
“Haha!”
Tawa pendek keluar dari pemuda berambut hitam yang sedang berlari sambil menghindari beberapa murid yang menghadang jalannya.
“Ruff!”
Dan tepat di belakangnya adalah serigala raksasa yang sedang berlari mengejarnya dengan sekuat tenaganya, sambil berusaha tidak menginjak murid-murid yang dihindari oleh pemuda di depannya itu.
Ini adalah pertama kalinya usaha melarikan diri dari Leinn berhasil dan mencapai tempat murid-murid lain berkumpul, menyebabkan hal ini menjadi cukup membuat keributan diantara mereka semua.
Rumor sudah berputar diantara murid-murid di akademi itu bahwa dua jenius baru mereka itu sedang terluka cukup parah dan menghabiskan liburan mereka di Pusat Kesehatan Akademi.
Ditambah dengan diri mereka yang tidak terlihat sama sekali di seluruh akademi selama tiga hari dan Pusat Kesehatan yang mengalami peningkatan sekuritas telah memperkuat kebenaran rumor itu.
“Makan debu!”
...tetapi pemandangan di depan mereka saat ini membuktikan kepalsuan rumor itu.
Bagaimana bisa orang yang terluka parah mampu berlari lebih cepat dari Rank B Wolf Beast di tempat datar seperti taman akademi ini.
“...yang benar saja...”
Suara tidak percaya itu keluar dari gadis berambut biru yang sedang berjalan ditemani gadis berambut merah muda disampingnya.
“Jadi dia baik-baik saja...”
Nada lega dapat terdengar dalam ucapan Aura itu, sangat berbeda dengan nada tidak percaya dari Adeline di sampingnya. Mereka berdua sedang membaca salah satu buku Teori Sihir di Perpustakaan sampai ketika Aura menerima sinyal dari Rufus melalu Contractnya.
Dan yang mereka temukan adalah Leinn yang sudah mampu berlari menghindari Rufus tanpa kesulitan sedikitpun-
“Itu bukan tanpa kesulitan”
Suara dengan nada datar tiba-tiba terdengar dari belakang dua gadis itu, memaksa mereka menoleh.
“Itu adalah salah satu teknik berlari yang diciptakan oleh Leinn, yang sangat efektif untuk mengacaukan insting tajam dari Beast seperti Rufus”
“...?!”
Adeline terlihat terkejut bukan main ketika menemukan pemuda berambut pirang, Roland berdiri disana.
Dengan senyuman lembut di wajahnya.
__ADS_1
“Sepertinya tiga hari tidak bergerak adalah batasnya, melihat dia sampai seserius itu untuk menghindari Rufus yang mengejarnya...”
Aura merasa sedikit aneh ketika melihat senyuman yang tidak hilang dari wajah Roland itu, lalu menoleh dan menemukan wajah Adeline yang sudah berubah menjadi merah terang.
Adeline sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Roland karena dia sibuk meneliti berbagai sihir yang mungkin akan membantu pemulihannya bersama Aura di Perpustakaan. Ini pertama kalinya dia melihat pemuda itu setelah beberapa hari terakhir, dan dia sekarang sedang menatapnya dengan senyuman yang sangat lembut.
“Ah... uh...”
“Adeline...?”
Roland akhirnya menyadari kondisi aneh gadis di depanya itu dan mulai melangkah mendekatinya, dan hampir menerima pukulan lurus sebagai balasannya.
“Adeline?!” ucap Roland sambil menghindari pukulan cepat Adeline itu.
“B-berhenti tersenyum...!”
Mendengar itu, Roland langsung menunjukkan ekspresi terkejut dan mulai memeriksa kedua lengannya.
Aura dan Adeline juga menyadari itu dan menjadi sangat terkejut juga.
“Haha...”
Tawa kecil keluar keluar dari mulut Roland, yang tidak mengeluarkan sedikitpun petir dari tubuhnya.
“Umfh...?!”
“Adeline...!”
“...!?”
Aura mengambil satu langkah mundur ketika melihat gerakan cepat dari Roland itu, yang tiba-tiba memeluk gadis di sampingnya itu, dengan senyuman lebar dapat terlihat di wajahnya.
Sekarang di taman itu ada dua pemandangan yang cukup mengejutkan.
Di tengah taman sedang ada kejar-kejaran antara Leinn dan Rufus.
Di satu sisi taman lain sedang ada Roland yang memeluk Adeline.
“...Roland?”
Lalu Aura yang berdiri di antara dua pemandangan itu, memanggil pemuda berambut pirang di depannya.
__ADS_1
“...hm?”
Sepertinya panggilan itu menyadarkan Roland dan membuatnya melonggarkan pelukannya, lalu menemukan Adeline yang sudah tidak bergerak.
Uap putih dapat terlihat keluar dari wajahnya yang sudah menjadi merah seperti tomat, yang terlihat sedang tersenyum puas.
“Adeline?!”
Tidak mengerti apa yang telah dia perbuat, Roland mulai menjadi panik dan mengangkat Adeline dan membawanya pergi ke Pusat Kesehatan yang baru saja ditinggalkannya.
“...huh?”
Adeline terlihat terbangun oleh guncangan yang dibuat Roland yang sedang berlari sekuat tenaga, lalu menemukan dirinya sedang ada di pelukan pemuda itu.
“...”
Lalu dia menutup matanya kembali, berpura-pura belum sadarkan diri.
Mereka berdua hilang dari pandangan semua murid yang masih ada di taman itu, yang masih melihat pertukaran antara Manusia dan Beast yang menjadi semakin sengit itu.
Leinn terlihat mulai mengitari Rufus dengan langkah yang berbeda dari sebelumnya, membuat serigala itu tidak bisa membiasakan diri dengan cara berlarinya.
Aura yang melihat pertukaran yang belum terlihat akhirnya itu mulai berjalan mendekati mereka sambil menggenggam tongkat sihirnya.
Sepertinya pertarungan itu akan menjadi dua lawan satu.
...
“Baiklah...”
Bisikan pelan keluar dari mulut pemuda berambut coklat yang sedang berdiri di belakang salah satu pohon di taman tempat pertukaran antara Leinn dan Rufus baru saja terjadi. Dia baru saja melihat pertarungan di taman itu, yang diakhiri dengan delapan bola api yang muncul bersamaan dan mengelilingi pemuda berambut hitam itu.
Setelah itu Leinn hanya bisa terbaring diam saat Rufus menggigit kerah bajunya dan membawanya kembali ke arah Pusat Kesehatan, dengan gadis berambut merah muda yang berjalan menemani mereka.
“Psssht...”
“Ya... sebentar lagi”
Pemuda itu mulai bergerak meninggalkan taman ke arah yang berbeda bersama ular putih yang melilit di lengan kanannya.
Tetapi tatapannya tetap tidak lepas dari pemuda di moncong serigala itu.
__ADS_1