itu mulai sedikit meredup dan menunjukkan wujud pemuda berambut pirang itu, yang sudah sangat berbeda.
Mereka masih bisa melihat empat cakar emas di tangan dan kakinya, tetapi mereka juga bisa menemukan sepasang sayap emas dan ekor panjang di tubuh pemuda itu.
[Thunder Dragon King Descent]
Gelombang petir terus meloncat-loncat dari tubuh Roland yang sudah diselimuti oleh petir yang membentuk sepasang sayap naga dan ekor panjang di tubuhnya, yang juga membentuk kepala naga petir yang menutupi sebagian besar wajahnya
Dua pedang di genggamannya sudah diselimuti oleh Mana Petir dalam jumlah besar, sampai dia terlihat seperti sedang menggenggam dua pedang emas raksasa.
Kekuatan yang luar biasa terpancarkan dari tubuhnya itu, menggetarkan stadium itu tanpa henti.
Sorakan penonton mulai menggema setelah merasakan tekanan yang dipancarkannya itu.
Tetapi Roland tidak memedulian semua itu. Pandangannya tidak terlepas dari telur ungu di depannya dan tanpa disadarinya, sebuah senyuman kecil sudah muncul wajahnya.
Orang-orang dengan penglihatan yang bagus bisa melihat bahwa telur ini berbeda dengan serangan sebelumnya, karena telur kali ini terbentuk dari sepasang sayap.
__ADS_1
Dan sayap itu mulai bergerak...
Hihihi...
Suara tawa gadis kecil mulai terdengar lagi di seluruh stadium, membuat bulu kuduk mereka semua berdiri.
Tawa itu perlahan-lahan berubah dari sekeras bisikan di samping mereka menjadi tawa keras dari atas arena, dari telur yang terbuka itu.
[Reaper Manifestation]
Dua sayap ungu itu terbuka dengan keras dan beberapa bulunya mulai melayang di udara, menunjukkan wujud pemuda berambut hitam itu.
Lengan kanan yang sudah berubah warna menjadi ungu pekat dan rambut hitam yang memanjang sampai menyentuh pinggang belakangnya. Ditambah dengan suasana dingin yang dihasilkan dari sepasang sayap ungu di punggungnya membuatnya menjadi sangat misterius.
Pedang di tangan kanannya sudah diselimuti oleh Mana ungu yang membuat panjangnya menjadi tiga kali lipat dibanding sebelumnya.
Leinn menatap pemuda di depannya dan bisa merasakan kekuatan yang dipancarkannya juga, membuatnya tersenyum puas.
Tanpa basa-basi, mereka berdua mengayunkan senjata mereka.
Boom!
Ledakan besar terjadi di antara mereka, dari angin yang dihasilkan ayunan biasa mereka.
Boom...!
Dua pemuda itu tiba-tiba muncul di tengah arena, senjata mereka membentur satu sama-lain.
Mereka meloncat mundur secara bersamaan dan mengulang pertukaran itu secara terus-menerus.
Boom! Boom! Boom...!
Arena yang sudah ditingkatkan kualitasnya itu sudah hancur lebih dari 90 persennya, berubah menjadi puing-puing yang bertebaran dan debu yang melayang di udara.
Crackle
Roland tiba-tiba memijakkan kakinya cukup keras ke tanah dan garis emas menyebar dalam sekejap ke semua arah, lalu dia menghilang.
Boom!
Leinn berhasil berputar dan menggunakan sayap kirinya untuk menebas Roland yang muncul di belakangnya secara tiba-tiba.
Dia mulai melihat sekitarnya dan berhasil memastikan sebelas pedang yang tertancap di tanah itu sudah kehabisan Mana dan hanya seperti pedang biasa.
Tetapi Roland bisa melakukan gerakan kilat tanpa bantuan area petir yang dihasilkannya?
Jawaban pertanyaannya muncul ketika Roland memijakkan kakinya sekali lagi dan menghilang, dan kali ini Leinn bisa melihat caranya melakukan itu.
Dia mengayunkan pedang panjangnya ke salah satu ujung garis emas yang sedang menyebar itu.
Boom
“Kemampuan otakmu tidak pernah berhenti mengejutkanku”
Roland tersenyum sambil menahan pedang Mana ungu yang mengincar lehernya.
__ADS_1
“Kau tidak berniat menyembunyikannya, bukan aku yang hebat”
Leinn meningkatkan kekuatan serangannya dan berhasil mementalkan Roland sejauh sepuluh meter, memaksanya mengangkat kedua pedangnya...
“Hmph!”
Dia langsung meloncat mundur dan mengulurkan tangan kirinya ke kantung di kakinya.
Leinn langsung menyadari bahwa Roland sengaja mengalah untuk meningkatkan jarak diantara mereka. Dan tentu saja...
[Thunder Dragon King’s Roar!]
Crackle
Dua pedang yang terangkat itu diayunkan turun sekuat tenaga olehnya dan Mana petir langsung meledak keluar, membentuk bola petir selebar lima meter.
Petir terus meloncat keluar dari bola petir itu dan terus menyambar wilayah sekitarnya, membuat tanah yang dilewatinya terkoyak karena keganasan Mana petir dalam serangan ini.
Leinn menarik kembali tangannya dan empat Rank B Beast Core melayang di sekitar telapak tangannya itu.
Dalam satu gerakan lancar, dia menggenggamkan tangannya.
[Hungry Ghost Festival]
Hihihi...
Mana yang meledak keluar dari Beast Cores itu mulai diselimuti oleh Mana ungu dan akhirnya membentuk empat bola ungu yang mulai melayang maju, lalu bersatu dan meledak menjadi tengkorak membara sebesar empat meter.
Tengkorak membara itu terlihat terus membuka-tutup rahangnya, seperti sedang tertawa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Tanah yang dilewatinya terlihat menjadi kering dan berubah menjadi lebih pucat.
Bola petir dan tengkorak tertawa itu bergerak dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, yang akhirnya membentur satu sama lain.
Thud
Suara sentuhan terjadi dan tengkorak tertawa itu langsung membuka rahangnya dan menghisap bola petir yang lebih besar dari dirinya itu.
Hanya membutuhkan lima detik untuk menghisap bola petir sebesar lima meter itu dan menyisakan tengkorak membara di atas arena itu.
Beberapa orang menyangka teknik Roland telah dikalahan oleh teknik Leinn, beberapa yang lain menyadari tengkorak itu sudah berhenti tertawa dan hanya melayang tanpa bergerak disana.
“Welp, ini di luar perhitunganku”
Suara itu keluar dari mulut Leinn yang sedang meloncat mundur sambil menyelimuti tubuhnya dengan kedua sayapnya, menutupi seluruh tubuhnya.
“Haha, ini tidak lucu”
Ekor petir Roland memukul tanah dengan keras dan mementalkannya mundur dengan kedua sayapnya juga sudah melindungi seluruh tubuhnya.
Hihi-Crackle...!
Retakan mulai menyebar di permukaan tengkorak itu dan cahaya emas bersinar keluar dari sana, diikuti kedua lubang mata dan mulutnya...
BOOM!
__ADS_1