
“Leinn!”
Tangan siluet itu berhenti di udara, lalu di Leinn di belakangnya menoleh ke arah panggilan itu dan menemukan Aura.
Dia menggenggam tongkatnya dengan kuat dan terlihat berdiri disana dengan ekspresi yang aneh.
‘Kenapa dia terlihat begitu... sedih?’
Leinn tidak mengerti alasan ekspresi Aura dan mulai berjalan meninggalkan ketua kelompok itu, yang akhirnya lepas dari cekamannya dan jatuh pingsan.
Langkahnya berhenti di depan Aura yang masih menatapnya dengan ekspresi yang sama.
“Aura...”
“Hentikan... sudah cukup bukan...?”
Dia melihat perbuatan Leinn dengan jelas.
Setelah menyembuhkan luka Basalt, dia melihat Leinn menyerang kelompok itu tanpa menahan dirinya sama sekali.
Gerakannya jauh lebih cepat dan tajam dibandingkan saat dia bertarung melawan Basalt di hutan sebelumnya.
Mana ungu yang Leinn pancarkan pada dua pemuda yang lari meninggalkan kelompok mereka juga muncul dan terlihat meningkatkan kekuatannya dengan pesat.
“Hentikanlah...”
Tetapi Aura hanya merasakan perasaan tidak enak ketika melihat ekspresi dingin di wajah Leinn.
Leinn melihat sepuluh tubuh tidak sadarkan diri itu dan menghela nafasnya, lalu Mana ungu di tubuhnya mulai hilang secara perlahan-lahan.
Aura juga menunjukkan ekspresi lega setelah melihat itu.
“Leinn-”
Aura merasakan sebuah tatapan pada dirinya. Dia menoleh dan menyadari siluet di belakang Leinn masih melayang dan terlihat sedang menatapnya.
Siluet itu melayang ke sisi Leinn dan mengikutinya saat dia berjalan ke depan Aura.
Siluet rambut panjangnya melayang di udara, tidak terpengaruhi oleh gravitasi.
‘Wanita?’
Sebelum dia bisa melihatnya dengan lebih jelas, siluet itu terlihat menyadari tatapan Aura dan langsung berubah menjadi kabut ungu lalu kembali ke tubuh Leinn.
“Ada apa?” tanya Leinn dengan yang menyadari ekspresi kaget Aura.
“Tidak...”
Aura tidak bisa menemukan siluet itu lagi dan menggelengkan kepalanya, berpikir dia salah melihat hal itu. Dia menoleh ke arah sepuluh orang tidak sadarkan diri itu dan menunjukan ekspresi khawatir.
Aura mencoba berjalan ke arah kelompok itu, tapi dihentikan oleh tangan kiri Leinn yang menghadang jalannya.
Tatapan dingin dapat terlihat di matanya.
“Aura”
Dan Aura mengerti arti tatapan Leinn itu.
Mereka hampir membunuh Clear dan telah melukai Basalt, ini berbeda dengan pertarungan sebelumnya dengan hewan buas yang mengikuti insting mereka, atau kelompok Bartolomeo yang bertarung dengan adil.
Tetapi Aura tetap menggelengkan kepalanya pada Leinn.
Leinn melihat itu menatap gadis di depannya selama beberapa saat, lalu menurunkan tangannya itu kembali dan membiarkan Aura yang sudah mulai merapalkan sihir pendeknya.
[Fireball]
Bola api putih muncul di ujung tongkatnya, yang Leinn sadari hanya memiliki separuh dari ukuran bola api yang dia lihat di malam sebelumnya.
Aura mengayunkan tongkatnya dan bola api itu melayang ke tumpukan lima tubuh tidak sadarkan diri di dekatnya.
Bwoosh
Api menyala dan padam dalam beberapa detik.
__ADS_1
Aura telah menyadari kondisi lima orang yang menerima serangan pertama Leinn itu cukup kritis, jadi dia tidak bisa membiarkan mereka mati begitu saja.
Fireball kecil yang terbagi untuk mereka berlima hanya cukup untuk menstabilkan kondisi mereka selama beberapa saat, tidak menyembuhkan seluruh kerusakan yang mereka terima.
Leinn hanya melihat ke arah perkemahan tanpa berkata apa-apa, tatapannya terlihat sangat tenang.
Dia menoleh ke Basalt yang menatapnya dengan cemas lalu menunjuk sepuluh tubuh itu lalu menunjuk ke arah perkemahan.
“Hoh...? Hoh!”
Basalt terlihat berpikir sejenak dan menyadari niat Leinn itu. Dia mulai mengumpulkan sepuluh orang itu dan memikul mereka dengan kedua lengan besarnya dan mulai berjalan ke perkemahan.
Aura melihat gorila itu berjalan pergi dan Leinn yang masuk ke dalam tendanya tanpa berkata apa-apa padanya.
“...”
Aura melihat rumput yang dia pijak dan mulai merasa menyesal, dia menyembuhkan luka kelompok orang yang berniat membunuh Clear dan sudah melukai Basalt.
Apakah yang dia lakukan itu adalah hal yang benar?
“Leinn...”
Suara kecil yang keluar dari mulutnya tidak mendapat jawaban apapun, hanya angin malam dan suara dari perkemahan tidak jauh darinya yang bisa terdengar.
...
“...”
Aura berdiri di depan tenda Leinn yang tidak terbuka sejak malam sebelumnya. Matahari sudah terbit cukup lama dan Aura yang tidak bisa tidur semalaman itu tidak melihat gerakan apapun dari tenda di depannya.
