Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 112 – Pertama Sejak Lama


__ADS_3

Bham!


Ucapan penuh semangat itu keluar dari mulut Hinata yang baru saja memukul telapak tangan kirinya dengan tinju kanannya, menghasilkan gelombang yang mampu menggetarkan rambut Leinn yang berdiri di dekatnya.


“...”


Nobel terlihat mengulurkan tangan kanannya untuk menghentikan Hinata itu sambil menelan kembali darah yang sudah terkumpul di mulutnya. Sepertinya api putih dari Aura itu benar-benar ampuh, karena rasa sakit yang teramat sangat di perutnya sebelumnya sudah berkurang drastis.


“...satu contoh sudah cukup, Murid Hinata”


“Ayolah! Sekali saja! 50 persen saja bisa kau tahan, ini hanya akan berbeda sedikit!”


Nobel memejamkan kembali matanya, lalu dia mulai mengingat tinju yang menabrak tubuhnya beberapa saat yang lalu. Dia cukup yakin tinju gadis itu berhasil menembus tembok suara dan menimbulkan ledakan udara keras bahkan sebelum tinju itu menyentuh otot perutnya.


“Hentikan, Hinata. Kendalikan dirimu”


Leinn mengambil satu langkah dan menghadang Hinata yang sedang berjalan mendekati Nobel itu dengan tubuhnya sendiri.


Roland juga akhirnya sampai disana dan berdiri di samping Leinn setelah menyadari niat gadis itu.


Melihat dua pemuda yang menghadangnya itu membuat Hinata melemaskan tinju, yang sebagai gantinya adalah membuat wajahnya menjadi sangat cemberut.


“Ya sudah! Kalian selalu seperti ini!”


Hinata mulai berjalan pergi sambil menghentakkan kakinya, lalu berjalan kembali setelah mengingat kelas itu belum selesai.


“Hmph!”


Dia akhirnya berdiri dengan Leinn dan Roland yang sudah berjalan ke sampingnya, diikuti oleh Adeline yang baru saja menemani Aura memeriksa kondisi Profesor Nobel itu.


Sepertinya bukan hanya pertahanannya saja yang tinggi, melihat dia sudah terlihat baik-baik saja dengan sedikit sihir api dari Aura.


“Baiklah murid-murid! Itu tadi adalah contoh yang bagus dalam penggunaan Sihir Penguat Tubuh untuk pertahanan dan menyerang...”


Nobel menyeka garis darah di mulutnya lalu berpose yang menunjukkan otot dua lengan dan perutnya, yang masih sedikit kesakitan.


“Sekarang yang kalian bisa lakukan adalah berlatih! Terus berlatih sampai kalian bisa melakukannya, dan pertarungan adalah latihan terbaik! Jadi carilah pasangan!”


Akhirnya guru itu meletakkan kedua tangannya di pinggangnya sambil tersenyum lebar.


“Jika kalian punya pertanyaan... Tanyakanlah!”


Dan dengan itu, beberapa orang mulai membuat pasangan dari kelompok mereka lalu mulai mengigat apa yang baru saja mereka lihat dan pertarungan di turnamen sebelumnya, lalu menyadari itu tidak terlalu membantu bagi mereka yang belum pernah berhasil menggunakan Body Enchant.

__ADS_1


Leinn dan Roland melihat Hinata yang sedang duduk sambil memunggungi mereka, sepertinya sedang ngambek. Mereka berdua bertukar tatapan, lalu menghela nafas mereka.


“Hinata”


Mendengar namanya dipanggil oleh Leinn membuat tubuh gadis itu tersentak kecil, tetapi dia baru menoleh setelah diam selama beberapa saat.


“Apa...?”


“Ayo, kami temani kau bermain”


Mendengar ucapan dari Roland itu, Hinata langsung meloncat berdiri dan membalikkan badannya.


Aura dan Adeline yang ada di dekat tiga orang itu bisa melihat senyuman paling lebar yang ditunjukkan gadis itu sejak mereka bertemu dengannya lagi.


“Benarkah!?”


Kegembiraannya dapat terdengar jelas dalam suaranya itu, dan juga senyuman lebarnya itu.


““Ya...””


Leinn dan Roland mengeluarkan suara lelah sambil berjalan ke rak di satu sisi lapangan itu, yang menjadi tempat bersandar beberapa jenis senjata yang terbuat dari kayu.


Hinata mulai berjalan menyusul mereka berdua sambil setengah meloncat.


“Leinn, Roland! Yang benar saja!?”


Aura mengingat semua hal yang sudah dilakukan oleh Hinata dalam beberapa kali dirinya melihatnya, dan itu semua bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh Hunter di bawah Rank A.


Dan mereka berencana melawannya dengan kondisi tubuh seperti itu?


“Tenang saja, Aura. Ini hanya permainan”


Leinn baru saja menarik pedang satu tangan yang sedikit lebih ramping dibandingkan pedang biasa dari rak itu dan mulai mengayunkannya beberapa kali untuk membiasakan diri dengan senjata baru itu.


“Kami akan baik-baik saja”


Roland mengucapkan kalimat penenang itu pada Adeline yang hanya menatapnya sambil memegang pergelangan tangan kanannya yang sedang menggenggam gagang pedang bermata dua yang cukup panjang.


“Lagipula kami tidak bisa...”


“...membuatnya menunggu lama”


Leinn dan Roland menoleh ke arah gadis berambut putih yang sudah mengambil jarak dari mereka, berdiri menunggu mereka menyiapkan diri.

__ADS_1


Menyadari semangat di mata kedua pemuda itu tidak membiarkan dua gadis itu menghentikan mereka, dan akhirnya Leinn dan Roland mulai berjalan mendekati Hinata tanpa dihalau lagi.


Hinata yang melihat dua pemuda itu mendekat tiba-tiba teringat dengan kondisi mereka dan menunjukkan wajah khawatir.


“Jadi... berapa yang kalian bisa tahan?”


Leinn dan Roland berjalan bersebelahan dengan jarak kurang dari dua meter dan mereka berhenti berjalan setelah mendengar itu, lalu bertukar tatapan sesaat.


Lalu tatapan mereka kembali ke depan, ke arah gadis yang sedang menunggu mereka.


“”Sepuluh Persen””


Hinata langsung memejamkan matanya setelah itu, lalu kembali membukanya setelah lima detik berlalu.


“Baiklah!”


Bang!


Udara berteriak karena benturan yang dihasilkan dari pertemuan telapak dan tinju Hinata itu, yang terdengar jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.


Semua murid di lapangan itu, bahkan beberapa murid lain yang datang setelah mendengar beberapa ledakan dari tempat ini melihat dua pemuda yang sudah dikenal di seluruh akademi sedang berdiri 20 meter di depan seorang gadis asing dengan senjata kayu di tangan mereka berdua.


Mereka menyadari ini akan menjadi pertarungan yang sangat menarik.


“Hah....”


“Fuh...”


Dua pemuda itu langsung mengambil posisi menyamping dengan ujung pedang di tangan mereka tertuju ke depan, dengan tubuh mereka yang sudah memunggungi satu sama lain.


““Majulah!””


“Haha!”


Leinn langsung mengambil satu langkah maju, dengan Roland mengambil satu langkah mundur.


“Hiah!”


Leinn memberikan satu ayunan pedang menyamping yang kuat, menebas udara kosong yang tiba-tiba terisi oleh sebuah tinju yang sedang melesat maju.


Bham!


 

__ADS_1


 


__ADS_2