
Aura menganggukan kepalanya pada pertanyaan Adeline itu.
Ya, penjelasan Leinn pada Tenma yang seharusnya terhalau oleh Silence Dome berhasil mencapainya.
Alasannya adalah gumpalan transparan di pangkuannya itu yang tiba-tiba mulai mengeluarkan suara pemuda itu, menyalurkannya dari tubuhnya yang berada di atas tas besarnya.
Adeline terlihat tidak terpengaruh oleh cerita itu, karena dia tidak bisa memahami maksudnya. Dia hanya mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya di masa lalu, membuatnya menjadi dirinya yang sekarang.
Ekspresi datar Roland di sampingnya menjadi lebih... datar? Dia tidak menunjukkan reaksi apapun setelah mendengar itu, seperti ini bukan pertama kalinya dia mendengar hal itu.
Yang paling terpengaruh diantara mereka adalah Aura yang berhenti berbicara sama sekali setelah itu, tenggelam dalam pikirannya. Dia tidak bisa memastikan apakah dia lebih mengenali atau bahkan lebih tidak mengenali Leinn setelah mendengar itu.
Menyadari dirinya tidak bisa mendapatkan jawaban apapun dengan berpikir sendiri, Aura mengarahkan perhatiannya pada gadis di sampingnya.
“Adeline, apa kau mengenali Leinn?”
“Huh? A-ah, Leinn ya...”
Adeline terlihat cukup terganggu dengan pertanyaan Aura, itu terlihat jelas dari ekspresi tubuhnya yang langsung berubah drastis.
Dia mulai menghindari kontak mata dan bahkan mulai mencoba mengalihan pembicaraan.
“A-ah! Apakah kau sudah mencoba Air Sungai Es? Aku membawa beberapa...”
“...”
Melihat gadis di depannya tidak bergeming, Adeline memasukkan kembali botol air dingin di tangannya ke sakunya dan mulai berbicara tanpa menghadapnya.
“Ya, aku mengenali pemuda itu”
Aura hanya bisa melihat separuh wajah gadis itu tapi cukup cejas bahwa Adeline tidak terlalu senang menjawab pertanyaannya itu. Dia mulai merasa tidak yakin dan berniat menghentikannya, tetapi keinginannya mendapat jawaban tidak membiarkannya.
Adeline lalu menatap gadis di sampingnya dengan tatapan tegas.
“Tetapi aku tidak pernah bertemu dengannya”
“...Huh?”
Tentu saja Aura menunjukkan ekspresi bingung dan Adeline bisa mengerti asal perasaan itu. Dia menandakan agar Aura tetap mendengarkan keseluruhan ceritanya.
__ADS_1
“Ini terjadi beberapa waktu setelah kejadian yang membuat Roland terkenal di seluruh benua...”
Aura melihat wajah gadis itu yang mulai merona dan menyadari kejadian yang dimaksudnya, alasan ketenaran Roland itu.
“Kami berdua sedang duduk bersama dan aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, jadi aku menanyakan apa yang terjadi dengannya selama bertahun-tahun kami tidak bertemu...”
Aura mendengarkan itu dengan serius sambil menganggukkan kepalanya dan Adeline menceritakan itu dengan sedikit bersemangat.
“Dia mulai menceritakan apa yang dilakukannya setelah dia kembali ke klannya, apa yang dilaluinya untuk diakui oleh seluruh anggota klan dan ketuanya. Lalu latihan yang dilaluinya di gunung yang hanya bisa dimasuki oleh calon ketua klan berikutnya, lalu...”
Adeline terlihat menundukkan kepalanya dan mulai cemberut, dia juga mulai mengayunkan tangan kanan dan kedua kakinya.
“Dia mulai menceritakan pengalamannya setelah dia melarikan diri dari klannya enam tahun yang lalu, bagaimana cara dia akkhirnya berhasil mendapatkan kekuatan yang diakui keluarganya...”
“...melarikan diri? Pertemuan?”
“Ya! Bagaimana dia diselamatkan ketika tersesat tanpa arah dan pertemuan mereka dengan... anak berambut hitam”
Aura sudah sedikit menduga bahwa Leinn dan Roland saling kenal, tetapi dia tidak menyangka mereka memiliki masa lalu sampai sejauh itu.
Dia melihat tangan kanan Adeline sudah tergenggam erat dan kedua alisnya mengkerut sampai hampir bertemu.
Adeline menoleh dan melihat Aura menunjukkan wajah khawatir.
Melihat itu, Adeline melemaskan tangan kanannya dan menghela nafas panjang.
“Haaah... aku baru melihat Roland tersenyum kecil beberapa kali padaku saat itu. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum pada orang lain di saat dia bersamaku, dan semua orang disekitarnya juga tidak pernah melihatnya tersenyum. Itu membuatku merasa sedikit... spesial?”
Adeline berusaha menutupi wajahnya yang sangat merah itu dengan tangan kecilnya tanpa berhasil.
Beberapa waktu berlalu dan akhirnya dia berhasil menenangkan dirinya, walaupun wajahnya masih sedikit merah.
“...sampai disaat dia bercerita tentang itu. Kau tidak akan percaya betapa terpukulnya aku ketika melihat Roland tersenyum lebar disaat dia bercerita tentang apa yang dilakukannya dengan anak berambut hitam itu. Dia terlihat begitu serius saat bercerita sampai aku hampir mengira dia melupakan keberadaanku, jika bukan karena tangannya yang menggenggam tanganku saat itu...”
Suara Adeline hampir berubah menjadi bisikan di akhir kalimatnya itu, hampir tidak terdengar. Wajahnya terlihat kembali memerah ketika dia kembali mengingat pengalamannya itu.
Aura terlihat menunjukkan ekspresi serius yang seperti tidak mendengar kalimat terakhirnya itu, walaupun wajahnya yang bertambah merah itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya itu.
Dia ikut malu melihat gadis di depannya yang terus menyelipkan bukti hubungan mereka itu.
__ADS_1
“E-ehem! Jadi aku tidak menyukai anak itu karena aku merasa kalah padanya dan aku berhasil menghubungkan identitasnya dengan Leinn dari ciri-cirinya dan kemampuan yang ditunjukkannya. Tawa Roland kemarin sebenarnya adalah bukti terbesar”
“...”
“Tapi aku masih tidak tahu bagaimana dia bisa mengenaliku...”
Enam tahun yang lalu, Roland bertemu dengan Leinn untuk pertama kalinya. Berdasarkan informasi sebelumnya, mereka seharusnya juga diajari oleh orang yang sama.
Tetapi kelihatannya Roland bertemu dengannya setelah sesuatu itu sudah terjadi pada Leinn.
“Aku juga belum selesai menyiapkan diri untuk bertemu dengan gadis monster itu... bagaimana ini!”
Adeline memutar rambutnya dengan kesal dan terlihat sangat terganggu.
Aura yang disampingnya masih menyusun informasi yang didapatnya dan tidak menyada-
“Gadis monster...?”
Aura menoleh ke sampingnya dan menatap Adeline.
“Apa yang kau maksud?”
“Hm? Leinn belum memberitahumu tentang makhluk-“
WHOAAAAH!
Sorakan penonton di sekitar mereka memotong kalimat Adeline.
Mereka berdua mulai melihat sekitar mereka untuk mencari alasan yang membuat penonton bersorak sekuat itu dan tentu saja...
Dua pemuda baru saja muncul dari dua gerbang di dua sisi stadium yang berbeda secara bersamaan.
__ADS_1