Basalt terlihat sedang melakukan push-up tidak jauh dari sana, dengan Clear yang hanya melebar di sampingnya sambil melihat gorila itu berlatih.
Rufus berbaring dan hanya menunjukkan kepalanya dari dalam tenda Aura.
“Leinn...”
Perasaan negatif mulai muncul lagi dan dia mulai menggenggam keras gaunnya. Dia berdiri disana beberapa saat tanpa berkata apa-apa sampai dia mendengar sesuatu.
“...z...”
“..Zz...”
Aura mulai mendekati tenda itu dan tanpa dia sadari, dia sudah mengulurkan kepalanya ke dalam tenda itu.
Di depannya terlihat Leinn yang berbaring dengan mata tertutup, tidak bergerak. Suara kecil dapat terdengar darinya.
“Zzz....”
‘Dia... tidur?’
Aura merasa bingung selama beberapa saat dan dia tiba-tiba menyadari sesuatu, bahwa Leinn masih manusia biasa yang perlu tidur.
Dia mulai mendekati pemuda itu lalu duduk di sampingnya dan menatap wajah tidurnya.
Leinn terlihat tertidur dengan sangat damai.
“...”
Begitu dia menyadarinya, Aura sudah menggunakan jarinya untuk menyentuh wajah tidurnya itu. Lebih tepatnya dia menusuk pipi Leinn dengan telunjuknya.
Melihat kurangnya reaksi, dia mulai melakukannya berulang kali.
“Hehe...”
Menemukan hal ini cukup lucu, Aura terus melakukannya lagi. Jeda antara tusukan semakin pendek dan setelah beberapa saat barulah dia berhenti.
Setelah menatap wajah tidur di depannya beberapa saat lagi, Aura tiba-tiba menyadari sesuatu...
Suara nafas tidur Leinn sudah berubah.
“...Leinn... apa kau sudah terbangun...?” bisik Aura sangat pelan.
Yang menjawab pertanyaan itu adalah mata yang langsung terbuka dan menatapnya.
__ADS_1
Aura sangat terkejut sampai suara teriakannya tidak bisa keluar.
Leinn hanya menatap gadis di depannya beberapa saat tanpa berkata apa-apa.
“Yo”
“...!”
Aura masih belum bisa mengeluarkan suara apapun, sampai disaat Leinn bangun dan berjalan keluar dari tenda itu.
Menyadari itu, Aura langsung berbalik dan menyusulnya keluar dari tenda juga. Di depannya terlihat Leinn yang sedang melakukan peregangan.
Aura mulai berjalan mendekatinya dan dengan kesulitan, berusaha menyampaikan hal yang dia cemaskan sejak malam sebelumnya.
“Apa-“
“Kau sudah makan?”
Leinn berbalik dan menatap mata Aura, senyuman di wajahnya terlihat sangat lembut.
Aura melihat itu dan menyadari maksud dari Leinn itu, setelah beberapa saat dia baru menggelengkan kepalanya.
“Baiklah...”
Leinn meraih ke dalam kantung bajunya dan menarik keluar sebuah kotak kaca transparan yang terisi penuh.
Dia membuka tutup kecil kotak itu dan mengeluarkan dua pil putih kecil dan menutupnya kembali, lalu mengoper kotak kaca itu pada Aura.
“Hap!” ucap Aura sambil mengangkat tangannya.
Aura berhasil menangkap itu dengan tangan kanannya dan tersenyum, merasa senang setelah berhasil mendapatkan benda itu tanpa panik.
Dia lalu melihat kotak kaca di tangannya, lalu pada Leinn yang baru selesai menelan dua pil putih di tangannya.
Aura menyadari identitas benda di tangannya dan sedikit terkejut.
“Pil makananan?”
Setidaknya ada 100 butir pil di dalam kotak kaca itu, dan setiap pil makanan ini bisa menghilangkan rasa lapar seperti selesai satu kali makan biasa.
Harga satu pil makanan saja sudah sangat tinggi karena kemudahan membawanya dalam menjalankan misi jauh dari kota atau desa, maka satu kotak kaca penuh di tangannya itu tidak mungkin murah.
Aura merasa aneh melihat pemuda di depannya itu masih bisa membuatnya terkejut setelah berkali-kali mengejutkannya selama tiga hari mereka saling kenal.
Leinn yang melihat tatapan itu salah menduga pikirannya.
“Aku tidak menyukai rasanya, daging kering lebih enak”
Aura mengeluarkan 3 pil dari dalam kaca itu, 1 untuknya dan 2 untuk Rufus. Dia lalu berniat mengembalikan kotak kaca itu tetapi Leinn sudah berjalan ke arah perkemahan.
Aura tidak menyerah dan mulai berlari mengejarnya.
“Ini! Ambil kembali!” ucap Aura yang berlari sekuat tenaga sambil mengulurkan kotak kaca di tangan kanannya.
Leinn menarik keluar dua kotak kaca identik dari saku yang sama dan memperlihatkannya pada Aura.
Setelah Aura terkejut melihatnya, Leinn mengembalikan dua kotak kaca itu ke dalam sakunya.
Dengan senyuman di wajahnya, Leinn menatap Aura.
“Hadiah. Terima kasih untuk semalam”
Langkah kakinya terhenti oleh itu, sedangkan Leinn terus berjalan ke arah perkemahan.
Perasaan bersalahnya berkurang besar digantikan oleh perasaan aneh lain, walaupun masih tidak mengerti apa yang baru dia rasakan, Aura mulai menyusul Leinn.
“Leinn!”
Leinn menoleh ke sampingnya dan melihat Aura yang memanggilnya.
“Bagaimana dengan tasmu...?”
__ADS_1