
Berbagai jenis sihir meledak tanpa henti di atas stadium yang terisi penuh oleh penonton itu, menciptakan berbagai warna berbeda yang memenuhi langit di atas mereka.
Beberapa Magic User terlihat menembakkan sihir itu secara bergantian dari atas arena besar di tengah stadium itu.
Ribuan penonton memenuhi semua tempat duduk di stadium itu, jumlah yang mencapai rekor untuk turnamen murid baru di akademi. Ini dapat terjadi karena rumor yang sudah menyebar di seluruh kota Blazing Sun, tentang munculnya beberapa jenius dalam gelombang murid baru kali ini.
Hampir semua Guild di kota ini telah mengirimkan beberapa orang untuk memastikan kebenaran rumor itu, bahkan beberapa ketua Guild terlihat datang bersama pengawalnya untuk melihat pertarungan hari ini dengan mata mereka sendiri.
Banyak orang yang telah terlambat datang dan tidak berhasil mendapatkan tempat duduk, jadi hanya bisa menunggu di luar stadium.
Beberapa murid yang sudah menduga kejadian itu telah membuka beragam jenis toko di sekitar stadium, memeriahkan suasana turnamen.
Perhatian ribuan orang di dalam stadium tertuju pada podium yang baru dibangun di samping arena itu, dimana empat petarung hari ini berkumpul untuk menunggu giliran mereka.
Empat kursi yang terletak di empat sisi podium itu terhiaskan batu-batu berharga, menunjukkan kemewahan kursi itu.
Tetapi penonton di stadium itu merasa bingung karena mereka melihat hanya satu kursi dari empat kursi itu yang telah terisi.
Di tengah podium persegi selebar 20 meter itu duduk empat orang yang dikelilingi berbagai jenis Beasts.
Pemuda berambut hitam dan gadis kecil berambut merah muda duduk di kursi yang di keluarkan oleh pemuda berambut pirang yang duduk di depan mereka sambil ditemani gadis berambut biru yang seharusnya bukan petarung hari ini.
Seekor serigala putih terlihat berbaring di samping gadis berambut merah muda itu sambil menutup matanya, dengan gorila kecil terlihat sedang melakukan sit-up di dekat mereka.
Ular sepanjang empat meter terlihat menari dan bernyanyi dengan topi transparan di kepalanya.
“A-apa kau tidak apa-apa?”
Gadis berambut merah muda, Aura terlihat khawatir melihat wajah pemuda berambut hitam di sampingnya yang sudah sangat pucat.
Aura cukup terkejut melihat kondisinya itu ketika dia bertemu dengannya di pagi tadi.
“Hmph! Biarkan saja dia menderita seperti itu”
Gadis berambut biru di depannya, Adeline melipat tangannya dan mendengus kesal.
Perasaannya sudah berubah-ubah selama pagi ini, dia merasa kesal ketika menyadari dirinya ditinggal sendirian ketika sadarkan diri di hari sebelumnya, lalu khawatir ketika melihat wajah pucat pemuda berambut pirang itu di pagi hari ini.
Perasaan kesal itu kembali ketika dia melihat wajah pucat yang sama dari pemuda berambut hitam itu.
Dua pemuda itu, Leinn dan Roland hanya duduk dan tidak memberikan reaksi pada ucapan dua gadis itu.
Mereka disibukkan oleh rasa sakit kepala yang datang dan pergi dengan cepat.
Ini pertama kalinya mereka berdua merasakan sendiri perasaan ini.
“Hurgh...”
Leinn terlihat berusaha menahan makanan dari malam sebelumnya untuk kembali naik dari perutnya.
Sebuah bola cahaya biru terbang memutari kepalanya dan terlihat cukup tertarik dengan ekspresinya itu.
__ADS_1
“...”
Roland hanya duduk sambil memejamkan matanya, berusaha mengatur nafasnya.
Dahinya yang sangat mengerut itu menunjukkan dirinya sedang merasakan hal yang sama dengan pemuda yang duduk di belakangnya itu.
Pemandangan itu membuat pemuda berambut hijau yang duduk di posisi benarnya itu menjadi yang terlihat aneh.
“Selamat pagi untuk kalian semua yang berkumpul di sini!”
Pertunjukan sihir itu akhirnya selesai dan Isaac langsung mendarat di atas arena itu dengan elegan.
Dia mulai memberikan pidato pembukaannya dan menyambut orang-orang besar yang datang hari ini juga.
Penonton semakin bersorak ketika menyadari turnamen akan segera dimulai, sedangkan petarung yang menunggu di atas podium terlihat menunjukkan reaksi yang berbeda.
“Hoooh... Akhirnya! Terima kasih”
Leinn terlihat membaik setelah menerima sebotol minuman dari Adeline itu dan mulai bisa berbicara kembali. Dia tersenyum lemah pada gadis berambut biru itu.
“Hmph!”
Adeline hanya mendengus kesal sambil melihat kondisi Roland yang mulai membaik juga setelah meneguk botol minuman di tangannya.
“Terima kasih, Adeline”
Roland tersenyum kecil pada gadis di sampingnya itu, menunjukkan dia sangat menghargai bantuannya itu.
“H-hmph”
“Dan petarung hari ini akan ditentukan oleh... koin ini!”
Perhatian mereka berempat dan semua penonton tertuju pada koin di antara dua jari Isaac itu. Tiba-tiba empat layar cahaya muncul di atas arena itu dan menunjukkan koin itu dengan jelas.
Koin selebar 30 sentimeter itu memiliki dua sisi dengan warna berbeda. Di satu sisi berwarna putih memiliki tulisan hitam dan di sisi lain memiliki warna hitam dengan tulisan putih. Dua pasang nama terlihat terukir di sana, nama empat petarung hari ini.
Ini terlihat sangat berlebihan mengingat koin ini hanya akan dipakai satu kali.
Aura melihat nama-nama yang terlihat di koin itu dan menoleh pada pemuda berambut hijau yang duduk di satu sisi podium itu. Dia terus mendapatkan perasaan aneh ketika melihat nama yang tidak asing itu, tetapi wajah pemuda itu berbeda dengan pemuda yang dikenalnya.
Aura tidak bisa menghilangkan perasaan aneh yang muncul setiap kali dia melihatnya.
Leinn yang melihat itu sudah menyadari pemuda berambut hijau itu selalu bereaksi setiap kali Aura melihat ke arahnya, tetapi gadis itu sendiri tidak menyadarinya. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya yang pucat itu.
“Langsung saja...!”
Isaac langsung melempar koin besar itu ke langit, sampai mencapai beberapa puluh meter di udara.
Penonton di stadium itu melihat layar cahaya yang mengikuti putaran koin itu yang mulai kembali jatuh.
Cling!
__ADS_1
Koin itu jatuh di depan Isaac dan mulai berputar dan akhirnya berhenti.
“Petarung pertama hari ini... Tuan Putri Aura Flameheart dan Tuan Muda Roland Azure!”
Dua wajah muncul di empat layar kaca besar itu.
Roland yang berdiri dengan ekspresi datar dan Aura yang terlihat sangat serius sambil dikelilingi api putihnya.
“Hue?!”
Aura sangat terkejut melihat wajahnya yang muncul di layar besar itu, dengan tiga orang lain yang duduk di dekatnya menyadari asal gambar itu.
“Kau terlihat sangat berbeda!”
Adeline menatap Aura dan tersenyum sambil menunjuk ekspresi yang dikenalnya di layar cahaya itu.
Tentu saja dia mengetahui asal gambar itu, karena itu adalah ekspresi yang ditunjukkan Aura saat bertarung dengannya.
Gadis berambut biru itu sudah menunjukkan kedekatan pada gadis berambut merah muda itu sejak pagi hari tadi.
Dia langsung tersenyum dan memeluk Aura yang hanya membeku oleh perasaan gugup saat menerima perlakuan asing itu.
Adeline hanya menunjukkan perasaan gembira setelah melihatnya, dan kekalahannya di hari sebelumnya adalah alasan utama kegembiraan itu.
Aura adalah Magic User pertama dari generasi yang sama dengannya yang berhasil mengalahkannya. Semua orang yang dekat dengannya berasal dari generasi ayahnya dan selalu menganggapnya sebagai anak kecil.
Perasaan senang itu juga adalah alasan dia tidak memukul Leinn yang sedang terlihat sangat pucat di pagi itu.
Adeline sudah menganggap Aura sebagai teman dekatnya.
“U-um... iya...”
Aura yang menjadi sasaran perasaan itu hanya menunjukkan ekspresi aneh, sesuai dengan perasaanya saat ini.
“Kedua Petarung bisa memilih untuk membawa Contracted Beast atau tidak, dan akan dimulai dalam 30 menit!”
Tentu saja dia merasa senang melihat seseorang dengan kemampuan setinggi Adeline mengakuinya, tetapi ini juga pertama kali dia melihat seseorang menganggapnya setinggi itu.
Ditambahkan dengan perasaan tegang melihat dia akan bertarung dengan pemuda di depannya itu, berhasil membuat tubuh Aura bergetar gugup.
“Hm...”
Leinn adalah yang pertama menyadari itu, dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke belakang Aura lalu meletakkan kedua tangannya di kursi gadis itu.
“A-apa yang se-Hue!”
Srrrk...
Suara kursi menggesek podium batu itu dapat terdengar, melihat Leinn sedang menarik mundur kursi yang sedang diduduki oleh Aura itu.
Gadis itu hanya bisa menggenggam kursinya dengar erat, berusaha tidak terjatuh.
__ADS_1